Jakarta, 17-7-2017, Berita baik bagi pemerintah Indonesia, karena PBB melalui UNDP Small Grant Program SGP, Global Enviroment Facility dalam acara Laucnhing phase 6, kembali akan mendukung pembangunan berkelanjutan di Indonesia khususnya untuk pencapaian SDG Sustainable Development Goals khususnya 11. Pembangunan Keberlanjutan Kota dan Komunitas, 12. Konsumsi dan Produksi yang bertanggung 13. Antisipasi Perubahan Iklim, dengan melanjutkan dan menambah dana bantuan SGP dari jumlah tahun sebelumnya. Hal tersebut antaralain disampaikan oleh Christina Dwihastarini selaku Kordinator Nasional Indonesia.

Pada kesempatan pembukaan workshop dua hari ini, disampaikan berbagai kisah kegiatan yang telah dilaksanakan dari bantuan SGP ini. Ada pagiat 5 komunitas yang langsung menceritakan kisah keberhasilan dan tantangannya yaitu dari Sumba Barat Daya NTT, Brebes-Pati, Gorontalo, Kalimantan Barat, dan Wonogiri, Jawa Tengah. Adapun paparan kisah tentang Wakatobi Provinsi Sulawesi Tenggara, Nusa Penida Provinsi Bali dan Pulau Semau NTT yang disampaikan oleh Eri Damayanti (UNDP).
Diawali dengan pemaparan singkat kerja SGP GEF di Indonesia sejak tahun 1992 dan hingga kini terus memberikan kontribusi dalam mendukung antisipasi perubahan iklim melalui kerja bersama dengan NGO (Non Goverment Organization (istilah ditahun 1990an) dan komunitas. Hingga kini telah lebih dari 146 komunitas dari CSO (Civil Society Organization) tersebar di seluruh Indonesia dan membantu lebih dari 600Kepala Keluarga. SGP GEF mendorong penguatan pengelolaan sumber daya alam oleh komunitas untuk ekosistem hutan, pesisir, ekosistem air bersih dan laut, eksositem pengunungan, agrobiodiversitas, energi terbarukan dan konservasi serta efisiensi energi.

Hadir sebagai keynote speaker Ibu Laksmi Dhewanthi mewakili Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, sebagai Operational Focal Point GEF Indonesia. Sepanjang pemaparan diungkapkan bahwa selama ini small grant program telah berjalan dengan pemerintah sebagai jembatan antara GEF SGP dengan komunitas lokal dan CSO yang antara lain secara berjaringan bekerjasama dengan Yayasan Bina Usaha Lingkungan dan dengan kegiatan berbagai yang memberi perubahan lebih baik bagi komunitas dampingan. Lebih jauh ibu Laksmi memaparkan bagaimana upaya yang ada dan harus didukung adalah pola konsumsi dan produksi yang bertanggungjawab pada lingkungan, sebagaimana target SDGs diatas.

Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Pelestarian Ekologi
Kecendrungan eksploitasi modal banyak, output sedikit lebih banyaklimbahnya, kan seharusnya bisa output banyak limbah sedikit itu efisien. Kecendrungan ¬†pemubaziran, natural resources (dari segi produksi) saat produksi. Pemubaziran makan tidak dihabiskan, Mengambil ditahan disimpan tapi tidak dimanfaatkan, sumber daya tidak digunakan secara efisien. Efisiensi–bukan hanya efisiensi ekonomi, resources–kalau dibuang ada ekonomi terbuang, tetapi juga melakukan upaya baik untuk ekologis. Semakin sedikit sampah yang dibuang maka semakin sedikit tugas Alam untuk purifikasi membersihkan dirinya sendiri. Agenda yang sudah 1992 hasil sejak UNED , namun tidak sepopuler perubahan iklim dan keanekaragaman hayati.
SDG 12, diulangi kembali harus mengubah pola konsumsi dan produksi kita. Hal yang seharusnya dilakukan, jika kita punya modal jika modal dimubazirkan kan tidak baik.
Progaram tingkat masyarakat ada yang menggunakan serat alami, memanen dari alam, membuat dan saat produksi, produksnya 60, 40 terbuang, nah yang dulu terbuang kini dapat direproduksi lagi menjadi berbagai produk daur ulang. Pada masalalu cenderung terbuang,

Ibu Laksmi Dhewanthi

Sekarang sumber-sumber itu saat lahir hingga lahir lagi, ¬†cradle to cradle. Tak ada ‘kain perca yang jadi sampah, tapi dijahit ulang atau dikumpulkan kapuk, diisi bantal. Memanfaatkan ulang, reduce, reclycle, reuse, pola inilah yang kita selalu sosialisasikan pada masyarakat, termasuk dalam program Adiwiyata maupun Adipura.
Dalam konteks sampah, banyak bank sampah–ada jembatan manusia. Mulai dari diri sendiri, rencana hari ini masak apa..beli sayurnya, mengolah sayur seperti Kangkung, seikat kankung dipakai hanya 1/3 saja yang dimasak, sisanya 2/3 bisa dijadikan kompos dicacah, tidak dibuang. Bisa untuk pupuk tanam biopori, atau bisa juga jadi pakan ternak. Hal tersebut menjadikan limbah sedikit, maka ditingkat komunitas akan sedikit juga.
Program Adiwiyata, grant school SD-SMP-SMA memanfaatkan ulang, tidak hanya upaya lain, pemda dengan Adipura, dilakukan. GEF program yang mendukung programpemerintah ditingkt nsionl jd tidakbsa terpisah,tapi di KLHK di kemitraan lingkunga yang menangani dg CSO–untuk mendukung program pemerintah. Ke CSO yang langsung ke GEF. Tidak hanya pemerintah..tanggung jawab kita semua

Komunitas Bergerak bersama- sama bergerak

Berikut ini sebagian kecil paparan yang disampaikan dalam launching phase ke 6

Eri Dhamayanti memaparkan kondisi sosial, ekonomi wilayah pulau kecil yang secara umum memiliki masalah sama, yaitu rawan bencana dan isolasi, lahan kritis, ketersediaan air, tidak mandiri pangan, dan pertanian mengandalkan hujan dan bergantung pada pestisida dan maslah energi. Pulau Semau yang dekat dengan Kupang NTT, sejak berganti pangan dengan beras, masyarakat tidak lagi mandiri kehidupan pertanian tersisih. Tanah berbatu tetapi masih bisa pertanian. Daerah pesisir namun perikanan tidak

signifikan, lebih pada rumput laut. Ketiadaan pangan lokal karena tergantikan dengan beras, budaya pertanian dari kearifan lokal menanam jagung dsb, tidak lagi dilakukan disebabkan orang telah dapat memperoleh makanan, dengan membeli. Ada banyak jenis tanaman pangan lokal yang sebenarnya bisa dibudidayakan. Nusa Penida laut, bagian dari Kab. Klungkung daratan untuk mencapainya harus menggunakan perahu dan harus dalam kondisi cuaca baik. Wilayah lainnya yang dipaparkan adalah kepulauan Kab. Wakatobi (pulau: Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia, Biongko) di Sula

wesi Tenggara. Ketahanan pangan Wakatobi tidak tidak ada, masyarakatnya makanan pokok beras, tetapi tidak ada pertanian sawah, artinya pangan utama bergantung dari luar wilayah. Padahal pada masalalu makanan ubi-ubian sebagai makanan pokok ada berbagai jenisnya, ada 20 jenis dan semuanya terukur dengan musim tanam berdasar penghitungan masa tanam kearifan lokal. Perikanan tangkap justru dijual ke Buton. Secara garis besar pulau-pulau di atas memiliki dengan potensi ekonomi tinggi, sekaligus memiliki kekayaan alam flora dan fauna serta budaya lokal yang kaya namun perlu sentuhan yang mampu mengubah mental dan tatacara masyarakat untuk dapat lebih memahami hal-hal terkait potensi lingkungan dan masyarakat. Secara faktua

sumber: mongabay.co.id

Continue reading “Dana Dunia untuk Kesejahteraan, Kelesterian Lingkungan diKomunitas”

Advertisements