Search

wartafeminis.com

Indonesia Feminist Theory and Practices

Month

February 2020

Reforma Agraria, apakah sudah terjadi di Indonesia?

Beberapahari lalu saya mengikuti diskusi di Jakarta tentang reforma agraria di Indonesia, kebetulan sesudah itu saya melanjutkan malam dengan menyaksikan film Semes7a, sebuah film dokumenter bertema lingkungan hidup khususya climate change, pengurangan emisi.
Ini adalah film dokumenter kedua yang saya tonton di bioskop dan membeli tiket layaknya nonton film feature fiksi, Semes7a mirip dengan film dokumenter terdahulu Banda terdapat cuplikan talking head dari pelaku utama dalam kisah dokumenter ini, yaitu mereka yang terlibat langsung didalam kegiatan yang memberi dampak terhadap perubahan iklim. Menonton film ini, seusai diskusi refromasi agraria, saya mengambil kesimpulan isu perubahan iklim yang didengungkan di dunia barat seakan terlepas dari tanah. Sementara film semesta justru mengembalikan bahwa climate change yang merugikan alam terkait dengan sikap manusia terhadap air tanah dan udara.

Menonton film Semes7a m, engajak kita mengenali praktek menjaga bumi yang dilakukan di 7 wilayah yaitu Bali, Aceh, Kalimantan, Yogya, Sumba, Raja Ampat, dan Jakarta. Film ini bercerita tentang hutan, sungai, laut dan tanah yang menjadi bagian manusia memuliakan dirinya. Film dibuka dengan kegiatan ritual Bali yang memuliakan mata air, dilanjutkan dengan kisah Sumba pemanfaat sungai, lalu Raja Ampat dengan pemuliaan bagian laut dengan tidak mengambil ikan untuk masa waktu tertentu di wilayah tertentu, ada juga gajah yang menyerang warga dimana pada saat itu pemimpin agama menggunakan pengaruhnya untuk tidak membunuh gajah melainkan bersahabat dan berteman dengan, kehidupan memuliakan manusia yang inheren dengan memuliakan alam. Sehingga dalam konsep keberlanjutan kehidupan manusia memuliakan “thoyib” dirinya maka selayaknya manusiapun makan dari makanan yang mulia, pada titik ini tanah,  tanaman dan  hutan adalah bagian terpenting bagi manusia. Itulah relevansinya dengan reforma agragria, atau reformasi tanah. Seharusnya konsep reformasi agraria pun tidak sebatas tanah, tetapi keseluruhan yang melekat pada tanah.

Pada suatu kesempatan Fokus Group Discussion PDI Perjuangan dengan topik Reforma Agraria dengan mendengarkan paparan beberapa ahli, antara lain yang terjun langsung menyiapkan konsep Reforma Agraria yaitu Noor Fauzi Rachman, juga yang terlibat didalam berbagai perundangan terkait agraria Profesor Maria Sumarjono yang a.l mengembalikan pentingnya keadilan pada rakyat atas berbagai RUU yang sedang dibahas RUU Pertanahan, RUU Kehutanan dan RUU Masyarakat Adat.

 

Kebangkitan Perempuan Berkesenian

Kesenian adalah salah satu unsur kehidupan manusia bermasyarakat. Kesenian bagian dari keunikan karya budaya yang dipengaruhi tempat, waktu, ruang dan latar belakang suku/etnik.

Bagi bangsa beretnik non tunggal, Indonesia Nuswantara memiliki keragaman kesenian, baik yang bersifat massif umum, maupun yang bersifat khusus terkait tradisional upacara budaya khusus termasuk upacara agama. Kesenian dalam bahasa inggris arts, menjadi ekspresi rasa manusia yang kadangkala dibantu media yang diciptakan sendiri oleh manusia maupun memanfaatkan yang telah ada dari alam. Secara umum kesenian sebagai  karya cipta manusia yang orisinil musik, melodi dan bunyi-bunyian atau suara spesifik, gerak tarian yang terkait melody lagu maupun gerak tradisi dalam suatu acara pertunjukkan maupun suatu ritual.

Musik, sebagai bebunyian medium tak pernah tunggal, dia harus memiliki paling sedikit 2 komponen sehingga menghasilkan bunyi, yaitu udara selalu pengantar dan alat, gerak atau suara yang menghasilkan bunyi. Manusia sendiri memiliki kemampuan paling tinggi dibanding semua mahluk lain menciptakan suara. Dari dirinya sendiri manusia menghasilkan milyaran suara, karena manusia saja secara data sudah 7 milyar di bumi.  Lalu bebunyian yang diciptakan di luar manusia untuk melengkapi bunyi sehingga menghasilkan nada dan melodi. Sejak jaman dahulu bebunyian, musik telah melekat dalam kehidupan manusia, bahkan memiliki kekuatan tak hanya menghadirkan suara saja, tapi suara musik mampu mengeluarkan atau menciptakan kekuatavn lain. Ada cerita tentang seruling yang bisa menggerakan ular, tikus ataupun ada petikan harpa yang mampu menggerakan manusia untuk melakukan hal tertentu.

Blog at WordPress.com.

Up ↑