Search

wartafeminis.com

Indonesia Feminist Theory and Practices

Category

BUWANA BALIK

Pesantren Kebon Sawah : Berkah Alam dalam Himpitan Perubahan

umillsSelamat Datang di  Kebon Sawah Argoekologi

Pada tanggal 5-6
Mei 2017, saya bersama Adhe dan Shiren sempat berkunjung ke Pesantren AtThariq, di Cimurugul Kelurahan Sukagalih, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Menuju ke pes antren AtThariq tidak sulit, dan ibu Nissa selaku pengampu dan pengelola akan memberi arahan jalan menuju lokasi.

Kami tiba di pesantren menjelang sore, sekitar pukul 14.30 WIB, ibu Nissa sedang istirahat bersama putri bungsunya yang biasa dipanggil Ceuceu, usia 5 tahun. Kami disambut putri pertamanya Salwaa yang mempersilahkan kami untuk istirahat di pondok. Sebuah bangunan bertingkat panggung terbuat dari bambu yang difungsikan juga sebagai musholla, ruang diskusi serta ruang istirahat di atasnya. Dipondok tersebut terdapat rumah sarang untuk beberapa ekor burung dara yang ketika kami datang sedang terbang disekitar kandang. Pondokan dikelilingi tanaman merambat serta ada pattariq1ohon mangga yang batang dan dautnya menjalar masuk sehingga jika akan naik ke atas harus melewati pohon itu. Di luarnya ada pohon pete cina yang juga menjulur-julurkan diri hendak masuk ke pondokan atas dan bawah. Menurut ibu Nissa, pepohonan yang suka dengan pondokan akan dibiarkan sebagaimana adanya, sebagai bagian hidup bersama ketersalingan.

Setelah menaruh tas di pondokan, saya dan Shiren, gadis kecil 8 tahun keluar ke sawah dimana ada beberapa anak sedang menerbangkan layang-layang berukuran cukup besar. Kita berjalan dipematang sawah dan memotret kanan-kiri, diarah kejauhan gunung dan awan. Langit cukup mendung hari itu.Kembali ke pondokan, kami disajikan minuman dari Jeruk Purut (yang buahnya keriput dan berwarna hijau tua), pohonnya ada disamping kanan pondok. Saya menyebutnya welcome drink. Disediakan gula pasir putih untuk menambah manis bagi yang tak suka asam. Saya meminum langsung seperti kebiasaan saya minum jeruk nipis dipagi hari.

Tidak Sekedar Pesantren

Tak seperti pesantren modern umumnya yang mengajari santrinya semata-mata ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum, dimana santrinya mondok/tinggal dan terkungkung dalam kurikulum ketat yang tak jauh beda dari pendidikan modern umum. Pesantren AtThariq yang dipimpin oleh Nissa Wargadipura dan Ustad Ibang Lukman pamornya telah dikenal publik; tak kurang semua televisi swasta nasional telah menayangkan kegiatan hidup dan berkehidupan bersama Alam di Kebon Sawah (a.l https://www.youtube.com/watch?v=zYI1F7SETuE ). Khususnya dengan ciri para santri dan yang bertandang ke Kebon Sawah hidup bersama alam dengan alam secara alami. Ya Alami, dan Mandiri melampaui cara dan proses yang dikenal umum sebagai organik. Pesantren Kebon Sawah juga dikenal sebagai pesantren Ekologi, dimana keseluruhan proses perputaran pangan saling terkait membentuk rantai makanan yang berkelanjutan. Maka kita akan menemukan ada beberapa pohon yang daunnya bolong dimakan ulat atau hama, namun dibiarkan. Kecuali jika daunnya habis semua baru diambil langkah dengan mengatasinya menggunakan pestisida alami yang dibuat. Pestisida alami sudah tersedia dari tanaman yang tumbuh diberbagai tempat, dipinggir kolam ikan dan belut yang dipenuhi tanaman apu-apu yang berfungsi memberi makan ikan dan belut, juga bisa dimanfaatkan untuk pupuk. Sederhananya di kebon sawah semua hidup sesuai fungsi dan peruntukkannya.

Kehidupan pemenuhan kebutuhan hidup dalam lingkungan AtThariq, mungkin bisa disebut sebagai ekonomi Subsistence Perspective, yang diperkenalkan oleh Maria Mies, dimana kebutuhan hidup terutama pangan dipenuhi oleh komunitas, untuk komunitas tidak ada  produksi untuk sengaja untuk tujuan dijual (berlebih) atau diperdagangkan namun bila ada kelebihan  pangan ataupun  herbal baru akan ditawarkan kepada kawan dan kerabat yang mau “membelinya”.

Inilah antara lain praktek Subsistence Perspective .. “orang dapat memproduksi dan mereproduksi kehidupan mereka sendiri, untuk berdiri diatas kaki sendiri dan memakai suara mereka sendiri. Ketika komunitas dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri tanpa tergantung kekuatan lain atau agen lain, termasuk uang. Maria Mies menganggap subsistence perspective merupakan cara perempuan melawan globalisasi ekonomi.(Maria Mies and Veronika Bennholdt-Thomsen, 2000). Nissa Wargadipura dan Ibang Lukman adalah aktivis organisasi tani Serikat Petani Pasundan, yang memutuskan melakukan perlawanan dengan cara konkrit melawan kapitalisme pertanian yang telah merasuk di tanah Indonesia sejak tahun 1980an dengan Revolusi Hijau-nya. Revolusi yang secara tajam mencabut akar kearifan lokal dalam hal teknologi pertanian, mengganti keseluruhan cara tradisi yang bernilai tinggi dalam hal praktek teknologi tani yang menyatukan manusia dengan alam, dengan modernisassi pertanian dan memborbardir tanah dan air Indonesia dengan racun pestisida. Revolusi yang tidak hanya mencabut dan menghilangkan benih dan tanah asli dari tanah air, namun juga menghilangkan praktek budaya adiluhung dibidang pertanian; mengenali musim tananam, mengenali musim cuaca dan mengenali serta memahami hidup dan kehidupan hewan sekeliling kebon dan sawah. Tak ada istilah gulma disini. Gulmanisasi adalah istilah industri, revolusi hijau. Segala tanaman disekeliling kita, yang biasa diinjak dan dicabut, oleh Ustad Ibang diberitahu namanya, dan diminta kita melihat di google, dan terlihatlah tanaman Krokot apa yang oleh ‘pertanian modern’ dibilang “gulma” ..Google menampilkan 10 manfaat krokot…27 manfaat Sintrong dsb…

Di Kebon Sawah kita akan merasakan hawa dan udara bersih, karena semuanya alami. Sehari saja disana saya sungguh merasa segar, sehat  layaknya detoksifikasi. Makan malam kami disuguhi nasi liwet. Nasi yang dimasak dengan campuran daun salam, sereh dan telang ungu. Rasanya enak sekali, apalagi kami pun disediakan lauk ayam bakar yang dibakar dan masih segar, juga bayam paris rebus dan kecipir. Itulah rasa sesungguhnya dari kedaulatan pangan. Dimana di tanah air Indonesia, seharusnya tidak ada kelaparan, tidak ada sampah. Semua tanaman dan hewan punya manfaat dan fungsi. Kedaulatan terjadi  ketika semua mandiri dan tidak tergantung pada agen pupuk atau benih.

Makan malam yang sangat mewah. Jika dirupiahkan dan dijual dihotel mahal bisa seharga ratusan ribu 🙂 Serius. Saya bisa membedakan tekstur rasa dari bayam paris yang lebih lembut dari bayam biasa, juga kecipirnya. Yang membuat kami makan malam dengan lahap adalah sambal dabu-dabu dari tomat-tomat kecil yang dipetik oleh Ceuceu dan Shiren, dan cabe pedas yang semuanya dipetik di Kebon Sawah. Dan malam itu, sangat aneh, kami semua tidur pulas, dan tidur cepat. Inilah nasiliwet ungu yang disukai pengungsi saat banjir bandang menimpa Garut beberapa waktu lalu.   Kami masuk pondokan sekitar pukul 21.00 dan saya tidur…Namun selalu terjaga dengan suara-suara speaker dan toa yang memberitahu tentang waktu… Sejauh ini saya tidak terganggu …:-)

Sayang kami hanya bisa menginap semalam, jika  beberapa hari detoksisifkasi pasti benar terjadi.  Betapa tidak, dari cerita Ustad Ibang, seorang santri yang semula narkoba pun dapat sembuh tidak hanya karena alamnya, namun karena interaksi aktivitas berkebun: menyiapkan benih, merawat bibit, menanam, merawat dan menjaga. Berbeda dengan tatacara ‘industri’ pertanian organik yang menggunakan asupan/pupuk sebagai bahan tambahan bagi tanaman, di Kebon Sawah semua alami, berasal dari alam, hanya menggunakan tambahan ‘kotoran hewan/kambing’ sebagai pupuknya, juga sisa sayuran dan sisa makanan ‘dibuang’ bukan sebagai sampah, tapi diberikan ke tanah untuk pupuk alami. Itu yang terjadi terdap ‘piring’ panjang daun pisang saat makan dengan botram, daunnya ‘dibuang’ disamping bawah pondokan untuk berproses secara alami dengan dedauan lainnya.

Pesantren Kebon Sawah bukan sekedar pesantren, namun komunitas kecil keluarga yang memiliki harapan dan kepercayaan bahwa perubahan untuk perlawanan terhadap ‘penghancuran’ karena kebijakan pertanian dan kebijakan pendidikan modern hanya dapat dicapai melalui praktek langsung dalam kehidupan sehari-hari. Apa yang dilakukan ibu Nissa dan Ustad Ibang bukan hal kecil, langkah dan gerak yang terus menerus memberi inspirasi (selalu berbagai pengalaman, ilmu dan pengetahuan yang dipraktekkan) dalam berbagai kesempatan, termasuk kepada para tamu yang hendak belajar Ekologi yang datang dari berbagai kalangan, dalam dan luar negeri. Termasuk para biarawati dan pastur. Menurut Ustad Ibang, beberapa waktu lalu beberapa pastur dari Taiwan, India, Jepang tinggal di KebonSawah untuk belajar dan berbagi pengalaman dan pengetahuan, sebagai bagian tugas layanan Katolik adalah Pelayanan pada Alam…

Pesantren Ekologi Atthariq terus bertumbuh dan berkembang, sudah lebih dari 500 spesies tanaman di Kebon Sawah, belum lagi di Hutan Tangoli untuk pohon-pohon besar asli Nusantara yang hendak ditanam dan dimuliakan kembali….Namun disekeliling Pesantren perumahan yang semakin merambah, pertanian industri yang tidak ramah lingkungan… Masih banyak lagi cerita dan tantangan dari  Pesantren Ekologi AtThariq untuk selalu menginsiprasi sesama…dan kita bisa terlibat langsung dalam mendukung pertumbuhannya..silahkan datang ke Kampung Cimurugul, Kelurahan Sukagalih, Kec.TarKid (Tarogong Kidul), yang lokasinya tak jauh dari keramaian kota… silahkan berinteraksi langsung dengan Ibu Nissa ke https://www.facebook.com/nissa.wargadipura

Advertisements

Penggusuran dan Bukan Penggusuran

Penggusuran adalah ketika manusia yang datang dan tinggal di tanah dan air tempat dia dilahirkan, dia jaga, dia rawat Alamnya, dengan meminta Ijin pengelola Alam yang tampak (Raja, Kepala Adat) dan Tak Tampak, lalu datang orang-orang lain yang tidak tinggal di tanah air itu, tetapi mengeksploitasi Alam nya (Pengusaha Kelapa Sawit, tambang & perkebunan lainnya) Mereka yang digusur, dari tanah yang dijaga untuk menghidupinya, dan menghidupi semua. Itu terjadi di kalangan masyarakat adat. Itulah sejatinya Penggusuran, tercerabut dari tanah dan air, tidak dapat lagi terikat/berhubungan dengan Alam (binatang dan tanaman), terputus dari Jejak Budaya Alam-nya yang lahir dari hubungan dengan pohon, binatang, hutan, pantai, sungai dan gunung. Jejak Budaya yang melahirkan Tari,Seni,Tenun,Obat Herbal, Makanan,Musik..dan tentu Jejak Para Leluhurnya. Marcus Colchcester sangat bagus menulis ini di buku Salvaging Nature Indigenous Peoples, protected areas and Biodiversity Conservation.
Adapun orang yang tinggal di pinggir kali,sungai mereka datang berkumpul juga melalui ijin yang tampak…tapi apakah mereka juga merawat, menjaga Alam dan ijin dengan yang tak tampak? Mereka datang bersama dan sistem yang tidak tegas, dari suatu kondisi yang struktural Tidak Mengenal Penghormatan Alam, pemerintah lampau dan masyarakat lampau (lompatan agraris industri yang tiba-tiba) melanda Jakarta 1960an. Menempati bantaran sungai…pinggir jurang…membahayakan diri sendiri atau tidak itu bisa diperdebatkan, namun pada konteks modern mudah gambaran materilnya..dapat dilihat sendiri.
Presiden Jokowi dulu rumahnya digusur, karena untuk pembangunan jalan kereta…
Bagaimana jalan kereta itu kini… Lampau ini modern, yang instant industrial, bukan masalalu Nuswantara, dimana tatakrama, keteraturan, dan penghormatan Alam adalah hal utama.
Masalalu Nuswantara teratur, tempat2 dan lokasi terbagi dalam Ketertiban Harmoni Alam
1) Sungai/Laut: tempat lalulintas manusia dan hidupnya hewan&tumbuhan sungai, dan (tahta) Penjaga Alam
2) Hutan: tempat hidup pohon,hewan,mahluk dan (tahta) Penjaga Alam, tempat mencari makan dan kebutuhan manusia
3) Kebun, Sawah,Tambak: tempat manusia menyiapkan/rekayasa pangan untuk kebutuhan bersama penghuni Alam yang Nyata dan Samar.
4) Rumah Penduduk, Kantor Pemerintahan/ Pelayanan, Pasar, dan Perusahaan Pemenuh Kebutuhan.
5) Keraton/Istana dan Tempat Pemujaan yang Megah
6) Kaputren/Ksatrian: menyatu dengan Keraton yang menelurkan pemuda/i ksatria pemimpin bangsa
7) Padepokan/Pagrogolan tempat sekolah dan tempat diri untuk berbagai karir, tempat olahraga Pada masalalu Hutan ada dalam Naungan Maharaja/Maharatu karena biasanya Hutan dekat dengan Gunung (Kaki Kahyangan) tempat para dewa-dewi rawuh/turun ke Arcapada Bumi. Sehingga ada masanya Raja memberikan daerah hutan untuk dibabad alas, Hutan ditebangi untuk dijadikan Pemukiman, kepada mereka yang diberi Anugrah oleh Raja…sehingga berketurunan dan menciptakan desa/kota baru, semua melalui TataCara Alam, komunikasi dengan Hyang Berkuasa.
Makro Kosmos dan Mikro Kosmos tidak sekedar apa-apa yang tampak dipermukaan yang terlihat belum tentu yang sesungguhnya seperti kelihatannya. Bagaimana pun, saya sendiri bisa dibilang korban penggusuran sistemik karena selaku PNS bapakku harus pindah rumah dari yang dulu di Pondok Pinang Jakarta Selatan yang luas berdampingan dengan Kebon Karet (ibu masih sempat buat makanan dari biji buah karet), kebon singkong, dan masih memasak dengan kayu bakar dan hidup dengan burung dan hewan liar saat itu di Jakarta.
Pindah ke tempat sekarang yang jauh berbeda. Ssaya tidak sempat merasakan budaya makan biji karet itu…
Namun didalam Konteks terkini, dimana Jakarta Raya mungkin saja jadi Penanda Kebangkitan Nuswantara seperti masalalu, ataukah Penanda Kebangkitan namun harus hancur dulu…secara sosial dan Alami…
Mari kita nantikan bersama.

Wiwitan KeboKetan Kembalinya Nilai Tradisi

ngiy5
foto oleh @kutukandangdut

Continue reading “Wiwitan KeboKetan Kembalinya Nilai Tradisi”

Community that Survived Globalized Economy: Masyarakat Adat Mampu Hadapi Globlisasi Ekonomi

NissaFotoSeedDryer
foto By Nissa Wargadipura

In certain areas on earth there is no such thing called Climate Change, and there is no such thing as market commodity. The nature preserve by community. The origin of the creature and habitats with their most civilized culture, Native, some of western called Indigenous Community. Native to its lands and cultures. They live for happiness and welfare all of member of the community. They are almost uninfluenced by all forms of climate changes.  For their part, the climate is unchanged. Their land of soil still pure and rich. Their way of production of food and shelter are spiritual, also the way they live their life within people or individual. Micro and macro cosmos. Inside and outside of the self.

They are living their life by talking and listening to the earth, the wind, fire, woods and everything in between. The land, the river, the sea, the forest, and the mountain are sacred places. Their whole life are in peace and happy living in the universe. The people of the community practice wisdom tought by their ancestors, the legacy preserved. Their way of life is to give high value of every living things, and preserve things to always be useful  for day to day basis, what nowadays called recycle.

But now, that certain area on earth might be impact by Climate Change. The climate that has change by human actually part of Great order of God/Goddess. Although the facts indigenous way of life has just been currently accepted, but the western feminism such as Maria Mies has mention its as theory of subsistence perspective in her book of The Subsistence Perspective Beyond the Globalised Economy, Maria Mies and Veronika Bennholdt-Thomsen. The subsistence perspective is  focuses on the creation, recreation and support of life and the living, and it has no other purpose than this. It is life that stands at the centre of this vision, rather than money, economic growth or profit, and as such it requires the rejection of capitalist industrial society. It is where we fulfilled the needs to live by and for ourselves including material and spiritual needs.

And in Indonesia many indigenous community has practiced its way long and continuously until now. Most of them live in island of Kalimantan, Papua, Nusantenggara Timur, Banten province and part in Sumatera island. But there are also not so much indigenous community  of Giyombong village in District Bruno, Purworejo Central Java. Not so much because they already living with modern technology. But they practicing tradition and way of organized community in they way their ancestor did. Also they have manage food and beverage to live without hunger treat. Any weather can be faced with their own technology, and most of them environmental friendly.  And recently, there is also, the community that has been created base on the intention to opposed the globalization of commodities of foods. This community is still young, and live among  modern as whole, it is Pesantren At Thaariq in Garut, West Java of whom the founder is an farmer activist Nissa Wargadipura in 2000 ( https://www.facebook.com/nissa.wargadipura ). They chose the pesantren (boarding school) with focus on ecology. The children who living in Pesantren learn how to cultivated soil, planted the trees, and the fulfilled their daily needs of food and beverage from what they have planted. Only few things of them bought. I considered the way Pesantren Attariq has been build as community is the best way to resist disadvantage of economic globalization especially the market fundamental force as claim as free trade. How the people of Giyombong and Pesantren Athariiq community living their life…. I will go to there soon, and will reporting to yo with stories and photos. (to be continue)

Ketahanan Pangan sejalan dengan Kearifan Lokal

Slide2lumbunghiraSlide1Membaca buku karya Hira Jhamtani, Lumbung Pangan Menata Ulang Kebijakan Pangan (InsistPress 2008) selanjutnya disingkat LP, saya berkesimpulan bahwa ketahanan pangan dapat dicapai dengan teknologi dan tradisi pengelolaan tanah, air, hutan yang berpijak dari kearifan lokal.

Sebelum mencapai kesimpulan tersebut saya disungguhkan data-data tentang kerentan pangan, gizi buruk balita, dan kesulitan mendapatkan makanan, bahkan kesulitan makanan bagi sebagian orang yang tinggal di pulau Jawa, Sumatera. Sulawesi, Kalimantan, NTT, Papua. Namun dalam perimbangan data kesulitan dan keburukan, dipaparkan juga cerita dan kisah disertai fakta tentang kemampuan komunitas lokal, masyarakat suku tertentu yang mampu  melampuai masa sulit Kemarau, atau ketiadaan pangan beras. Ya Beras. Banyak orang di Indonesia tidak hanya bermakanan pokok beras, ketika saya Sekolah Dasar bahkan di buku-buku resmi pelajaran sekolah dicantumkan pengetahuan : makanan pokok orang Madura: Jagung, Orang Irian: Sagu, dsb…Sehingga sesungguhnya tidak aneh. Adalah hal aneh ketika pemerintahan Orde Baru yang mengajarkan disekolah fakta adanya keberagaman, tetapi kemudian menelurkan program kesamaan, yaitu menanam beras saja.

Dibuka Peta Kerawanan Pangan yaitu provinsi yang aman dan rentan, dilanjutkan dengan gambar grafik Balita Kurang Gizi  Indonesia 1999-2004  yang naik turun, dilanjutkan dengan temuan-temuan kasus Gizi Buruk di provinsi DKI Jakarta, Jawa Tengah, Sumatera Barat, NTT dan Papua. Juga dipaparkan data BPS 2006, tentang provinsi Sumatera Barat dengan jumlah puluhan ribu anak kena giji buruk, dan makan beras pecah dari Vietnam padahal di daerah ini memiliki kab Solok penghasil beras yang dijual hingga ke Medan dan Malaysia. Mereka menanam kopi tapi tak bisa makan nasi. Lalu menderita ketika harga kopi jatuh. Itulah penanaman tanah atau kebun dengan model tananam monokultur (satu jenis tanaman) telah menyusahkan warga sendiri.

Pangan adalah kebutuhan hidup fisik yang disediakan alam. Sejak jaman dahulu bangsa di Nuswantara telah hidup bersama alam dengan alam saling memberi saling menghidupi dan menjaga habitat Semesta. Banyak komunitas lokal mempraktekkan ini, warga mampu menyesuaikan diri dengan iklim dan cuaca dengan mengembangan sistem pangan dan pertanian sendiri, memperoleh makanan dari budidaya dilahan mereka atau dari hutan dan lahan tak bertuan. Mereka menanam dan memelihara beragam tanaman pangan sebagai makanan pokok seperti jagung, umbi-umbian dan kacang-kacangan. Banyak hasil tanaman ini dapat diawetkan dan disimpan sampai dua tahun sebagai persediaan pangan (LP, hal24-27).  Keberagaman, tatakelola alam dan pola hidup bermasyarakat sebagaimana yang dipaparkan dalam buku ini akan lebih menarik lagi jika kita menelusuri langsung di desanya, dan lokasi yang mereservasi diri, melawan kebijakan pertanian yang  tak peduli pada alam. Bahwa apa yang terjadi terhadap warga yang kelaparan atau kurang gizi di NTT, Papua dan lainya adalah disebabkan salah urus pemerintah pusat. Salah kaprah penerapan kebijakan, dan ketiadadayaan rakyat melawan kekuasaan pemerintah. Dalih kemajuan dan pembangunan yang ditolokukurkan dengan melimpahnya produksi beras, telah menyengsarakan rakyat Indonesia seluruhnya, bukan hanya mereka yang hidupnya dekat dengan sektor pertanian.

Pembangunan menerapkan ‘pemaksaan’ janji perubahan yang lebih baik bagi masyarakat, dengan mengubah pola tradisi yang berjalan dan sejalan alam. Tidak adanya pertahanan yang kuat atas tradisi, dan kebutuhan ekonomi yang mendesak akhirnya mengantarkan rakyat menerima perubahan, apalagi cara dan metodenya dimodali pemerintah (penyediaan bibit dan pupuk serta sosialisasi cara bertanamnya). Maka terjadilah   Revolusi Hijau target peningkatan produksi pertanian, dengan mengganti tradisi bertani dengan teknologi modern, benih ‘unggul’ dan menggunakan pestisida, lalu Revolusi Coklat tentang model pertanian monokultur  “coklat” “kopi” dan jenis komoditi industri yang menjanjikan tetapi tidak mensejahterakan, dan Revolusi Biru mengikuti ‘keberhasilan’ meningkatnya produksi beras, berupaya memaksimalkan produksi dari kelautan dan perikanan. Ketiganya sama saja, peningkatan produktifitas, tak ada penekanan pada keberlanjutan dan kemsalahatan budaya dan lingkungan hidup. Di buku ini disebutkan desa Silopo di Sulawesi Barat menjadi desa yang mengalami tiga revolusi dan tidak mendapatkan kebaikan terkait ketahanan pangan.

“Petani pedesaan justru menjadi kelompok paling miskin & paling rawan ketahanan panan.. hal ini karena program pembangunan pertanian dan industri–yang seharusnya ‘menunjang’ pertanian–gagal meningkatkan kesejahteraan petani pedesaan. (LP, hal.98). Maka kebijakan apapun terkait bidang pertanian, bukan terfokus pada tanah, pada benih, pada alat, tetapi pada manusianya, yaitu petaninya. Apa yang dimiliki oleh petani-petani seluruh Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, sistem apa yang dijalankan, bagaimana mereka hidup dan menjaga alam mereka. Itulah yang harus diRevitalisasi bukan direvolusi. Meksipun buku ini tidak menampik bahwa pada masa Orba sistem pertanian terpadu yang dipraktikan dan menjadi contoh bagi dunia pertanian terpadu, bimbingan massal dan diversivikasi pangan, namun diantara semua kebijakan tersebut diakui keberhasilannya adalah swasembada beras, bukan swasembada pangan. Disamping itu diversifikasi tanaman pangan masih setengah hati. Adapun kelembagaan BULOG buku ini mengungkap perubahan yang terjadi disebabkan Indonesia masuk mekanisme pasar. Sedianya kini BULOG harusnya juga membela petani, namun dengan status sebagai BUMN menyulitkannya.

Secara garis besar ada kearifan lokal mampu memberi harapan hidup dan kesejahteraan bagi warga, dan buku Lumbung Pangan menawarkan Perubahan Paradigma yang memungkinkan itu semua terjadi:
a. Peralihan dari sistem industrialisasi monokultur menuju sistem lokal yang beragam
b. Perubahan dari sistem pertanian berbasis produksi menjadi pertanian berbabis petani dan sumber daya lokal
c. Peralihan dari sistem pertanian kimia menuju praktik yang ramah lingkungan
d. Perubahan sistem perencanaan serba terpusat menjadi berbasis masyarakat lokal
e. Perubahan sistem pembangunan yang tidak terpadu menjadi Pembangunan Terpadu (LP 130-131)

Selain Paradigma kiranya praktek dilapangan juga disertai pendirian koperasi pertanian, perluasan semua kemungkinan penerapan pertanian organik dan ramah lingkungan, penyediaan dana dan arahan yang efektif untuk penelian benih dan tanaman pangan yang sesuai ekosistem lokal, dan lain sebagainya (LP. 133). Secara garis besar buku ini memang ditulis sebagai policy paper (Putting Food first), meskipun buku ini dibuka pertama-tama memasukkan isu ibu hami dan gizi buruk,  tidak banyak yang dipaparkan tentang mengungkap peran  perempuan dalam pengelolaan pangan, tidak diketahui apa jenis kelamin para warga suku-suku yang memasak dan mengolah singkong karet (Kei) ataupun tela ireng (Giyombong) hingga jadi makanan pokok yang siap dihidangkan dan dimakan petani hingga kuat bekerja disawah sampai siang hari 🙂 . @umilasminah

Menunggu Jaman Berubah

Kita akan memasuki jaman baru, kembali ke hakikinya jaman, tidak lagi Sungsang Buwana (Bumi Salah Posisi). Kembali ke masalalu yang sesungguhnya Masa Kejayaan Majapahit/Wilwatikta dan Nuswantara. Kejayaan yang mencakup Semesta Raya.

Kondisi Sungsang (Salah) akan kepada Buwana Balik. Sungsang sekarang adalah posisi Utara, Posisi Selatan, Posisi Barat, Posisi Timur, Perempuan, bangsa Barat. Posisi sekarang perempuan ditindas, tidak menjadi pemimpin, bangsa barat penguasa, bangsa Asia buruh. Perempuan dijadikan objek seks, pornografi dimana-mana (dan itu temuan bangsa barat) Kondisi-kondisi itu akan berbalik. Perhatikan fenomena dunia.

Sekarang bangsa Asia/Afrika masih tidak sejahtera, dan menjadi buruh. Sedangkan pada masalalu bangsa Asia adalah penguasa, dan majikan. Bangsa masyarakat adat sekarang tersisih, diisolasi, padahal masalalu Mereka Penguasa Dunia, dengan kesaktian dan Posisinya.

Namun sebagaiman pemindahan posisi dari Salah menjadi Benar, pasti harus ada yang digerakkan harus ada yang bergerak, apakah Alam Raya bumi dan isinya, apakah manusia dan segala sosial budaya politiknya..marilah bersiap menunggunya. Baca dan terus membaca ALAM, BACA dengan HATI dan PIKIR.

Blog at WordPress.com.

Up ↑