Search

wartafeminis.com

Indonesia Feminist Theory and Practices

Category

Daily Blog

KEBUDAYAAN NUSANTARA BANGKIT PEREMPUAN MENARI

KEBUDAYAAN NUSANTARA BANGKIT PEREMPUAN MENARI #SeberapaIndonesianyakamu

Kebangkitan kebudayaan Nusantara yang menjadi akar budaya Indonesia semakit nyata. Gerakan kebangkitan budaya ini banyak didukung dan diinisiasi oleh perempuan. Perempuan Berkebaya setiap hari selasa, dan terakhir perempuan menari setiap weekend.

Meskipun yang menari pada weekend (Sabtu atau Minggu) tak hanya perempuan, inisitiatif untuk menari sebagai tanda kecintaan sebagai bangsa Indonesia dimulai oleh perempuan.  Para perempuan yang berinisiatif untuk flash mob tari sebagai ekspresi KeIndonesiaan adalah Eva Simanjuntak, Virli, Evie, Sekar. Bersamaan perjalan persiapan tari SeberapaIndonesianyakamu, KomunitasIndonesia.ID berdiri atas inisiatif Eva Simanjuntak. Komunitas Indonesia ID (identitas) yang menjadi ajang informasi dan berbagi kabar tentang kegiatan tari. Continue reading “KEBUDAYAAN NUSANTARA BANGKIT PEREMPUAN MENARI”

Masa Depan Dunia, pada Kekuatan Budaya

Masih ingat kemeriahan dan kegemilangan Indonesia dengan Asian Games. Hal ini tak lepas dari kekuatan Budaya seorang Pemimpin Indonesia Joko Widodo. Sebagaimana Soekarno yang mengedepankan aspek Budaya saat Perjuangan menuju kemerdekaan, pun dalam gerak awal Pembangunan pada awal kemerdekaan. Budaya dalam bentuk seni menjadi bagian tak terpisahkan sebagai Alat Perjuangan pergerakan menuju kemerdekaan.  Ir. Soekarno mencipta karya naskah teater, gerak tari dan simbol-simbol cermin sebagai budaya yang ujungnya demi perjuangan dan menggelorakan semangat, merekatkan suku-suku dengan budayanya agar merasa menjadi bagian dari kesatuan bangsa Indonesia.

Kini Presiden Joko Widodo memulai menjadikan budaya sebagai bagian gerak pemerintahannya, paling tidak melalui event-event tertentu yang memang masih ceremonial atau bombastis, pada simbol keseharian pakaian makanan,  atau proyek tahunan. Upaya tersebut patut diapresiasi dan didukung oleh semua pihak, karena itulah yang membedakan dari pemerintah sebelumnya. Dimulai saat menjadi Gubernur Jakarta, kebudayaan Betawi mulai diangkat, lakon-lakon cerita asli mulai dipentaskan, juga desain rumah dikedepankan. Bukan hanya di Jakarta, akhirnya ini menumbuhkan  gairah kecintaan pada budaya sendiri, mulailah mementaskan cerita asli rakyat setempat baik dalam bentuk pementasan teater atau dalam kisah cerita drama, baik pada perayaan ulang tahun kota atau acara hari kemerdekaan dan hari nasional lainnya. Segala jenis kekayaan budaya dalam variasi bentuk seni daerah hadir dan muncul kepermukaan. Tari-tarian, musik, pantun apapun menjadikan kehidupan masyarakat Indonesia kembali  merasakan sebagai bagian dari suatu kelompok kolektif suku atau wilayah. Harapannya akan kembali kepada kesejatiannya, yaitu Nusantara yang Kaya dan Beragam.

Disamping kesenian, olahraga adalah salah satu budaya yang hadir dalam kehidupan manusia. Di Indonesia olahraga memiliki tempat tersendiri bersama kehidupan masyarakat dari berbagai kalangan, berbagai usia. Sejarahnya bangsa Indonesia sangat dekat dengan olahraga. Ada berbagai jenis olahraga dan permainan rakyat asli tersebar di seluruh Nusantara. Di Indonesia berbagai jenis permainan anak termasuk kategori olahraga. Mulai dari Engrang, Tak kadal, Galasin (DKI Jakarta) maupun permainan lainnnya yang membutuhkan ketangkasan raga. Adapun olah raga yang telah menjadi bagian dari salah satu cabang yang dipertandingkan adalah Pencak Silat. Pencak Silat pun dapat menjadi ajang pertunjukan hiburan ketika dimainkan dengan gendang dan disebut seni pencak silat.

Kini setelah 15 tahun Otonomi daerah berjalan, geliat kembali untuk mengangkat budaya daerah muncul. Tentu perlu partisipasi semua pihak, warga masyarakat, swasta pemerintah daerah dan pemerintah pusat. Mengangkat kembali budaya daerah pasti akan membawa berkah.

Manfaat Membaca Buku Biografi

Buku biografi menuliskan kisah nyata kehidupan seorang manusia, pengalamannya, kesannya pada periode tertentu seseorang hidup. Sehingga kita dapat menemukan berbagai hal yang melingkupi kehidupan seorang manusia, sosial budaya, kemasyarakatan maupun alam dan lingkungan hidup yang menaunginya.

Kekuatan buku biografi tak hanya memberi informasi peristiwa pada suatu masa malahan juga menceritakan keunikan orisinalitas kehidupan manusia yang menginspirasi. Itulah yang saya temukan usai membaca buku biografi terbitan BalaiPustaka yang terbitn tahun 1980an. Buku Biografi terbitan Balai Pustaka yang sempat saya baca termasuk diantaranya Pelukis Afandi, Umar Wirahadikusuma menceritakan bahwa kedua beliau sangatlah menginspirasi sebagai karakter manusia maupun tingkah laku bijak sehari-hari dalam menghadapi tantangan dan problem kehidupan.

Membaca biografi kita kan menemukan informasi yang tidak akan ditemukan dalam wahana buku, atau wacana resmi, khususnya hal yang bersifat intim personal, maupun kontroversial.

Kartini bukan Feminis Pertama Nuswantara

Nuswantara (jauh eksis sebelum Indonesia merdeka Agustus 1945), adalah negeri yang memiliki kesetaraan sesama manusia. Pada masa tersebut yaitu berabad sebelum tahun 1500an, bangsa Nuswantara tinggal menentap tersebar di antara pulau-pulau, sungai-sungai, gunung dan lautan memiliki sistem kerajaan, keratuan, dan memiliki sistem sosial berdasarkan kasta. Walaupun hidup berdasarkan kasta, namun siapapun dapat berpindah kasta, dari kasta sudra naik menjadi satria, dari satria menjadi sudra. Semua karena laku manusianya (prilaku, adat tatakerama, daya juang, daya kerja, dan takwa -hubungan dengan leluurnya). Pada masa ini baik perempuan dan laki-laki dapat menduduki posisi politik sebagai pemimpin, baik di pemerintahan kecil maupun pemerintah besar serta menjadi pimpinan militer/pasukan perang.

Bukanlah hal yang aneh perempuan membawa senjata keris, atau pisau kemana-kemana, yang pasti desain keris sebagai senjata dan pisau untuk memotong bahan pangan berbeda desain peruntukkannya. Kemampuan perang dan pemahaman dalam mengelola pemerintahan yang dilakukan oleh  pemimpin perempuan Nuswantara tercatat dikitab-kitab kuno baik yang ada di Nuswantaa maupun kitab kuno di China dan Yunani. Tak banyak orang menggalinya, karena sampai detik ini bangsa Indonesia lebih cenderung memilih ajaran luar (terkait subordinasi perempuan) yang bukan menjadi jatidirinya sendiri sebagai bangsa.

Di dalam kebudayaan adiluhung bangsa Nuswantara, tidak hanya akan menemukan keteraturan pola pemerintah sebagaimana tercantum dalam Kerta Negara (Wilwatikta Majapahit), Simbur/ (Sumatera Selatan/SriWijaya) , dan Il La Galigo (Sulawesi/Bugis). Undang-undang negara-negara tersebut memiliki aturan yang sangat detil, bahkan dalam UU kerajaan Sri Wijaya banyak sekali yang mengatur tentang bagaimana laki-laki harus berlaku sopan dan santun terhadap perempuan, bila melanggar harus membayar denda.

Di antara kisah-kisah yang berkembang dalam sejarah Indonesia, khususnya tentang sejarah kepahlawanan, mereka yang menjadi pahlawan nasional sebelum Indonesia merdeka adalah termasuk para perempuan yang memiliki keahlian yang beragam. Sebut saja ahli strategi perang adalah Cut Nyak Dien (Aceh), keteguhan diri dan jiwa  (endurance) dalam melawan dan mengabdi bagi masyarakat Dewi Sartika dan Kartini, Sedangkan perempuan-perempuan dimasalalu  sebelum ketiga beliau, yang bekerja untuk rakyat dan mengabdi pada publik, yang jika dalam konteks kekinian disebut feminis banyak, sayangnya sumber sejarah resmi tidak saja menuliskan namun menjauhkan perempuan untuk mengenali para leluhurnya yang sakti dan luar biasa.

Seperti sudah disebutkan di atas, bahwa dimasalalu, perempuan dan laki-laki memiliki persamaan perlakuan dan treatment yang sesuai dengan kastanya, namun mereka dengan laku-nya dapat mengubah posisi dan statusnya. Begitu pun terhadap perempuan. Bila pada masa sekarang ada pesantren atau pun seminari yang mengajar kalangan putri-putra untuk belajar satu religi tertentu maka pada masa itu ada padepokan untuk khalayak umum, ada ksatrian dan kaputren untuk kalangan keluarga raja/ratu. Mari telusuri sebagai pelajaran berharga dan kebanggaan sebagai bangsa.

Seluruh bangsa di dunia mengakui bahwa Kerajaan (Mawastpati) SriWijaya dipimpin oleh Ratu Perempuan, Maharatu SHIMAhawan. Maharatu Shimahawan wilayah kekuasaannya hingga ke Jepang, sehingga di jepang banyak nama berakhiran shima.

Selain Maharatu Shimahawan ada banyak lagi putri-putri Nuswantara yang menjadi Ratu atau Maharatu. Bila Ratu hanya mengelola satu keratuan/kadipaten, maka Maharatu menguasai dan mengelola banyak kerajaan/keratuan. Keraton Laut Selatan di Nuswantara (kini) Mahapatihnya Dewi Kadita yang terkenal dengan nama Nyai Roro Kidul dan berpakaian hijau pupus/muda beliau putri dari Medang Ghana di pelabuhan Ratu, beberapa Tumenggung: Endang Juwiri berpakaian serba kuning, Surenggana berpakaian merah, Nyai Sepet madu berpakaian ungu,Nyai Gadung Mlati berpakaian ijo gadung/tua, Nyai Blorong berpakaian juga ijo gadung dll. Beliau yang kini menjadi adipati/tumenggung tersebut masalalu di dunia juga mempunyai peran politik hampir sama, khususnya disatu wilayah tertentu (Wilayah Induk atau wilayah kadipaten/provinsi).

Feminis bukan dari luar negeri, bukan hal baru. Jauh sebelum ajaran dari sebrang datang baik dari barat maupun dari tanah arab, wilayah pemerintahan telah  menjalankan sistem kehidupan berkeadilan yang setara, semua sama dimata hukum. Bahkan dalam konteks perpajakan pun dikenakan pajak progressif. Bahkan ketika ada warga yang membayar pajak berlebihan bisa dihukum dianggap menghina Negara.

Tentang bagaimana feminisme sudah dilaksanakan dalam kearifan lokal dapat dilihat di https://wartafeminis.com/2013/04/05/revitalisasi-nilai-kearifan-lokal-mengatasi-pemiskinan-peremuan/

@umilasminah

Women of Indonesia the unique Sisterhood

 Indonesia women have always been great target for commercials. Either their bodies; their “stereotype job” as caregiver; a homemaker for “homy” home, or their soul and perspectives. But they are living their way in unique sisterhood, silent feminists. They do not claim themselves feminists, yet they are practicing feminism in many ways they can.

Indonesian women has always have sisterhood without needed to know about feminism, or the term of sisterhood in so called feminist’s way.  Their sisterhood shows in daily life. In the way they care for each other at the office, at the school, at organization or between neighbors.

Sisterhood is powerful was already proof by Indonesian women. Many women friends have been created social networks to help other women. It might be philanthropic activities or it was an organization. One of the basics and essential example of Indonesia sisterhood is through Arisan, mutual savings. A circulate saving amount of money by a group of women. Women whom practiced Arisan are varied; which form from different social class, status, ethnicity, or environment. For village or small group of women within neighborhood, sisterhood were showed when one member of the group have accident or caught up in trouble such as family member is ill, death or other disadvantage situation. The group usually, initiate by one of its leader of one of women living in area took initiative of something as to collect donation or come to show support to the women within group.

Indonesia feminist perspective is feminism have Kartini’s spirit, Pancasila in practiced and the acculturation with either local or global way of living, and with men whomever they share their life to be a better living.

Indonesia woman internalized custom and culture that already have implement feminism spirit. Although still many culture from many ethnics have deny women’s rights as equal with men, those culture mostly come in practices after certain period of Indonesia history. Most has have change after 15th century. Long before 15th century in most of Nusantara culture, men and women have equal rights in politics.   The stories of historical facts about equality and how society respect and adore women have needed to be told more, explore more. For those stories not only will show how sisterhood also in practiced in many level of life, including within palace, schools and Forrest.

The stories of herstorical facts of women living within period of 15th century can give new perspective, a way of looking of life within Indonesia and beyond through the eyes of women of Indonesia, beyond centuries. Now that Indonesia women have richness of practices of feminism with the combination of different ideology of feminism can be seen as part of practicing daily in history, can create a grand discourse of ideology, Indonesia feminism has its root and deep connection with State ideology Pancasila of 2 humanity (mutual assistance/gotong royong) between women. And Pancasila is not a taken for granted ideology, its ideology of Indonesia pluralism, Indonesian tolerance and Indonesia as a land of hope for women.  Despite the practices of Indonesia feminism has not yet seem to contribute in Internationally or academic discourse about feminism, Indonesia feminism already been practiced all the way since Indonesia was in the making to its Independen Day in 1945 to Now.

Aksi Satu Hati Alumni (ASHA) UI Perempuan Turba dan Turbo

Sebagaimana ditulis dalam wartafeminis sebelum ini, kerelawanan yang lahir sejak Joko Widodo (Jokowi)  mulai melayani warga Jakarta terus berlanjut. Pada perhelatan Pemilihan Presiden 2019 pun relawan terus bergerak. Kali ini Alumni UI yang tergabung dalam ASHA-UI Aksi Satu Hati Alumni Universitas Indonesia sebagai gambaran pengorganisasian berdasarkan kerelawanan dan semangat untuk mengawal Kepemimpinan Nasional yang bekerja untuk Rakyat. ASHA-UI, terdiri dari alumni UI yang rata-rata juga hadir pada Deklarasi alumni UI Dukung Jokowi PHOTO-2019-04-06-11-07-06 (1)pada 12 Januari 2019 di GBK.

Ditilik dari namanya
aksi berarti bekerja, bergerak dengan hati rela, penuh suka cita, dan ASHA-UI memilih area kerja turun ke bawah, kepada Rakyat bersama rakyat. Ada berbagai bentuk pilihan aktivitas lain yang bisa diikuti oleh alumni UI, namun dalam tulisan ini, aksi turba (turun ke bawPHOTO-2019-03-30-19-01-20.jpgah) turbo (bergerak cepat) dilakukan mayoritas perempuan ASHA-UI.

Aksi turba ASHA saat berita ini ditulis, telah dilakukan hingga 11 kali, terakhir pada 6 April di Tanjung Priok Jakarta Utara. Aksi turba mencerminkan bahwa walaupun semua yang aktif adalah alumni, secara sadar atau tak sadar aksi yang dilakukan mencerminkan semangat sebagaimana termaktub dalam Mars UI (Genderang UI) “Berbakti dalam Karya .. Pengabdi Cita Perlambang Cita ..Kobarkan Semangat Kita demi ampera”. (ampera amamat penderitaan rakyat.pen)

Sejak Januari 2019, ASHA banyak digerakkan oleh alumni UI yang bekerja acara adhoc sesuai fungsinya. Yang menarik adalah mayoritas perempuan aktif menjadi penggerak. Kordinator canvassing door to door Dewi Marhaimg_2551.jpgeni alumni  (Fakultas Ilmu Budaya),  Pencatatan dan Administrasi Heni, Logistik Zullya, sie Acara Nora, dan banyak perempuan yang dengan suka cita turut rutin dalam Aksi sebagai penanggung jawab fungsional kerja maupun turut terjun di canvassing, pemeriksaan kesehatan dan pembagian kacamata baca seperti Relita Pui, Diah Laksmi, Yeye,  Eva , Selly, Veti, Rini, Linda, Depe,  Tanti, Tami, Sari, Agnes, Grace, Reno, Dennie, Diah, Susi, Yuna, dan Rulita. Nama-nama tersebut adalah alumni UI perempuan yang secara konsisten menyediakan diri tenaga dan waktunya pada saat Aksi dilaksanakan  diakhir pekan.

Berbagai pengalaman yang berkesan menjadi pelajaran setiap usai berinteraksi dengan rakyat yang ditemui saat door to door di kawasan Jakarta, Bogor, Bekasi. Ada aspirasi, ada penolakan, ada penerimaan baik, apakah untuk pasang stiker, pasang kalender, dan yang selalu menarik adalah permintaan kaos. Biasanya ASHA akan selalu menyambut dan melayani mereka yang meminta kaos atau atribut lain, atau sekedar bertanya.  Sebagaimana mayoritas rakyat yg berkesempatan berinteraksi betapa hingar bingar politik di medsos dan televisi tak selalu tercermin di masyarakat bawah. Beruntungnya di Jakarta, dimana lokasi canvassing adalah wilayah menengah ke bawah sudah ada program pemeritah pemenuhah kebutuhan mendasar telah dinikmati mereka; KIS, KIP dan Program Mekkar.

Aksi bakti sosial ASHA-UI pada intinya merupakan tindakan nyata alumni UI lintas fakultas untuk mendukung Jokowi agar terpilih kembali melanjutkan tugasnya sebagai Presiden. Tindakan nyata y

PHOTO-2019-04-06-11-08-51

ang langsung dirasakan Rakyat selaku pihak yang diperjuangkan dan dilayani oleh pemerintahan Jokowi. Nah pada titik ini bakti sosial pelayanan kesehatan, dan pemberian kacamata, merupakan rangkaian dari aksi sosialisasi 3 program JOKOWI 2019, serta menangkal hoax dan fitnah terhadap Jokowi. Semuanya dilakukan dengan tatapmuka, ketuk pintu berbicara face to face, antara ASHA-UI dengan rakyat yang ditemui. Wilayah kerja aksi hingga pelosok Jakarta termasuk area kumuh dimana pendapatan warganya masih dibawah UMR  (upah minium rasio) Prov.Jakarta (pengupas bawang).

Mengikuti langsung kegiatan ASHA-UI berbakti sekaligus menjadi marketing “kerja baik dan rencana baik Jokowi”. Aktifitas  canvassing dan baksos metode sesuai gaya sendiri, individu yang terlibat menyampaikan informasi, mengajak dan melayani warga. Mampir di warung sambil berbelanja dan ngobrol dengan warga di toko, rumah dan pasar, semua dilakukan bersama alumni UI dalam kolaborasi fungsional, cair namun saling percaya. Disamping canvassing ada
fungsi lain terkait penyediaan logistik.l, materi untuk disampaikan kepada rakyat seperti flyer Program 3 Kartu Sembako, Indonesia Pintar Kuliah dan Kartu Pra Kerja, flyer penangkal hoax.

Sebagai pengorganisasian spontan dan adhoc, baksos pembagian kacamata baca untuk warga termasuk rapi dan sistematik. Agar tidak terjadi penumpukan orang, kupon yang hadir diberi kode Huruf A, B, dan C, untuk membedakan waktu pelayanannya. Misalnya kupo berkode A untuk warga yang dilayani pukul 9-10.00wib, B pukul 10-11.00 etc. Namun bila terjadi ketidak sesuaian akan ada langkah cepat mengantisipasi warga yang datang membludak, atau goodybag yang hampir habis. Misalnya menambah meja layanan dan menambah petugas yang melayani. Meskipun mayoritas yang turun ke bawah (turba) dan menggerakan secara cepat rangkaian kegiatan baksos dan canvassing adalah perempuan, laki-laki alumni UI yang senantiasa menjadi penggerak ASHA termasuk yang mendokumentasikan seluruh kegiatan dan menyediakan waktu dan tenaga melayani perempuan berselfie ria sebagaimana yang dikerjakan oleh Dundun dan Martin. Ada juga Yeni yang tuIMG_2604rut merekam kegiatan ASHA sebagai video. Zack yang slalu warawiri, Hendi yang kopi dinginnya selalu ditunggu, dan Yanwar juga Iman termasuk laki-laki yang aktif dalam kegiatan ASHA. Zack bertindak mirip General Manager, karena fungsi yang dilaksanakannya termasuk traffick dan komunikasi. Tentu saja diantara alumni UI yang bergerak dan terlibat dalam ASHA ada juga yang  masih aktif dalam komunitas relawan Jokowi seperti Zullya dan Wignyo.

Secara garis besar siapapun mereka yang pernah mengecap pendidikan di Universitas Indonesia dan pernah KKN atau pernah berkegiatan organisasi di kampus akan kembali merasakan spirit oranPHOTO-2019-04-06-15-19-53g muda, walaupun usia sudah jauh dari kaum millenial. Itulah kekuatan masalalu yang berlaku pada masa kini, alumni bagi  yang pernah bersekolah bersama disuatu institusi pendidikan melahirkan ikatan, ikatan tempat, waktu dan hubungan antar personal. Ikatan itulah yang kembali merekatkan alunmi Universitas Indonesia bergerak dengan ASHA berSATU demi keberlanjutan dan mengawal pembangunan yang sedang berjalan, menghubungkan Pak Jokowi dengan warga, turut menjaga kewarasan rakyat dalam menggunakan Hak Pilihnya pada 17 April 2019. Jadi ASHA bisa dibilang implementasi Hymne UI  dalam momen suksesi nasional. Hymne Universitas Indonesia: Almamaterku setia/berjasa/Universitas Indonesia/Kami wargamu/Bertekad berSATU// Kami amalkan tridharmamu/ Dan mengabdi Tuhan/Dan mengabdi bangsa/Dan negara Indonesia//

img_2785-e1554807841737.jpg
panas terik terus melayani

@umilasminah #AksiSatuHatiAlumniUIBerbakti

Jokowi dan Kesukarelawanan dalam Perhelatan Politik

Sejak kehadiran Pak Jokowi di Jakarta menjadi calon Gubernur, itulah   kerelawanan dalam aktivitas politik skala nasional terjadi pasca orde baru. Orang-orang dari berbagai kelas menyumbangkan tenaga, pikiran, waktu serta materi untuk suatu kontestasi politik. Perebutan Kekuasaan. Pemilihan Gubernur dan wakil Gubernur DKI Jakart 2012. Pada saat itu media massa memberi ruang besar kepada sosok Jokowi dengan gaya kepemimpinan yang merakyat sederhana dan inovatif.

Pemilihan gubernur 2012, Joko Widodo memenangkan Pileg setelah bertarung dua kali, untuk Pemilihan Gubernur DKI Jakarta suara Gubernur terpilih harus 50%+1. Pada pemungutan suara awal ada 6 kandidat, Joko Widodo berpasangan dengan Basuki Tjahaja Purnama nomor urut 3, dengan trademark baju kotak-kotak diusung oleh partai PDI Perjuangan dan Gerindra, petahan Fauzi Bowo dan Nahrowi diusung oleh 8 partai (Partai Demokrat,PAN,  HANURA,PKB, PBB, PKNU), adapun calon lain diusung PKS dan PAN dan satu orang diusung perorangan. Pada saat ini gaya kepemimpinan Jokowi sebagai calon Kada sama saat calon walkot Solo yang selalu menyapa rakyat, selalu blusukan mendengarkan aspirasi, termasuk bekerja bersama relawan. Dan berhasil, atas sinergisitas relawan dan partai pengusung Jokowi dan Ahok menjadi pemimpin di Jakarta. Partai pengusung secara legal memiliki kewenangan penjagaan hasil suara di TPS, dengan legalitas saksi dari tingkat TPS hingga KPUD Kota/Kab Kep.Seribu.

Peristiwa kesadaran rakyat untuk terlibat dalam aktivitas politik memuncak pada Pemilihan Presiden 2014. Pada saat ini, orang dari Ac10419521_714996118565296_8270070999094525622_neh hingga Papua memiliki keyakinan paa seorang Jokowi. Tak heran pada saat itu ribuan organisasi relawan mendaftarkan  diri di Tim Kordinasi Nasional Relawan Jokowi-JK di Cik Ditiro, mulai dari relawan tingkat RT yang anggotanya beberapa orang hingga relawan tingkat Nasional yang memayungi organ relawan di daerah.

Pak Joko Widodo terpilih dan melaksanakan program janjinya. Pembangunan infrastruktur, pemenuhan kebutuhan pokok hidup rakyat, perlindungan warga negara dan kedaulatan wilayah. Pemerintahan Jokowi telah menciptakan kemajuan, mengurangi kesenjangan (Indonesia sebelah Timur dan Barat), memperpendek jarak (antar kota/kabupaten), dan menyediakan layanan hidup yang manusiawi (Kartu Indonesia Sehat, Kartu Indonesia Pintar ). Bukti-bukti kerja keras pemerintah Jokowi dan Jusuf Kalla kembali menghidupkan gerak relawan dan keberanian rakyat untuk menyatakan sikap politiknya. Bahkan bila pada Pilpres 2014 kalangan akademisi, pengusaha, maupun organisasi profesi belum menyatakan deklarasi terbuka mendukung capres/wapres Jokowi-JK. Bila pada pilpres 2014 bermacam kalangan kelompok usaha dan profesi mendukung melalui keikutsertaan dalam organisasi relawan yang ada atau secara individu membentuk komunitas relawan. Hal ini bisa dimaklumi, bagaimanapun pasca reformasi 1998, partai politik yang bertumbuh belum mampu menjadi teman semua kalangan, masih ada sisa depolitisasi, deparpolisasi yang menginternalisasi pada mayoritas bangsa, sehingga phobia pada politik. Meskipun sedikit demi sedikit berubah, dan pada pilpres 2019 kesadaran Demokrasi semakin matang, sertademi menjaga arah kebijakan pemerintah dan komitmen dukungan presiden terpilih 2014, maka pada pilpres 2019 relawan tetap hadir, terus berupaya bekerja demi  menjaga kelangsungan pembangunan, kemajuan yang telah dicapai oleh  Pemerintah Jokowi-JK, sehingga banyak pihak berani menyatakan diri, berdeklarasi mendukung Jokowi-Ma’ruf, termasuk yang sebelumnya tidak terjadi yaitu kalangan berasal universitas (alumni) dan pengusaha.

Tak bisa dipungkiri, kerelawanan sosial politik adalah keniscayaan10498711_734690573262517_6170369350166644910_o.jpg bangsa Indonesia yang memiliki semangat gotong royong, sejak jaman perjuangan kemerdekaan, maupun dalam skala politik demi suksesi pemimpin pemerintahan hadir pada tahun 1998, ketika nasi bungkus dari warga untuk mahasiswa menjadi tanda kegotongroyongan untuk menggulingkan pemerintahan yang tidak demokratis, demi mengubah kondisi negara menjadi lebih baik, dan mahasiswa yang aktif pada tahun 1998, kini kembali aktif dengan status alumni demi menjaga kelangsungan pembangunan untuk rakyat dibawah kepemimpinan Joko Widodo.

 

Berkutat pada Paradigma Lama Melupakan Rasa

Berkutat pada Paradigma Lama: Melupakan Rasa
Tahun 2018 seharusnya sudah meninggalkan jauh paradigma lama Cogito Ergo Sum-Descartes, cara model dari pendidikan barat yang diterapkan dalam sistem pendidikan Indonesia. Indonesia merdeka memilih pendidikan modern, yang semakin menjadi dalam sistem pendidikan OrBa yang menghilangkan Budi Pekerti dan reformasi menghilangkan mata pelajaran PMP. Rasionalitas yang utama. Manusia dibentuk jadi robot mengikuti kebutuhan industri. Alih-alih menyeimbangkan pendidikan “moral” “bathin” “rasa”, pendidikan vokasi tujuan industri digenjot. Ya ketika segala sesuatu jadi industri yang terjadi adalah produksi massal, komersil hampir jauh dari nilai, nilai kemanusiaan. Semoga saja masa ada kreatifitas yang tidak menghilangkan nilai dalam industri kreatif.
Belum selesai dengan rasionalitas tanpa rasa digempur dengan industri digital teknologi, segala jenis perangkat canggih informasi teknologi. Bagus dan sah saja bangsa Indonesia mengikuti perkembangan ICT, karena pada kenyataanya bangsa ini memang mampu memanfaatkannya bagi penunjang kebutuhan hidup manusia.
Beruntung Indonesia punya presiden yang memikirkan dan peduli pada kebudayaan dalam arti karsa dan karsa manusia Nusantara, sehingga melesatnya kemajuan teknologi tidak untuk meninggalkan kearifan lokal yang definisi saya adalah ilmu pengetahuan prakte rekayasa teknologi dan tata kelola masyarakat Leluhur. Malahan teknologi menjadi bagian reservasi dan pengembangan budaya asli Nusantara. Hal ini telah mulai dilakukan dengan mendokumentasikan segala karya budaya Nusantara dalam database.
Didalam kemajuan dan dinamika perkembangan budaya Nusantara yang beriring jalan dengan ICT (4,0) sayangnya masih saja banyak intelektual (scholar) yang menuliskan wacana dengan paradigma lama, yang parah adalah meminjam “perspektif” dari bangsa luar yang tidak memiliki Kearifal Lokal seperti dan dari suku bangsa Nusantara. Banyak diantaranya masih mengutamakan pendekatan materi, teori yang itu-itu saja, yang padahal di negeri kelahiran teori itu pun sudah beranjak dengan teori baru yang lebih mendekati kenyataan kini, yaitu kenyataan yang tidak hanya bersifat materi, rasional namun melampuai keduanya.
Kenyataan dimana penindasan bukan lagi berbasis kelas, wilayah/locus, modus, ras, suku namun tetap seksual. Isu perempuan dan ekologi masih belum dilirik sebagai acuan wacana untuk paradigma baru bentukan intelektual/scholar. Mereka tidak bisa menuliskan membicarakan Narasi Perempuan Korban Kekerasan Seksual, mereka tidak sanggup mengakui bahwa laki-laki patriarki masih menguasai wacana dan menciptakan narasi sehari-hari, dimana-dimana, desa,kota,negara dari yang paling rendah sampai paling tinggi.
Narasi IBU belum menjadi bagian kehidupan berbangsa, itulah sebabnya kebijakan negara pendidikan sosial, ekonomi semata-mata ditujukan bagi hal-hal yang kualitatif dan nampak, hampir meninggalkan Rasa. Padahal dari perempuan, ibu lah manusia belajar memenuhi Rasa dan menjadi hidup. Karena rasa pertama manusia lahir memang materil, Lapar, dan Susu Ibulah yang menghidupi sebagai Darah manusia. Rasa inilah yang ditinggalkan dan hampir tak dikenal, padahal kehidupan adalah untuk memenuhi rasa, apapun itu. Bila semua terpenuhi Rasa Kenyang, Rasa Aman, Sehat lahir-bathin, Rasa Senang (bahagia) itulah sejatinya Sejahtera Tentram, padahal rasa itu semualah yang paling pertama kali disediakan Alam melalui perempuan. @umilasminah

90 Tahun Pergerakan: Saatnya Reclaim Kembali Budaya Perempuan

Sembilanpuluh tahun yang lalu, 22 Desember 1928, Kongres Perempuan Pertama dilangsungkan, disaat masih dalam perjuangan menuju kemerdekaan. Nama Indonesia baru saja beberapa bulan disahkan dalam Kongres Pemuda, sebagai tanda komitmen suku-bangsa Nusantara menjadi Indonesia.

Kongres Perempuan 22 Desember adalah mencerminkan keragaman perempuan dalam ekspresi diri. Budaya dalam bentuk karya seni dan tatacara berbusana dan segala rupa suka duka sesuai jamannya yang menjadi bagian pergerakan nasional menuju Indonesia merdeka dan memerdekaan bangsanya khususnya perempuan dari berbagai bentuk penindasan ( https://wartafeminis.com/2008/03/04/kongres-perempuan-indonesia-sebuah-gerakan-perempuan-1928-1941-2/ ).

Pada 22-25 Desember 1928, perempuand ari berbagai wilayah Indonesia nun jauh di ujung Ambon hingga yang berasal dari Sumatera, Jawa berkongres dengan atribut kebudayaan yang melekat pada diri masing-masing. Kemelekatan tersebut juga ditampilkan dari nama-nama organisasi perempuan yang menjadi peserta dan masih menggunakan nama berbahasa daerah. Ina Tuni organisasi dari Ambon, Ina berarti Perempuan, dan Tuni berarti Mulia, Istri Sedar dari bahasa Sunda, peserta dari Jawa Barat berarti Istri berarti Perempuan, Sedar berarti Sadar, dan organisasi lainnya yang menggunakan nama bermakna dalam seperti Poetri Boedhi Sedjati, dan tentunya organisasi Perempuan Mardika (merdeka). Disamping nama-nama organisasi perempuan yang menjadi peserta dan  Pakaian dan atribut bercirikan nuansa kedaerahan. Ciri-ciri khas kedaerahan, baik dari pakaian (kain atau kebaya, kerudung atau selendang) maupun hal lainnya perhiasan adalah cermin kekayaan yang menjadi wadah eksebisi/pameran “kebanggaan diri” sebagai warga suku bangsa tertentu dengan kekhasannya yang menawan.

Kongres Perempuan 1928 dihadiri oleh perempuan muda maupun tua. Waktu itu jangankan gadget smartphone, pesawat telepon pun masih berbentuk telegraf, masih yang dimiliki dikuasai oleh penjajah, itu pun masih memakai operator untuk sambungan ke telepon lainnya. Artinya pada saat pelaksanaan Kongres Pertama Perempuan Indonesia, perempuan yang berkumpul dan datang dari jauh menjalankan komunikasi lewat pos, dan telegraf, dan mereka bisa. Tentunya hal ini semua terjadi disebabkan juga andil dari  orang-orang dengan kedudukan terhormat dan posisi baik dimata pemerintah penjajah belanda, yaitu Kesultanan Yogya. Pelaksanaanya di ruangan yang dipinjamkan oleh bangsawan Yogyakarta  di sebuah pendopo Dalem Jayadipuran, milik seorang bangsawan, R.T. Joyodipoero. Sekarang ini gedung tersebut dipergunakan sebagai kantor Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional di Jalan Brigjen Katamso, Yogyakarta.

Tidak dapat dipungkiri peristiwa Kongres Perempuan Pertama merupakan peristiwa dimana para perempuan yang memiliki Privilege: terdidik dan ekonomi menengah keatas.  Walaupun privilege, mereka mau menyediakan dirinya untuk memikirkan hal di luar dirinya sendiri, menyediakan waktu, memberikan energi dan pikirannya untuk yang lebih luas. Itu adalah pilihan yang diwarnai kesadaran bathin untuk berbuat baik pada sesama. Kita lihat saja isu-isu yang menjadi pokok bahasan dan rekomendasi, seperti perkawinan anak, perdagangan anak, buruh dan ketiadaan hak bersekolah bagi anak perempuan miskin. Itulah isu yang diangkat, isu yang belum tentu dialami langsung oleh mereka, khususnya panitia Kongres.

Pada perempuan peserta Kongres Perempuan Pertama selayaknya perempuan Indonesia masa kini, masa ditahun yang dikenal dengan era digital, belajar menyerap kembali semangatnya, menghidupkan kembali keberaniannya dan keikhlasannya. Ketika Kongres berlangsung panitia bekerja keras bersama meyiapkan ruangan, meja kursi yang dipinjam dan segala rupa keperluan konsumsi yang disiapkan bersama secara gotong royong. Praktek berorganisasi dijalankan dengan keikhlasan yang luar biasa untuk suatu yang bersifat visioner, jangka panjang, bukan instan. Itulah pesan sebaik-baiknya yang bisa diambil, khususnya para perempuan dengan privelege di kota-kota besar Indonesia yang kini banyak meninggalkan cirikhas kebudayaan sendiri yang baik dan mempesona dari sebuah unsur budaya sehari hari, yaitu sandang, pangan dan papan.

Bila kita telusuri kembali dengan mencoba memasuki lorong waktu ditahun 1928 dan 2018, kita akan melalui lompatan-lompatan waktu dimana perempuan selalu ada disetiap waktu menjaga kehidupan. Peristiwa 1945 saat kemerdekaan Indonesia, peristiwa 1965, 1975 peristiwa 1998, didalam keseluruhan rangkaian waktu tersebut perempuan petani tetap menanam padi, sayur mayur dan menyiangi beras ataupun tanaman untuk siap dimasak. Juga perempuan selalu dan selalu menenun, menjahit, menyulam dan menyiapkan pakaian bagi keluarganya. Segala rupa pakaian adat, pakaian dan kelengkapan kain untuk upacara khusus pelantikan kepala adat, kawin, lahir mati semuanya disiapkan oleh perempuan. Perempuan pula yang walaupun didalam pembangunan rumah adat, atau rumah tinggal terlibat langsung atau tak langsung didalam prosesnya, ketika rumah adat rumah tinggal ditempati siapa  yang menjaganya, mendekorasinya, sehingga manusia dalam keluarga dapat tinggal dan tidur nyaman, pun bagi keluarga yang tinggal di rumah petakan kontrakan, tetap saja perempuan paling berperan membuat nyaman keluarga.

Itulah perempuan dalam berbagai kelas tetap terikat baik secara nature atau pun culture atas penguasaan kelola pada Sandang (pakaian), Pangan (kuliner), dan Papan (rumah), dan Indonesia adalah negeri dimana ketiga unsur kehidupan budaya manusia itu sangat kaya dan beragam.  Jejak kebudayaan itu semua, khususnya Sandang telah hampir hilang dikikis oleh perempuan sendiri. Perempuan diberbagai daerah sudah hampir melupakan keindahan, kebaikan baik dari segi nilai tradisi maupun filsafat hidup dari Sandang yang beragam yang berasal dari sukunya sendiri. Yang terjadi justru penyerapan atribut yang dilekatkan pada perempuan, dan belum tentu memiliki nilai baik dan indah baginya maupun manusia secar umum. Yang terjadi adalah banyak perempuan dengan privelege berlebih secara materi, pendidikan dan jaringan justru terbawa arus turut dalam menanggalkan jejak budaya ibunya, neneknya, kakeknya, buyutnya. Mengganti nama anaknya dengan bahasa yang bukan bahasa Ibu dan Bapaknya, juga bahasa Kakek Neneknya. Melupakan tradisi baik dalam menghormati orang yang lebih tua. Menutup tubuh perempuan seakan tubuhnya aib, buruk dan alasannya bukan berasal dari budaya keluarga yang hidup di tanah airnya.

Sehingga apa yang menjadi kekayaan budaya bangsa Nusantara yang dahulunya dipraktekkan oleh perempuan Indonesia bisa jadi akan menjadi industri yang diambil alih oleh bangsa barat yang telah mengakui keunggulan bangsa Indonesia. Mereka akan mempatenkan “kain” , “kebaya”, “selendang” batik, atau jejamuan asli Nusantara, atau sebagaimana kegelisahan Myra Diarsi tentang tari-tarian dengan segala kekayaan konstum tarinya yang diubah dan dimodifikasi demi untuk sesuatu yang bukan substansi, yaitu “bukan kostum tari” tapi kaos warna kulit, ini toh bukan pada kenyataan: kaos tipis berwarna KULIT manusia yang dikenakan oleh penari jaipong, atau penari perempuan yang harusnya memperlihatkan punggung atasnya. Itukan sama saja menyamarkan keaslian manusia, kulit manusia duh!

Perempuan Indonesia sekarang mungkin tak banyak yang makan sayuran daun kelor seperti perempuan jaman dahulu. Sementara di barat daun kelor telah diakui sebagai superfood dan sudah diekstrak sebagai teh dan tablet bahkan ditulis di Vogue  ( https://www.vogue.com/article/moringa-new-superfood-to-know atau sayur pare, atau penggunaan sabuk kelapa untuk mencuci piring yang dianggap lebih baik dibandingkan dengan memakai sponge yang justru menyimpan kuman.

Intinya perempuan terpelajar terdidik, berapa banyak perempuan Indonesia sekarang yang mengenyam pendidikan sampai S2 (master)? Banyak puluhan juta mungkin. Namun mengapa mereka tak memiliki kesadaran untuk menghormati diri sendiri, kebudayaan sendiri, tetapi malah mengagungkan budaya luar dan merendahkan diri sendiri? Mungkin ini semua karena kontribusi sistem pendidikan modern barat sehingga manusia Indonesia melepaskan diri dari akarnya.  Oh ketakutan apa yang terjadi setelah mati? duh.

Manusia itu itu berbuat baik, bukan menuruti apa kata orang, mainstream pulak. Kebaikan itulah bekalmu mati, bukan yang lain. Jadi, sebagai perempuan Indonesia yang hingga kini sangat bangga hidup di TANAH AIR Nuswantara yang kaya raya se kaya-kayanya Negara (tak ada satupun Negara yang mampu menyamai keunggulan Indonesia) bukan dalam kualitas manusianya ya….tulisan ini justru percaya kesejatian kualitas bangsa Indonesia yang luar biasa, namun karen satu dan lain hal masih belum JADI kualitasnya itu….

Sembilanpuluh tahun lalu gerakan perempuan sudah jelas dan menjelmakan diri dalam suatu konsep yang juga dipraktekkan (hasil-hasil kongres diimplementasikan), kini ketika perempuan dengan privilege semakin banyak jumlahnya diseluruh pulau dan dari berbagai suku bangsa Nuswantara, bukankah selayaknya kembali kepada kesadaran akan kepemilikan orisinil otentik budaya Nuswantara tersebut dan mengembangkannya untuk kesejahteraan bangsa seluruhnya warga negara Indonesia setumpahdarahnya… @umilasminah

 

Blog at WordPress.com.

Up ↑