Fakta Sejarah Disembunyikan: Semaun, Syafrudin Prawiranegara, Soedjatmoko

Fakta Sejarah dan Kebenaran Kejadian: Andil Para Tokoh Yang Disembunyikan

Sejarah Kelam Cendrung disembunyikan

Fakta sejarah adalah suatu kejadian yang dapat dilihat dari berbagai sisi pelaku, maupun saksi kejadian. Kejadian sejarah merupakan fakta masalalu, terjadi pada kurun waktu lampau. Di dalam masyarakat modern, sejarah seringkali dianggap sebagai cerita dan para pemenang para elit. Mungkin begitu adanya, sampai saat tertentu manusia di masa kini berani mendalami kejadian masalalu tanpa pretensi apa-apa, kecuali melihatnya sebagai kejadian masalalu yang sudah terjadi di konteks dan jamannya. Ada sejarah kelam. Terjadi dimanapun, Amerika Serikat, Canada, Australia juga kini mulai menguak sejarah kelamnya dengan suku asli Indian, Aborigin/Maori. Bangsa kolonialis dan penduduk asli.

Di Indonesia sejarah hitam antar bangsa sendiri. Baik pada masa modern Kemerdekaan maupun jauh sebelum negara modern belum terbentuk, sejarah kerajan-kerajaan Nusantara juga diwarnai cerita kelam perebutan kekuasaan. Banyak cerita sejarah hitam tak diceritakan kepada publik secara resmi melalui pelajaran sejarah. Ada berbagai alasan sah menurut penguasa tentang hal ini, salah satunya stabilitas keamanan, menghindari dendam dan kebencian. Orde Baru pernah melarang beredarnya buku karya Slamet Mulyana Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara yang menceritakan bagaimana masuknya Islam ke Nusantara. Ada fakta lain selain yang diajarkan pada siswa SDN pada tahun 1980an bahwa Islam masuk ke Nusantara secara damai.

Dibandingkan sejarah negeri modern lain di Asia, Indonesia memiliki sejarah Panjang yang hampir hilang dari jangkauan untuk ditelusuri, diakui dan diminati masyarakat kini. Sejarah pada masa sebelum kolonial Belanda, hampir tak dapat diketahui secara baik dan lurus bagi para pelajar tingkat SD, SMP, SMA. Kebesaran kerajaan-kerajaan Majapahit, Sriwijaya belum dapat dipaparkan secara akurat dalam konteks pembuktian material, sisa peninggalan artefak maupun arkeologinya. Meskipun secara konsensus para pendiri Negara modern Indonesia mengakuinya, sebagaimana ditemui dalam perumusan Dasar Negara dan UUD 1945 dalam sidand BPUPKI Mei-Agustus 1945. Sidang BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) 11 Juli 1945 menyepakati bahwa wilayah Indonesia meliputi: a. Eks Hindia Belanda; b. Malaya; c.Borneo Utara; d.Papua, dan e. Timor Portugis dan semua pulau-pulau kecil sekeliling dari pulau pada huruf a sampai dengan e.[1]

Meskipun begitu, keterkaitan dan ikatan antar pulau-pulau di Nusantara masih dapat ditelusuri kini, dalam buku-buku sejarah lokal yang mengambil sumber dari sejarah lisan. Di berbagai tempat dapat juga ditemui artefak ataupun kegiatan budaya adat sehari-hari yang mirip ataupun perangkat kelengkapan rumah yang serupa dengan yang lainnya. Disamping kebesaran, keadilan dan kemakmuran pemerintahan pada masa jayanya kerajaan dan keratuan Nusantara, ada banyak kisah konflik dan perebutan kekuasaan. Fakta yang tidak sampaikan kepada pelajar. Padahal bilamanapun disampaikan dengan paparan dari berbagai sisi dan perspektif dapat memberikan gambaran yang baik sehingga penerimaan fakta sejarah akan lebih baik dan memperkaya pemahaman tentang hubungan-hubungan antar manusia.

Alhasil sejarah yang banyak disampaikan kepada publilk justru bersumber dari penelitian sejarah orang Belanda, bangsa Kolonialis, yang memiliki tujuan kepentingan mempertahankan penguasaannya di Nusantara. Tak heran yang diketahui warga banyak adalah tentang perang bubat antara Majapahit dan Galuh (Jawa dan Sunda) atau tentang Pembantaian suku Tionghoa di Batavia 1740. Tokoh yang mengkritik tentang penulisan sejarah Indonesia masih didominasi Belanda adalah Soedjatmoko, dari usahanya ini lahir An Introduction Indonesian Historiography  (terbit pertamakali tahun 1962) yang memuat tulisan tentang sejarah Indonesia tidak lagi ditulis semata-mata oleh bangsa Belanda.[2]  Melalui buku Historiografi ini, sejarawan dapat menelusuri jejak sejarah Indonesia melalui karya-karya yang tersebar dari berbagai sumber di tempat dipenjuru dunia, termasuk Soviet Rusia dan China. Buku ini dapat disebut sebagai satu dari berbagai sumbangsih Soedjatmoko bagi penelusuran perjalanan sejarah bangsa. Berbagai tulisannya hampir selalu memaparkan pentingnya kesadaran sejarah.

Transisi Kekuasaan Kolonial  yang Belum Tuntas

Di dalam perjalanan bernegara Indonesia, sebelum Indonesia merdeka, mereka yang berjuang melawan kolonial Belanda disebut sebagai kaum pergerakan, terjadi saat dimasa Pergerakan Nasional yaitu periode 1908-1928, Pergerakan Kemerdekaan 1928-1948, dan Revolusi Kemerdekaan -1958, Orde Lama/Demokrasi Liberal 1959- 1966, Orde Baru 1967-1998 dan Masa Reformasi 1999-  2004, -kini. Keenam periode ini melahirkan karakter perjuangannya sendiri. Cara berjuang, metode dan strategi, berbeda bila dibagi Dua Masa Besar, tujuannya sama Pertama: membebaskan Indonesia dari Penjajahan (Pembebasan Manusia dari Ketertindasan) 1908- 1958 dan Kedua: (Kesejahteraan dan Kesentosaan Bangsa).[3]

Pada periode Pertama Indonesia, sebagian bangsa Indonesia kalangan tertentu memulai mengenal diri sebagai manusia bebas, mengenali penjajahan. Kalangan manusia ini umumnya para terdidik dan priyayi. Konsep manusia bebas, penindasan, dan penjajahan dikenali dan dipahami melalui literatur bacaan yang bersumber dari barat (negeri penjajah). Teori-teori perlawanan terhadap penindasan dikenali dan dipelajari. Hingga memasuki awal kemerdekaan Indonesia wacana ini masih menguat dan mencari bentuknya. Sedangkan sebagai manusia Nusantara, transisi dari tradisional dan modern baik dalam bentuk pemerintahan maupun kehidupan sehari-hari belumlah dapat terjadi secara nyata dan merata.

Peraturan Pemerintah yang diterbitkan oleh Pemerintah Soekarno tentang hukum nasional meniadakan hukum adat.kerajaan dengan memberlakukannya UU No.1 tahun 1946 (KUHP berlaku di pulau Jawa dan Madura) dan dengan UU No.73 tahun 1958 KUHP berlaku diseluruh wilayah Indonesia. Artinya pada tahun 1958 segala peraturan dan kewenangan yang dimiliki oleh sistem pemerintahan lokal (kerajaan, kesultanan) tiada memiliki kekuatan dan kewenangan lagi. Undang-undang KUHP yang bersumber dari hukum kolonial Belanda tersebut hingga kini masih berlaku, praktek penegakan dan implementasi detail yang belum diatur dalam KUHP diatur lebih jauh dalam Undang-undang lainnya.

Bila dilihat secara kehidupan kebangsaan dan kenegaraan, KUHP yang menjadi pengatur denyut kehidupan Warga Negara Indonesia untuk teratur dan tertib saja masih menggunakan sumber hukum kolonial, apakah ini bukan menandakan transisi kekuasaan (ekpolsosbud) yang belum selesai? Periode Pertama Masa Besar Masa Transisi yang belum tuntas terjadi mungkin hingga kini. Pemerintahan modern tetapi pola pikir dan budaya tradisional masih melekat didalam kehidupan masyarakatnya.

Sejarah Kelam Pasca Indonesia Merdeka

Sebelum negara Indonesia mencapai tujuan Kedua, kesejateraan dan kesentosaan Bangsa,sisa-sisa dari tujuan perjuangan Satu masih belum tuntas. Kisah dan sejarahnya secara faktual tidak seluruhnya tersampaikan kepada publik. Sejarah berdarah dan kelam dilupakan, terutama pasca Indonesia merdeka, ketika kondisi masyarakat yang sejahtera masih jauh dari bayangan, sementara perjuangan mendapatkan kemerdekaan telah melalui pergorbanan tak sedikit, jiwa dan raga, materi rohani. Timbulan pemberontakan terhadap pemerintah yang sah, yang baru berjalan dan belum stabil.

Berbagai pemberontakan terjadim   pemberontakan PKI 1948 (jawa timur) membawa korban rakyat Indonesia, Pemberontakan PRRI 1958 (sumatera), Pemberontakan DITII (Jawa Barat, Aceh, Sulawesi, Kalimantan rentang tahun berbeda 1949-awal tahun 1960an). Masa terjadinya pemberontakan terjadi saat pembentukan pemerintahan yang belum dapat menjamin kenyamanan warga. Pemerintahan dan Politik yang dipilih sebagai bentuk negara modern (meninggalkan pemerintahan aristokrasi yang bersifat lokal tradisional kepada pemerintahan pusat (Ibu Kota Negara RI, dan Pemerintahan RI)  yang bersifat Nasional dan Modern). Disini pembebasan manusia dari ketertindasan masih menjadi topik yang hangat. Sudah merdeka namun belum sejahtera, apalagi Sentosa. Maka orang-orang atau tokoh politik/politisi, yang pada masa kolonial didominasi aristocrat, pada masa awal kemerdekaan pun sesungguhnya masih diwarnai oleh kalangan aristocrat/priyayi/ningrat namun telah memeluk pandangan barat tentang pembebasan manusia, persamaan manusia egaliter. Apabila pada masa kolonial aristocrat memegang kendali pemerintahan karena mendapat restu Belanda, maka politisi apakah dari kalangan priyayi atau bukan mulai merebut dan menguasai pemerintahan di awal kemerdekaan.

Bagi masyarakat kini, para pelajar yang life span-nya jauh dari berbagai peristiwa di atas, kurang informasi tentang uraian fakta dalam pelajaran sejarah resmi di sekolah, sehingga banyak hal tak diketahui generasi kini. Seakan semua tidak pernah terjadi. Padahal yang terjadi dalam rentetan hidup sejarah bangsa adalah pelajaran bagi masa depan. Disamping itu, ada fakta sejarah yang kurang disampaikan kepada publik, kepada masyarakat Indonesia. Sejarah yang terjadi pada masa pra kolonial maupun yang terjadi saat perjuangan melawan kolonial, serta di awal kemerdekaan.

Tulisan ini hendak mencoba memaparkan fakta sejarah perjuangan di masa kolonial belanda maupun saat awal kemerdekaan yang motornya adalah tokoh pusat. Fakta sejarahnya banyak tidak dimunculkan dan tidak disampaikan sebagai kebenaran kejadian, hanya karena pada priode tertentu tokoh-tokoh yang terlibat pernah atau diduga pernah terlibat dalam pemberontakan.

Pemberontakan memang kerap terjadi dijaman awal kemerdekaan. Hal ini dimungkinkan karena Kemerdekaan yang diharapkan membawa perubahan ke arah lebih baik bagi masyarakat belum mewujud. Sebagai suatu jembatan emas menuju masyarakat sentosa tampak masih jauh dan kelihatan tak mungkin. Mengapa? Di negeri kaya raya   Sumber daya alamnya seperti Indonesia negeri merdeka tak serta merta menjadikan rakyat sejahtera,

Berbagai pemberontakan melawan pemerintah pusat dan penumpasannya mau tak mau ada andil negara lain. Bagaimanapun fakta di dunia segala jenis persenjataan perang yang membutuhkan pasar adalah produsen senjata tersebut dan ada negara yg paling dominan dalam market itu.

Berbagai pemberontakan di atas tidak disampaikan dengan lengkap dalam buku-buku sejarah. Biasanya yang disampaikan pemberontak terjadi karena A, B, C tanpa menungkapkan berapa jumlah korban yang hilang, meninggal ataupun apa yang menjadi “bekas” “luka” karena terjadinya pemberontakan. Apakah disampaikan bahwa pemberontakan adalah perang antara sesama bangsa Indonesia. Bagaimana proses penyelesaian pemberontakannya. Bagaimana semua dapat ditelusuri dan diungkapkan dalam berbagai sisi.

Tak banyak yang tahu bagaimana Pemberontakan PRRI Permesta menimbulkan trauma mendalam bagi suku di Sumatera Barat, atau bagaimana masyarakat terpecah saat pemberontakan PKI di Madiun dan bagaimana peristiwa pemberontakan terhadap pemerintah kolonial Belanda yang dilakukan oleh serikat pekerja kereta api tidak banyak diketahui orang. Itulah penyembunyian sejarah kelam, yang melahirkan politik “kebencian” terhadap suatu kelompok atau golongan hingga kini masih bisa dipraktekkan, dan contoh tervalid adalah bagaimana dalam kurikulum pelajarah sejarah bahkan di perguruan tinggi tidak menampilkan fakta tentang tokoh-tokoh pusat yang memberi kontribusi bagi kemerdekaan dan pembangunan Indonesia.

Mari kita kembali ke fakta masalalu tentang Fakta Kebenaran perjuangan dan sumbangsih pelaku sejarah yang disembunyikan oleh tokoh pusat di dalam perjalanan bernegara.

Tokoh yang Andilnya “Disembunyikan”

Pemberontakan PRRI Semesta yang berpusat di Sumatera Barat 1958-1961 pembangkangan militer daerah dan dukungan tokoh pusat dan bantuan Amerika Serikat membuat partai yang terlibat Partai Sosialis Indonesia dan Masyumi dibubarkan.

Tokoh pusat yang terlibat telah mendapatkan hukuman, dan rakyat umum, maupun simpatisan telah banyak yang kehilangan nyawa,harta benda, dan trauma. Pada priode tertentu para tokoh itu, mungkin telah mengalami rehabilitasi dari pemerintah yang berkuasa, namun ketika informasi tentang sumbangsih dan andilnya bagi Negara tidak disampaikan kepada publik, khususnya masyarakat kini yang telah berjarak jauh dari kejadian dan peristiwa masalalu, apakah bukan berarti telah menghilangkan hak “pengetahuan” tentang sejarah bangsanya sendiri?

namun ketika informasi tentang sumbangsih dan andilnya bagi Negara tidak disampaikan kepada publik, khususnya masyarakat kini yang telah berjarak jauh dari kejadian dan peristiwa masalalu, apakah bukan berarti telah menghilangkan hak “pengetahuan” tentang sejarah bangsanya sendiri?

Disini hanya akan mengangkat 3 tokoh pusat yang dalam aktivitas perjuangannya telah ada sebelum Kemerdekaan Indonesia dan sesudah kemerdekaan, namun jejaknya dan sumbangsihnya  tidak tersampaikan karena probabilitas ada kaitannya dengan Parpol yang dibubarkan, yaitu Semaun, Soedjatmoko, Syafrudin Prawiranegara.

Semaun aktivis Sarekat Islam sejak remaja 1918, kemudian menjadi Pendiri PKI, pernah di penjara oleh kolonial Belanda karena tulisannya di media massa 1919, ketika menjadi aktivis buruh 1923 melakukan pemogokan buruh kereta melawan kolonial. Selama ditahan Belanda sempat menulis novel Hikayat Kadiroen terbit 1920, yang bercerita tentang kondisi masyarakat kolonial dari persfektif ketidakadilan warga terjajah, perlawanan kolonial yang cukup detail. [4]Ia menulis brosur berjudul Indonesia tahun 1940 yang tersebar luas. Menulis buku pelajaran bahasa Indonesia pertama untuk dipelajari di Uni Soviet/Rusia, saat di Uni Soviet dipercaya menjadi anggota Comitern Uni Soviet menjadi Ketua Badan Pembangunan Turkmenistan. Kembali  ke Indonesia tidak lagi aktif dalam PKI (karena menurutnya berbeda arah), bekerja di kantor pemerintah menjadi Wakil Ketua Bapekan (Badan Pengawas Kegiatan Aparatur Negara) yang diketuai Sultan Hamengkubuwono IX, pernah mengajar ekonomi di Universitas Pajajaran dan mendapat gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Pajajaran. Keluarganya di Curahmalang Mojokerto pada saat terjadinya G30SPKI habis dibunuh. Semaun sendiri meninggal dunia 1971 dalam Islam, dimakamkan di makam keluarga di Pasuruan Jawa Timur.

Syafrudin Prawiranegara:Pada masa mahasiswa menulis tentang seorang Belanda Prof. Eggens yang telah menghina bahasa Indonesia sebagai bahasa rendah, Een Holandse Kwajongen (Seorang Belanda yang Bergajul dan Bodoh). Menjadi satu-satunya Warga Negara Indonesia yang menjadi Presiden De Javasche Bank (1951-1953) dan Gubernur Bank Indonesia (BI) pertama (1953-1958) sebagai hasil dari nasionalisasi DJB.  Ketua (semacam presiden) Pemerintah Darurat Republik Indonesia PDRI di Sumatera Bart saat Presiden Soekarno dalam tahanan Belanda 1948. Tahun 2011 dianugrahi gelar Pahlawan Nasional.

Soedjatmoko salah satu delegasi Indonesia yang memperjuangkan kemerdekaan penuh di PBB 1947 ketika Agresi Militer Belanda, di AS aktif mencitrakan Revolusi Kemerdekaan Indonesia kepada gerakan perempuan dan universitas, turut menyiapkan pendirian kedutaan Inggris dan Amerika awal Kemerdekaan Indonesia, sebagai jurnalis di Deplu sangat berperan pada masa awal kemerdekaan memberitakan fakta perjuangan Indonesia kepada dunia internasional. Pernah menjadi anggota DPR/Konstituante, menjadi Duta Besar Amerika Serikat 1968-1971, menjadi Rektor United Nations University 1980-1987, Menerima RamonMagsaysay Award 1978 untuk Peace and Internasional Understanding (PIU), Asia Society Award (1985), dan Universities Field Staff International Award for Distinguished Service to the Advancement of International Understanding (1986) dan dari Negara Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma 2017. Tahun yang akan 2022 akan menjadi peringatan 100 Tahun Soejatmoko, rencananya informasi dari keluarganya, akan dihelat berbagai kegiatan untuk membumikan kembali pemikiran Soedjatmoko kepada generasi kini.

Soedjatmoko merupakan salah seorang yang Bung Karno telah “melihat” masa depannya, ketika kepada mahasiswa yang mengantarnya seusai rapat di Cikini 71 tahun 1944, berkata,” Soedjatmoko dan Soedarpo itu nanti menjadi orang besar” (Pergumulan Seorang Intelektual, biografi Soedjatmoko dikutip dari Rosihan Anwar., Soedarpo Sostrosatomo, Suatu Biografi 2001). Soedjatmoko adalah tokoh yang terlibat dalam pemerintahan Soekarno dan Soeharto, dan pernah berkomunikasi dengan Semaun (saat di Moskow tahun 1950an) dan Syafrudin Prawiranegara (saat menjadi anggota USI Unitas Studiosorum Indonesiensis).

(Waktu awal kuliah, mengetahui bahwa PKI didirikan oleh orang dari Sarekat Islam, penulis agak kaget juga 🙂 , jaman Orba ) @umilasminah

Soedjatmoko usia 25tahun, paling kiri dibelakang Syahrir, Dewan Keamanan PBB 1947.
Semaun, dari Sarekat Islam mendirikan Partai Komunis Indonesia

[1] S.Silalahi, M.A., Dasar-dasar Indonesia Merdeka versi Para Pendiri Bangsa, Gramedia.,2001., hal.236.

[2] Soedjatmoko, An Introduction to Indonesian Historiography– Equinox Publishing (edisi 2006), hal xiii

[3] Periodesasi Sejarah Indonesia yang umum terbagi sebagai mana disebutkan diatas antaralain disampaikan oleh AK Pringgodigdo.; Kuntowijoyo, 1995. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya,; Nugroho Notosusanto-Sartono Kartodirjo dalam buku Sejaran Nasional Indonesia Jilid V

[4] Semaoen., Kadiroen, penerbit Bentang 2000

Syafrudin Prawiranegara

Novel tentang Budak Jawa di Afrika masa Kolonial

Membaca novel adalah pengembaraan visual yang dibantu teks, kata-kata pemomongnya, yaitu penulis novel. Sebagai feminis, saya suka membaca novel karya perempuan, terutama yang jelas tuturan visualisasi dengan deskriptif dan narasi yang penuh rasa emosi. Termasuk novel Sapaan Sang Giri (SSG). Tak banyak novel perempuan Indonesia yang saya baca akhir-akhir ini,  malahan  baru baru ini baca novel jadul Chandrakirana karya Ajip Rosidi.

Novel Sapaan Sang Giri (SSG) ini merupakan karya debut Isna Marifa. Saya merekomendasikan perempuan yang suka dengan novel berbahasa puitis, dan narasi indah mendeskripsi lingkungan alam yang penuh imaji visual, dan tentunya bercerita juga tentang kekayaan pengalaman perempuan dalam kehidupan domestik, terisolasi.

Novel SSG bercerita tentang pengalaman orang-orang yang dengan narasinya: yang harus pergi jauh meninggalkan daerah asal karena dijual sebagai budak  Parto dan Wulan, dan orang-orang yang ditinggalkannya ayah Parto, Wage, yang juga menarasikan istrinya Sulastri. Novel ini dominan narasi perempuan, selain Wulan yang mendapat tempat 11 kali bercerita, perempuan sendiri merupakan konsep. Sama seperti ibu, perempuan adalah kata kerja.

Novel Sapaan Sang Giri (SSG) ini merupakan karya debut Isna Marifa. Saya merekomendasikan perempuan yang suka dengan novel berbahasa puitis, dan narasi indah mendeskripsi lingkungan alam yang penuh imaji visual, dan tentunya bercerita juga tentang kekayaan pengalaman perempuan dalam kehidupan domestik, terisolasi.
Judul: Sapaan Sang Giri Sebuah Novel
Oleh: Isna Marifa,
Penerbit Ombak Yogyakarta 2020, 210 halaman

 Peristiwa perbudakan digambarkan terjadi pada abad ke 18 di tanah Jawa, ketika seorang kehilangan kekuasaan atas dirinya karena jerat lintah darat,  seakan alam turut andil mengkondisikannya dengan banjir yang jadi penyebab tak ada panen.  

Perjalanan bapak dan anak dibuka oleh suara hati Wulan.  Parto sebagai budak, dan Wulan anaknya yang ikut sejak usia 10 tahun, dan  yang harus bertahan hidup di kapal laut selama berbulan-bulan, untuk tiba di Afrika Selatan. Banyak yang tidak selamat didalam perjalanan meninggal dunia, diantaranya Yu Mirah, suaminya sakit di dalam perjalanan dan dibuang ke laut, yang trauma sehingga tak banyak bicara. Novel ini bisa dibilang berani, karena bagi  Anda yang berharap sesuatu yang happy ending akan nyesek, bagaimana menjemput ajalnya dipaparkan secara sederhana. Sebagai penggemar cerita happy ending, saya harusnya tidak suka, tapi karena balutan kental budaya asli Nuswantara, dan bagaimana rasionalitas kekerasan terhadap perempuan ditampilkan dengan halus, saya benar merekomendasi ini. Di akhir novel memang agak melambat… karena anti klimak.

Narasi Perempuan

Tertarik membaca karena judulnya, kata-kata Giri, yang dalam bahasa Sangsekerta berarti Gunung.  Sapaan Sang Giri memulai ceritanya kalimat-kalimat prosa dari Wulan, yang sedang dalam perjalanan di kapal laut. Bayangan imaji desa yang indah hingga air bah menghentikan tawa. Membaca novel ini asyiknya, walaupun berbeda dan berbagai perspektif, kita akan memahami masing-masing cerita yang dicurahkan tokohnya, juga tentang tokoh lain di alur kisah.

Wulan dan Parto sebagai tokoh utama yang harus pergi ke Afrika Selatan sebagai budak belanda bernama Baas. Parto bukan budak biasa, ia masih merasa lebih beruntung, karena memiliki keahlian sebagai tukang kayu, juga mengukir. Sejak ketibaannya di Afrika sebagai hingga akhirnya pada suatu masa berpindah dari perkebunan Baas dan tinggal dengan cucunya, hingga menjelang ajal kerinduan pada tanah Jawa tak pernah berhenti.

Sejarawan yang ingin menggali peristiwa masalalu pasti akan tertarik membaca SSG terutama yang tertarik pada peristiwa orang biasa bukan tokoh terkenal atau elit politik. Fakta perbudakan ditampilkan secara tuturan yang runut dan rapi. Dimana Anda bisa “menyaksikan” jual beli dan transaksi perbudakan. Bagaimana kondisi budak. Bagaimana pembeli. Bahwa orang Jawa dapat menjadi budak, bahkan aristokrat dapat menjadi tidak bebas (meskipun bukan budak). Realitas ketidakbebasan tak hanya terjadi pada budak. Mereka yang melawan pemerintah kolonial akan menemui risiko dipenjara, dibuang jauh ke negeri seberang. Itu pun ketika akhirnya bebas sebagai budak pembuktiannya harus dengan surat berbahasa belanda.

Buku ini memaparkan hubungan antara sesama manusia yang terperangkap dalam perbudakan dan harus tinggal bersama di kebun, Parto, Wulan, Bu Ning, Diman, Ahmad, Bejo, Nengah, Yu Mirah orang Jawa yang bercampur dengan Koki dari Bengal, pekerja dari Afrika, Reen anak perempuan dari suku Khoikhoi teman bermain Wulan, orang belanda pemilik budak, pembeli budak, pengawas Kneckt, perempuan belanda istri Baas anak belanda Olivia dan Mary, yang semuanya saling berkelindan dalam penyatuan dan kertepisahan yang hampir serentak, karena kendala bahasa. Tempat ini dikenal dengan  Tanjung Harapan (kini CapeTown).

Perbudakan adalah anak kolonialisme. Melebihi penindasan manusia atas manusia lain. Budak bukan manusia dia adalah barang yang bisa dipakai, dijual belikan oleh Pemiliknya. Di perkebunan apapun bisa terjadi pada budak, tak ada hukum yang melindunginya. Di dalam kisah SSG kita akan menemukan terjadinya modul kekerasan seksual, khususnya eksploitasi seksual. Dimana dalam RUU Tindak Pidana Kekerasan Seksual, Eksploitasi Seksual[*]  

Pengalaman perempuan sangat nyata digambarkan oleh Wulan. Sebagai anak  usia 10 tahun, Ibu meninggal maka kehidupannya ditentukan oleh orang dewasa. Ikutlah ke Afrika. Di dalam kapal ada perempuan Jawa Bu Ning, juga berangkat sebagai budak. Kesehariannya sebagai perempuan Jawa menjalankan tradisi kejawen dipaparkan Wulan, dengan indah “Nduk kembang kenanga mengingatkan kita supaya mencari kearifan leluhur, dan menghargai warisan mereka. Walaupun kita jauh dari leluhur, Wulan kamu harus selalu mengingat cara-cara mereka” . Disinilah penyelaman penulis untuk menjadikan penting pengalaman perempuan yang dari jaman ke jaman taken for granted. Semua pengalaman Wulan dari masih anak-anak hingga dewasa menikah dan melahirkan penting, dan dengan renyahnya Wulan bertutur ketika belajar bekerja:

”Yu Mirah…

Dia ajarkan aku lipat serbet kain,

usap pisau garpu perak sampai berkilap…

agar isti Baas tidak membentak,

 Dan terpenting ajarannya.

Bagaimana kerja tanpa sedikit pun bersuara.

Bak hantu gentayangan.”


Kehidupan Wulan dari remaja digambarkan melalui perlakuan dari Bu Ning. Secara pribadi pun dia mengalami perubahan reaksi atas sikap dari perhatian pekerja musiman perkebunan laki-laki dari Afrika Barat,  Afdei laki-laki yang suka bersain gendang.

Alur selanjutnya yang menjadi bagian kehidupan perempuan sehari-hari digambarkan dari pengobatan herbal untuk mengobati Wulan yang batuk karena musim dingin. Bu Ning diajari membuat ramuan obat herbal dari rebusan tanam-tanaman,  pembuatannya oleh ibunda Reen, anak suku asli Khoikhoi, yang menjadi teman Wulan. Lalu Wulan hamil dari eksploitasi seksual, lahir anak Abimanyu, anak yang tak terlalu diharapkan, sempat coba dibuang namun gagal. Namun anak itu melindunginya dari pelaku kekerasan. Menikah dengan lalu hamil. Kehamilan kedua perempuan, dinamainya Restu, buah pernikahan dengan Ahmad orang Jawa di perkebunan. Wulau juga memaparkan tanda yang biasa dirasakan ibu hamil bila anak yang dikandungannya perempuan, makan di perutnya tak terlalu dirasa banyak gerak, tak terlalu banyak makan (rakus kalau ibu-ibu menyebutnya), dan si ibu suka berdandan, rapi.  Sementara anak yang dikandung laki-laki berbeda. Diantara siklus hidup itu semua, Bu Ning hadir dengan tradisi Jawanya. Nujubulanan, kembang setaman dan menyan. Walau jauh di Afrika sana, lantunan tembang macapat menjadi bagian Wulan.      

Kampung Halaman dan Jalan Hidup Manusia

Sapaan Sang Giri adalah kisah keluarga Wage Wage di Jawa, dan anaknya  Parto dan Wulan cucunya di Afrika, dalam rentang tahun 1751-1791. Suara para tokoh yang secara umum penuh kepedihan dan keprihatinan. Kerinduan pada kampung halaman. Jelas disampaikan ketika baru tiba, Wulan sudah minta pulang. Namun ada juga kegembiraan budak-budak Jawa di perkebunan ini. Ketika tradisi pernikahan dilaksanakan di tanah Afrika. Makanan, tatacara adat istiadat menjelang nikah, serasa di tanah Jawa.

Namun di tanah Jawa, yang ditinggalkan kekelaman lebih dalam. Dari Wage kita membaca penantian dan harapan anak dan cucunya pulang kampung dinantikan selalu. Bahkan diadakan doa dan kenduri. Tak ada hasil, tak jua ada pedati tiba. Bahkan pembaca akan terenyuh lebih dalam dengan kepergian nenek Wulan, Sulastri.

Secara garis besar novel ini merengkuh nilai Jawa dalam kehidupan dimanapun, Nrimo, Ikhlas. Terutama ketika sudah terjadi. Sehingga Parto pun akhirnya menerima gunung batu layaknya Gunung-gunung di Jawa. Rasa syukur selalu ada, bahkan ketika pada akhirnya harus kehilangan orang-orang kinasih.  Tulisan ini tak bermaksud memberikan spoiler bagi pembaca. Secara struktur kisahnya rapi terjalin. Ada jalan yang tidak diketahui manusia, ada kehilangan, lalu kembali bertemu dalam keterlambatan. Ada sisipan kisah politik perpecahan ningrat Jawa saat pembagian keraton Surakarta dan Yogyakarta, ningrat dari berbagai wilayah Nusantara yang yang dibuang ke Afrika. Ada kesetiaan doa, ada rebound. Yang pasti novel ini berani, berani mematikan tokoh utamanya tanpa kita sedih larun dalam kedukaan mendalam. Novel ini adalah novel menceritakan nilai kemanusiaan, yang universal dan yang personal. Universal manakala diantara manusai berbeda bangsa, suku adat istiadat dapat hidup dalam harmoni kebersamaan. Personal kita mendapati segala rasa, meski yang terkuat adalah penyesalan, semua tokohnya.

[*] Ekspoitasi Seksual: Eksploitasi seksual adalah tindakan seseorang yang memiliki kekuasaan dan/atau posisi terhadap akses, kontrol, manfaat terhadap sumber daya, menggunakan kekuasaan dan/atau posisinya tersebut untuk melakukan tindakan seksual dengan seseorang yang tidak memiliki kekuasaan atau yang bergantung padanya untuk mendapatkan sumberdaya, atau semata-mata untuk keuntungan/pemenuhan seksual pelaku. (JKP3 Jaringan Kerja Prolegnas Pro Perempuan)

Kedai Kopi Pojok: Kopi Nusantara di Pamulang

(Jkt 21/9/18)  Bila anda ke cafe-cafe di kota Jakarta, Tidak banyak atau jarang sekali anda temukan cafe yang menyediakan kopi robusta, dengan sajian barista. Hampir semua menyediakan kopi arabika, kopi yang digemari bangsa barat.  Namun tidak halnya dengan Kedai Kopi Pojok Pamulang. Beruntung sekali warga Pamulang dengan adanya Kedai Kopi Pojok (KKP) yang tidak hanya menyediakan kopi arabika dari berbagai daerah Indonesia namun juga menyediakan kopi robusta dari berbagai daerah di Indonesia.

Kedai Kopi Pojok adalah cafe sederhana dengan harga terjangkau  yang menyediakan makanan unik untuk kategori cafe kedai kopi. Di menunya tersedia Edamame  juga makanan lain dengan harga ramah porsi mengenyangkan. Minuman andalan kopi-kopinya disedikan dengan cara barista, oleh sang pemilik Hudiono Lamong. Ya, pria asal Lamongan ini me

jajaran biji kopi Nusantara

miliki kemampuan mengetik sepuluh jari dengan cepat, sehingga pada suatu kesempatan saya pun pernah saling mengetest kecepatan mengetik, disamping bekerja resmi kantoran di Jakarta, Lamong sekarang turut menyemarakan dunia perkopian Nusantara.

Memulai usaha kopi dengan serius dan menjadi barista otodidak mas Lamong menyajikan menu kopi terbaru Affagato yaitu kopi sebagai dessert yang dibuat dari campuran eskrim dan espresso. Sebagai seorang penggemar es krim dan peminum kopi pahit, tentunya  saya tak menyiakan kesempatan ini. Proses penyajian mulai dari menggiling/roast kopi hingga jadi Affagato tak sampai 10 menit. Cepat. Rasanya misterius, enak dingin, manis pahit. Begitu enaknya saya mencoba double shots, dua porsi.

Ada hal unik dan menarik adalah menu makanan yang disediakan mungkin akan sulit dicari di kafe lain, seperti tersedia snack yang satu porsi terdiri dari empat macam dan harganya dibawah duapuluh ribu rupiah. Juga tersedia snack dari pangan lokal singkong, cireng, sosis dan dimsum cukup mengenyangkan buat yang belum sarapan. Kedai Kopi Pojok juga menyediakan wifi dan saklar listrik. Untuk mereka yang ingin mencari suasana baru tempat ngobrol atau rapat jadi pilihan tersendiri.

Mengutamakan kualitas dan rasa kopi adalah ciri terbaik dari KKP. Kopi menjadi bagian utama dari setiap minumannya. Sehingga jumlah takaran minuman yang disajikan memiliki presentasi kopi yang kuat, tapi tidak strong, sesuai bagi yang suka minum kopi. Tidak encer seperti cafe-cafe franchise luar negeri yang harganya selangit. Bahkan menu andalannya Es Kopi Pojok atau Kopi Pojok menggunakan gula aren. Menu kopi lainnya yang unik adalah Kopi Coklat, saya sendiri pertama kali minum kopi coklat dulu dirumah teman, dan menggunakan bubuk coklat mainstream, nah di KKP ini yang coklatnya adalah coklat dari Kampung Coklat Blitar.

Jadi yang menarik dari KKP adalah kopi-kopi yang dapat disajikan justru lebih beragam dari terdaftar di menu. Bila di menu tidak tercantum kopi Bajawa, Wamena maka anda bisa memesannya karena ada disediakan dan siap diroast untuk diseduh secara barista. Bagi yang mendukung makanan dan local foods, maka pilihan mampir di KKP adalah pilihan keren, lokasinya di Pamulang Elok, anda dapat cek di maps google, bahkan salah satu produknya pun sudah dapat dipesan online transport.

Es Kopi Pojok dengan gula aren, susu dan kopi…

Itulah pengalaman pertama makan snack, dan minum kopi di Kedai Kopi Pojok. Pulang ke rumah malam hari, masih terasa kenyangnya, secara minum Affagato 2 shots 🙂 (UL)

Continue reading “Kedai Kopi Pojok: Kopi Nusantara di Pamulang”

Pesantren Kebon Sawah : Berkah Alam dalam Himpitan Perubahan

umillsSelamat Datang di  Kebon Sawah Argoekologi

Pada tanggal 5-6
Mei 2017, saya bersama Adhe dan Shiren sempat berkunjung ke Pesantren AtThariq, di Cimurugul Kelurahan Sukagalih, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Menuju ke pes antren AtThariq tidak sulit, dan ibu Nissa selaku pengampu dan pengelola akan memberi arahan jalan menuju lokasi.

Kami tiba di pesantren menjelang sore, sekitar pukul 14.30 WIB, ibu Nissa sedang istirahat bersama putri bungsunya yang biasa dipanggil Ceuceu, usia 5 tahun. Kami disambut putri pertamanya Salwaa yang mempersilahkan kami untuk istirahat di pondok. Sebuah bangunan bertingkat panggung terbuat dari bambu yang difungsikan juga sebagai musholla, ruang diskusi serta ruang istirahat di atasnya. Dipondok tersebut terdapat rumah sarang untuk beberapa ekor burung dara yang ketika kami datang sedang terbang disekitar kandang. Pondokan dikelilingi tanaman merambat serta ada pattariq1ohon mangga yang batang dan dautnya menjalar masuk sehingga jika akan naik ke atas harus melewati pohon itu. Di luarnya ada pohon pete cina yang juga menjulur-julurkan diri hendak masuk ke pondokan atas dan bawah. Menurut ibu Nissa, pepohonan yang suka dengan pondokan akan dibiarkan sebagaimana adanya, sebagai bagian hidup bersama ketersalingan.

Setelah menaruh tas di pondokan, saya dan Shiren, gadis kecil 8 tahun keluar ke sawah dimana ada beberapa anak sedang menerbangkan layang-layang berukuran cukup besar. Kita berjalan dipematang sawah dan memotret kanan-kiri, diarah kejauhan gunung dan awan. Langit cukup mendung hari itu.Kembali ke pondokan, kami disajikan minuman dari Jeruk Purut (yang buahnya keriput dan berwarna hijau tua), pohonnya ada disamping kanan pondok. Saya menyebutnya welcome drink. Disediakan gula pasir putih untuk menambah manis bagi yang tak suka asam. Saya meminum langsung seperti kebiasaan saya minum jeruk nipis dipagi hari.

Tidak Sekedar Pesantren

Tak seperti pesantren modern umumnya yang mengajari santrinya semata-mata ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum, dimana santrinya mondok/tinggal dan terkungkung dalam kurikulum ketat yang tak jauh beda dari pendidikan modern umum. Pesantren AtThariq yang dipimpin oleh Nissa Wargadipura dan Ustad Ibang Lukman pamornya telah dikenal publik; tak kurang semua televisi swasta nasional telah menayangkan kegiatan hidup dan berkehidupan bersama Alam di Kebon Sawah (a.l https://www.youtube.com/watch?v=zYI1F7SETuE ). Khususnya dengan ciri para santri dan yang bertandang ke Kebon Sawah hidup bersama alam dengan alam secara alami. Ya Alami, dan Mandiri melampaui cara dan proses yang dikenal umum sebagai organik. Pesantren Kebon Sawah juga dikenal sebagai pesantren Ekologi, dimana keseluruhan proses perputaran pangan saling terkait membentuk rantai makanan yang berkelanjutan. Maka kita akan menemukan ada beberapa pohon yang daunnya bolong dimakan ulat atau hama, namun dibiarkan. Kecuali jika daunnya habis semua baru diambil langkah dengan mengatasinya menggunakan pestisida alami yang dibuat. Pestisida alami sudah tersedia dari tanaman yang tumbuh diberbagai tempat, dipinggir kolam ikan dan belut yang dipenuhi tanaman apu-apu yang berfungsi memberi makan ikan dan belut, juga bisa dimanfaatkan untuk pupuk. Sederhananya di kebon sawah semua hidup sesuai fungsi dan peruntukkannya.

Kehidupan pemenuhan kebutuhan hidup dalam lingkungan AtThariq, mungkin bisa disebut sebagai ekonomi Subsistence Perspective, yang diperkenalkan oleh Maria Mies, dimana kebutuhan hidup terutama pangan dipenuhi oleh komunitas, untuk komunitas tidak ada  produksi untuk sengaja untuk tujuan dijual (berlebih) atau diperdagangkan namun bila ada kelebihan  pangan ataupun  herbal baru akan ditawarkan kepada kawan dan kerabat yang mau “membelinya”.

Inilah antara lain praktek Subsistence Perspective .. “orang dapat memproduksi dan mereproduksi kehidupan mereka sendiri, untuk berdiri diatas kaki sendiri dan memakai suara mereka sendiri. Ketika komunitas dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri tanpa tergantung kekuatan lain atau agen lain, termasuk uang. Maria Mies menganggap subsistence perspective merupakan cara perempuan melawan globalisasi ekonomi.(Maria Mies and Veronika Bennholdt-Thomsen, 2000). Nissa Wargadipura dan Ibang Lukman adalah aktivis organisasi tani Serikat Petani Pasundan, yang memutuskan melakukan perlawanan dengan cara konkrit melawan kapitalisme pertanian yang telah merasuk di tanah Indonesia sejak tahun 1980an dengan Revolusi Hijau-nya. Revolusi yang secara tajam mencabut akar kearifan lokal dalam hal teknologi pertanian, mengganti keseluruhan cara tradisi yang bernilai tinggi dalam hal praktek teknologi tani yang menyatukan manusia dengan alam, dengan modernisassi pertanian dan memborbardir tanah dan air Indonesia dengan racun pestisida. Revolusi yang tidak hanya mencabut dan menghilangkan benih dan tanah asli dari tanah air, namun juga menghilangkan praktek budaya adiluhung dibidang pertanian; mengenali musim tananam, mengenali musim cuaca dan mengenali serta memahami hidup dan kehidupan hewan sekeliling kebon dan sawah. Tak ada istilah gulma disini. Gulmanisasi adalah istilah industri, revolusi hijau. Segala tanaman disekeliling kita, yang biasa diinjak dan dicabut, oleh Ustad Ibang diberitahu namanya, dan diminta kita melihat di google, dan terlihatlah tanaman Krokot apa yang oleh ‘pertanian modern’ dibilang “gulma” ..Google menampilkan 10 manfaat krokot…27 manfaat Sintrong dsb…

Di Kebon Sawah kita akan merasakan hawa dan udara bersih, karena semuanya alami. Sehari saja disana saya sungguh merasa segar, sehat  layaknya detoksifikasi. Makan malam kami disuguhi nasi liwet. Nasi yang dimasak dengan campuran daun salam, sereh dan telang ungu. Rasanya enak sekali, apalagi kami pun disediakan lauk ayam bakar yang dibakar dan masih segar, juga bayam paris rebus dan kecipir. Itulah rasa sesungguhnya dari kedaulatan pangan. Dimana di tanah air Indonesia, seharusnya tidak ada kelaparan, tidak ada sampah. Semua tanaman dan hewan punya manfaat dan fungsi. Kedaulatan terjadi  ketika semua mandiri dan tidak tergantung pada agen pupuk atau benih.

Makan malam yang sangat mewah. Jika dirupiahkan dan dijual dihotel mahal bisa seharga ratusan ribu 🙂 Serius. Saya bisa membedakan tekstur rasa dari bayam paris yang lebih lembut dari bayam biasa, juga kecipirnya. Yang membuat kami makan malam dengan lahap adalah sambal dabu-dabu dari tomat-tomat kecil yang dipetik oleh Ceuceu dan Shiren, dan cabe pedas yang semuanya dipetik di Kebon Sawah. Dan malam itu, sangat aneh, kami semua tidur pulas, dan tidur cepat. Inilah nasiliwet ungu yang disukai pengungsi saat banjir bandang menimpa Garut beberapa waktu lalu.   Kami masuk pondokan sekitar pukul 21.00 dan saya tidur…Namun selalu terjaga dengan suara-suara speaker dan toa yang memberitahu tentang waktu… Sejauh ini saya tidak terganggu …:-)

Sayang kami hanya bisa menginap semalam, jika  beberapa hari detoksisifkasi pasti benar terjadi.  Betapa tidak, dari cerita Ustad Ibang, seorang santri yang semula narkoba pun dapat sembuh tidak hanya karena alamnya, namun karena interaksi aktivitas berkebun: menyiapkan benih, merawat bibit, menanam, merawat dan menjaga. Berbeda dengan tatacara ‘industri’ pertanian organik yang menggunakan asupan/pupuk sebagai bahan tambahan bagi tanaman, di Kebon Sawah semua alami, berasal dari alam, hanya menggunakan tambahan ‘kotoran hewan/kambing’ sebagai pupuknya, juga sisa sayuran dan sisa makanan ‘dibuang’ bukan sebagai sampah, tapi diberikan ke tanah untuk pupuk alami. Itu yang terjadi terdap ‘piring’ panjang daun pisang saat makan dengan botram, daunnya ‘dibuang’ disamping bawah pondokan untuk berproses secara alami dengan dedauan lainnya.

Pesantren Kebon Sawah bukan sekedar pesantren, namun komunitas kecil keluarga yang memiliki harapan dan kepercayaan bahwa perubahan untuk perlawanan terhadap ‘penghancuran’ karena kebijakan pertanian dan kebijakan pendidikan modern hanya dapat dicapai melalui praktek langsung dalam kehidupan sehari-hari. Apa yang dilakukan ibu Nissa dan Ustad Ibang bukan hal kecil, langkah dan gerak yang terus menerus memberi inspirasi (selalu berbagai pengalaman, ilmu dan pengetahuan yang dipraktekkan) dalam berbagai kesempatan, termasuk kepada para tamu yang hendak belajar Ekologi yang datang dari berbagai kalangan, dalam dan luar negeri. Termasuk para biarawati dan pastur. Menurut Ustad Ibang, beberapa waktu lalu beberapa pastur dari Taiwan, India, Jepang tinggal di KebonSawah untuk belajar dan berbagi pengalaman dan pengetahuan, sebagai bagian tugas layanan Katolik adalah Pelayanan pada Alam…

Pesantren Ekologi Atthariq terus bertumbuh dan berkembang, sudah lebih dari 500 spesies tanaman di Kebon Sawah, belum lagi di Hutan Tangoli untuk pohon-pohon besar asli Nusantara yang hendak ditanam dan dimuliakan kembali….Namun disekeliling Pesantren perumahan yang semakin merambah, pertanian industri yang tidak ramah lingkungan… Masih banyak lagi cerita dan tantangan dari  Pesantren Ekologi AtThariq untuk selalu menginsiprasi sesama…dan kita bisa terlibat langsung dalam mendukung pertumbuhannya..silahkan datang ke Kampung Cimurugul, Kelurahan Sukagalih, Kec.TarKid (Tarogong Kidul), yang lokasinya tak jauh dari keramaian kota… silahkan berinteraksi langsung dengan Ibu Nissa ke https://www.facebook.com/nissa.wargadipura

Community that Survived Globalized Economy: Masyarakat Adat Mampu Hadapi Globlisasi Ekonomi

NissaFotoSeedDryer
foto By Nissa Wargadipura

In certain areas on earth there is no such thing called Climate Change, and there is no such thing as market commodity. The nature preserve by community. The origin of the creature and habitats with their most civilized culture, Native, some of western called Indigenous Community. Native to its lands and cultures. They live for happiness and welfare all of member of the community. They are almost uninfluenced by all forms of climate changes.  For their part, the climate is unchanged. Their land of soil still pure and rich. Their way of production of food and shelter are spiritual, also the way they live their life within people or individual. Micro and macro cosmos. Inside and outside of the self.

They are living their life by talking and listening to the earth, the wind, fire, woods and everything in between. The land, the river, the sea, the forest, and the mountain are sacred places. Their whole life are in peace and happy living in the universe. The people of the community practice wisdom tought by their ancestors, the legacy preserved. Their way of life is to give high value of every living things, and preserve things to always be useful  for day to day basis, what nowadays called recycle.

But now, that certain area on earth might be impact by Climate Change. The climate that has change by human actually part of Great order of God/Goddess. Although the facts indigenous way of life has just been currently accepted, but the western feminism such as Maria Mies has mention its as theory of subsistence perspective in her book of The Subsistence Perspective Beyond the Globalised Economy, Maria Mies and Veronika Bennholdt-Thomsen. The subsistence perspective is  focuses on the creation, recreation and support of life and the living, and it has no other purpose than this. It is life that stands at the centre of this vision, rather than money, economic growth or profit, and as such it requires the rejection of capitalist industrial society. It is where we fulfilled the needs to live by and for ourselves including material and spiritual needs.

And in Indonesia many indigenous community has practiced its way long and continuously until now. Most of them live in island of Kalimantan, Papua, Nusantenggara Timur, Banten province and part in Sumatera island. But there are also not so much indigenous community  of Giyombong village in District Bruno, Purworejo Central Java. Not so much because they already living with modern technology. But they practicing tradition and way of organized community in they way their ancestor did. Also they have manage food and beverage to live without hunger treat. Any weather can be faced with their own technology, and most of them environmental friendly.  And recently, there is also, the community that has been created base on the intention to opposed the globalization of commodities of foods. This community is still young, and live among  modern as whole, it is Pesantren At Thaariq in Garut, West Java of whom the founder is an farmer activist Nissa Wargadipura in 2000 ( https://www.facebook.com/nissa.wargadipura ). They chose the pesantren (boarding school) with focus on ecology. The children who living in Pesantren learn how to cultivated soil, planted the trees, and the fulfilled their daily needs of food and beverage from what they have planted. Only few things of them bought. I considered the way Pesantren Attariq has been build as community is the best way to resist disadvantage of economic globalization especially the market fundamental force as claim as free trade. How the people of Giyombong and Pesantren Athariiq community living their life…. I will go to there soon, and will reporting to yo with stories and photos. (to be continue)

Ketahanan Pangan sejalan dengan Kearifan Lokal

Slide2lumbunghiraSlide1Membaca buku karya Hira Jhamtani, Lumbung Pangan Menata Ulang Kebijakan Pangan (InsistPress 2008) selanjutnya disingkat LP, saya berkesimpulan bahwa ketahanan pangan dapat dicapai dengan teknologi dan tradisi pengelolaan tanah, air, hutan yang berpijak dari kearifan lokal.

Sebelum mencapai kesimpulan tersebut saya disungguhkan data-data tentang kerentan pangan, gizi buruk balita, dan kesulitan mendapatkan makanan, bahkan kesulitan makanan bagi sebagian orang yang tinggal di pulau Jawa, Sumatera. Sulawesi, Kalimantan, NTT, Papua. Namun dalam perimbangan data kesulitan dan keburukan, dipaparkan juga cerita dan kisah disertai fakta tentang kemampuan komunitas lokal, masyarakat suku tertentu yang mampu  melampuai masa sulit Kemarau, atau ketiadaan pangan beras. Ya Beras. Banyak orang di Indonesia tidak hanya bermakanan pokok beras, ketika saya Sekolah Dasar bahkan di buku-buku resmi pelajaran sekolah dicantumkan pengetahuan : makanan pokok orang Madura: Jagung, Orang Irian: Sagu, dsb…Sehingga sesungguhnya tidak aneh. Adalah hal aneh ketika pemerintahan Orde Baru yang mengajarkan disekolah fakta adanya keberagaman, tetapi kemudian menelurkan program kesamaan, yaitu menanam beras saja.

Dibuka Peta Kerawanan Pangan yaitu provinsi yang aman dan rentan, dilanjutkan dengan gambar grafik Balita Kurang Gizi  Indonesia 1999-2004  yang naik turun, dilanjutkan dengan temuan-temuan kasus Gizi Buruk di provinsi DKI Jakarta, Jawa Tengah, Sumatera Barat, NTT dan Papua. Juga dipaparkan data BPS 2006, tentang provinsi Sumatera Barat dengan jumlah puluhan ribu anak kena giji buruk, dan makan beras pecah dari Vietnam padahal di daerah ini memiliki kab Solok penghasil beras yang dijual hingga ke Medan dan Malaysia. Mereka menanam kopi tapi tak bisa makan nasi. Lalu menderita ketika harga kopi jatuh. Itulah penanaman tanah atau kebun dengan model tananam monokultur (satu jenis tanaman) telah menyusahkan warga sendiri.

Pangan adalah kebutuhan hidup fisik yang disediakan alam. Sejak jaman dahulu bangsa di Nuswantara telah hidup bersama alam dengan alam saling memberi saling menghidupi dan menjaga habitat Semesta. Banyak komunitas lokal mempraktekkan ini, warga mampu menyesuaikan diri dengan iklim dan cuaca dengan mengembangan sistem pangan dan pertanian sendiri, memperoleh makanan dari budidaya dilahan mereka atau dari hutan dan lahan tak bertuan. Mereka menanam dan memelihara beragam tanaman pangan sebagai makanan pokok seperti jagung, umbi-umbian dan kacang-kacangan. Banyak hasil tanaman ini dapat diawetkan dan disimpan sampai dua tahun sebagai persediaan pangan (LP, hal24-27).  Keberagaman, tatakelola alam dan pola hidup bermasyarakat sebagaimana yang dipaparkan dalam buku ini akan lebih menarik lagi jika kita menelusuri langsung di desanya, dan lokasi yang mereservasi diri, melawan kebijakan pertanian yang  tak peduli pada alam. Bahwa apa yang terjadi terhadap warga yang kelaparan atau kurang gizi di NTT, Papua dan lainya adalah disebabkan salah urus pemerintah pusat. Salah kaprah penerapan kebijakan, dan ketiadadayaan rakyat melawan kekuasaan pemerintah. Dalih kemajuan dan pembangunan yang ditolokukurkan dengan melimpahnya produksi beras, telah menyengsarakan rakyat Indonesia seluruhnya, bukan hanya mereka yang hidupnya dekat dengan sektor pertanian.

Pembangunan menerapkan ‘pemaksaan’ janji perubahan yang lebih baik bagi masyarakat, dengan mengubah pola tradisi yang berjalan dan sejalan alam. Tidak adanya pertahanan yang kuat atas tradisi, dan kebutuhan ekonomi yang mendesak akhirnya mengantarkan rakyat menerima perubahan, apalagi cara dan metodenya dimodali pemerintah (penyediaan bibit dan pupuk serta sosialisasi cara bertanamnya). Maka terjadilah   Revolusi Hijau target peningkatan produksi pertanian, dengan mengganti tradisi bertani dengan teknologi modern, benih ‘unggul’ dan menggunakan pestisida, lalu Revolusi Coklat tentang model pertanian monokultur  “coklat” “kopi” dan jenis komoditi industri yang menjanjikan tetapi tidak mensejahterakan, dan Revolusi Biru mengikuti ‘keberhasilan’ meningkatnya produksi beras, berupaya memaksimalkan produksi dari kelautan dan perikanan. Ketiganya sama saja, peningkatan produktifitas, tak ada penekanan pada keberlanjutan dan kemsalahatan budaya dan lingkungan hidup. Di buku ini disebutkan desa Silopo di Sulawesi Barat menjadi desa yang mengalami tiga revolusi dan tidak mendapatkan kebaikan terkait ketahanan pangan.

“Petani pedesaan justru menjadi kelompok paling miskin & paling rawan ketahanan panan.. hal ini karena program pembangunan pertanian dan industri–yang seharusnya ‘menunjang’ pertanian–gagal meningkatkan kesejahteraan petani pedesaan. (LP, hal.98). Maka kebijakan apapun terkait bidang pertanian, bukan terfokus pada tanah, pada benih, pada alat, tetapi pada manusianya, yaitu petaninya. Apa yang dimiliki oleh petani-petani seluruh Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, sistem apa yang dijalankan, bagaimana mereka hidup dan menjaga alam mereka. Itulah yang harus diRevitalisasi bukan direvolusi. Meksipun buku ini tidak menampik bahwa pada masa Orba sistem pertanian terpadu yang dipraktikan dan menjadi contoh bagi dunia pertanian terpadu, bimbingan massal dan diversivikasi pangan, namun diantara semua kebijakan tersebut diakui keberhasilannya adalah swasembada beras, bukan swasembada pangan. Disamping itu diversifikasi tanaman pangan masih setengah hati. Adapun kelembagaan BULOG buku ini mengungkap perubahan yang terjadi disebabkan Indonesia masuk mekanisme pasar. Sedianya kini BULOG harusnya juga membela petani, namun dengan status sebagai BUMN menyulitkannya.

Secara garis besar ada kearifan lokal mampu memberi harapan hidup dan kesejahteraan bagi warga, dan buku Lumbung Pangan menawarkan Perubahan Paradigma yang memungkinkan itu semua terjadi:
a. Peralihan dari sistem industrialisasi monokultur menuju sistem lokal yang beragam
b. Perubahan dari sistem pertanian berbasis produksi menjadi pertanian berbabis petani dan sumber daya lokal
c. Peralihan dari sistem pertanian kimia menuju praktik yang ramah lingkungan
d. Perubahan sistem perencanaan serba terpusat menjadi berbasis masyarakat lokal
e. Perubahan sistem pembangunan yang tidak terpadu menjadi Pembangunan Terpadu (LP 130-131)

Selain Paradigma kiranya praktek dilapangan juga disertai pendirian koperasi pertanian, perluasan semua kemungkinan penerapan pertanian organik dan ramah lingkungan, penyediaan dana dan arahan yang efektif untuk penelian benih dan tanaman pangan yang sesuai ekosistem lokal, dan lain sebagainya (LP. 133). Secara garis besar buku ini memang ditulis sebagai policy paper (Putting Food first), meskipun buku ini dibuka pertama-tama memasukkan isu ibu hami dan gizi buruk,  tidak banyak yang dipaparkan tentang mengungkap peran  perempuan dalam pengelolaan pangan, tidak diketahui apa jenis kelamin para warga suku-suku yang memasak dan mengolah singkong karet (Kei) ataupun tela ireng (Giyombong) hingga jadi makanan pokok yang siap dihidangkan dan dimakan petani hingga kuat bekerja disawah sampai siang hari 🙂 . @umilasminah

Blog at WordPress.com.

Up ↑