KEBUDAYAAN NUSANTARA BANGKIT PEREMPUAN MENARI #SeberapaIndonesianyakamu

Kebangkitan kebudayaan Nusantara yang menjadi akar budaya Indonesia semakit nyata. Gerakan kebangkitan budaya ini banyak didukung dan diinisiasi oleh perempuan. Perempuan Berkebaya setiap hari selasa, dan terakhir perempuan menari setiap weekend.

Meskipun yang menari pada weekend (Sabtu atau Minggu) tak hanya perempuan, inisitiatif untuk menari sebagai tanda kecintaan sebagai bangsa Indonesia dimulai oleh perempuan.  Para perempuan yang berinisiatif untuk flash mob tari sebagai ekspresi KeIndonesiaan adalah Eva Simanjuntak, Virli, Evie, Sekar. Bersamaan perjalan persiapan tari SeberapaIndonesianyakamu, KomunitasIndonesia.ID berdiri atas inisiatif Eva Simanjuntak. Komunitas Indonesia ID (identitas) yang menjadi ajang informasi dan berbagi kabar tentang kegiatan tari.

Meskipun beberapa bulan lalu telah hit dan viral aksi tari flash mob di Yogyakarta, para penari adalah penari professional. Inilah yang membedakan penari pada #SeberapakahIndonesianyakamu adalah warga masyarakat perempuan, laki-laki, tua muda yang belajar menari untuk bersama-sama mempopulerkan kembali tarian dari daerahnya yang hampir punah.

Ide tentang menari sendiri merupakan hasil dari diskusi diantara perempuan yang peduli tentang semakin maraknya sikap intoleransi sesama anak b

MENANTANG

angsa. Mereka saat itu sedang ngopi dan ngobrol bareng, waktunya sekitar 3 minggu sebelum acara Menari Cokek (18 Agustus) diantara yang hadir di kafe bilangan Cikini adalah Eva Simanjuntak, Evie Permatasari, Virli Virliani,  Ulfa, Silvana. Pada saat yang sama ingin adanya kontribusi untuk berbuat sesuatu mengikuti inspirasi sebagaimana yang dibuat oleh Almarhum Abduh dengan kegiatannya mempromosikan toleransi.

Saat itu juga, sedang ramai viral di medsos aksi tarian flashmob di Malioboro Yogyakarta, yang ditarikan oleh penari professional. Sempat tercetus bagaimana jika “Battle Dance”, yang pasti memerlukan tempat luas dan penari asli, sehingga tidak dipilih. Akhirnya tercetus ide Challenge, menantang satu daerah menari menantang daerah lain menarikan tariannya. Karena biasanya orang suka jika ditantang, dan menggunakan kata tantangan “seberaindonesianyakamu” dengan menari.

Diputuskan untuk menari di Jakarta, dan pilihan jenis tariannya “tari topeng” sepertinya sulit sudah umum, maka kemudian atas usulan Virli sebagai warga keturunan Betawi mencetuskan Tari Cokekan, tarian asli yang merupakan tari campuran, yang disebabkan adanya stigma tarian seronok, tarian yang memiliki filosofi hubungan antar manusia ini sudah jarang ditarikan lagi (https://wartafeminis.com/2016/04/28/tari-cokek-sipatmo-lentera-benteng-jaya/ ). Sejak ditentukan itulah mulai dicari tahu tentang Tari Cokek, mulailah pergerakan mencari informasi tentang Tari Cokek lebih jauh, tentang filosofinya hingga mendapatkan nama seorang penari yang ahli tentang tari cokek yang berjaringan dengan PPSW, yaitu Ibu Heni, yang bersedia memberi pengajaran gerak tari Cokek tanpa dibayar. Beliau memberi pelatihan tari selama 3x di halaman Komnas Perempuan yang meminjamkan peralatan soundsytemnya juga. Ibu Heni mengajarkan tari tidak dibayar, mereka yang datang untuk belajar tari bergotong royong (kolekan/saweran) menyumbang untuk ongkos pulang Ibu Heni.

Ketika pemilihan waktu telah ditentukan yaitu 18 Agustus 2019, maka penggagas mulai mencari lokasi tempat. Eva Simanjuntak lalu ke Kota Tua diantar oleh aktivis Kota Tua, Ian Praba. Di lokasi Kota Tua bertemu dengan pimpinan museum Fatahilah yaitu Pak Novri, yang ternyata adalah teman dari Yoris anggota alumni UI yang juga aktivis Deklarasi UI untuk Jokowi. Jejaring selanjutnya adalah agar mendapt kemudahan pelaksanaan gerakan relawan ini agar bebas dari kontribusi biaya, maka para penggagas menemui  Dirjen Kebudayaan, Hilmar Farid untuk mendapat surat dukungan aksi menari spontan warga tanda bangga sebagai bangsa Indonesia.

Kisah selanjutnya adalah rapat dan perencanaan, pertemuan dengan mereka yang mendukung gerakan menari daerah, dan terus menggalakan informasi melalui social media baik FB, What App Group maupun platform media online lainnya. Tidak ada konferensi pers. Menjelang acara ada saja bantuan kerjasama sehingga pelaksaan flashmob Tari Cokek dapat terlaksana. Ada sumbangan makanan minuman secukupnya, ada sumbangan dalambentuk penyediaan soundsystem di Lokasi #SeberapaIndonesianyakamu I, di Musuem Fatahillah Jakarta.

Perjalan salah satu penggagas tari challenge #seberapaIndonesianyakamu, Eva Simanjuntak menunjukkan bahwa kerja kerelawanan, kegotongoroyongan dan keikhlasan dapat menjadi roh gerakan budaya. Tak ada satu orang pun yang dapat mengklaim kegiatan #seberapaIndonesianyakamu adalah milik mereka

MEDAN
Medan Ahooian

, namun semua milik semua dengan kebanggaan sebagai warga Indonesia yang memiliki tarian. Hasil dari #seberapaIndonesianyakamu adalah klaim kembali tarian asli yang sudah langka menjadi kepada pemiliknya, khususnya warga asal tarian tersebut ditarikan. Warga segala usia, segala kelas dan golongan, laki-laki dan perempuan.

Kesuksesan #seberapaIndonesianyakamu tidak hanya diukur dengan kuantitas jumlah penari, atau berapa lama durasi tarian ditampilkan, namun lebih daripada itu perasaan yang ditimbulkan dari mereka yang turut serta menari tarian yang semula tidak dikenalnya, yang tak tahu kisahnya tentang tarian tersebut. Kesuksesan dance challenge kota ke kota lain dari  #seberapaIndonesianyakamu adalah warga kembali mengenali kekayaan budaya yang dimilikinya, terlibat didalamnya baik menari, mempublikasikan dengan memotret merekam video, semua pengalaman dan kerja yang dilahirkan selama acara tarian diberbagai daerah ini tak dapat diukur dengan apapun. Tiap individu yang terlibat maupun yang hadir saat prosesi tari berlangsung pasti memiliki rasa yang sama, gembira dan senang, itulah pencapaian gerakan budaya baru dan terbarukan, lewat tarian dalam gerakan spontan bersama dan gotong royong.

pakarena
Pakarena Makasar, Sulawesi Selatan

Dibalik segala kesuksesan tersebut, dan diantara kegembiraan tari

salah seorang penggagasnya Eva Simanjutak padahal mengalami berbagai peristiwa yang buruk  yang terjadi pada anak semata wayangnya Pebasket Nasional yang sedang meroket Derrick Michael mengalami musibah (untungnya tidak terlalu berat Mike mengalami memar-memar)

bengkulu
Bengkulu). Dan namun layaknya seorang ibu dan perempuan pejuang pekerja dimanapun berada, tak ada tampak kemurungan dan kedukaan sepanjang hari sejak proses tari Cokekan dimulai, bahkan dengan ramah selalu bersedia melayani para peserta ataupun penonton selfi dengan mahkota emas yang grande.

Dance challenge #seberapaIndonesianyakamu telah dilaksanakan di Bandung “Ketuk Tilu”, Medan “Ahoi”, Makassar “Pakarena”, Jember “Padhalungan”, Bengkulu “Saputangan”.

 

68355628_2380756262196755_4495937371354693632_n
Eva Simanjuntak (tengah)
Advertisements