Search

wartafeminis.com

Indonesia Feminist Theory and Practices

Author

wartafeminis

wartafeminis is Indonesia feminist perspective of citizen journalist, moderate and admin by Umi Lasminah.

Berkutat pada Paradigma Lama Melupakan Rasa

Berkutat pada Paradigma Lama: Melupakan Rasa
Tahun 2018 seharusnya sudah meninggalkan jauh paradigma lama Cogito Ergo Sum-Descartes, cara model dari pendidikan barat yang diterapkan dalam sistem pendidikan Indonesia. Indonesia merdeka memilih pendidikan modern, yang semakin menjadi dalam sistem pendidikan OrBa yang menghilangkan Budi Pekerti dan reformasi menghilangkan mata pelajaran PMP. Rasionalitas yang utama. Manusia dibentuk jadi robot mengikuti kebutuhan industri. Alih-alih menyeimbangkan pendidikan “moral” “bathin” “rasa”, pendidikan vokasi tujuan industri digenjot. Ya ketika segala sesuatu jadi industri yang terjadi adalah produksi massal, komersil hampir jauh dari nilai, nilai kemanusiaan. Semoga saja masa ada kreatifitas yang tidak menghilangkan nilai dalam industri kreatif.
Belum selesai dengan rasionalitas tanpa rasa digempur dengan industri digital teknologi, segala jenis perangkat canggih informasi teknologi. Bagus dan sah saja bangsa Indonesia mengikuti perkembangan ICT, karena pada kenyataanya bangsa ini memang mampu memanfaatkannya bagi penunjang kebutuhan hidup manusia.
Beruntung Indonesia punya presiden yang memikirkan dan peduli pada kebudayaan dalam arti karsa dan karsa manusia Nusantara, sehingga melesatnya kemajuan teknologi tidak untuk meninggalkan kearifan lokal yang definisi saya adalah ilmu pengetahuan prakte rekayasa teknologi dan tata kelola masyarakat Leluhur. Malahan teknologi menjadi bagian reservasi dan pengembangan budaya asli Nusantara. Hal ini telah mulai dilakukan dengan mendokumentasikan segala karya budaya Nusantara dalam database.
Didalam kemajuan dan dinamika perkembangan budaya Nusantara yang beriring jalan dengan ICT (4,0) sayangnya masih saja banyak intelektual (scholar) yang menuliskan wacana dengan paradigma lama, yang parah adalah meminjam “perspektif” dari bangsa luar yang tidak memiliki Kearifal Lokal seperti dan dari suku bangsa Nusantara. Banyak diantaranya masih mengutamakan pendekatan materi, teori yang itu-itu saja, yang padahal di negeri kelahiran teori itu pun sudah beranjak dengan teori baru yang lebih mendekati kenyataan kini, yaitu kenyataan yang tidak hanya bersifat materi, rasional namun melampuai keduanya.
Kenyataan dimana penindasan bukan lagi berbasis kelas, wilayah/locus, modus, ras, suku namun tetap seksual. Isu perempuan dan ekologi masih belum dilirik sebagai acuan wacana untuk paradigma baru bentukan intelektual/scholar. Mereka tidak bisa menuliskan membicarakan Narasi Perempuan Korban Kekerasan Seksual, mereka tidak sanggup mengakui bahwa laki-laki patriarki masih menguasai wacana dan menciptakan narasi sehari-hari, dimana-dimana, desa,kota,negara dari yang paling rendah sampai paling tinggi.
Narasi IBU belum menjadi bagian kehidupan berbangsa, itulah sebabnya kebijakan negara pendidikan sosial, ekonomi semata-mata ditujukan bagi hal-hal yang kualitatif dan nampak, hampir meninggalkan Rasa. Padahal dari perempuan, ibu lah manusia belajar memenuhi Rasa dan menjadi hidup. Karena rasa pertama manusia lahir memang materil, Lapar, dan Susu Ibulah yang menghidupi sebagai Darah manusia. Rasa inilah yang ditinggalkan dan hampir tak dikenal, padahal kehidupan adalah untuk memenuhi rasa, apapun itu. Bila semua terpenuhi Rasa Kenyang, Rasa Aman, Sehat lahir-bathin, Rasa Senang (bahagia) itulah sejatinya Sejahtera Tentram, padahal rasa itu semualah yang paling pertama kali disediakan Alam melalui perempuan. @umilasminah
Advertisements

90 Tahun Pergerakan: Saatnya Reclaim Kembali Budaya Perempuan

Sembilanpuluh tahun yang lalu, 22 Desember 1928, Kongres Perempuan Pertama dilangsungkan, disaat masih dalam perjuangan menuju kemerdekaan. Nama Indonesia baru saja beberapa bulan disahkan dalam Kongres Pemuda, sebagai tanda komitmen suku-bangsa Nusantara menjadi Indonesia.

Kongres Perempuan 22 Desember adalah mencerminkan keragaman perempuan dalam ekspresi diri. Budaya dalam bentuk karya seni dan tatacara berbusana dan segala rupa suka duka sesuai jamannya yang menjadi bagian pergerakan nasional menuju Indonesia merdeka dan memerdekaan bangsanya khususnya perempuan dari berbagai bentuk penindasan ( https://wartafeminis.com/2008/03/04/kongres-perempuan-indonesia-sebuah-gerakan-perempuan-1928-1941-2/ ).

Pada 22-25 Desember 1928, perempuand ari berbagai wilayah Indonesia nun jauh di ujung Ambon hingga yang berasal dari Sumatera, Jawa berkongres dengan atribut kebudayaan yang melekat pada diri masing-masing. Kemelekatan tersebut juga ditampilkan dari nama-nama organisasi perempuan yang menjadi peserta dan masih menggunakan nama berbahasa daerah. Ina Tuni organisasi dari Ambon, Ina berarti Perempuan, dan Tuni berarti Mulia, Istri Sedar dari bahasa Sunda, peserta dari Jawa Barat berarti Istri berarti Perempuan, Sedar berarti Sadar, dan organisasi lainnya yang menggunakan nama bermakna dalam seperti Poetri Boedhi Sedjati, dan tentunya organisasi Perempuan Mardika (merdeka). Disamping nama-nama organisasi perempuan yang menjadi peserta dan  Pakaian dan atribut bercirikan nuansa kedaerahan. Ciri-ciri khas kedaerahan, baik dari pakaian (kain atau kebaya, kerudung atau selendang) maupun hal lainnya perhiasan adalah cermin kekayaan yang menjadi wadah eksebisi/pameran “kebanggaan diri” sebagai warga suku bangsa tertentu dengan kekhasannya yang menawan.

Kongres Perempuan 1928 dihadiri oleh perempuan muda maupun tua. Waktu itu jangankan gadget smartphone, pesawat telepon pun masih berbentuk telegraf, masih yang dimiliki dikuasai oleh penjajah, itu pun masih memakai operator untuk sambungan ke telepon lainnya. Artinya pada saat pelaksanaan Kongres Pertama Perempuan Indonesia, perempuan yang berkumpul dan datang dari jauh menjalankan komunikasi lewat pos, dan telegraf, dan mereka bisa. Tentunya hal ini semua terjadi disebabkan juga andil dari  orang-orang dengan kedudukan terhormat dan posisi baik dimata pemerintah penjajah belanda, yaitu Kesultanan Yogya. Pelaksanaanya di ruangan yang dipinjamkan oleh bangsawan Yogyakarta  di sebuah pendopo Dalem Jayadipuran, milik seorang bangsawan, R.T. Joyodipoero. Sekarang ini gedung tersebut dipergunakan sebagai kantor Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional di Jalan Brigjen Katamso, Yogyakarta.

Tidak dapat dipungkiri peristiwa Kongres Perempuan Pertama merupakan peristiwa dimana para perempuan yang memiliki Privilege: terdidik dan ekonomi menengah keatas.  Walaupun privilege, mereka mau menyediakan dirinya untuk memikirkan hal di luar dirinya sendiri, menyediakan waktu, memberikan energi dan pikirannya untuk yang lebih luas. Itu adalah pilihan yang diwarnai kesadaran bathin untuk berbuat baik pada sesama. Kita lihat saja isu-isu yang menjadi pokok bahasan dan rekomendasi, seperti perkawinan anak, perdagangan anak, buruh dan ketiadaan hak bersekolah bagi anak perempuan miskin. Itulah isu yang diangkat, isu yang belum tentu dialami langsung oleh mereka, khususnya panitia Kongres.

Pada perempuan peserta Kongres Perempuan Pertama selayaknya perempuan Indonesia masa kini, masa ditahun yang dikenal dengan era digital, belajar menyerap kembali semangatnya, menghidupkan kembali keberaniannya dan keikhlasannya. Ketika Kongres berlangsung panitia bekerja keras bersama meyiapkan ruangan, meja kursi yang dipinjam dan segala rupa keperluan konsumsi yang disiapkan bersama secara gotong royong. Praktek berorganisasi dijalankan dengan keikhlasan yang luar biasa untuk suatu yang bersifat visioner, jangka panjang, bukan instan. Itulah pesan sebaik-baiknya yang bisa diambil, khususnya para perempuan dengan privelege di kota-kota besar Indonesia yang kini banyak meninggalkan cirikhas kebudayaan sendiri yang baik dan mempesona dari sebuah unsur budaya sehari hari, yaitu sandang, pangan dan papan.

Bila kita telusuri kembali dengan mencoba memasuki lorong waktu ditahun 1928 dan 2018, kita akan melalui lompatan-lompatan waktu dimana perempuan selalu ada disetiap waktu menjaga kehidupan. Peristiwa 1945 saat kemerdekaan Indonesia, peristiwa 1965, 1975 peristiwa 1998, didalam keseluruhan rangkaian waktu tersebut perempuan petani tetap menanam padi, sayur mayur dan menyiangi beras ataupun tanaman untuk siap dimasak. Juga perempuan selalu dan selalu menenun, menjahit, menyulam dan menyiapkan pakaian bagi keluarganya. Segala rupa pakaian adat, pakaian dan kelengkapan kain untuk upacara khusus pelantikan kepala adat, kawin, lahir mati semuanya disiapkan oleh perempuan. Perempuan pula yang walaupun didalam pembangunan rumah adat, atau rumah tinggal terlibat langsung atau tak langsung didalam prosesnya, ketika rumah adat rumah tinggal ditempati siapa  yang menjaganya, mendekorasinya, sehingga manusia dalam keluarga dapat tinggal dan tidur nyaman, pun bagi keluarga yang tinggal di rumah petakan kontrakan, tetap saja perempuan paling berperan membuat nyaman keluarga.

Itulah perempuan dalam berbagai kelas tetap terikat baik secara nature atau pun culture atas penguasaan kelola pada Sandang (pakaian), Pangan (kuliner), dan Papan (rumah), dan Indonesia adalah negeri dimana ketiga unsur kehidupan budaya manusia itu sangat kaya dan beragam.  Jejak kebudayaan itu semua, khususnya Sandang telah hampir hilang dikikis oleh perempuan sendiri. Perempuan diberbagai daerah sudah hampir melupakan keindahan, kebaikan baik dari segi nilai tradisi maupun filsafat hidup dari Sandang yang beragam yang berasal dari sukunya sendiri. Yang terjadi justru penyerapan atribut yang dilekatkan pada perempuan, dan belum tentu memiliki nilai baik dan indah baginya maupun manusia secar umum. Yang terjadi adalah banyak perempuan dengan privelege berlebih secara materi, pendidikan dan jaringan justru terbawa arus turut dalam menanggalkan jejak budaya ibunya, neneknya, kakeknya, buyutnya. Mengganti nama anaknya dengan bahasa yang bukan bahasa Ibu dan Bapaknya, juga bahasa Kakek Neneknya. Melupakan tradisi baik dalam menghormati orang yang lebih tua. Menutup tubuh perempuan seakan tubuhnya aib, buruk dan alasannya bukan berasal dari budaya keluarga yang hidup di tanah airnya.

Sehingga apa yang menjadi kekayaan budaya bangsa Nusantara yang dahulunya dipraktekkan oleh perempuan Indonesia bisa jadi akan menjadi industri yang diambil alih oleh bangsa barat yang telah mengakui keunggulan bangsa Indonesia. Mereka akan mempatenkan “kain” , “kebaya”, “selendang” batik, atau jejamuan asli Nusantara, atau sebagaimana kegelisahan Myra Diarsi tentang tari-tarian dengan segala kekayaan konstum tarinya yang diubah dan dimodifikasi demi untuk sesuatu yang bukan substansi, yaitu “bukan kostum tari” tapi kaos warna kulit, ini toh bukan pada kenyataan: kaos tipis berwarna KULIT manusia yang dikenakan oleh penari jaipong, atau penari perempuan yang harusnya memperlihatkan punggung atasnya. Itukan sama saja menyamarkan keaslian manusia, kulit manusia duh!

Perempuan Indonesia sekarang mungkin tak banyak yang makan sayuran daun kelor seperti perempuan jaman dahulu. Sementara di barat daun kelor telah diakui sebagai superfood dan sudah diekstrak sebagai teh dan tablet bahkan ditulis di Vogue  ( https://www.vogue.com/article/moringa-new-superfood-to-know atau sayur pare, atau penggunaan sabuk kelapa untuk mencuci piring yang dianggap lebih baik dibandingkan dengan memakai sponge yang justru menyimpan kuman.

Intinya perempuan terpelajar terdidik, berapa banyak perempuan Indonesia sekarang yang mengenyam pendidikan sampai S2 (master)? Banyak puluhan juta mungkin. Namun mengapa mereka tak memiliki kesadaran untuk menghormati diri sendiri, kebudayaan sendiri, tetapi malah mengagungkan budaya luar dan merendahkan diri sendiri? Mungkin ini semua karena kontribusi sistem pendidikan modern barat sehingga manusia Indonesia melepaskan diri dari akarnya.  Oh ketakutan apa yang terjadi setelah mati? duh.

Manusia itu itu berbuat baik, bukan menuruti apa kata orang, mainstream pulak. Kebaikan itulah bekalmu mati, bukan yang lain. Jadi, sebagai perempuan Indonesia yang hingga kini sangat bangga hidup di TANAH AIR Nuswantara yang kaya raya se kaya-kayanya Negara (tak ada satupun Negara yang mampu menyamai keunggulan Indonesia) bukan dalam kualitas manusianya ya….tulisan ini justru percaya kesejatian kualitas bangsa Indonesia yang luar biasa, namun karen satu dan lain hal masih belum JADI kualitasnya itu….

Sembilanpuluh tahun lalu gerakan perempuan sudah jelas dan menjelmakan diri dalam suatu konsep yang juga dipraktekkan (hasil-hasil kongres diimplementasikan), kini ketika perempuan dengan privilege semakin banyak jumlahnya diseluruh pulau dan dari berbagai suku bangsa Nuswantara, bukankah selayaknya kembali kepada kesadaran akan kepemilikan orisinil otentik budaya Nuswantara tersebut dan mengembangkannya untuk kesejahteraan bangsa seluruhnya warga negara Indonesia setumpahdarahnya… @umilasminah

 

Kedai Kopi Pojok: Kopi Nusantara di Pamulang

(Jkt 21/9/18)  Bila anda ke cafe-cafe di kota Jakarta, Tidak banyak atau jarang sekali anda temukan cafe yang menyediakan kopi robusta, dengan sajian barista. Hampir semua menyediakan kopi arabika, kopi yang digemari bangsa barat.  Namun tidak halnya dengan Kedai Kopi Pojok Pamulang. Beruntung sekali warga Pamulang dengan adanya Kedai Kopi Pojok (KKP) yang tidak hanya menyediakan kopi arabika dari berbagai daerah Indonesia namun juga menyediakan kopi robusta dari berbagai daerah di Indonesia.

Kedai Kopi Pojok adalah cafe sederhana dengan harga terjangkau  yang menyediakan makanan unik untuk kategori cafe kedai kopi. Di menunya tersedia Edamame  juga makanan lain dengan harga ramah porsi mengenyangkan. Minuman andalan kopi-kopinya disedikan dengan cara barista, oleh sang pemilik Hudiono Lamong. Ya, pria asal Lamongan ini me

jajaran biji kopi Nusantara

miliki kemampuan mengetik sepuluh jari dengan cepat, sehingga pada suatu kesempatan saya pun pernah saling mengetest kecepatan mengetik, disamping bekerja resmi kantoran di Jakarta, Lamong sekarang turut menyemarakan dunia perkopian Nusantara.

Memulai usaha kopi dengan serius dan menjadi barista otodidak mas Lamong menyajikan menu kopi terbaru Affagato yaitu kopi sebagai dessert yang dibuat dari campuran eskrim dan espresso. Sebagai seorang penggemar es krim dan peminum kopi pahit, tentunya  saya tak menyiakan kesempatan ini. Proses penyajian mulai dari menggiling/roast kopi hingga jadi Affagato tak sampai 10 menit. Cepat. Rasanya misterius, enak dingin, manis pahit. Begitu enaknya saya mencoba double shots, dua porsi.

Ada hal unik dan menarik adalah menu makanan yang disediakan mungkin akan sulit dicari di kafe lain, seperti tersedia snack yang satu porsi terdiri dari empat macam dan harganya dibawah duapuluh ribu rupiah. Juga tersedia snack dari pangan lokal singkong, cireng, sosis dan dimsum cukup mengenyangkan buat yang belum sarapan. Kedai Kopi Pojok juga menyediakan wifi dan saklar listrik. Untuk mereka yang ingin mencari suasana baru tempat ngobrol atau rapat jadi pilihan tersendiri.

Mengutamakan kualitas dan rasa kopi adalah ciri terbaik dari KKP. Kopi menjadi bagian utama dari setiap minumannya. Sehingga jumlah takaran minuman yang disajikan memiliki presentasi kopi yang kuat, tapi tidak strong, sesuai bagi yang suka minum kopi. Tidak encer seperti cafe-cafe franchise luar negeri yang harganya selangit. Bahkan menu andalannya Es Kopi Pojok atau Kopi Pojok menggunakan gula aren. Menu kopi lainnya yang unik adalah Kopi Coklat, saya sendiri pertama kali minum kopi coklat dulu dirumah teman, dan menggunakan bubuk coklat mainstream, nah di KKP ini yang coklatnya adalah coklat dari Kampung Coklat Blitar.

Jadi yang menarik dari KKP adalah kopi-kopi yang dapat disajikan justru lebih beragam dari terdaftar di menu. Bila di menu tidak tercantum kopi Bajawa, Wamena maka anda bisa memesannya karena ada disediakan dan siap diroast untuk diseduh secara barista. Bagi yang mendukung makanan dan local foods, maka pilihan mampir di KKP adalah pilihan keren, lokasinya di Pamulang Elok, anda dapat cek di maps google, bahkan salah satu produknya pun sudah dapat dipesan online transport.

Es Kopi Pojok dengan gula aren, susu dan kopi…

Itulah pengalaman pertama makan snack, dan minum kopi di Kedai Kopi Pojok. Pulang ke rumah malam hari, masih terasa kenyangnya, secara minum Affagato 2 shots 🙂 (UL)

Continue reading “Kedai Kopi Pojok: Kopi Nusantara di Pamulang”

Friendly Capitalism of Sports

As leftist academy how do you explain Diana Taurasi, a US professional basketball player of WNBA (woman national basketball association) took a year break to play in Russia because in the US her wage is less than when she played in Russia.

She even have a joke “, the W.N.B.A. is, like, communist.” that in term of basketball wage for women in US is like in communist. While when they play in Russia the wage are double double, the facilities and comfort. After all Diana Taurasi is superstar who has achieved 3 WNBA champions with Phoenix Mercury, 4 gold Olympics medals. She still consi

http://www.fiba.basketball/europe/euroleaguewomen/2017/Diana-TAURASI

dered as the best woman basketball player in the planet. Currently she got MVP in France when United States of America Basketball Women National Team has the FIBA exhibition tournament, which US win 3:0 against Senegal, Canada and France.

Other than basketball, football (soccer) in the world also similar In term of non existing ideological State. One person of a State can have their citizen to works in sports club for other country _ like Ronaldo played for Barcelona of Spain.

Those are capitalist related system, where the company who sponsored of the sport event, the person who own the club usually own company. Few persons with loads capital own the sports club, in US, the sports industry is Huge. The evidences are they have many television of sports channel and most of them are paid subscription, it money again. And of course people pay ticket to the court to watch their favorite team play. This is mutual,where people buy what the love and one who is being paid to play, they play good. This is entertainment. And entertainment Industry like other industry will always and in rising to fulfilled everyone needs to be happy in live, at least have a enjoyment for a momentary, a bit of escapee from the “cruel reality”. I will not talk about how industry process works, the workers, wage system, the manufacturing products, you can find it elsewhere and almost always did not mention the impact on people related indirectly with the industry, like me.

And for me, when The capitalist have the ability to give a genuine pleasure in human, I call in Friendly. What is genuine pleasure. It is the feeling of joyful, happiness, laugh, because of what has happened to their favorite sport Club. This too, I feel, when I watch WNBA finals, I like Sue Bird, but I want to see Elena Delle Donne  win the Champion, and when The Washington Mystics lost. I feel not enjoying the moment, I unfollow Stewart IG. Why would I did that?  Those are the temporary emotion of feeling

source: bleacherreport.net

down cause by the lost of your favorite person or team. And Iam not even in US, far from them. That the power of ICT of its contents are borderless can stimulate the feeling. The feeling is not engineering by anyone. The match is out there without any intervention but by the power and endurance of players and the great luck from Above, it called destiny.

The future of the world, I must hope is PEACE and Happiness. Peace is where any country can compete on any event of sports. Tough the Olympics has nothing to do with peace,  when at war, the Olympics has cancelled  in 1916, 1940, and 1944, and during cold war US-Soviet 1980-1984 lots of boycott. But sports can drew people closer, as  two countries still at “dispute” have joined the team together as South Korea and North Korea in AsianGames 2018 Jakarta Palembang. When the team of women Basketball, Cano, and Rowing. The Korea got gold in Cano women Asian Games. Sports also have related with identity, it is individual. Lots of people love sport event, other don’t.

Sports as any human activities is for the benefit of humanity, human healthiness. Sports now has merged with entertainment industry, and it’s inevitable. Sports might have be different in the future. Women sports might have wider space because it is different from male sports. Sport with women in it have softness, solidarity and beauty.

While in the past sports might seen as total masculine effort on the body, now it is health, it is entertainment, it is work. You work you get paid, and yet have healthy body. But because the root and basic capitalism is gaining profit (money), it might have other effect with people within sports industry, if they cannot maintain integrity. That might come from the rock star effects of many sport stars.  Again sports industry is industry where the products is manufacture of the people greatness “jersey with sport star name” etc. Of course there are things that people always wear on daily basis of industry like shoes. What the different with other manufactures industry sports adding a new thing for human lives, their feeling of love, of like and spirits. And those effect usually have came for popular entertainment industry (film, music), now sports. It is even bigger now — of sports effect-more than representation the feeling of any individual who love their club/team, it is now parts of collective feeling of sense of belonging–a country, a city , a nation of the club.

 

 

 

 

 

Mengenali , Menemukan Indonesia, Perbedaan dan Menyayangi Nuswantara

Mengenali Indonesia adalah dengan menghidupi kekinian di negeri modern yang merdeka 17 Agustus 1945. Kondisi kekinian yang dijalani oleh warga yang tinggal di tanah Indonesia,  dalam alur berkehidupan seluruh masyarakatnya, sendiri-sendiri, berkeluarga, berkelompok, berkomunitas dan segala rupa kerekatan antar-manusianya.

Mengenali Indonesia sesungguhnya dapat dimulai dari manusia per individu, dari makanan, dari cara-cara penyajian, dari cara proses pembuatannya. Pada bagian tersebut itulah Nuswantara dalam wujud perbedaannya. Mengenal individu-individu orang Indonesia yang sejatinya selalu dinamis dan berubah namun memiliki keotentikan sikap dan karakter bangsa Indonesia. Diantara karakter yang cukup merata dimiliki oleh bangsa Indonesia,  yang kita bisa temui di semua sukunya bila kita datang ke desa adalah orang-orangnya ramah, menerima dan terbuka. Tak ada rasa curiga, toleransi tinggi.

Banyak dari warga desa belum mempunyai alat komunikasi HP android, tak mengikuti informasi kota tentang kekerasaan dan intoleransi kecuali  dari televisi.

Desa adalah lumbung kebudayaan yang masih terjaga. Kebudayaan yang mengisi denyut kehidupan sehari-hari manusia yang tinggal didalamnya, bercengkaram bersama alam. Keragaman yang nampak dari keseluruhan sistem hidup manusia, tata kelola, teknologi dan pengetahuannya atau yang dikenal sebagai kearifan lokal.

Kearifan lokal yang terutama dari desa ke desa lain penuh dengan keindahan, keunikan dan diwarnai nilai dan norma yang baik bagi kemaslahatan manusia dan alam. Bagi kebudayaan pasti

 

 

Konferensi Kepemimpinan Perempuan LIPI

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) berkerjasama dengan Kementerian Perempuan dan Perlindungan Anak, Asian Associatoon of Women Studies dan Komnas Perempuan mengelar acara International Conference and Workshop on Gender “Women’s Leadership and Democratitaion in 21th Asia” di Jakarta. Konfrensi dimaksudkan sebagian wahana Kajian terkait kepemimpinan perempuan di Abad ke 21. Konfrensi di ikuti para peneliti dari berbagai wilayah Indonesia juga menghadirkan partisipan dari Korea Selatan, Philipina dan Thailand.
Mentri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Prof. Yoja a Yembisi selaku Keynote speaker antara lain menyampaikan bahwa Pemerintah Indonesia dibawah Presiden Jokowi mendukung kepemimpinan perempuan dan sebagai salah satu Dari 10 Negara yang ikut dalam mendorong terwujudnya planeet 50:50 tahun 2030.

Ibu Yohana Yembesi menyampaikan antara lain; komitmen pemerintah Indonesia untuk mencapai kepemimpinan perempuan 50:50 tahun 2030, dengan mempromosikan He for She yaitu gerakan mendorong laki-laki mendukung keterwalilam peempuan. Indonesia sbg salah satu dari 10 Negara terpilih untuk komitmen 50:50 adalah karena sbg Negara demokrasi dg popularitas muslim, perempuan nya termasuk negara yang developed. Planet 50;50 kebijakan PPA mendorong keterlibatan perempuan  gender balance.
Adapun Kementerian PPA juga melakukan kegiatan mendukung keterlibatan perempuan politik untuk Pemilu 2019 yad dengan memberikan pelatihan peningkatan kapasitaa perempuan Caleg. Mengingat Masih adanya hambatan2 tantangan bagi Perempuan maju dalam dalam kontestasi politik masih menghadap i social cultural barrier dianggap second sex dan objet domestic violence. Nilai sosial budaya belum ada posisi kesetaraan antara posisi perempuan laki. Perempuan juga mengalami kesulitan mendapatkan sumber finansial bila akan ikut kontestasi politik, harus ijin suami dan keluarga, dan mendapat dukungan dana. Sedangkan kondisi ril politik masih belum dapat dipisahkan dari Partai Politik, asih terdapat bias gender di partai politik yang memapankan gender inequality. Hal itu membuat sangat diperlukan keterlibatan semakin banyak perempuan dalam posisi pengambil keputusan politik. Kebijakan afrimasi kuota sampai saat ini masih belum dapat melepaskan ketergantungan parpol ketika perempuan akan terlibat dalam politik

Lembaga Ilmu Pengetahuan selaku host Konfrensi diwakili oleh Tri Nuke Pudjiastuti dalam siaran pers menyatakan bahwa LIPI erus mendukung kepemimpinan erempuan dan d harap kan dari Konfrensi akan menghasilkan solusi dari berbagai persoalan yang dihadapi perempuan abad ke 21 dalam hal kepemimpinan.

Berbagai penelitian yg telah dikaji dipaparkan peneliti Indonesia antara lain trkait Topik perubahan demokrasi dalam keluarga, gender kepemipiman Perempuan dan islam, adapun Presiden AAWS dari Ehwa Women University Korea Selatan pemaparan kepemipinan perempuan dalam konteks dan kategori yg memiliki berbagai aspeknya, antara lain kategori dan cara eks presi power, power to/with dan bukan power over.

Konfrensi berlangsung 2 hari, 27-28 April, 2018 sebagaimana berbagai Konfrensi intelektual/Akadem, acara i secara maraton dilakukan dengan pemaparan berbagai  topik Konfresi melalui presentasi paper hasil penelitian, berbagi informasi dari wilayah dan konteks sosial yang berbeda dalam panel-panel diskusi, termasuk dibukanya tanya jawab baik dari participant narasumber atau peserta di floor. Hal menarik ketikpertanyaan kritis yang dilontarkan narasumber dari Thailand dalam sesi pleno, membutuhkan jawaban bersama yg dilakukan oleh dari Thailand, tentang perlunya redifinisi makna demokrasi. Meredefinsi makna Demokrasi mengingat slama ini yg didengungkan yaitu politik Keterwakilan / politic represebtasi dan pemilihan/election hanya lah bagian dari Demokrasi, dan terbuka untuk peserta menggali kembali demokrasi yang sampai saat ini belum memberi ruang partisipasi perempuan secara memadai. (UL)

 

Kartini, Ada Nyata dalam Semangat dan Aksi Kekinian

Hari Kartini 21 April 2018 menandai 54 tahun sejak Kartini ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Soekarno, atau 114 tahun sejak Beliau wafat 17 September beberaap hari setelah melahirkan satu-satunya putera, RM Soesalit Djojohadiningrat. Kartini boleh wafat dan darah keturunan biologisnya hanya satu orang putera, namun semangat dan gerak hidupnya baik yang nyata atau masih menjadi impiannya telah menghidupi dan memberi inspirasi banyak perempuan, di dalam Negara Indonesia merdeka maupun di luar negeri.

Sekarang ini, kita menemui banyak perwujudan apa yang dicita-citakan Kartini bagi perempuan dan oleh perempuan untuk bangsanya sebagai mana lirik lagu Kartini karya WR Supratman “Sungguh Besar Cita-citanya Bagi Indonesia“. Perempuan dan laki-laki bahu membahu untuk kemajuan bangsa, kemerdekaan Indonesia. Perempuan di Indonesia kini bersekolah dan mengenyam pendidikan demi untuk dirinya dan kemajuan bangsa. Perempuan mengajar dan mendidik anak perempuan hingga ke pelosok daerah, perempuan mengobati sebagai bidan atau dokter ke pelosok. Perempuan menjadi apa yang diinginkannya. Perempuan mengejar kebahagiaannya menikah dan tidak menikah. Perempuan pelestari keindahan budaya. Perempuan terus berjuang untuk kebahagiaan bersama semua rakyat laki-laki maupun perempuan dalam mengadvokasi kebijakan Negara. Perempuan menjadi menteri mendukung kemajuan peradaban.   Banyak lagi yang telah diwujudkan kini oleh perempuan-perempuan se Nusantara dari apa yang pernah dicita-citakan Kartini.

Republik Indonesia kini telah menjadi bagian apa yang seharusnya menjadi dalam memperlakukan perempuan, dari sebuah bangsa yang besar (dalam arti seluasnya) besar kebudayaannya, besar wilayahnya, banyak penduduknya, kaya alam rayanya, sebagaimana di masa lalu.

Jika kita mau bersyukur dan membaca apa yang terjadi disekitar kita, khususnya pergerakan perempuan didalam memperjuangkan kesejahteraan rakyat khususnya melalui pemuliaan perempuan melalui pemenuhan haknya sebagai warga negara, maka kita akan menemui banyak perempuan yang bagi saya adalah representasi Kartini di masa kini. Ada beberapa perempuan yang saya kenal, yang sesungguh-sungguhnya seperti Kartini, hidup berjuang dengan tulus ikhlas dan masih berjuang untuk kepentingan bersama.

Penghargaan kepada Kartini adalah penghargaan betapa lebih penting menjadi manusia yang menginspirasi manusia lain, ketimbang manusia yang mengejar kesuksesan duniawi dan harta (meskipun kini banyak sekali kiat inspirasi disebarkan dengan tolok ukur harta dan jabatan). Namun inspirasi Kartini lintas batas negara, lintas waktu. Sejak beliau masih belia, bangsa eropa lebih dahulu mengenal pemikiran melalui tulisannya, adapun bangsa Nusantara umumnya baru mengetahui pemikirannya setelah ada terjemahan dari surat-surat Kartini oleh Arjmin Pane 1911. Inspirasi adalah kekuatan positif kepada pikiran dan perasaan yang mempu menggerakkan manusia untuk beraksi, bekerja, melakukan sesuatu. Tak kurang, surat-surat Kartini yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris Letters of Javanese Princess, dengan kata pengantar Eleanor Roosevelt  (istri Presiden Amerika Serikat ke 32) edisi UNESCO collection 1964. Bukan hanya itu, nama Kartini pun digunakan di berbagai Negara sebagai nama suatu Penghargaan di Belanda, bahkan suatu organisasi konsultan gender di Kanada memakai nama Kartini, bahkan salah satu penulis menuliskan bahwa mengapa Kartini kurang begitu dikenal di luar Indonesia karena berbahaya pemikirannya terlalu jauh tan sesungguhnya menjangkau dan melintasi jarak dan benua yaitu melawan pemikiran dan prilaku patriarki ( http://dangerouswomenproject.org/2016/09/27/raden-adjeng-kartini/ )

Setiap tahun biasanya saya hampir selalu dilecut untuk menuliskan sanggahan terhadap mereka yang saya sebut “anti Kartini” karena kurang memahami kesungguhan semangat, pengalaman, mimpi dan harapan Kartini. Saya berani menyembut “anti Kartini” karena banyak dari mereka yang dengan serta-merta mencopy-paste pandangan dari akademisi yang  “dianggap kritis” karena mengkritik atau menolak kepioniran dan kegigihan Kartini berjuang, padahal membaca Surat-surat KARTINI pun belum pernah, boro-boro mengerti tulisan Kartini yang asli dalam bahasa Belanda. Namun tahun ini berbeda, Kartini telah mulai banyak dihidupkan kembali semangat dan cita-citanya oleh masyarakat khususnya aktivis perempuan, sehingga tidak terlalu sulit untuk menjabarkan betapa sebagai Bangsa Indonesia yang bertanah air sama dengan Kartini untuk bangga dan terus melanjutkan perjuangannya, kesetaraan kemanusiaan perempuan dan laki-laki.

SELAMAT HARI KARTINI 2018, KEPADA PEREMPUAN INDONESIA SELAMAT MERAYAKAN CITA-CITA KARTINI, BERSYUKUR DAN TERUS MELANJUTKAN PERJUANGAN KARTINI.

 

Jakarta 20 APRIL 2018, SUKRA KASIH.

Olah Raga untuk Perempuan hanya senam?

Olah Raga untuk Perempuan cuma Senam?

Apa benar begitu? Teringat dahulu kala ada senam koreografinya Minanti Atmanegara, senam body performance . Alih2 sehat dan senang buat semua, apalagi bisa dapat medali mengharumkan nama bangsa yang ada Tubuh perempuan jadi alat segala rupa “jenis olah raga” demi “ideal” bentuk tubuh sesuai versi Patriarki, khususnya versi warga kulit putih. Karena perempuan bagi kalangan masyarakat di Afrika, semakin gemuk semakin baik dan menarik.

Sehingga produk terkait tubuhpun tak lain adalah temuan untuk Kapitalis membuat berbagai produknya, dari cat kuku “cutex” hingga segala jenis shampo produk kapitalis, yang hampir semuanya menggunakan bahan kimia. Tentu saja menjadi sehat dan cantik tidak serta merta hanya menarik perhatian para kapitalis saja, karena pada kenyataanya menjadi cantik dan sehat bagi perempuan telah juga menjadi bagian tradisi di Nusantara, umumnya menyangkut prosesi Pernikawinan dan Hamil bagi perempuan, sedangkan bagi laki-laki antara lain bugar dan dapat performed secara maksimal (penisnya).

Di dalam masyarakat Patriarki mengutip (Diah Laksmi, Perempuan Subyek Kecantikan Tanpa Syarat) “Bagi perempuan kecantikan adalah predikat wajib, hampir semua perempuan merasa gagal sebagai perempuan apabila ia tidak cantik. yang lebih fatal terjadi ketika perempuan mengharapkan pengakuan dari (terutama) laki-laki sebagai bukti bahwa ia cantik, seolah-olah laki-lakilah yang memiliki kuasa untuk menentukan otentik atau tidaknya perempuan”. Pada dasarnya dengan penguasaan keseluruhan sistem hidup oleh Patriarki, membuat apapun termasuk tubuh dan keselurahanya terkonsep oleh dan dilaksanakan sistem patriarki. Sistem yang melanggengkan seksisme, eksploitasi perempuan dan penindasan perempuan.

Pada konteks tubuh, seluruh tubuh perempuan diinterpretasikan dan dinamai seluruhnya baik badan, organ tubuh dalam dunia kedokteran dan pendidikan kedokteran dengan phallus centris patriarki. Emily Martin sangat jelas menulis ini dalam The Women in The Body, cultural analysis in reproduction yang menuliskan hasil temuannya dari sumber kampus kedokteran bergensi di Amerika Serikat. Tubuh perempuan dalam dunia modern patriarki, sehatnya, sakitnya, obatnya, ditentukan oleh laki-laki. Sampai hari ini, di Indonesia dokter perempuan untuk Gynekologi masih langka.

Senam adalah olah raga tubuh, namun disebabkan laki-laki yang memiliki kuasa atas baik buruk, indah cantiknya tubuh perempuan, maka senam menjadi andalan perempuan membentuk tubuhnya yang sesuai Patriarki. Yang paling jelas mungkin senam balet, dimana perempuan dipersamakan dengan angsa…(besambung)

FEMINIS Indonesia “tidak Suka Olah Raga

Pernah membaca artikel feminis di Indonesia tentang Olah Raga? Hehehe sepertinya hampir sulit menemukannya, belum ada yang menulis tentang hal tsb… Secara garis besar feminis di Indonesia tidak suka olah raga, suka dalam arti ini tidak menyukai olah raga yang mainstream (yang banyak disukai publik secara massif) termasuk olah raga berkelompok, tim atau grup seperti Volley, Sepakbola, Basket. Yoga? Renang? Bagi saya olah raga kelompok itu penting  bagi perkembangan hidup manusia selain sehat, mereka yang terlibat dalam olah raga kelompok memiliki dorongan untuk mengembangkan sifat sosial kemausiaan sesama tim. Mengenal empati, solidaritas, bersatu dan menumbuhkan sifat patriotisme (cinta pada negara/wilayah yang diwakili). Feminis di Indonesia hampir tak pernah mengangkat bagaimana diskriminasi dalam bidang olah raga terjadi. Bagaimana jumlah penonton, jumlah coveragenya, bagaimana olahraga dianggap gender base activitiesPadahal hampir semua olah raga sejatinya untuk kesehatan dan kedigjayagunaan kanuragan. Perempuan dan laki-laki dimasalalu sama-sama berkuda, memanah, silat dan lain sebagainya.

Kini ketika olah raga telah masuk ke dalam industri kapitalis yang merambah seluruh dunia, Indonesia masih jauh tertingal. Olah raga hanya bersifat karitatif seperti peringatan dan bersifat seremonial, atau bertujuan lain di luar sports seperti penggalangan dana, contohnya lari bersama memperingati Hari Perempuan Sedunia,  atau run for donation dsb. Apakah olahraga bukanlah bidang yang perlu mendapat perhatian juga dari semua kalangan khususnya Feminis yang memperjuangkan Penghapusan Seksisme dan Eksploitasi serta Penindasan? Tentu saja. Kenyataannya olahraga masih dikuasai oleh laki-laki, dalam hal penghargaan maupun coverage media. Di Amerika Serikat isu tentang perempuan berhak berolah raga secara kompetitif dan industri baru ada setelah termuat dalam UU Hak Sipil, title IX dan 1994, the Equity in Athletics Disclosure Act, sebagai Title IX the “Patsy Takemoto Mink Equal Opportunity in Education Act,” yang ditandatangani President George W. Bush. Tak heran kini Amerika Serikat menjadi salah satu Negara yang terhebat dalam perolehan medali emas untuk berbagai bidang olah raga beregu putri (Sepakbola, Volley, Baskeball). Mendapatkan Emas (6kali berturut-turut Basketball putri Olimpiade). Melihat bagaimana di Amerika Serikat sports bagian dari patriotisme (nasionalisme) bukanlah dari dukungan semata-mata Negara atas fasilitas olahraga tetapi Masyarakat dan Swasta (sponsor, penonton yang beli jersey dan pernak-pernik) itulah sesungguhnya industri yang ramah dan industri di masa depan. Bagaimana perusahaan lokal American Branded mendukung atlet dan sponsor tim yang membawa nama negara.

Pada konteks Amerika Serikat,  yang telah memiliki Regulasi olah raga yang mendukung keseteraan, pada kenyataanya atlit perempuan dipun masih mengalami diskriminasi baik dari Bayaran maupun Coverage Media. Hal ini tentu saja terjadi mengingat sistem Patriarki dalam arti sexisme masih terjadi, ketika manusia pemegang kekuasaan baik-perempuan dan laki-laki masih mempraktekkan sexisme (Bell Hooks, Feminism is for Everybody). Mengingat di Amerika Serikat olahraga/sports sangat erat kaitannya dengan entertainment (Budaya/Arts) maka mulailah perjuangan equality in pay on sports (http://www.bbc.com/sport/40299469 )untuk berapa event besar, namun liputan media massa tentang event olahraga perempuan masih kecil. Ketika ada WOMEN WORLD CUP tahun 2015 di Kanada, coba ditanyakan kepada perempuan penggemar sepakbola di Jakarta (pendukung Persija misalnya), mungkin tak tahu, karena hampir tak ada siaran langsungnya di tv di Indonesia atau swasta. Mungkin mereka yang mempunyai saluran tivi kabel bisa menyaksikan di ESPN atau Channel sports lainya.

Kembali ke negeri Indonesia, dimana klub sepakbola lokal  (daerah kabupaten, Kota, dan Provinsi) telah dikenal warga penggemar sepakbola di wilayahnya (klub Sepakbola Laki-laki). Presiden Jokowi mulai mengambil kebijakan untuk mendorong sepakbola putri. Toh Indonesia memang pernah punya sepakbola Putri ditahun 1980an. Waktu itu Mutia Datau yang cukup dikenal https://www.kompasiana.com/bungeko/muthia-datau-legenda-sepak-bola-wanita-indonesia_5509719aa333113e4b2e3a17 , dan pada masa itu enam dan olah raga antar sekolah lumayan masif. Namun keterkaitan antara Sekolah dengan prestasi olah raga hampir tak ada. Malahan ada seorang anak yang mewakili wilayahnya lomba di tingkat kabupaten dan mendapat mendali, namun tidak dihargai oleh guru olahraganya mendapat nilai buruk. Bandingkan dengan Amerika Serikat, dimana pendidikan dan olahraga itu memiliki kedekatan untuk sentimen daerah (lokasi sekolah), dan kebanggaan prestasi dan bertingkat dari SMP, SMU hingga Universitas. Tidak sulit sesungguhnya dilaksanakan bila ada kordinasi yang baik antar Instansi Departemen Pendidikan dan Kementrian Olah Raga.

Menilik tulisan kompasiana di atas tentang ketakutan Ibunda Mutia (atlit sepakbola putri) yang ketakutan anaknya menjadi tomboy seharusnya bisa dihindari. Olah Raga adalah demi kesehatan, bahkan bisa jadi profesi (mata pencaharian), bagian dari Pendidikan Karakter, sebagai bagian inti dari Budaya yang dapat mengharumkan Nama negara, hanya dengan Mendapatkan Juara/Champion atau Emas lah LAGU KEBANGSAAN INDONESIA RAYA tersiarkan di Luar Negeri dihadapan bangsa lain.  Emas yang diperoleh Perempuan atau Laki-laki semuanya didampingi LAGU KEBANGSAAN, tak ada diskriminasi terhadap patriotisme/nasionalisme. Perempuan dan Laki pembawa Nama Negara, Warga Negara Indonesia 🙂

 

tambahan: Minggu ini 19-21 Maret 2018, kompetisi Basket Putri penyisihan Piala Srikandi berlangsung di GOR Lokasari Mangga Besar Jakarta- TIKET GRATIS. Kompetisi termasuk liga yang diikuti atlet basket putri profesional .

srikandcup.com

 

 

 

 

Blog at WordPress.com.

Up ↑