Search

wartafeminis.com

Indonesia Feminist Theory and Practices

Month

April 2018

Konferensi Kepemimpinan Perempuan LIPI

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) berkerjasama dengan Kementerian Perempuan dan Perlindungan Anak, Asian Associatoon of Women Studies dan Komnas Perempuan mengelar acara International Conference and Workshop on Gender “Women’s Leadership and Democratitaion in 21th Asia” di Jakarta. Konfrensi dimaksudkan sebagian wahana Kajian terkait kepemimpinan perempuan di Abad ke 21. Konfrensi di ikuti para peneliti dari berbagai wilayah Indonesia juga menghadirkan partisipan dari Korea Selatan, Philipina dan Thailand.
Mentri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Prof. Yoja a Yembisi selaku Keynote speaker antara lain menyampaikan bahwa Pemerintah Indonesia dibawah Presiden Jokowi mendukung kepemimpinan perempuan dan sebagai salah satu Dari 10 Negara yang ikut dalam mendorong terwujudnya planeet 50:50 tahun 2030.

Ibu Yohana Yembesi menyampaikan antara lain; komitmen pemerintah Indonesia untuk mencapai kepemimpinan perempuan 50:50 tahun 2030, dengan mempromosikan He for She yaitu gerakan mendorong laki-laki mendukung keterwalilam peempuan. Indonesia sbg salah satu dari 10 Negara terpilih untuk komitmen 50:50 adalah karena sbg Negara demokrasi dg popularitas muslim, perempuan nya termasuk negara yang developed. Planet 50;50 kebijakan PPA mendorong keterlibatan perempuan  gender balance.
Adapun Kementerian PPA juga melakukan kegiatan mendukung keterlibatan perempuan politik untuk Pemilu 2019 yad dengan memberikan pelatihan peningkatan kapasitaa perempuan Caleg. Mengingat Masih adanya hambatan2 tantangan bagi Perempuan maju dalam dalam kontestasi politik masih menghadap i social cultural barrier dianggap second sex dan objet domestic violence. Nilai sosial budaya belum ada posisi kesetaraan antara posisi perempuan laki. Perempuan juga mengalami kesulitan mendapatkan sumber finansial bila akan ikut kontestasi politik, harus ijin suami dan keluarga, dan mendapat dukungan dana. Sedangkan kondisi ril politik masih belum dapat dipisahkan dari Partai Politik, asih terdapat bias gender di partai politik yang memapankan gender inequality. Hal itu membuat sangat diperlukan keterlibatan semakin banyak perempuan dalam posisi pengambil keputusan politik. Kebijakan afrimasi kuota sampai saat ini masih belum dapat melepaskan ketergantungan parpol ketika perempuan akan terlibat dalam politik

Lembaga Ilmu Pengetahuan selaku host Konfrensi diwakili oleh Tri Nuke Pudjiastuti dalam siaran pers menyatakan bahwa LIPI erus mendukung kepemimpinan erempuan dan d harap kan dari Konfrensi akan menghasilkan solusi dari berbagai persoalan yang dihadapi perempuan abad ke 21 dalam hal kepemimpinan.

Berbagai penelitian yg telah dikaji dipaparkan peneliti Indonesia antara lain trkait Topik perubahan demokrasi dalam keluarga, gender kepemipiman Perempuan dan islam, adapun Presiden AAWS dari Ehwa Women University Korea Selatan pemaparan kepemipinan perempuan dalam konteks dan kategori yg memiliki berbagai aspeknya, antara lain kategori dan cara eks presi power, power to/with dan bukan power over.

Konfrensi berlangsung 2 hari, 27-28 April, 2018 sebagaimana berbagai Konfrensi intelektual/Akadem, acara i secara maraton dilakukan dengan pemaparan berbagai  topik Konfresi melalui presentasi paper hasil penelitian, berbagi informasi dari wilayah dan konteks sosial yang berbeda dalam panel-panel diskusi, termasuk dibukanya tanya jawab baik dari participant narasumber atau peserta di floor. Hal menarik ketikpertanyaan kritis yang dilontarkan narasumber dari Thailand dalam sesi pleno, membutuhkan jawaban bersama yg dilakukan oleh dari Thailand, tentang perlunya redifinisi makna demokrasi. Meredefinsi makna Demokrasi mengingat slama ini yg didengungkan yaitu politik Keterwakilan / politic represebtasi dan pemilihan/election hanya lah bagian dari Demokrasi, dan terbuka untuk peserta menggali kembali demokrasi yang sampai saat ini belum memberi ruang partisipasi perempuan secara memadai. (UL)

 

Advertisements

Kartini, Ada Nyata dalam Semangat dan Aksi Kekinian

Hari Kartini 21 April 2018 menandai 54 tahun sejak Kartini ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Soekarno, atau 114 tahun sejak Beliau wafat 17 September beberaap hari setelah melahirkan satu-satunya putera, RM Soesalit Djojohadiningrat. Kartini boleh wafat dan darah keturunan biologisnya hanya satu orang putera, namun semangat dan gerak hidupnya baik yang nyata atau masih menjadi impiannya telah menghidupi dan memberi inspirasi banyak perempuan, di dalam Negara Indonesia merdeka maupun di luar negeri.

Sekarang ini, kita menemui banyak perwujudan apa yang dicita-citakan Kartini bagi perempuan dan oleh perempuan untuk bangsanya sebagai mana lirik lagu Kartini karya WR Supratman “Sungguh Besar Cita-citanya Bagi Indonesia“. Perempuan dan laki-laki bahu membahu untuk kemajuan bangsa, kemerdekaan Indonesia. Perempuan di Indonesia kini bersekolah dan mengenyam pendidikan demi untuk dirinya dan kemajuan bangsa. Perempuan mengajar dan mendidik anak perempuan hingga ke pelosok daerah, perempuan mengobati sebagai bidan atau dokter ke pelosok. Perempuan menjadi apa yang diinginkannya. Perempuan mengejar kebahagiaannya menikah dan tidak menikah. Perempuan pelestari keindahan budaya. Perempuan terus berjuang untuk kebahagiaan bersama semua rakyat laki-laki maupun perempuan dalam mengadvokasi kebijakan Negara. Perempuan menjadi menteri mendukung kemajuan peradaban.   Banyak lagi yang telah diwujudkan kini oleh perempuan-perempuan se Nusantara dari apa yang pernah dicita-citakan Kartini.

Republik Indonesia kini telah menjadi bagian apa yang seharusnya menjadi dalam memperlakukan perempuan, dari sebuah bangsa yang besar (dalam arti seluasnya) besar kebudayaannya, besar wilayahnya, banyak penduduknya, kaya alam rayanya, sebagaimana di masa lalu.

Jika kita mau bersyukur dan membaca apa yang terjadi disekitar kita, khususnya pergerakan perempuan didalam memperjuangkan kesejahteraan rakyat khususnya melalui pemuliaan perempuan melalui pemenuhan haknya sebagai warga negara, maka kita akan menemui banyak perempuan yang bagi saya adalah representasi Kartini di masa kini. Ada beberapa perempuan yang saya kenal, yang sesungguh-sungguhnya seperti Kartini, hidup berjuang dengan tulus ikhlas dan masih berjuang untuk kepentingan bersama.

Penghargaan kepada Kartini adalah penghargaan betapa lebih penting menjadi manusia yang menginspirasi manusia lain, ketimbang manusia yang mengejar kesuksesan duniawi dan harta (meskipun kini banyak sekali kiat inspirasi disebarkan dengan tolok ukur harta dan jabatan). Namun inspirasi Kartini lintas batas negara, lintas waktu. Sejak beliau masih belia, bangsa eropa lebih dahulu mengenal pemikiran melalui tulisannya, adapun bangsa Nusantara umumnya baru mengetahui pemikirannya setelah ada terjemahan dari surat-surat Kartini oleh Arjmin Pane 1911. Inspirasi adalah kekuatan positif kepada pikiran dan perasaan yang mempu menggerakkan manusia untuk beraksi, bekerja, melakukan sesuatu. Tak kurang, surat-surat Kartini yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris Letters of Javanese Princess, dengan kata pengantar Eleanor Roosevelt  (istri Presiden Amerika Serikat ke 32) edisi UNESCO collection 1964. Bukan hanya itu, nama Kartini pun digunakan di berbagai Negara sebagai nama suatu Penghargaan di Belanda, bahkan suatu organisasi konsultan gender di Kanada memakai nama Kartini, bahkan salah satu penulis menuliskan bahwa mengapa Kartini kurang begitu dikenal di luar Indonesia karena berbahaya pemikirannya terlalu jauh tan sesungguhnya menjangkau dan melintasi jarak dan benua yaitu melawan pemikiran dan prilaku patriarki ( http://dangerouswomenproject.org/2016/09/27/raden-adjeng-kartini/ )

Setiap tahun biasanya saya hampir selalu dilecut untuk menuliskan sanggahan terhadap mereka yang saya sebut “anti Kartini” karena kurang memahami kesungguhan semangat, pengalaman, mimpi dan harapan Kartini. Saya berani menyembut “anti Kartini” karena banyak dari mereka yang dengan serta-merta mencopy-paste pandangan dari akademisi yang  “dianggap kritis” karena mengkritik atau menolak kepioniran dan kegigihan Kartini berjuang, padahal membaca Surat-surat KARTINI pun belum pernah, boro-boro mengerti tulisan Kartini yang asli dalam bahasa Belanda. Namun tahun ini berbeda, Kartini telah mulai banyak dihidupkan kembali semangat dan cita-citanya oleh masyarakat khususnya aktivis perempuan, sehingga tidak terlalu sulit untuk menjabarkan betapa sebagai Bangsa Indonesia yang bertanah air sama dengan Kartini untuk bangga dan terus melanjutkan perjuangannya, kesetaraan kemanusiaan perempuan dan laki-laki.

SELAMAT HARI KARTINI 2018, KEPADA PEREMPUAN INDONESIA SELAMAT MERAYAKAN CITA-CITA KARTINI, BERSYUKUR DAN TERUS MELANJUTKAN PERJUANGAN KARTINI.

 

Jakarta 20 APRIL 2018, SUKRA KASIH.

Blog at WordPress.com.

Up ↑