Search

wartafeminis.com

Indonesia Feminist Theory and Practices

Category

Daily Blog

Sahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual

Sampai saat ini, INDONESIA belum memiliki UU yang dapat menjangkau bentuk-bentuk kekerasan seksual -dengan segala modus dan variannya- yang terus berkembang seiring perkembangan zaman.

UU Khusus Penghapusan Kekerasan Seksual  dibutuhkan karena: 

  1. Untuk melaksanakan sila ke-2 Pancasila yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab. Kekerasan seksual bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan, dan sebagai bangsa kita berkewajiban mencegah terjadinya kekerasan dan memulihkan harkat dan martabat kemanusiaan korban,  menghukum dan merehabilitasi pelaku untuk kembali menghargai dan menghormati nilai-nilai kemanusiaan dirinya dan orang lain;
  2. Untuk memenuhi hak konstitusional warga negara diantaranya hak untuk bebas dari rasa takut, tidak didiskriminasi, bebas dari penyiksaan, hak atas hidup dan  tumbuh kembang secara optimal;
  3. Tingginya jumlah kasus kekerasan seksual, dan adanya berbagai  bentuk kekerasan seksual yang belum diatur dalam peraturan perundangan-undangan kita.
  4. Sistem Peradilan Pidana yang ada belum berpihak kepada korban dan tid
    Kalangan disabilitas paling rentan Kekerasan Seksual

    ak  cukup memperhitungkan pengalaman dan kepentingan/kebutuhan korban kekerasan seksual.

  5. Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan terkait hukum pidana dan viktimologi yang belum diadopsi dalam peraturan perundang-undangan, maupun sistem dan cara kerja aparat penegak hukum; dan
  6. Negara berhutang kepada rakyatnya untuk mensejahterakan semua rakyat sesuai  amanat proklamasi.  Sejahtera bagi perempuan Indonesia berarti bebas dari segala bentuk kekerasan termasuk kekerasan seksual

RUU PKS TIDAK mengatur tindak pidana perzinahan.

Perzinahan dalam perspektif hukum adalah hubungan seksual yang dilakukan oleh seseorang yang salah satunya masih terikat perkawinan. Sementara, perzinahan dalam pengertian norma agama/sosialadalah setiap aktivitas seksual diluar ikatan perkawinan. Perluasan pengertian zinah menjadi pengertian dalam norma sosial/agama akan menyebabkan “over criminalization”, mencampuri wilayah privat dimana hubungan seksual konsensual terjadi. Selain itu, perluasan pengertian perzinahan ini akan menyebabkan korban kekerasan seksual justru menjadi tersangka/terdakwa, kontraproduktif dengan tujuan RUU PKS.
RUU PKS dapat mempertimbangkan “Perkawinan Bigami” sebagai salah satu bentuk kekerasan seksual yang dapat dipidana.Perkawinan bigami khususnya poligami adalah perkawinan kedua, ketiga atau keempat yang dilakukan tidak sesuai dengan UU Perkawinan.Perkawinan poligami umumnya dilakukan secara tidak tercatat atau memalsukan identitas perkawinannya. Perkawinan poligami menjadi penyumbang tertinggi KDRT dan perceraian.Penegasan bahwa poligami harus sesuai UU Perkawinan menjadikan perempuan lebih terlindungi.

 

Sudah ada UU lain yang mengatur kekerasan seksual, seperti UU KUHP, UU Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, UU Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang, dan UU Perlindungan Anak apakah masih perlu UU baru:

1.UU tersebut TIDAK merumuskan kebutuhan dan hak korban secara utuh: hukum belum memberikan keadilan bagi semua korban.  Misalnya, hak atas pemulihan dan hak atas restitusi.

2. Ke-4 UU untuk tujuan eksploitasi hanya pada tindak pidana perkosaan, pencabulan dan perdagangan orang seksual. Faktanya kekerasan seksual terdapat ragam bentuknya. Misalkan pelecehan seksual, eksploitasi seksual diluar konteks perdagangan orang, hatespeech karena jenis kelamin, mengintip memakai alat elektronik, dan modus online harassment lainnya, hingga penyiksaan seksual.

3.Tidak adanya rumusan norma UU tsb diatas, sehingga tidak bisa ditegakkan, misalnya: frasa “Pelecehan Seksual” sedangkan dalam UU Hak Azasi Manusia, tidak ada pengertiannya dan bagaimana mempidanakannya, Juga frasa “Pemanfaatan Seksual” dalam UU PTPPO tidak ada definisi dan bagaimana dirumuskan sebagai suatu tindak pidana

4.Tidak adanya integrasi penanganan korban antara penegak hukum dengan layanan untuk korban, seperti layanan konseling, bantuan hukum sampai psikososial. UU yang ada tidak mencakup upaya-upaya pencegahan dan pemulihan untuk korban,pelaku, keluarga dan masyarakat.

 

EKSPLOITASI SEKSUAL

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Di negara liberal, ketika perempuan telah lumayan memiliki jaminan dan perlindungan untuk mengatakan ya atau tidak (consent) dan telah ditetapkan batasan umur perempuan/laki-laki atas batasan itu. Seperti di Amerika Serikat usia orang yang telah memiliki/kemampuan consent yaitu umur 18 tahun, di Perancis 16 tahun, maka ketika mereka yang berusia dibawah 16, 18 tahun dianggap anak-anak (minor) dan jika orang dewasa mengajak hubungan seksual pada minor maka dianggap pemerkosaan. Hal ini yang pernah terjadi pada kasus di Amerika Serikat yang menjadi headline ketika seoarang Guru SMP berhubungan Mary Katherine Letourneau (almaruhumah baru meninggal Juli 2020) dengan anak muridnya laki-laki yang berumur 13 tahun,dia masuk penjara dan menjalani hukuman selama 7 tahun. Di Eropa khususnya negara Uni Eropa terdapat Konvensi Istambul yang diratifikasi 20 negara pada 2014″Council of Europe Convention on preventing and combating violence against women and domestic violence” yang antara lain pasalnya memuat bahka pemaksaan hubungan seks oleh suami kepada istrinya dapat dikategorikan perkosaa, seperti tercantum dalam “Article 36 – Sexual violence, including rape
1.Parties shall take the necessary legislative or other measures to ensure that the following intentional conducts are criminalised:
a. engaging in non-consensual vaginal, anal or oral penetration of a sexual nature of the body of another person with any bodily part or object;
b. engaging in other non-consensual acts of a sexual nature with a person;
ccausing another person to engage in non-consensual acts of a sexual nature with a third person.
2. Consent must be given voluntarily as the result of the person’s free will assessed in the context of the surrounding circumstances

Di negara-negara Aemrika Selatan elah ada konvensi yang mengatur penghapusan kekekerasan terhadap perempuan, The Inter-American Convention on the Prevention, Punishment and Eradication of Violence Against Women (Convention of Belém do Pará) adopted in 1994 represents an important milestone in the area of State responsibility to address violence against Women in Latin America and the Caribbean. By 2016, the Convention of Belém do Pará has been adopted and ratified by 32 of the 33 Latin American and Caribbean States (with the exception of Cuba) (Table 1).
Article 7º of Chapter III ‘Duties of States’ in the Convention of Belém do Pará, states, “States Parties, condemn all forms of violence against women and agree to adopt, by all means appropriate and with out delay, policies to prevent, punish and end the mentioned violence and to carry out the following: c) include in their domestic legislations, penal, civil and administrative codes, as well as of other nature, which are necessary to prevent, punish and end violence against women and adopt appropriate administrative measures as the case may be”

Disamping itu Negara Dominica mempunyai UU Penyerangan seksual, yang memuat termasuk perkosaan dalam rumah tangga,

uu penyerangan seksual Dominika

 

 

 

 

 

 

uu penyerangan seksual Dominika

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

untuk itu mari bersama mendukung kembali dimasukkanya RUU Penghapusan Kekerasan Seksual dalam Prolegnas 2020-2024 dan dapa disahkan pada tahun 2020.

 

 

8 MARET HARI PEREMPUAN SEDUNIA

Di Perserikatan Bangsa-bangsa tiap tanggal 8 maret diperingati sebagai Hari Perempuan Sedunia, dan bulan maret adalah bulan perempuan. Untuk edisi 8 Maret 2020, wartafeminis akan menuliskan nama-nama perempuan yang sejak 2019-2020 memenuhi media massa lokal, nasional maupun internasional sebagai bagian inspirasi maupun tantangan. Dalam urutan abjad.

Meilinda Suriani Harefa dari Medan,  Sumatra Utara
Eliza Peraih Kalpataru, Sumbawa Barat
Geni Rina Sunaryo, Pakar Nuklir

Tatiek Kancaniati, Sekolah Ibu Berdaya Yayasan Kuntum Indonesia

Ibu Apsiah, Pengusaha Ikan cupang

Momentum #MeToo Perancis disaat ceremoni Cesar Award 2020

Baru-baru ini tepatnya 28 Februari, 2020 masyarakat entertainment dunia dikejutkan oleh aksi walk out Adele Haenel, aktris film Perancis pada acara Cesar Award 45 (semacam Oscar di amerika serikat), karena sutradara yang masuk nominasi bahkan menang adalah pelaku pedofilia yang buron dari Amerika Serikat roman polanski. Aksi berani dengan mengangkat tangan di dalam ruang ceremoni cesar Adele meneriakan “La Honte”/Memalukan!. Aksi ini sesungguhnya tidak terlepas dari gerakan feminis perancis, yang melakukan aksi demonstrasi di depan gedung ceremoni Cesar. Aksi tersebut sejalan dengan MeTooMovement yang terjadi di Amerika Serikat.

Industri  film Perancis berbeda dengan di Amerika Serikat ataupun hollywood, yang baru berkembang tahun tahun 1976an saat dimulainya penghargaan Cesar bagi pelaku industri film.  Hingga kini film-film Perancis berusaha menempatkan diri berbeda dari industri film Hollywood. Selain itu yang membedakan industri film perancis dari amerika adalah pemerintah turut berperan banyak dalam pembiayaan produksi film. Namun dalam konteks tema cerita dan perkembangan alur film Perancis memang tidak bersifat komersil atau mencoba berbeda dengan hollywood, mungkin masih terikat “art for art”, sehingga isu yang dihembuskan memisahkan sebagai sutradara dengan kelakuan kriminalnya. Namun Adele sejak awal sudah menyatakan bahwa “nominasi romans polansi menjadikan orang itu pelaku pedofil lebih penting dan meludahi para korban”

Bila industri film hollywood beberapa tahun terakhir bergerak melawan kekerasan seksual, khususnya eksploitasi seksual dalam industri  film dengan gerakan #MeToo dimana aktris, sutrada dan crew film perempuan merasakan dilecehkan atau diperlakukan tidak senonoh secara seksual dalam industri film mulai bersuara ke publik dan memproses secara hukum. Banyak  dan aktris ternama yang  pernah mengalami sexual misconduct dari  Produser film Harvey Weinstein berbicara secara terbuka mulai dari Rose McGowan, Ashley Judd, Rosseanna Arquatte, Salma Hayek dan lain-lain. Gerakan kemudian mendapat tempat dalam event Academy Awards (Oscar) , dan memprosesnya secara hukum, dan menggalang dana untuk mendukung proses hukum menjerat dan mengadili pelaku kekerasan seksual. Penggalangan dana dan penyerapan donasi dari  berbagai kalangan pun dilakukan hingga akhirnya terbentuk TIMESUP timesup.org  untuk mendukung proses hukum perempuan korban pelecehan seksual diberbagai bidang dan profesi termasuk di wilayah Olah Raga. Untuk kasus olahraga senam, dokter penamping atlet senam pelaku pelecehan seksual yang dilakukan terhadap tidak kurang dari 25 pesenam indah oleh Larry Nassar, yang dijatuhi hukuman 40-175 tahun penjara.

 

Reforma Agraria, apakah sudah terjadi di Indonesia?

Beberapahari lalu saya mengikuti diskusi di Jakarta tentang reforma agraria di Indonesia, kebetulan sesudah itu saya melanjutkan malam dengan menyaksikan film Semes7a, sebuah film dokumenter bertema lingkungan hidup khususya climate change, pengurangan emisi.
Ini adalah film dokumenter kedua yang saya tonton di bioskop dan membeli tiket layaknya nonton film feature fiksi, Semes7a mirip dengan film dokumenter terdahulu Banda terdapat cuplikan talking head dari pelaku utama dalam kisah dokumenter ini, yaitu mereka yang terlibat langsung didalam kegiatan yang memberi dampak terhadap perubahan iklim. Menonton film ini, seusai diskusi refromasi agraria, saya mengambil kesimpulan isu perubahan iklim yang didengungkan di dunia barat seakan terlepas dari tanah. Sementara film semesta justru mengembalikan bahwa climate change yang merugikan alam terkait dengan sikap manusia terhadap air tanah dan udara.

Menonton film Semes7a m, engajak kita mengenali praktek menjaga bumi yang dilakukan di 7 wilayah yaitu Bali, Aceh, Kalimantan, Yogya, Sumba, Raja Ampat, dan Jakarta. Film ini bercerita tentang hutan, sungai, laut dan tanah yang menjadi bagian manusia memuliakan dirinya. Film dibuka dengan kegiatan ritual Bali yang memuliakan mata air, dilanjutkan dengan kisah Sumba pemanfaat sungai, lalu Raja Ampat dengan pemuliaan bagian laut dengan tidak mengambil ikan untuk masa waktu tertentu di wilayah tertentu, ada juga gajah yang menyerang warga dimana pada saat itu pemimpin agama menggunakan pengaruhnya untuk tidak membunuh gajah melainkan bersahabat dan berteman dengan, kehidupan memuliakan manusia yang inheren dengan memuliakan alam. Sehingga dalam konsep keberlanjutan kehidupan manusia memuliakan “thoyib” dirinya maka selayaknya manusiapun makan dari makanan yang mulia, pada titik ini tanah,  tanaman dan  hutan adalah bagian terpenting bagi manusia. Itulah relevansinya dengan reforma agragria, atau reformasi tanah. Seharusnya konsep reformasi agraria pun tidak sebatas tanah, tetapi keseluruhan yang melekat pada tanah.

Pada suatu kesempatan Fokus Group Discussion PDI Perjuangan dengan topik Reforma Agraria dengan mendengarkan paparan beberapa ahli, antara lain yang terjun langsung menyiapkan konsep Reforma Agraria yaitu Noor Fauzi Rachman, juga yang terlibat didalam berbagai perundangan terkait agraria Profesor Maria Sumarjono yang a.l mengembalikan pentingnya keadilan pada rakyat atas berbagai RUU yang sedang dibahas RUU Pertanahan, RUU Kehutanan dan RUU Masyarakat Adat.

 

Kebangkitan Perempuan Berkesenian

Kesenian adalah salah satu unsur kehidupan manusia bermasyarakat. Kesenian bagian dari keunikan karya budaya yang dipengaruhi tempat, waktu, ruang dan latar belakang suku/etnik.

Bagi bangsa beretnik non tunggal, Indonesia Nuswantara memiliki keragaman kesenian, baik yang bersifat massif umum, maupun yang bersifat khusus terkait tradisional upacara budaya khusus termasuk upacara agama. Kesenian dalam bahasa inggris arts, menjadi ekspresi rasa manusia yang kadangkala dibantu media yang diciptakan sendiri oleh manusia maupun memanfaatkan yang telah ada dari alam. Secara umum kesenian sebagai  karya cipta manusia yang orisinil musik, melodi dan bunyi-bunyian atau suara spesifik, gerak tarian yang terkait melody lagu maupun gerak tradisi dalam suatu acara pertunjukkan maupun suatu ritual.

Musik, sebagai bebunyian medium tak pernah tunggal, dia harus memiliki paling sedikit 2 komponen sehingga menghasilkan bunyi, yaitu udara selalu pengantar dan alat, gerak atau suara yang menghasilkan bunyi. Manusia sendiri memiliki kemampuan paling tinggi dibanding semua mahluk lain menciptakan suara. Dari dirinya sendiri manusia menghasilkan milyaran suara, karena manusia saja secara data sudah 7 milyar di bumi.  Lalu bebunyian yang diciptakan di luar manusia untuk melengkapi bunyi sehingga menghasilkan nada dan melodi. Sejak jaman dahulu bebunyian, musik telah melekat dalam kehidupan manusia, bahkan memiliki kekuatan tak hanya menghadirkan suara saja, tapi suara musik mampu mengeluarkan atau menciptakan kekuatavn lain. Ada cerita tentang seruling yang bisa menggerakan ular, tikus ataupun ada petikan harpa yang mampu menggerakan manusia untuk melakukan hal tertentu.

KEBUDAYAAN NUSANTARA BANGKIT PEREMPUAN MENARI

KEBUDAYAAN NUSANTARA BANGKIT PEREMPUAN MENARI #SeberapaIndonesianyakamu

Kebangkitan kebudayaan Nusantara yang menjadi akar budaya Indonesia semakit nyata. Gerakan kebangkitan budaya ini banyak didukung dan diinisiasi oleh perempuan. Perempuan Berkebaya setiap hari selasa, dan terakhir perempuan menari setiap weekend.

Meskipun yang menari pada weekend (Sabtu atau Minggu) tak hanya perempuan, inisitiatif untuk menari sebagai tanda kecintaan sebagai bangsa Indonesia dimulai oleh perempuan.  Para perempuan yang berinisiatif untuk flash mob tari sebagai ekspresi KeIndonesiaan adalah Eva Simanjuntak, Virli, Evie, Sekar. Bersamaan perjalan persiapan tari SeberapaIndonesianyakamu, KomunitasIndonesia.ID berdiri atas inisiatif Eva Simanjuntak. Komunitas Indonesia ID (identitas) yang menjadi ajang informasi dan berbagi kabar tentang kegiatan tari. Continue reading “KEBUDAYAAN NUSANTARA BANGKIT PEREMPUAN MENARI”

Masa Depan Dunia, pada Kekuatan Budaya

Masih ingat kemeriahan dan kegemilangan Indonesia dengan Asian Games. Hal ini tak lepas dari kekuatan Budaya seorang Pemimpin Indonesia Joko Widodo. Sebagaimana Soekarno yang mengedepankan aspek Budaya saat Perjuangan menuju kemerdekaan, pun dalam gerak awal Pembangunan pada awal kemerdekaan. Budaya dalam bentuk seni menjadi bagian tak terpisahkan sebagai Alat Perjuangan pergerakan menuju kemerdekaan.  Ir. Soekarno mencipta karya naskah teater, gerak tari dan simbol-simbol cermin sebagai budaya yang ujungnya demi perjuangan dan menggelorakan semangat, merekatkan suku-suku dengan budayanya agar merasa menjadi bagian dari kesatuan bangsa Indonesia.

Kini Presiden Joko Widodo memulai menjadikan budaya sebagai bagian gerak pemerintahannya, paling tidak melalui event-event tertentu yang memang masih ceremonial atau bombastis, pada simbol keseharian pakaian makanan,  atau proyek tahunan. Upaya tersebut patut diapresiasi dan didukung oleh semua pihak, karena itulah yang membedakan dari pemerintah sebelumnya. Dimulai saat menjadi Gubernur Jakarta, kebudayaan Betawi mulai diangkat, lakon-lakon cerita asli mulai dipentaskan, juga desain rumah dikedepankan. Bukan hanya di Jakarta, akhirnya ini menumbuhkan  gairah kecintaan pada budaya sendiri, mulailah mementaskan cerita asli rakyat setempat baik dalam bentuk pementasan teater atau dalam kisah cerita drama, baik pada perayaan ulang tahun kota atau acara hari kemerdekaan dan hari nasional lainnya. Segala jenis kekayaan budaya dalam variasi bentuk seni daerah hadir dan muncul kepermukaan. Tari-tarian, musik, pantun apapun menjadikan kehidupan masyarakat Indonesia kembali  merasakan sebagai bagian dari suatu kelompok kolektif suku atau wilayah. Harapannya akan kembali kepada kesejatiannya, yaitu Nusantara yang Kaya dan Beragam.

Disamping kesenian, olahraga adalah salah satu budaya yang hadir dalam kehidupan manusia. Di Indonesia olahraga memiliki tempat tersendiri bersama kehidupan masyarakat dari berbagai kalangan, berbagai usia. Sejarahnya bangsa Indonesia sangat dekat dengan olahraga. Ada berbagai jenis olahraga dan permainan rakyat asli tersebar di seluruh Nusantara. Di Indonesia berbagai jenis permainan anak termasuk kategori olahraga. Mulai dari Engrang, Tak kadal, Galasin (DKI Jakarta) maupun permainan lainnnya yang membutuhkan ketangkasan raga. Adapun olah raga yang telah menjadi bagian dari salah satu cabang yang dipertandingkan adalah Pencak Silat. Pencak Silat pun dapat menjadi ajang pertunjukan hiburan ketika dimainkan dengan gendang dan disebut seni pencak silat.

Kini setelah 15 tahun Otonomi daerah berjalan, geliat kembali untuk mengangkat budaya daerah muncul. Tentu perlu partisipasi semua pihak, warga masyarakat, swasta pemerintah daerah dan pemerintah pusat. Mengangkat kembali budaya daerah pasti akan membawa berkah.

Manfaat Membaca Buku Biografi

Buku biografi menuliskan kisah nyata kehidupan seorang manusia, pengalamannya, kesannya pada periode tertentu seseorang hidup. Sehingga kita dapat menemukan berbagai hal yang melingkupi kehidupan seorang manusia, sosial budaya, kemasyarakatan maupun alam dan lingkungan hidup yang menaunginya.

Kekuatan buku biografi tak hanya memberi informasi peristiwa pada suatu masa malahan juga menceritakan keunikan orisinalitas kehidupan manusia yang menginspirasi. Itulah yang saya temukan usai membaca buku biografi terbitan BalaiPustaka yang terbitn tahun 1980an. Buku Biografi terbitan Balai Pustaka yang sempat saya baca termasuk diantaranya Pelukis Afandi, Umar Wirahadikusuma menceritakan bahwa kedua beliau sangatlah menginspirasi sebagai karakter manusia maupun tingkah laku bijak sehari-hari dalam menghadapi tantangan dan problem kehidupan.

Membaca biografi kita kan menemukan informasi yang tidak akan ditemukan dalam wahana buku, atau wacana resmi, khususnya hal yang bersifat intim personal, maupun kontroversial.

Kartini bukan Feminis Pertama Nuswantara

Nuswantara (jauh eksis sebelum Indonesia merdeka Agustus 1945), adalah negeri yang memiliki kesetaraan sesama manusia. Pada masa tersebut yaitu berabad sebelum tahun 1500an, bangsa Nuswantara tinggal menentap tersebar di antara pulau-pulau, sungai-sungai, gunung dan lautan memiliki sistem kerajaan, keratuan, dan memiliki sistem sosial berdasarkan kasta. Walaupun hidup berdasarkan kasta, namun siapapun dapat berpindah kasta, dari kasta sudra naik menjadi satria, dari satria menjadi sudra. Semua karena laku manusianya (prilaku, adat tatakerama, daya juang, daya kerja, dan takwa -hubungan dengan leluurnya). Pada masa ini baik perempuan dan laki-laki dapat menduduki posisi politik sebagai pemimpin, baik di pemerintahan kecil maupun pemerintah besar serta menjadi pimpinan militer/pasukan perang.

Bukanlah hal yang aneh perempuan membawa senjata keris, atau pisau kemana-kemana, yang pasti desain keris sebagai senjata dan pisau untuk memotong bahan pangan berbeda desain peruntukkannya. Kemampuan perang dan pemahaman dalam mengelola pemerintahan yang dilakukan oleh  pemimpin perempuan Nuswantara tercatat dikitab-kitab kuno baik yang ada di Nuswantaa maupun kitab kuno di China dan Yunani. Tak banyak orang menggalinya, karena sampai detik ini bangsa Indonesia lebih cenderung memilih ajaran luar (terkait subordinasi perempuan) yang bukan menjadi jatidirinya sendiri sebagai bangsa.

Di dalam kebudayaan adiluhung bangsa Nuswantara, tidak hanya akan menemukan keteraturan pola pemerintah sebagaimana tercantum dalam Kerta Negara (Wilwatikta Majapahit), Simbur/ (Sumatera Selatan/SriWijaya) , dan Il La Galigo (Sulawesi/Bugis). Undang-undang negara-negara tersebut memiliki aturan yang sangat detil, bahkan dalam UU kerajaan Sri Wijaya banyak sekali yang mengatur tentang bagaimana laki-laki harus berlaku sopan dan santun terhadap perempuan, bila melanggar harus membayar denda.

Di antara kisah-kisah yang berkembang dalam sejarah Indonesia, khususnya tentang sejarah kepahlawanan, mereka yang menjadi pahlawan nasional sebelum Indonesia merdeka adalah termasuk para perempuan yang memiliki keahlian yang beragam. Sebut saja ahli strategi perang adalah Cut Nyak Dien (Aceh), keteguhan diri dan jiwa  (endurance) dalam melawan dan mengabdi bagi masyarakat Dewi Sartika dan Kartini, Sedangkan perempuan-perempuan dimasalalu  sebelum ketiga beliau, yang bekerja untuk rakyat dan mengabdi pada publik, yang jika dalam konteks kekinian disebut feminis banyak, sayangnya sumber sejarah resmi tidak saja menuliskan namun menjauhkan perempuan untuk mengenali para leluhurnya yang sakti dan luar biasa.

Seperti sudah disebutkan di atas, bahwa dimasalalu, perempuan dan laki-laki memiliki persamaan perlakuan dan treatment yang sesuai dengan kastanya, namun mereka dengan laku-nya dapat mengubah posisi dan statusnya. Begitu pun terhadap perempuan. Bila pada masa sekarang ada pesantren atau pun seminari yang mengajar kalangan putri-putra untuk belajar satu religi tertentu maka pada masa itu ada padepokan untuk khalayak umum, ada ksatrian dan kaputren untuk kalangan keluarga raja/ratu. Mari telusuri sebagai pelajaran berharga dan kebanggaan sebagai bangsa.

Seluruh bangsa di dunia mengakui bahwa Kerajaan (Mawastpati) SriWijaya dipimpin oleh Ratu Perempuan, Maharatu SHIMAhawan. Maharatu Shimahawan wilayah kekuasaannya hingga ke Jepang, sehingga di jepang banyak nama berakhiran shima.

Selain Maharatu Shimahawan ada banyak lagi putri-putri Nuswantara yang menjadi Ratu atau Maharatu. Bila Ratu hanya mengelola satu keratuan/kadipaten, maka Maharatu menguasai dan mengelola banyak kerajaan/keratuan. Keraton Laut Selatan di Nuswantara (kini) Mahapatihnya Dewi Kadita yang terkenal dengan nama Nyai Roro Kidul dan berpakaian hijau pupus/muda beliau putri dari Medang Ghana di pelabuhan Ratu, beberapa Tumenggung: Endang Juwiri berpakaian serba kuning, Surenggana berpakaian merah, Nyai Sepet madu berpakaian ungu,Nyai Gadung Mlati berpakaian ijo gadung/tua, Nyai Blorong berpakaian juga ijo gadung dll. Beliau yang kini menjadi adipati/tumenggung tersebut masalalu di dunia juga mempunyai peran politik hampir sama, khususnya disatu wilayah tertentu (Wilayah Induk atau wilayah kadipaten/provinsi).

Feminis bukan dari luar negeri, bukan hal baru. Jauh sebelum ajaran dari sebrang datang baik dari barat maupun dari tanah arab, wilayah pemerintahan telah  menjalankan sistem kehidupan berkeadilan yang setara, semua sama dimata hukum. Bahkan dalam konteks perpajakan pun dikenakan pajak progressif. Bahkan ketika ada warga yang membayar pajak berlebihan bisa dihukum dianggap menghina Negara.

Tentang bagaimana feminisme sudah dilaksanakan dalam kearifan lokal dapat dilihat di https://wartafeminis.com/2013/04/05/revitalisasi-nilai-kearifan-lokal-mengatasi-pemiskinan-peremuan/

@umilasminah

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑