Search

wartafeminis.com

Indonesia Feminist Theory and Practices

Month

April 2019

Kartini bukan Feminis Pertama Nuswantara

Nuswantara (jauh eksis sebelum Indonesia merdeka Agustus 1945), adalah negeri yang memiliki kesetaraan sesama manusia. Pada masa tersebut yaitu berabad sebelum tahun 1500an, bangsa Nuswantara tinggal menentap tersebar di antara pulau-pulau, sungai-sungai, gunung dan lautan memiliki sistem kerajaan, keratuan, dan memiliki sistem sosial berdasarkan kasta. Walaupun hidup berdasarkan kasta, namun siapapun dapat berpindah kasta, dari kasta sudra naik menjadi satria, dari satria menjadi sudra. Semua karena laku manusianya (prilaku, adat tatakerama, daya juang, daya kerja, dan takwa -hubungan dengan leluurnya). Pada masa ini baik perempuan dan laki-laki dapat menduduki posisi politik sebagai pemimpin, baik di pemerintahan kecil maupun pemerintah besar serta menjadi pimpinan militer/pasukan perang.

Bukanlah hal yang aneh perempuan membawa senjata keris, atau pisau kemana-kemana, yang pasti desain keris sebagai senjata dan pisau untuk memotong bahan pangan berbeda desain peruntukkannya. Kemampuan perang dan pemahaman dalam mengelola pemerintahan yang dilakukan oleh  pemimpin perempuan Nuswantara tercatat dikitab-kitab kuno baik yang ada di Nuswantaa maupun kitab kuno di China dan Yunani. Tak banyak orang menggalinya, karena sampai detik ini bangsa Indonesia lebih cenderung memilih ajaran luar (terkait subordinasi perempuan) yang bukan menjadi jatidirinya sendiri sebagai bangsa.

Di dalam kebudayaan adiluhung bangsa Nuswantara, tidak hanya akan menemukan keteraturan pola pemerintah sebagaimana tercantum dalam Kerta Negara (Wilwatikta Majapahit), Simbur/ (Sumatera Selatan/SriWijaya) , dan Il La Galigo (Sulawesi/Bugis). Undang-undang negara-negara tersebut memiliki aturan yang sangat detil, bahkan dalam UU kerajaan Sri Wijaya banyak sekali yang mengatur tentang bagaimana laki-laki harus berlaku sopan dan santun terhadap perempuan, bila melanggar harus membayar denda.

Di antara kisah-kisah yang berkembang dalam sejarah Indonesia, khususnya tentang sejarah kepahlawanan, mereka yang menjadi pahlawan nasional sebelum Indonesia merdeka adalah termasuk para perempuan yang memiliki keahlian yang beragam. Sebut saja ahli strategi perang adalah Cut Nyak Dien (Aceh), keteguhan diri dan jiwa  (endurance) dalam melawan dan mengabdi bagi masyarakat Dewi Sartika dan Kartini, Sedangkan perempuan-perempuan dimasalalu  sebelum ketiga beliau, yang bekerja untuk rakyat dan mengabdi pada publik, yang jika dalam konteks kekinian disebut feminis banyak, sayangnya sumber sejarah resmi tidak saja menuliskan namun menjauhkan perempuan untuk mengenali para leluhurnya yang sakti dan luar biasa.

Seperti sudah disebutkan di atas, bahwa dimasalalu, perempuan dan laki-laki memiliki persamaan perlakuan dan treatment yang sesuai dengan kastanya, namun mereka dengan laku-nya dapat mengubah posisi dan statusnya. Begitu pun terhadap perempuan. Bila pada masa sekarang ada pesantren atau pun seminari yang mengajar kalangan putri-putra untuk belajar satu religi tertentu maka pada masa itu ada padepokan untuk khalayak umum, ada ksatrian dan kaputren untuk kalangan keluarga raja/ratu. Mari telusuri sebagai pelajaran berharga dan kebanggaan sebagai bangsa.

Seluruh bangsa di dunia mengakui bahwa Kerajaan (Mawastpati) SriWijaya dipimpin oleh Ratu Perempuan, Maharatu SHIMAhawan. Maharatu Shimahawan wilayah kekuasaannya hingga ke Jepang, sehingga di jepang banyak nama berakhiran shima.

Selain Maharatu Shimahawan ada banyak lagi putri-putri Nuswantara yang menjadi Ratu atau Maharatu. Bila Ratu hanya mengelola satu keratuan/kadipaten, maka Maharatu menguasai dan mengelola banyak kerajaan/keratuan. Keraton Laut Selatan di Nuswantara (kini) Mahapatihnya Dewi Kadita yang terkenal dengan nama Nyai Roro Kidul dan berpakaian hijau pupus/muda beliau putri dari Medang Ghana di pelabuhan Ratu, beberapa Tumenggung: Endang Juwiri berpakaian serba kuning, Surenggana berpakaian merah, Nyai Sepet madu berpakaian ungu,Nyai Gadung Mlati berpakaian ijo gadung/tua, Nyai Blorong berpakaian juga ijo gadung dll. Beliau yang kini menjadi adipati/tumenggung tersebut masalalu di dunia juga mempunyai peran politik hampir sama, khususnya disatu wilayah tertentu (Wilayah Induk atau wilayah kadipaten/provinsi).

Feminis bukan dari luar negeri, bukan hal baru. Jauh sebelum ajaran dari sebrang datang baik dari barat maupun dari tanah arab, wilayah pemerintahan telah  menjalankan sistem kehidupan berkeadilan yang setara, semua sama dimata hukum. Bahkan dalam konteks perpajakan pun dikenakan pajak progressif. Bahkan ketika ada warga yang membayar pajak berlebihan bisa dihukum dianggap menghina Negara.

Tentang bagaimana feminisme sudah dilaksanakan dalam kearifan lokal dapat dilihat di https://wartafeminis.com/2013/04/05/revitalisasi-nilai-kearifan-lokal-mengatasi-pemiskinan-peremuan/

@umilasminah

Women of Indonesia the unique Sisterhood

 Indonesia women have always been great target for commercials. Either their bodies; their “stereotype job” as caregiver; a homemaker for “homy” home, or their soul and perspectives. But they are living their way in unique sisterhood, silent feminists. They do not claim themselves feminists, yet they are practicing feminism in many ways they can.

Indonesian women has always have sisterhood without needed to know about feminism, or the term of sisterhood in so called feminist’s way.  Their sisterhood shows in daily life. In the way they care for each other at the office, at the school, at organization or between neighbors.

Sisterhood is powerful was already proof by Indonesian women. Many women friends have been created social networks to help other women. It might be philanthropic activities or it was an organization. One of the basics and essential example of Indonesia sisterhood is through Arisan, mutual savings. A circulate saving amount of money by a group of women. Women whom practiced Arisan are varied; which form from different social class, status, ethnicity, or environment. For village or small group of women within neighborhood, sisterhood were showed when one member of the group have accident or caught up in trouble such as family member is ill, death or other disadvantage situation. The group usually, initiate by one of its leader of one of women living in area took initiative of something as to collect donation or come to show support to the women within group.

Indonesia feminist perspective is feminism have Kartini’s spirit, Pancasila in practiced and the acculturation with either local or global way of living, and with men whomever they share their life to be a better living.

Indonesia woman internalized custom and culture that already have implement feminism spirit. Although still many culture from many ethnics have deny women’s rights as equal with men, those culture mostly come in practices after certain period of Indonesia history. Most has have change after 15th century. Long before 15th century in most of Nusantara culture, men and women have equal rights in politics.   The stories of historical facts about equality and how society respect and adore women have needed to be told more, explore more. For those stories not only will show how sisterhood also in practiced in many level of life, including within palace, schools and Forrest.

The stories of herstorical facts of women living within period of 15th century can give new perspective, a way of looking of life within Indonesia and beyond through the eyes of women of Indonesia, beyond centuries. Now that Indonesia women have richness of practices of feminism with the combination of different ideology of feminism can be seen as part of practicing daily in history, can create a grand discourse of ideology, Indonesia feminism has its root and deep connection with State ideology Pancasila of 2 humanity (mutual assistance/gotong royong) between women. And Pancasila is not a taken for granted ideology, its ideology of Indonesia pluralism, Indonesian tolerance and Indonesia as a land of hope for women.  Despite the practices of Indonesia feminism has not yet seem to contribute in Internationally or academic discourse about feminism, Indonesia feminism already been practiced all the way since Indonesia was in the making to its Independen Day in 1945 to Now.

Aksi Satu Hati Alumni (ASHA) UI Perempuan Turba dan Turbo

Sebagaimana ditulis dalam wartafeminis sebelum ini, kerelawanan yang lahir sejak Joko Widodo (Jokowi)  mulai melayani warga Jakarta terus berlanjut. Pada perhelatan Pemilihan Presiden 2019 pun relawan terus bergerak. Kali ini Alumni UI yang tergabung dalam ASHA-UI Aksi Satu Hati Alumni Universitas Indonesia sebagai gambaran pengorganisasian berdasarkan kerelawanan dan semangat untuk mengawal Kepemimpinan Nasional yang bekerja untuk Rakyat. ASHA-UI, terdiri dari alumni UI yang rata-rata juga hadir pada Deklarasi alumni UI Dukung Jokowi PHOTO-2019-04-06-11-07-06 (1)pada 12 Januari 2019 di GBK.

Ditilik dari namanya
aksi berarti bekerja, bergerak dengan hati rela, penuh suka cita, dan ASHA-UI memilih area kerja turun ke bawah, kepada Rakyat bersama rakyat. Ada berbagai bentuk pilihan aktivitas lain yang bisa diikuti oleh alumni UI, namun dalam tulisan ini, aksi turba (turun ke bawPHOTO-2019-03-30-19-01-20.jpgah) turbo (bergerak cepat) dilakukan mayoritas perempuan ASHA-UI.

Aksi turba ASHA saat berita ini ditulis, telah dilakukan hingga 11 kali, terakhir pada 6 April di Tanjung Priok Jakarta Utara. Aksi turba mencerminkan bahwa walaupun semua yang aktif adalah alumni, secara sadar atau tak sadar aksi yang dilakukan mencerminkan semangat sebagaimana termaktub dalam Mars UI (Genderang UI) “Berbakti dalam Karya .. Pengabdi Cita Perlambang Cita ..Kobarkan Semangat Kita demi ampera”. (ampera amamat penderitaan rakyat.pen)

Sejak Januari 2019, ASHA banyak digerakkan oleh alumni UI yang bekerja acara adhoc sesuai fungsinya. Yang menarik adalah mayoritas perempuan aktif menjadi penggerak. Kordinator canvassing door to door Dewi Marhaimg_2551.jpgeni alumni  (Fakultas Ilmu Budaya),  Pencatatan dan Administrasi Heni, Logistik Zullya, sie Acara Nora, dan banyak perempuan yang dengan suka cita turut rutin dalam Aksi sebagai penanggung jawab fungsional kerja maupun turut terjun di canvassing, pemeriksaan kesehatan dan pembagian kacamata baca seperti Relita Pui, Diah Laksmi, Yeye,  Eva , Selly, Veti, Rini, Linda, Depe,  Tanti, Tami, Sari, Agnes, Grace, Reno, Dennie, Diah, Susi, Yuna, dan Rulita. Nama-nama tersebut adalah alumni UI perempuan yang secara konsisten menyediakan diri tenaga dan waktunya pada saat Aksi dilaksanakan  diakhir pekan.

Berbagai pengalaman yang berkesan menjadi pelajaran setiap usai berinteraksi dengan rakyat yang ditemui saat door to door di kawasan Jakarta, Bogor, Bekasi. Ada aspirasi, ada penolakan, ada penerimaan baik, apakah untuk pasang stiker, pasang kalender, dan yang selalu menarik adalah permintaan kaos. Biasanya ASHA akan selalu menyambut dan melayani mereka yang meminta kaos atau atribut lain, atau sekedar bertanya.  Sebagaimana mayoritas rakyat yg berkesempatan berinteraksi betapa hingar bingar politik di medsos dan televisi tak selalu tercermin di masyarakat bawah. Beruntungnya di Jakarta, dimana lokasi canvassing adalah wilayah menengah ke bawah sudah ada program pemeritah pemenuhah kebutuhan mendasar telah dinikmati mereka; KIS, KIP dan Program Mekkar.

Aksi bakti sosial ASHA-UI pada intinya merupakan tindakan nyata alumni UI lintas fakultas untuk mendukung Jokowi agar terpilih kembali melanjutkan tugasnya sebagai Presiden. Tindakan nyata y

PHOTO-2019-04-06-11-08-51

ang langsung dirasakan Rakyat selaku pihak yang diperjuangkan dan dilayani oleh pemerintahan Jokowi. Nah pada titik ini bakti sosial pelayanan kesehatan, dan pemberian kacamata, merupakan rangkaian dari aksi sosialisasi 3 program JOKOWI 2019, serta menangkal hoax dan fitnah terhadap Jokowi. Semuanya dilakukan dengan tatapmuka, ketuk pintu berbicara face to face, antara ASHA-UI dengan rakyat yang ditemui. Wilayah kerja aksi hingga pelosok Jakarta termasuk area kumuh dimana pendapatan warganya masih dibawah UMR  (upah minium rasio) Prov.Jakarta (pengupas bawang).

Mengikuti langsung kegiatan ASHA-UI berbakti sekaligus menjadi marketing “kerja baik dan rencana baik Jokowi”. Aktifitas  canvassing dan baksos metode sesuai gaya sendiri, individu yang terlibat menyampaikan informasi, mengajak dan melayani warga. Mampir di warung sambil berbelanja dan ngobrol dengan warga di toko, rumah dan pasar, semua dilakukan bersama alumni UI dalam kolaborasi fungsional, cair namun saling percaya. Disamping canvassing ada
fungsi lain terkait penyediaan logistik.l, materi untuk disampaikan kepada rakyat seperti flyer Program 3 Kartu Sembako, Indonesia Pintar Kuliah dan Kartu Pra Kerja, flyer penangkal hoax.

Sebagai pengorganisasian spontan dan adhoc, baksos pembagian kacamata baca untuk warga termasuk rapi dan sistematik. Agar tidak terjadi penumpukan orang, kupon yang hadir diberi kode Huruf A, B, dan C, untuk membedakan waktu pelayanannya. Misalnya kupo berkode A untuk warga yang dilayani pukul 9-10.00wib, B pukul 10-11.00 etc. Namun bila terjadi ketidak sesuaian akan ada langkah cepat mengantisipasi warga yang datang membludak, atau goodybag yang hampir habis. Misalnya menambah meja layanan dan menambah petugas yang melayani. Meskipun mayoritas yang turun ke bawah (turba) dan menggerakan secara cepat rangkaian kegiatan baksos dan canvassing adalah perempuan, laki-laki alumni UI yang senantiasa menjadi penggerak ASHA termasuk yang mendokumentasikan seluruh kegiatan dan menyediakan waktu dan tenaga melayani perempuan berselfie ria sebagaimana yang dikerjakan oleh Dundun dan Martin. Ada juga Yeni yang tuIMG_2604rut merekam kegiatan ASHA sebagai video. Zack yang slalu warawiri, Hendi yang kopi dinginnya selalu ditunggu, dan Yanwar juga Iman termasuk laki-laki yang aktif dalam kegiatan ASHA. Zack bertindak mirip General Manager, karena fungsi yang dilaksanakannya termasuk traffick dan komunikasi. Tentu saja diantara alumni UI yang bergerak dan terlibat dalam ASHA ada juga yang  masih aktif dalam komunitas relawan Jokowi seperti Zullya dan Wignyo.

Secara garis besar siapapun mereka yang pernah mengecap pendidikan di Universitas Indonesia dan pernah KKN atau pernah berkegiatan organisasi di kampus akan kembali merasakan spirit oranPHOTO-2019-04-06-15-19-53g muda, walaupun usia sudah jauh dari kaum millenial. Itulah kekuatan masalalu yang berlaku pada masa kini, alumni bagi  yang pernah bersekolah bersama disuatu institusi pendidikan melahirkan ikatan, ikatan tempat, waktu dan hubungan antar personal. Ikatan itulah yang kembali merekatkan alunmi Universitas Indonesia bergerak dengan ASHA berSATU demi keberlanjutan dan mengawal pembangunan yang sedang berjalan, menghubungkan Pak Jokowi dengan warga, turut menjaga kewarasan rakyat dalam menggunakan Hak Pilihnya pada 17 April 2019. Jadi ASHA bisa dibilang implementasi Hymne UI  dalam momen suksesi nasional. Hymne Universitas Indonesia: Almamaterku setia/berjasa/Universitas Indonesia/Kami wargamu/Bertekad berSATU// Kami amalkan tridharmamu/ Dan mengabdi Tuhan/Dan mengabdi bangsa/Dan negara Indonesia//

img_2785-e1554807841737.jpg
panas terik terus melayani

@umilasminah #AksiSatuHatiAlumniUIBerbakti

Jokowi dan Kesukarelawanan dalam Perhelatan Politik

Sejak kehadiran Pak Jokowi di Jakarta menjadi calon Gubernur, itulah   kerelawanan dalam aktivitas politik skala nasional terjadi pasca orde baru. Orang-orang dari berbagai kelas menyumbangkan tenaga, pikiran, waktu serta materi untuk suatu kontestasi politik. Perebutan Kekuasaan. Pemilihan Gubernur dan wakil Gubernur DKI Jakart 2012. Pada saat itu media massa memberi ruang besar kepada sosok Jokowi dengan gaya kepemimpinan yang merakyat sederhana dan inovatif.

Pemilihan gubernur 2012, Joko Widodo memenangkan Pileg setelah bertarung dua kali, untuk Pemilihan Gubernur DKI Jakarta suara Gubernur terpilih harus 50%+1. Pada pemungutan suara awal ada 6 kandidat, Joko Widodo berpasangan dengan Basuki Tjahaja Purnama nomor urut 3, dengan trademark baju kotak-kotak diusung oleh partai PDI Perjuangan dan Gerindra, petahan Fauzi Bowo dan Nahrowi diusung oleh 8 partai (Partai Demokrat,PAN,  HANURA,PKB, PBB, PKNU), adapun calon lain diusung PKS dan PAN dan satu orang diusung perorangan. Pada saat ini gaya kepemimpinan Jokowi sebagai calon Kada sama saat calon walkot Solo yang selalu menyapa rakyat, selalu blusukan mendengarkan aspirasi, termasuk bekerja bersama relawan. Dan berhasil, atas sinergisitas relawan dan partai pengusung Jokowi dan Ahok menjadi pemimpin di Jakarta. Partai pengusung secara legal memiliki kewenangan penjagaan hasil suara di TPS, dengan legalitas saksi dari tingkat TPS hingga KPUD Kota/Kab Kep.Seribu.

Peristiwa kesadaran rakyat untuk terlibat dalam aktivitas politik memuncak pada Pemilihan Presiden 2014. Pada saat ini, orang dari Ac10419521_714996118565296_8270070999094525622_neh hingga Papua memiliki keyakinan paa seorang Jokowi. Tak heran pada saat itu ribuan organisasi relawan mendaftarkan  diri di Tim Kordinasi Nasional Relawan Jokowi-JK di Cik Ditiro, mulai dari relawan tingkat RT yang anggotanya beberapa orang hingga relawan tingkat Nasional yang memayungi organ relawan di daerah.

Pak Joko Widodo terpilih dan melaksanakan program janjinya. Pembangunan infrastruktur, pemenuhan kebutuhan pokok hidup rakyat, perlindungan warga negara dan kedaulatan wilayah. Pemerintahan Jokowi telah menciptakan kemajuan, mengurangi kesenjangan (Indonesia sebelah Timur dan Barat), memperpendek jarak (antar kota/kabupaten), dan menyediakan layanan hidup yang manusiawi (Kartu Indonesia Sehat, Kartu Indonesia Pintar ). Bukti-bukti kerja keras pemerintah Jokowi dan Jusuf Kalla kembali menghidupkan gerak relawan dan keberanian rakyat untuk menyatakan sikap politiknya. Bahkan bila pada Pilpres 2014 kalangan akademisi, pengusaha, maupun organisasi profesi belum menyatakan deklarasi terbuka mendukung capres/wapres Jokowi-JK. Bila pada pilpres 2014 bermacam kalangan kelompok usaha dan profesi mendukung melalui keikutsertaan dalam organisasi relawan yang ada atau secara individu membentuk komunitas relawan. Hal ini bisa dimaklumi, bagaimanapun pasca reformasi 1998, partai politik yang bertumbuh belum mampu menjadi teman semua kalangan, masih ada sisa depolitisasi, deparpolisasi yang menginternalisasi pada mayoritas bangsa, sehingga phobia pada politik. Meskipun sedikit demi sedikit berubah, dan pada pilpres 2019 kesadaran Demokrasi semakin matang, sertademi menjaga arah kebijakan pemerintah dan komitmen dukungan presiden terpilih 2014, maka pada pilpres 2019 relawan tetap hadir, terus berupaya bekerja demi  menjaga kelangsungan pembangunan, kemajuan yang telah dicapai oleh  Pemerintah Jokowi-JK, sehingga banyak pihak berani menyatakan diri, berdeklarasi mendukung Jokowi-Ma’ruf, termasuk yang sebelumnya tidak terjadi yaitu kalangan berasal universitas (alumni) dan pengusaha.

Tak bisa dipungkiri, kerelawanan sosial politik adalah keniscayaan10498711_734690573262517_6170369350166644910_o.jpg bangsa Indonesia yang memiliki semangat gotong royong, sejak jaman perjuangan kemerdekaan, maupun dalam skala politik demi suksesi pemimpin pemerintahan hadir pada tahun 1998, ketika nasi bungkus dari warga untuk mahasiswa menjadi tanda kegotongroyongan untuk menggulingkan pemerintahan yang tidak demokratis, demi mengubah kondisi negara menjadi lebih baik, dan mahasiswa yang aktif pada tahun 1998, kini kembali aktif dengan status alumni demi menjaga kelangsungan pembangunan untuk rakyat dibawah kepemimpinan Joko Widodo.

 

Blog at WordPress.com.

Up ↑