Courtesy : https://taldebrooklyn.com/

Perempuan sebagaimana laki-laki memiliki hak biologis yaitu kesenangan fisik, materi yang manusiawi yaitu hak terpenuhinya kebutuhan seksual. Hak pemenuhan kebutuhan seksual secara spesifik disebutkan sebagai salah satu unsur kebutuhan hidup manusia dalam berbagai pengajaran tentang ilmu manusia (antropologi), namun dalam psikologi berbeda lagi dengan istilah lebih khusus seksualitas (sexuality) sebagai perilaku terkait seks apakah itu kecenderungan ( dorongan nafsu birahi) , orientasi kenikmatan seksual (kelamin), hingga kesenangan (pleasure) biologis seksual), kenikmatan sensual hingga puncak kenikmatan seksual orgasme.

courtesy : https://taldebrooklyn.com/

Di Indonesia Nuswantara, sebenarnya seks (kelamin/tindakan) dan seksualitas (prilaku atasnya ke dalam diri sendiri atau keluar ke arah di luar diri) bukanlah hal yang “tabu” atau mengerikan atau menyesatkan atau menjijikan atau memalukan. Seks dalam hal ini sebagai tindakan yang berujung pada puncak kenikmatan materi (tubuh) fisik manusia orgasme bukan hal yang tidak dikenal. Sejak dahulu telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari bangsa di Nusantara. Bahwa kenikmatan seksual diakui sebagai kenikmatan fisik/materi manusia yang berbeda-beda dari manusia satu dan manusia lainnya. Pengakuan tersebut terkait pula dengan bagaimana menahan diri dari tindakan memperoleh kenikmatan tersebut secara kokoh tanpa berhubungan seks dengan manusia lain sebagai suatu perilaku yang kuat dari seseorang.

Di negara maju, seks dan seksualitas dalam keberagaman diri telah diakui oleh negara, sebagaimana diakuinya perpindahan jenis kelamin atau perpindahan gender (transseksual, dan transgender) hingga perilaku seksualnya sebagai bagian dari hasil penelitian mendalam dari perilaku seksual ke luar atau ke dalam. Di Indonesia sejak masuknnya ajaran sebrang yang berbeda dari keaslian ajaran Nusantara tentang seks dan seksualitas, seks sebagai kelamin dan seks sebagai tindakan/prilaku jauh dari apa yang dapat membawa kesejahteraan jiwa manusia dan keteraturan masyarakat. Hal ini terjadi karena bagi mayoritas ajaran religi yang berlangsung menempatkan perempuan hanya sebagai alat reproduksi yang memiliki tugas meneruskan generasi (hamil melahirkan memelihara) dan dijauhkan dari hak sebagai manusia utuh yaitu terpenuhinya kebutuhan seksual.

Kenyataan melahirkan bahwa seksualitas tidak hanya menyangkut alat kelamin atau jenis kelamin saja, melainkan juga merupakan keseluruhan cita-cita khas manusia tentang masa depan kehidupan di dunia, bagaimana ungkapan laki-laki dan perempuan menyatakan diri dalam tingkah laku dan keaktifannya, baik secara batin maupun secara lahir terhadap pihak luar terhadap dirinya sendiri dapat terkait langsung atau tak langsung dengan seksualitas. Segala tindakan manusia, dalam status apapun hidup dalam perkawinan ataupun lajang dan dalam usia berapa pun bayi-anak-anak-remaja-dewasa-tua ditentukan oleh kenyataan dirinya terkait dengan seks dan seksualitas.

Di dalam kehidupan manusia, laku-laki atau perempuan di Nusantara terhadap tatanan yang mengatur seksualitas diatur tata krama yang membedakan manusia dengan butho/iblis. Bahwa perilaku yang tak dapat menahan diri terhadap seks nafsu tak sesuai aturan tata krama, sopan santun (penghargaan kepada perempuan) adalah perilaku yang salah. Bahwa monogami adalah yang utama, sama halnya dengan kesetiaan terhadap pasangan.

Memuliakan Perempuan

Fungsi biologis ke diri sendiri kenikmatan seks, fungsi biologi yang terpenting bagi peradaban adalah reproduksi. Fungsi ini haruslah terkait dengan fungsi kesenangan/pleasure dari reproduksi (membuahi, mengandung, melahirkan, memelihara anak manusia). Berhubung yang mengandung dan melahirkan perempuan, maka di Nusantara akhirnya fungsi seks (kelamin) perempuan hanya dibebankan untuk melahirkan, dan dijauhkan dari hak mendapat kenikmatan fisik materi orgasme.

Di dalam kehidupan purba raya, sejak kecil perempuan dan laki-laki telah dibebaskan untuk mengenali fisik/tubuh dirinya dan jiwa nya. Tak ada pemisahan body, mind and soul.