Search

wartafeminis.com

Indonesia Feminist Theory and Practices

Category

Daily Blog

Women of Indonesia the unique Sisterhood

 Indonesia women have always been great target for commercials. Either their bodies; their “stereotype job” as caregiver; a homemaker for “homy” home, or their soul and perspectives. But they are living their way in unique sisterhood, silent feminists. They do not claim themselves feminists, yet they are practicing feminism in many ways they can.

Indonesian women has always have sisterhood without needed to know about feminism, or the term of sisterhood in so called feminist’s way.  Their sisterhood shows in daily life. In the way they care for each other at the office, at the school, at organization or between neighbors.

Sisterhood is powerful was already proof by Indonesian women. Many women friends have been created social networks to help other women. It might be philanthropic activities or it was an organization. One of the basics and essential example of Indonesia sisterhood is through Arisan, mutual savings. A circulate saving amount of money by a group of women. Women whom practiced Arisan are varied; which form from different social class, status, ethnicity, or environment. For village or small group of women within neighborhood, sisterhood were showed when one member of the group have accident or caught up in trouble such as family member is ill, death or other disadvantage situation. The group usually, initiate by one of its leader of one of women living in area took initiative of something as to collect donation or come to show support to the women within group.

Indonesia feminist perspective is feminism have Kartini’s spirit, Pancasila in practiced and the acculturation with either local or global way of living, and with men whomever they share their life to be a better living.

Indonesia woman internalized custom and culture that already have implement feminism spirit. Although still many culture from many ethnics have deny women’s rights as equal with men, those culture mostly come in practices after certain period of Indonesia history. Most has have change after 15th century. Long before 15th century in most of Nusantara culture, men and women have equal rights in politics.   The stories of historical facts about equality and how society respect and adore women have needed to be told more, explore more. For those stories not only will show how sisterhood also in practiced in many level of life, including within palace, schools and Forrest.

The stories of herstorical facts of women living within period of 15th century can give new perspective, a way of looking of life within Indonesia and beyond through the eyes of women of Indonesia, beyond centuries. Now that Indonesia women have richness of practices of feminism with the combination of different ideology of feminism can be seen as part of practicing daily in history, can create a grand discourse of ideology, Indonesia feminism has its root and deep connection with State ideology Pancasila of 2 humanity (mutual assistance/gotong royong) between women. And Pancasila is not a taken for granted ideology, its ideology of Indonesia pluralism, Indonesian tolerance and Indonesia as a land of hope for women.  Despite the practices of Indonesia feminism has not yet seem to contribute in Internationally or academic discourse about feminism, Indonesia feminism already been practiced all the way since Indonesia was in the making to its Independen Day in 1945 to Now.

Advertisements

Aksi Satu Hati Alumni (ASHA) UI Perempuan Turba dan Turbo

Sebagaimana ditulis dalam wartafeminis sebelum ini, kerelawanan yang lahir sejak Joko Widodo (Jokowi)  mulai melayani warga Jakarta terus berlanjut. Pada perhelatan Pemilihan Presiden 2019 pun relawan terus bergerak. Kali ini Alumni UI yang tergabung dalam ASHA-UI Aksi Satu Hati Alumni Universitas Indonesia sebagai gambaran pengorganisasian berdasarkan kerelawanan dan semangat untuk mengawal Kepemimpinan Nasional yang bekerja untuk Rakyat. ASHA-UI, terdiri dari alumni UI yang rata-rata juga hadir pada Deklarasi alumni UI Dukung Jokowi PHOTO-2019-04-06-11-07-06 (1)pada 12 Januari 2019 di GBK.

Ditilik dari namanya
aksi berarti bekerja, bergerak dengan hati rela, penuh suka cita, dan ASHA-UI memilih area kerja turun ke bawah, kepada Rakyat bersama rakyat. Ada berbagai bentuk pilihan aktivitas lain yang bisa diikuti oleh alumni UI, namun dalam tulisan ini, aksi turba (turun ke bawPHOTO-2019-03-30-19-01-20.jpgah) turbo (bergerak cepat) dilakukan mayoritas perempuan ASHA-UI.

Aksi turba ASHA saat berita ini ditulis, telah dilakukan hingga 11 kali, terakhir pada 6 April di Tanjung Priok Jakarta Utara. Aksi turba mencerminkan bahwa walaupun semua yang aktif adalah alumni, secara sadar atau tak sadar aksi yang dilakukan mencerminkan semangat sebagaimana termaktub dalam Mars UI (Genderang UI) “Berbakti dalam Karya .. Pengabdi Cita Perlambang Cita ..Kobarkan Semangat Kita demi ampera”. (ampera amamat penderitaan rakyat.pen)

Sejak Januari 2019, ASHA banyak digerakkan oleh alumni UI yang bekerja acara adhoc sesuai fungsinya. Yang menarik adalah mayoritas perempuan aktif menjadi penggerak. Kordinator canvassing door to door Dewi Marhaimg_2551.jpgeni alumni  (Fakultas Ilmu Budaya),  Pencatatan dan Administrasi Heni, Logistik Zullya, sie Acara Nora, dan banyak perempuan yang dengan suka cita turut rutin dalam Aksi sebagai penanggung jawab fungsional kerja maupun turut terjun di canvassing, pemeriksaan kesehatan dan pembagian kacamata baca seperti Relita Pui, Diah Laksmi, Yeye,  Eva , Selly, Veti, Rini, Linda, Depe, Tanti, Tami, Agnes, Grace, Reno, Dennie, Diah, Susi, Yuna, dan Rulita. Nama-nama tersebut adalah alumni UI perempuan yang secara konsisten menyediakan diri tenaga dan waktunya pada saat Aksi dilaksanakan  diakhir pekan.

Berbagai pengalaman yang berkesan menjadi pelajaran setiap usai berinteraksi dengan rakyat yang ditemui saat door to door di kawasan Jakarta, Bogor, Bekasi. Ada aspirasi, ada penolakan, ada penerimaan baik, apakah untuk pasang stiker, pasang kalender, dan yang selalu menarik adalah permintaan kaos. Biasanya ASHA akan selalu menyambut dan melayani mereka yang meminta kaos atau atribut lain, atau sekedar bertanya.  Sebagaimana mayoritas rakyat yg berkesempatan berinteraksi betapa hingar bingar politik di medsos dan televisi tak selalu tercermin di masyarakat bawah. Beruntungnya di Jakarta, dimana lokasi canvassing adalah wilayah menengah ke bawah sudah ada program pemeritah pemenuhah kebutuhan mendasar telah dinikmati mereka; KIS, KIP dan Program Mekkar.

Aksi bakti sosial ASHA-UI pada intinya merupakan tindakan nyata alumni UI lintas fakultas untuk mendukung Jokowi agar terpilih kembali melanjutkan tugasnya sebagai Presiden. Tindakan nyata y

PHOTO-2019-04-06-11-08-51

ang langsung dirasakan Rakyat selaku pihak yang diperjuangkan dan dilayani oleh pemerintahan Jokowi. Nah pada titik ini bakti sosial pelayanan kesehatan, dan pemberian kacamata, merupakan rangkaian dari aksi sosialisasi 3 program JOKOWI 2019, serta menangkal hoax dan fitnah terhadap Jokowi. Semuanya dilakukan dengan tatapmuka, ketuk pintu berbicara face to face, antara ASHA-UI dengan rakyat yang ditemui. Wilayah kerja aksi hingga pelosok Jakarta termasuk area kumuh dimana pendapatan warganya masih dibawah UMR  (upah minium rasio) Prov.Jakarta (pengupas bawang).

Mengikuti langsung kegiatan ASHA-UI berbakti sekaligus menjadi marketing “kerja baik dan rencana baik Jokowi”. Aktifitas  canvassing dan baksos metode sesuai gaya sendiri, individu yang terlibat menyampaikan informasi, mengajak dan melayani warga. Mampir di warung sambil berbelanja dan ngobrol dengan warga di toko, rumah dan pasar, semua dilakukan bersama alumni UI dalam kolaborasi fungsional, cair namun saling percaya. Disamping canvassing ada
fungsi lain terkait penyediaan logistik.l, materi untuk disampaikan kepada rakyat seperti flyer Program 3 Kartu Sembako, Indonesia Pintar Kuliah dan Kartu Pra Kerja, flyer penangkal hoax.

Sebagai pengorganisasian spontan dan adhoc, baksos pembagian kacamata baca untuk warga termasuk rapi dan sistematik. Agar tidak terjadi penumpukan orang, kupon yang hadir diberi kode Huruf A, B, dan C, untuk membedakan waktu pelayanannya. Misalnya kupo berkode A untuk warga yang dilayani pukul 9-10.00wib, B pukul 10-11.00 etc. Namun bila terjadi ketidak sesuaian akan ada langkah cepat mengantisipasi warga yang datang membludak, atau goodybag yang hampir habis. Misalnya menambah meja layanan dan menambah petugas yang melayani. Meskipun mayoritas yang turun ke bawah (turba) dan menggerakan secara cepat rangkaian kegiatan baksos dan canvassing adalah perempuan, laki-laki alumni UI yang senantiasa menjadi penggerak ASHA termasuk yang mendokumentasikan seluruh kegiatan dan menyediakan waktu dan tenaga melayani perempuan berselfie ria sebagaimana yang dikerjakan oleh Dundun dan Martin. Ada juga Yeni yang tuIMG_2604rut merekam kegiatan ASHA sebagai video. Zack yang slalu warawiri, Hendi yang kopi dinginnya selalu ditunggu, dan Yanwar juga Iman termasuk laki-laki yang aktif dalam kegiatan ASHA. Zack bertindak mirip General Manager, karena fungsi yang dilaksanakannya termasuk traffick dan komunikasi. Tentu saja diantara alumni UI yang bergerak dan terlibat dalam ASHA ada juga yang  masih aktif dalam komunitas relawan Jokowi seperti Zullya dan Wignyo.

Secara garis besar siapapun mereka yang pernah mengecap pendidikan di Universitas Indonesia dan pernah KKN atau pernah berkegiatan organisasi di kampus akan kembali merasakan spirit oranPHOTO-2019-04-06-15-19-53g muda, walaupun usia sudah jauh dari kaum millenial. Itulah kekuatan masalalu yang berlaku pada masa kini, alumni bagi  yang pernah bersekolah bersama disuatu institusi pendidikan melahirkan ikatan, ikatan tempat, waktu dan hubungan antar personal. Ikatan itulah yang kembali merekatkan alunmi Universitas Indonesia bergerak dengan ASHA berSATU demi keberlanjutan dan mengawal pembangunan yang sedang berjalan, menghubungkan Pak Jokowi dengan warga, turut menjaga kewarasan rakyat dalam menggunakan Hak Pilihnya pada 17 April 2019. Jadi ASHA bisa dibilang implementasi Hymne UI  dalam momen suksesi nasional. Hymne Universitas Indonesia: Almamaterku setia/berjasa/Universitas Indonesia/Kami wargamu/Bertekad berSATU// Kami amalkan tridharmamu/ Dan mengabdi Tuhan/Dan mengabdi bangsa/Dan negara Indonesia//

img_2785-e1554807841737.jpg
panas terik terus melayani

@umilasminah #AksiSatuHatiAlumniUIBerbakti

Jokowi dan Kesukarelawanan dalam Perhelatan Politik

Sejak kehadiran Pak Jokowi di Jakarta menjadi calon Gubernur, itulah   kerelawanan dalam aktivitas politik skala nasional terjadi pasca orde baru. Orang-orang dari berbagai kelas menyumbangkan tenaga, pikiran, waktu serta materi untuk suatu kontestasi politik. Perebutan Kekuasaan. Pemilihan Gubernur dan wakil Gubernur DKI Jakart 2012. Pada saat itu media massa memberi ruang besar kepada sosok Jokowi dengan gaya kepemimpinan yang merakyat sederhana dan inovatif.

Pemilihan gubernur 2012, Joko Widodo memenangkan Pileg setelah bertarung dua kali, untuk Pemilihan Gubernur DKI Jakarta suara Gubernur terpilih harus 50%+1. Pada pemungutan suara awal ada 6 kandidat, Joko Widodo berpasangan dengan Basuki Tjahaja Purnama nomor urut 3, dengan trademark baju kotak-kotak diusung oleh partai PDI Perjuangan dan Gerindra, petahan Fauzi Bowo dan Nahrowi diusung oleh 8 partai (Partai Demokrat,PAN,  HANURA,PKB, PBB, PKNU), adapun calon lain diusung PKS dan PAN dan satu orang diusung perorangan. Pada saat ini gaya kepemimpinan Jokowi sebagai calon Kada sama saat calon walkot Solo yang selalu menyapa rakyat, selalu blusukan mendengarkan aspirasi, termasuk bekerja bersama relawan. Dan berhasil, atas sinergisitas relawan dan partai pengusung Jokowi dan Ahok menjadi pemimpin di Jakarta. Partai pengusung secara legal memiliki kewenangan penjagaan hasil suara di TPS, dengan legalitas saksi dari tingkat TPS hingga KPUD Kota/Kab Kep.Seribu.

Peristiwa kesadaran rakyat untuk terlibat dalam aktivitas politik memuncak pada Pemilihan Presiden 2014. Pada saat ini, orang dari Ac10419521_714996118565296_8270070999094525622_neh hingga Papua memiliki keyakinan paa seorang Jokowi. Tak heran pada saat itu ribuan organisasi relawan mendaftarkan  diri di Tim Kordinasi Nasional Relawan Jokowi-JK di Cik Ditiro, mulai dari relawan tingkat RT yang anggotanya beberapa orang hingga relawan tingkat Nasional yang memayungi organ relawan di daerah.

Pak Joko Widodo terpilih dan melaksanakan program janjinya. Pembangunan infrastruktur, pemenuhan kebutuhan pokok hidup rakyat, perlindungan warga negara dan kedaulatan wilayah. Pemerintahan Jokowi telah menciptakan kemajuan, mengurangi kesenjangan (Indonesia sebelah Timur dan Barat), memperpendek jarak (antar kota/kabupaten), dan menyediakan layanan hidup yang manusiawi (Kartu Indonesia Sehat, Kartu Indonesia Pintar ). Bukti-bukti kerja keras pemerintah Jokowi dan Jusuf Kalla kembali menghidupkan gerak relawan dan keberanian rakyat untuk menyatakan sikap politiknya. Bahkan bila pada Pilpres 2014 kalangan akademisi, pengusaha, maupun organisasi profesi belum menyatakan deklarasi terbuka mendukung capres/wapres Jokowi-JK. Bila pada pilpres 2014 bermacam kalangan kelompok usaha dan profesi mendukung melalui keikutsertaan dalam organisasi relawan yang ada atau secara individu membentuk komunitas relawan. Hal ini bisa dimaklumi, bagaimanapun pasca reformasi 1998, partai politik yang bertumbuh belum mampu menjadi teman semua kalangan, masih ada sisa depolitisasi, deparpolisasi yang menginternalisasi pada mayoritas bangsa, sehingga phobia pada politik. Meskipun sedikit demi sedikit berubah, dan pada pilpres 2019 kesadaran Demokrasi semakin matang, sertademi menjaga arah kebijakan pemerintah dan komitmen dukungan presiden terpilih 2014, maka pada pilpres 2019 relawan tetap hadir, terus berupaya bekerja demi  menjaga kelangsungan pembangunan, kemajuan yang telah dicapai oleh  Pemerintah Jokowi-JK, sehingga banyak pihak berani menyatakan diri, berdeklarasi mendukung Jokowi-Ma’ruf, termasuk yang sebelumnya tidak terjadi yaitu kalangan berasal universitas (alumni) dan pengusaha.

Tak bisa dipungkiri, kerelawanan sosial politik adalah keniscayaan10498711_734690573262517_6170369350166644910_o.jpg bangsa Indonesia yang memiliki semangat gotong royong, sejak jaman perjuangan kemerdekaan, maupun dalam skala politik demi suksesi pemimpin pemerintahan hadir pada tahun 1998, ketika nasi bungkus dari warga untuk mahasiswa menjadi tanda kegotongroyongan untuk menggulingkan pemerintahan yang tidak demokratis, demi mengubah kondisi negara menjadi lebih baik, dan mahasiswa yang aktif pada tahun 1998, kini kembali aktif dengan status alumni demi menjaga kelangsungan pembangunan untuk rakyat dibawah kepemimpinan Joko Widodo.

 

Berkutat pada Paradigma Lama Melupakan Rasa

Berkutat pada Paradigma Lama: Melupakan Rasa
Tahun 2018 seharusnya sudah meninggalkan jauh paradigma lama Cogito Ergo Sum-Descartes, cara model dari pendidikan barat yang diterapkan dalam sistem pendidikan Indonesia. Indonesia merdeka memilih pendidikan modern, yang semakin menjadi dalam sistem pendidikan OrBa yang menghilangkan Budi Pekerti dan reformasi menghilangkan mata pelajaran PMP. Rasionalitas yang utama. Manusia dibentuk jadi robot mengikuti kebutuhan industri. Alih-alih menyeimbangkan pendidikan “moral” “bathin” “rasa”, pendidikan vokasi tujuan industri digenjot. Ya ketika segala sesuatu jadi industri yang terjadi adalah produksi massal, komersil hampir jauh dari nilai, nilai kemanusiaan. Semoga saja masa ada kreatifitas yang tidak menghilangkan nilai dalam industri kreatif.
Belum selesai dengan rasionalitas tanpa rasa digempur dengan industri digital teknologi, segala jenis perangkat canggih informasi teknologi. Bagus dan sah saja bangsa Indonesia mengikuti perkembangan ICT, karena pada kenyataanya bangsa ini memang mampu memanfaatkannya bagi penunjang kebutuhan hidup manusia.
Beruntung Indonesia punya presiden yang memikirkan dan peduli pada kebudayaan dalam arti karsa dan karsa manusia Nusantara, sehingga melesatnya kemajuan teknologi tidak untuk meninggalkan kearifan lokal yang definisi saya adalah ilmu pengetahuan prakte rekayasa teknologi dan tata kelola masyarakat Leluhur. Malahan teknologi menjadi bagian reservasi dan pengembangan budaya asli Nusantara. Hal ini telah mulai dilakukan dengan mendokumentasikan segala karya budaya Nusantara dalam database.
Didalam kemajuan dan dinamika perkembangan budaya Nusantara yang beriring jalan dengan ICT (4,0) sayangnya masih saja banyak intelektual (scholar) yang menuliskan wacana dengan paradigma lama, yang parah adalah meminjam “perspektif” dari bangsa luar yang tidak memiliki Kearifal Lokal seperti dan dari suku bangsa Nusantara. Banyak diantaranya masih mengutamakan pendekatan materi, teori yang itu-itu saja, yang padahal di negeri kelahiran teori itu pun sudah beranjak dengan teori baru yang lebih mendekati kenyataan kini, yaitu kenyataan yang tidak hanya bersifat materi, rasional namun melampuai keduanya.
Kenyataan dimana penindasan bukan lagi berbasis kelas, wilayah/locus, modus, ras, suku namun tetap seksual. Isu perempuan dan ekologi masih belum dilirik sebagai acuan wacana untuk paradigma baru bentukan intelektual/scholar. Mereka tidak bisa menuliskan membicarakan Narasi Perempuan Korban Kekerasan Seksual, mereka tidak sanggup mengakui bahwa laki-laki patriarki masih menguasai wacana dan menciptakan narasi sehari-hari, dimana-dimana, desa,kota,negara dari yang paling rendah sampai paling tinggi.
Narasi IBU belum menjadi bagian kehidupan berbangsa, itulah sebabnya kebijakan negara pendidikan sosial, ekonomi semata-mata ditujukan bagi hal-hal yang kualitatif dan nampak, hampir meninggalkan Rasa. Padahal dari perempuan, ibu lah manusia belajar memenuhi Rasa dan menjadi hidup. Karena rasa pertama manusia lahir memang materil, Lapar, dan Susu Ibulah yang menghidupi sebagai Darah manusia. Rasa inilah yang ditinggalkan dan hampir tak dikenal, padahal kehidupan adalah untuk memenuhi rasa, apapun itu. Bila semua terpenuhi Rasa Kenyang, Rasa Aman, Sehat lahir-bathin, Rasa Senang (bahagia) itulah sejatinya Sejahtera Tentram, padahal rasa itu semualah yang paling pertama kali disediakan Alam melalui perempuan. @umilasminah

90 Tahun Pergerakan: Saatnya Reclaim Kembali Budaya Perempuan

Sembilanpuluh tahun yang lalu, 22 Desember 1928, Kongres Perempuan Pertama dilangsungkan, disaat masih dalam perjuangan menuju kemerdekaan. Nama Indonesia baru saja beberapa bulan disahkan dalam Kongres Pemuda, sebagai tanda komitmen suku-bangsa Nusantara menjadi Indonesia.

Kongres Perempuan 22 Desember adalah mencerminkan keragaman perempuan dalam ekspresi diri. Budaya dalam bentuk karya seni dan tatacara berbusana dan segala rupa suka duka sesuai jamannya yang menjadi bagian pergerakan nasional menuju Indonesia merdeka dan memerdekaan bangsanya khususnya perempuan dari berbagai bentuk penindasan ( https://wartafeminis.com/2008/03/04/kongres-perempuan-indonesia-sebuah-gerakan-perempuan-1928-1941-2/ ).

Pada 22-25 Desember 1928, perempuand ari berbagai wilayah Indonesia nun jauh di ujung Ambon hingga yang berasal dari Sumatera, Jawa berkongres dengan atribut kebudayaan yang melekat pada diri masing-masing. Kemelekatan tersebut juga ditampilkan dari nama-nama organisasi perempuan yang menjadi peserta dan masih menggunakan nama berbahasa daerah. Ina Tuni organisasi dari Ambon, Ina berarti Perempuan, dan Tuni berarti Mulia, Istri Sedar dari bahasa Sunda, peserta dari Jawa Barat berarti Istri berarti Perempuan, Sedar berarti Sadar, dan organisasi lainnya yang menggunakan nama bermakna dalam seperti Poetri Boedhi Sedjati, dan tentunya organisasi Perempuan Mardika (merdeka). Disamping nama-nama organisasi perempuan yang menjadi peserta dan  Pakaian dan atribut bercirikan nuansa kedaerahan. Ciri-ciri khas kedaerahan, baik dari pakaian (kain atau kebaya, kerudung atau selendang) maupun hal lainnya perhiasan adalah cermin kekayaan yang menjadi wadah eksebisi/pameran “kebanggaan diri” sebagai warga suku bangsa tertentu dengan kekhasannya yang menawan.

Kongres Perempuan 1928 dihadiri oleh perempuan muda maupun tua. Waktu itu jangankan gadget smartphone, pesawat telepon pun masih berbentuk telegraf, masih yang dimiliki dikuasai oleh penjajah, itu pun masih memakai operator untuk sambungan ke telepon lainnya. Artinya pada saat pelaksanaan Kongres Pertama Perempuan Indonesia, perempuan yang berkumpul dan datang dari jauh menjalankan komunikasi lewat pos, dan telegraf, dan mereka bisa. Tentunya hal ini semua terjadi disebabkan juga andil dari  orang-orang dengan kedudukan terhormat dan posisi baik dimata pemerintah penjajah belanda, yaitu Kesultanan Yogya. Pelaksanaanya di ruangan yang dipinjamkan oleh bangsawan Yogyakarta  di sebuah pendopo Dalem Jayadipuran, milik seorang bangsawan, R.T. Joyodipoero. Sekarang ini gedung tersebut dipergunakan sebagai kantor Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional di Jalan Brigjen Katamso, Yogyakarta.

Tidak dapat dipungkiri peristiwa Kongres Perempuan Pertama merupakan peristiwa dimana para perempuan yang memiliki Privilege: terdidik dan ekonomi menengah keatas.  Walaupun privilege, mereka mau menyediakan dirinya untuk memikirkan hal di luar dirinya sendiri, menyediakan waktu, memberikan energi dan pikirannya untuk yang lebih luas. Itu adalah pilihan yang diwarnai kesadaran bathin untuk berbuat baik pada sesama. Kita lihat saja isu-isu yang menjadi pokok bahasan dan rekomendasi, seperti perkawinan anak, perdagangan anak, buruh dan ketiadaan hak bersekolah bagi anak perempuan miskin. Itulah isu yang diangkat, isu yang belum tentu dialami langsung oleh mereka, khususnya panitia Kongres.

Pada perempuan peserta Kongres Perempuan Pertama selayaknya perempuan Indonesia masa kini, masa ditahun yang dikenal dengan era digital, belajar menyerap kembali semangatnya, menghidupkan kembali keberaniannya dan keikhlasannya. Ketika Kongres berlangsung panitia bekerja keras bersama meyiapkan ruangan, meja kursi yang dipinjam dan segala rupa keperluan konsumsi yang disiapkan bersama secara gotong royong. Praktek berorganisasi dijalankan dengan keikhlasan yang luar biasa untuk suatu yang bersifat visioner, jangka panjang, bukan instan. Itulah pesan sebaik-baiknya yang bisa diambil, khususnya para perempuan dengan privelege di kota-kota besar Indonesia yang kini banyak meninggalkan cirikhas kebudayaan sendiri yang baik dan mempesona dari sebuah unsur budaya sehari hari, yaitu sandang, pangan dan papan.

Bila kita telusuri kembali dengan mencoba memasuki lorong waktu ditahun 1928 dan 2018, kita akan melalui lompatan-lompatan waktu dimana perempuan selalu ada disetiap waktu menjaga kehidupan. Peristiwa 1945 saat kemerdekaan Indonesia, peristiwa 1965, 1975 peristiwa 1998, didalam keseluruhan rangkaian waktu tersebut perempuan petani tetap menanam padi, sayur mayur dan menyiangi beras ataupun tanaman untuk siap dimasak. Juga perempuan selalu dan selalu menenun, menjahit, menyulam dan menyiapkan pakaian bagi keluarganya. Segala rupa pakaian adat, pakaian dan kelengkapan kain untuk upacara khusus pelantikan kepala adat, kawin, lahir mati semuanya disiapkan oleh perempuan. Perempuan pula yang walaupun didalam pembangunan rumah adat, atau rumah tinggal terlibat langsung atau tak langsung didalam prosesnya, ketika rumah adat rumah tinggal ditempati siapa  yang menjaganya, mendekorasinya, sehingga manusia dalam keluarga dapat tinggal dan tidur nyaman, pun bagi keluarga yang tinggal di rumah petakan kontrakan, tetap saja perempuan paling berperan membuat nyaman keluarga.

Itulah perempuan dalam berbagai kelas tetap terikat baik secara nature atau pun culture atas penguasaan kelola pada Sandang (pakaian), Pangan (kuliner), dan Papan (rumah), dan Indonesia adalah negeri dimana ketiga unsur kehidupan budaya manusia itu sangat kaya dan beragam.  Jejak kebudayaan itu semua, khususnya Sandang telah hampir hilang dikikis oleh perempuan sendiri. Perempuan diberbagai daerah sudah hampir melupakan keindahan, kebaikan baik dari segi nilai tradisi maupun filsafat hidup dari Sandang yang beragam yang berasal dari sukunya sendiri. Yang terjadi justru penyerapan atribut yang dilekatkan pada perempuan, dan belum tentu memiliki nilai baik dan indah baginya maupun manusia secar umum. Yang terjadi adalah banyak perempuan dengan privelege berlebih secara materi, pendidikan dan jaringan justru terbawa arus turut dalam menanggalkan jejak budaya ibunya, neneknya, kakeknya, buyutnya. Mengganti nama anaknya dengan bahasa yang bukan bahasa Ibu dan Bapaknya, juga bahasa Kakek Neneknya. Melupakan tradisi baik dalam menghormati orang yang lebih tua. Menutup tubuh perempuan seakan tubuhnya aib, buruk dan alasannya bukan berasal dari budaya keluarga yang hidup di tanah airnya.

Sehingga apa yang menjadi kekayaan budaya bangsa Nusantara yang dahulunya dipraktekkan oleh perempuan Indonesia bisa jadi akan menjadi industri yang diambil alih oleh bangsa barat yang telah mengakui keunggulan bangsa Indonesia. Mereka akan mempatenkan “kain” , “kebaya”, “selendang” batik, atau jejamuan asli Nusantara, atau sebagaimana kegelisahan Myra Diarsi tentang tari-tarian dengan segala kekayaan konstum tarinya yang diubah dan dimodifikasi demi untuk sesuatu yang bukan substansi, yaitu “bukan kostum tari” tapi kaos warna kulit, ini toh bukan pada kenyataan: kaos tipis berwarna KULIT manusia yang dikenakan oleh penari jaipong, atau penari perempuan yang harusnya memperlihatkan punggung atasnya. Itukan sama saja menyamarkan keaslian manusia, kulit manusia duh!

Perempuan Indonesia sekarang mungkin tak banyak yang makan sayuran daun kelor seperti perempuan jaman dahulu. Sementara di barat daun kelor telah diakui sebagai superfood dan sudah diekstrak sebagai teh dan tablet bahkan ditulis di Vogue  ( https://www.vogue.com/article/moringa-new-superfood-to-know atau sayur pare, atau penggunaan sabuk kelapa untuk mencuci piring yang dianggap lebih baik dibandingkan dengan memakai sponge yang justru menyimpan kuman.

Intinya perempuan terpelajar terdidik, berapa banyak perempuan Indonesia sekarang yang mengenyam pendidikan sampai S2 (master)? Banyak puluhan juta mungkin. Namun mengapa mereka tak memiliki kesadaran untuk menghormati diri sendiri, kebudayaan sendiri, tetapi malah mengagungkan budaya luar dan merendahkan diri sendiri? Mungkin ini semua karena kontribusi sistem pendidikan modern barat sehingga manusia Indonesia melepaskan diri dari akarnya.  Oh ketakutan apa yang terjadi setelah mati? duh.

Manusia itu itu berbuat baik, bukan menuruti apa kata orang, mainstream pulak. Kebaikan itulah bekalmu mati, bukan yang lain. Jadi, sebagai perempuan Indonesia yang hingga kini sangat bangga hidup di TANAH AIR Nuswantara yang kaya raya se kaya-kayanya Negara (tak ada satupun Negara yang mampu menyamai keunggulan Indonesia) bukan dalam kualitas manusianya ya….tulisan ini justru percaya kesejatian kualitas bangsa Indonesia yang luar biasa, namun karen satu dan lain hal masih belum JADI kualitasnya itu….

Sembilanpuluh tahun lalu gerakan perempuan sudah jelas dan menjelmakan diri dalam suatu konsep yang juga dipraktekkan (hasil-hasil kongres diimplementasikan), kini ketika perempuan dengan privilege semakin banyak jumlahnya diseluruh pulau dan dari berbagai suku bangsa Nuswantara, bukankah selayaknya kembali kepada kesadaran akan kepemilikan orisinil otentik budaya Nuswantara tersebut dan mengembangkannya untuk kesejahteraan bangsa seluruhnya warga negara Indonesia setumpahdarahnya… @umilasminah

 

Kedai Kopi Pojok: Kopi Nusantara di Pamulang

(Jkt 21/9/18)  Bila anda ke cafe-cafe di kota Jakarta, Tidak banyak atau jarang sekali anda temukan cafe yang menyediakan kopi robusta, dengan sajian barista. Hampir semua menyediakan kopi arabika, kopi yang digemari bangsa barat.  Namun tidak halnya dengan Kedai Kopi Pojok Pamulang. Beruntung sekali warga Pamulang dengan adanya Kedai Kopi Pojok (KKP) yang tidak hanya menyediakan kopi arabika dari berbagai daerah Indonesia namun juga menyediakan kopi robusta dari berbagai daerah di Indonesia.

Kedai Kopi Pojok adalah cafe sederhana dengan harga terjangkau  yang menyediakan makanan unik untuk kategori cafe kedai kopi. Di menunya tersedia Edamame  juga makanan lain dengan harga ramah porsi mengenyangkan. Minuman andalan kopi-kopinya disedikan dengan cara barista, oleh sang pemilik Hudiono Lamong. Ya, pria asal Lamongan ini me

jajaran biji kopi Nusantara

miliki kemampuan mengetik sepuluh jari dengan cepat, sehingga pada suatu kesempatan saya pun pernah saling mengetest kecepatan mengetik, disamping bekerja resmi kantoran di Jakarta, Lamong sekarang turut menyemarakan dunia perkopian Nusantara.

Memulai usaha kopi dengan serius dan menjadi barista otodidak mas Lamong menyajikan menu kopi terbaru Affagato yaitu kopi sebagai dessert yang dibuat dari campuran eskrim dan espresso. Sebagai seorang penggemar es krim dan peminum kopi pahit, tentunya  saya tak menyiakan kesempatan ini. Proses penyajian mulai dari menggiling/roast kopi hingga jadi Affagato tak sampai 10 menit. Cepat. Rasanya misterius, enak dingin, manis pahit. Begitu enaknya saya mencoba double shots, dua porsi.

Ada hal unik dan menarik adalah menu makanan yang disediakan mungkin akan sulit dicari di kafe lain, seperti tersedia snack yang satu porsi terdiri dari empat macam dan harganya dibawah duapuluh ribu rupiah. Juga tersedia snack dari pangan lokal singkong, cireng, sosis dan dimsum cukup mengenyangkan buat yang belum sarapan. Kedai Kopi Pojok juga menyediakan wifi dan saklar listrik. Untuk mereka yang ingin mencari suasana baru tempat ngobrol atau rapat jadi pilihan tersendiri.

Mengutamakan kualitas dan rasa kopi adalah ciri terbaik dari KKP. Kopi menjadi bagian utama dari setiap minumannya. Sehingga jumlah takaran minuman yang disajikan memiliki presentasi kopi yang kuat, tapi tidak strong, sesuai bagi yang suka minum kopi. Tidak encer seperti cafe-cafe franchise luar negeri yang harganya selangit. Bahkan menu andalannya Es Kopi Pojok atau Kopi Pojok menggunakan gula aren. Menu kopi lainnya yang unik adalah Kopi Coklat, saya sendiri pertama kali minum kopi coklat dulu dirumah teman, dan menggunakan bubuk coklat mainstream, nah di KKP ini yang coklatnya adalah coklat dari Kampung Coklat Blitar.

Jadi yang menarik dari KKP adalah kopi-kopi yang dapat disajikan justru lebih beragam dari terdaftar di menu. Bila di menu tidak tercantum kopi Bajawa, Wamena maka anda bisa memesannya karena ada disediakan dan siap diroast untuk diseduh secara barista. Bagi yang mendukung makanan dan local foods, maka pilihan mampir di KKP adalah pilihan keren, lokasinya di Pamulang Elok, anda dapat cek di maps google, bahkan salah satu produknya pun sudah dapat dipesan online transport.

Es Kopi Pojok dengan gula aren, susu dan kopi…

Itulah pengalaman pertama makan snack, dan minum kopi di Kedai Kopi Pojok. Pulang ke rumah malam hari, masih terasa kenyangnya, secara minum Affagato 2 shots 🙂 (UL)

Continue reading “Kedai Kopi Pojok: Kopi Nusantara di Pamulang”

Friendly Capitalism of Sports

As leftist academy how do you explain Diana Taurasi, a US professional basketball player of WNBA (woman national basketball association) took a year break to play in Russia because in the US her wage is less than when she played in Russia.

She even have a joke “, the W.N.B.A. is, like, communist.” that in term of basketball wage for women in US is like in communist. While when they play in Russia the wage are double double, the facilities and comfort. After all Diana Taurasi is superstar who has achieved 3 WNBA champions with Phoenix Mercury, 4 gold Olympics medals. She still consi

http://www.fiba.basketball/europe/euroleaguewomen/2017/Diana-TAURASI

dered as the best woman basketball player in the planet. Currently she got MVP in France when United States of America Basketball Women National Team has the FIBA exhibition tournament, which US win 3:0 against Senegal, Canada and France.

Other than basketball, football (soccer) in the world also similar In term of non existing ideological State. One person of a State can have their citizen to works in sports club for other country _ like Ronaldo played for Barcelona of Spain.

Those are capitalist related system, where the company who sponsored of the sport event, the person who own the club usually own company. Few persons with loads capital own the sports club, in US, the sports industry is Huge. The evidences are they have many television of sports channel and most of them are paid subscription, it money again. And of course people pay ticket to the court to watch their favorite team play. This is mutual,where people buy what the love and one who is being paid to play, they play good. This is entertainment. And entertainment Industry like other industry will always and in rising to fulfilled everyone needs to be happy in live, at least have a enjoyment for a momentary, a bit of escapee from the “cruel reality”. I will not talk about how industry process works, the workers, wage system, the manufacturing products, you can find it elsewhere and almost always did not mention the impact on people related indirectly with the industry, like me.

And for me, when The capitalist have the ability to give a genuine pleasure in human, I call in Friendly. What is genuine pleasure. It is the feeling of joyful, happiness, laugh, because of what has happened to their favorite sport Club. This too, I feel, when I watch WNBA finals, I like Sue Bird, but I want to see Elena Delle Donne  win the Champion, and when The Washington Mystics lost. I feel not enjoying the moment, I unfollow Stewart IG. Why would I did that?  Those are the temporary emotion of feeling

source: bleacherreport.net

down cause by the lost of your favorite person or team. And Iam not even in US, far from them. That the power of ICT of its contents are borderless can stimulate the feeling. The feeling is not engineering by anyone. The match is out there without any intervention but by the power and endurance of players and the great luck from Above, it called destiny.

The future of the world, I must hope is PEACE and Happiness. Peace is where any country can compete on any event of sports. Tough the Olympics has nothing to do with peace,  when at war, the Olympics has cancelled  in 1916, 1940, and 1944, and during cold war US-Soviet 1980-1984 lots of boycott. But sports can drew people closer, as  two countries still at “dispute” have joined the team together as South Korea and North Korea in AsianGames 2018 Jakarta Palembang. When the team of women Basketball, Cano, and Rowing. The Korea got gold in Cano women Asian Games. Sports also have related with identity, it is individual. Lots of people love sport event, other don’t.

Sports as any human activities is for the benefit of humanity, human healthiness. Sports now has merged with entertainment industry, and it’s inevitable. Sports might have be different in the future. Women sports might have wider space because it is different from male sports. Sport with women in it have softness, solidarity and beauty.

While in the past sports might seen as total masculine effort on the body, now it is health, it is entertainment, it is work. You work you get paid, and yet have healthy body. But because the root and basic capitalism is gaining profit (money), it might have other effect with people within sports industry, if they cannot maintain integrity. That might come from the rock star effects of many sport stars.  Again sports industry is industry where the products is manufacture of the people greatness “jersey with sport star name” etc. Of course there are things that people always wear on daily basis of industry like shoes. What the different with other manufactures industry sports adding a new thing for human lives, their feeling of love, of like and spirits. And those effect usually have came for popular entertainment industry (film, music), now sports. It is even bigger now — of sports effect-more than representation the feeling of any individual who love their club/team, it is now parts of collective feeling of sense of belonging–a country, a city , a nation of the club.

 

 

 

 

 

Mengenali , Menemukan Indonesia, Perbedaan dan Menyayangi Nuswantara

Mengenali Indonesia adalah dengan menghidupi kekinian di negeri modern yang merdeka 17 Agustus 1945. Kondisi kekinian yang dijalani oleh warga yang tinggal di tanah Indonesia,  dalam alur berkehidupan seluruh masyarakatnya, sendiri-sendiri, berkeluarga, berkelompok, berkomunitas dan segala rupa kerekatan antar-manusianya.

Mengenali Indonesia sesungguhnya dapat dimulai dari manusia per individu, dari makanan, dari cara-cara penyajian, dari cara proses pembuatannya. Pada bagian tersebut itulah Nuswantara dalam wujud perbedaannya. Mengenal individu-individu orang Indonesia yang sejatinya selalu dinamis dan berubah namun memiliki keotentikan sikap dan karakter bangsa Indonesia. Diantara karakter yang cukup merata dimiliki oleh bangsa Indonesia,  yang kita bisa temui di semua sukunya bila kita datang ke desa adalah orang-orangnya ramah, menerima dan terbuka. Tak ada rasa curiga, toleransi tinggi.

Banyak dari warga desa belum mempunyai alat komunikasi HP android, tak mengikuti informasi kota tentang kekerasaan dan intoleransi kecuali  dari televisi.

Desa adalah lumbung kebudayaan yang masih terjaga. Kebudayaan yang mengisi denyut kehidupan sehari-hari manusia yang tinggal didalamnya, bercengkaram bersama alam. Keragaman yang nampak dari keseluruhan sistem hidup manusia, tata kelola, teknologi dan pengetahuannya atau yang dikenal sebagai kearifan lokal.

Kearifan lokal yang terutama dari desa ke desa lain penuh dengan keindahan, keunikan dan diwarnai nilai dan norma yang baik bagi kemaslahatan manusia dan alam. Bagi kebudayaan pasti

 

 

Konferensi Kepemimpinan Perempuan LIPI

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) berkerjasama dengan Kementerian Perempuan dan Perlindungan Anak, Asian Associatoon of Women Studies dan Komnas Perempuan mengelar acara International Conference and Workshop on Gender “Women’s Leadership and Democratitaion in 21th Asia” di Jakarta. Konfrensi dimaksudkan sebagian wahana Kajian terkait kepemimpinan perempuan di Abad ke 21. Konfrensi di ikuti para peneliti dari berbagai wilayah Indonesia juga menghadirkan partisipan dari Korea Selatan, Philipina dan Thailand.
Mentri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Prof. Yoja a Yembisi selaku Keynote speaker antara lain menyampaikan bahwa Pemerintah Indonesia dibawah Presiden Jokowi mendukung kepemimpinan perempuan dan sebagai salah satu Dari 10 Negara yang ikut dalam mendorong terwujudnya planeet 50:50 tahun 2030.

Ibu Yohana Yembesi menyampaikan antara lain; komitmen pemerintah Indonesia untuk mencapai kepemimpinan perempuan 50:50 tahun 2030, dengan mempromosikan He for She yaitu gerakan mendorong laki-laki mendukung keterwalilam peempuan. Indonesia sbg salah satu dari 10 Negara terpilih untuk komitmen 50:50 adalah karena sbg Negara demokrasi dg popularitas muslim, perempuan nya termasuk negara yang developed. Planet 50;50 kebijakan PPA mendorong keterlibatan perempuan  gender balance.
Adapun Kementerian PPA juga melakukan kegiatan mendukung keterlibatan perempuan politik untuk Pemilu 2019 yad dengan memberikan pelatihan peningkatan kapasitaa perempuan Caleg. Mengingat Masih adanya hambatan2 tantangan bagi Perempuan maju dalam dalam kontestasi politik masih menghadap i social cultural barrier dianggap second sex dan objet domestic violence. Nilai sosial budaya belum ada posisi kesetaraan antara posisi perempuan laki. Perempuan juga mengalami kesulitan mendapatkan sumber finansial bila akan ikut kontestasi politik, harus ijin suami dan keluarga, dan mendapat dukungan dana. Sedangkan kondisi ril politik masih belum dapat dipisahkan dari Partai Politik, asih terdapat bias gender di partai politik yang memapankan gender inequality. Hal itu membuat sangat diperlukan keterlibatan semakin banyak perempuan dalam posisi pengambil keputusan politik. Kebijakan afrimasi kuota sampai saat ini masih belum dapat melepaskan ketergantungan parpol ketika perempuan akan terlibat dalam politik

Lembaga Ilmu Pengetahuan selaku host Konfrensi diwakili oleh Tri Nuke Pudjiastuti dalam siaran pers menyatakan bahwa LIPI erus mendukung kepemimpinan erempuan dan d harap kan dari Konfrensi akan menghasilkan solusi dari berbagai persoalan yang dihadapi perempuan abad ke 21 dalam hal kepemimpinan.

Berbagai penelitian yg telah dikaji dipaparkan peneliti Indonesia antara lain trkait Topik perubahan demokrasi dalam keluarga, gender kepemipiman Perempuan dan islam, adapun Presiden AAWS dari Ehwa Women University Korea Selatan pemaparan kepemipinan perempuan dalam konteks dan kategori yg memiliki berbagai aspeknya, antara lain kategori dan cara eks presi power, power to/with dan bukan power over.

Konfrensi berlangsung 2 hari, 27-28 April, 2018 sebagaimana berbagai Konfrensi intelektual/Akadem, acara i secara maraton dilakukan dengan pemaparan berbagai  topik Konfresi melalui presentasi paper hasil penelitian, berbagi informasi dari wilayah dan konteks sosial yang berbeda dalam panel-panel diskusi, termasuk dibukanya tanya jawab baik dari participant narasumber atau peserta di floor. Hal menarik ketikpertanyaan kritis yang dilontarkan narasumber dari Thailand dalam sesi pleno, membutuhkan jawaban bersama yg dilakukan oleh dari Thailand, tentang perlunya redifinisi makna demokrasi. Meredefinsi makna Demokrasi mengingat slama ini yg didengungkan yaitu politik Keterwakilan / politic represebtasi dan pemilihan/election hanya lah bagian dari Demokrasi, dan terbuka untuk peserta menggali kembali demokrasi yang sampai saat ini belum memberi ruang partisipasi perempuan secara memadai. (UL)

 

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑