Terbalik-balik Budaya: Buwana Balik

Terbalik-balik Budaya: Kekayaan Orisinil Nuswantara “diambil” Bangsa Lain

Peradaban modern yang bila dihitung dari jamannya Rene Descartes baru berusia empat ratusan tahun. Muda sekali dibandingkan peradaban Nuswantara yang tak terhingga usianya. Saking tuanya tak dapat ditebak dan dilacak. Terlebih karena alat lacaknya pakai alat modern yang usianya lebih muda lagi.

Peradaban asli Nuswantara yang mewujud budaya dan tata cara hidup serta kesenian yang tersebar dan masih dipraktekkan hingga kini diberbagai wilayah Indonesia, sebagian Thailand, Burma dsb. Budaya yang masih dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari adalah cara hidup sehat dengan minum jamu yang terbuat dari rempah dan empon-empon (akar-akar rimpang), dan gerak badan baik pencak silat maupun olah nafas.

Di dalam kehidupan modern kini, kegiatan yang pada jaman dahulu dipraktekkan secara bersama, dalam komunitas masyarakat atau keluarga atau padepokan tanpa biaya, kini dijadikan ladang bisnis industri. Industri wellness (pemeliharaan kesehatan, kebugaran secara organik memanfaatkan tanaman herbal). Minuman dan makanan yang dahulu menjadi bagian tradisi sehari-hari sudah diadopsi para kapital dan menjadikannya produk industri. Bandingkan dengan tahun 1990an minuman wedang jahe masih sedikit yang dijual dalam kemasan dan bersifat instan. Artinya belum diproduksi oleh pabrik-pabrik besar. Minuman-minuam tersebut ditemui di desa-desa yang dingin, belum banyak di jual di kota besar.

Orang Desa Meninggalkan Daun, mengganti Plastik, Bangsa Barat meninggalkan Plastik mengganti Daun

Bangsa Nuswantara secara tata cara kehidupan agraris maupun maritim telah dikenal sebagai pemilik kebudayaan adiluhung. Kebudayaan yang tinggi. Dan itu terjadi jauh hari sebelum bangsa barat dengan pemikiran modern (memisahkan body, mind and soul) sebagai cara dan sistem pendidikan. Bahwa logika tak dapat beriringan dengan supra natural. Padahal secara akademik filosofis barat mengakui bahwa banyak yang belum dapat diungkap dari berbagai hal yang dipaparkan dan diperkirakan terjadi pada masa sebelum masehi. Bagaimana Spinoza yang dapat berbicara dengan anjing (yang menurutnya adalah reinkarnasi dari temannya), atau bagaimana kehidupan Phitagoras yang kabarnya sakti memainkan angka akhirnya dapat meninggal juga terbunuh karena dianggap salah perhitungan Segitiga Phitagoras.

Berbagai hitung-hitungan terkait angka, tanggal dan waktu suku-suku di Bali masih menggunakannya. Sehingga di Bali banyak tanggal yang merunut ajaran Leluhur sebelumnya dijadikan patokan untuk diikuti sebagai bagian dari kehidupan spiritual yaitu upacara-upacara yang terjadwalkan dalam kalendernya. Ada banyak arti dan makna serta peringatan terkait waktu dan tanggal. Di Jawa dan daerah lain mungkin ada, namun disebabkan ketiadaan aktivitas yang bersifat massif dan hampir tak terberitakan membuat Bali tetap menjadi acuan.

Bisa dikatakan hanya di Bali orang di kota maupun di desa masih memakai dedaunan untuk wadah dan bagian dari upacara. Sementara desa-desa lain, besek-besek (wadah terbuat dari anyaman bambu) yang biasa diisi penganan makanan usai acara sedekahan berganti dengan besek plastik dan atau kotak kertas. Di dalam wadah makanan-makanan yang biasanya terdiri dari nasih, bihun goreng,sambal kentang, oseng-oseng buncis/kacangpanjang, telur dan atau ayam goreng dibungkus dalam plastik kecil, atau didalam wadah plastik yang terbagi-bagi untuk tempat makanan tersebut.

Di berbagai tempat dimana besek dari bambu digantikan kertas kardus ataupun stylorform ataupun besek plastik biasanya alasannya lebih murah, atau hanya bahan tersebut yang tersedia di pasar atau diwarung. Sama halnya ketika batik-batik impor dari China datang dengan harga lebih murah, mulailah tersingkir batik pabrik Pekalongan dan sekitarnya. Untungnya kedua hal tersebut masih belum terlalu jauh berubah. Artinya masih belum massif dan total perubahan ke arah plastik dan instan belum sepenuhnya terjadi.

Masih ada daerah yang menggunakan besek dari bambu untuk wadah penganan sedekahan. Lebih jauh lagi, orang dapat dengan mudah membelinya melalui online shop (toko online) dengan harga murah, dan besek kini dijadikan sebagai soevenir.

Plastik dalam kebijakan kemasan di toko swayalan sudah berkurang bahkan di Jakarta tak ada lagi pemberian plastik untuk wadah belanja. Namun jika anda belanja di pasar tradisional, di warung-warung atau toko kelontong, maka plastik tetaplah tersedia sebagai wadah barang yang dibeli.

Industrialisasi kian Samar namun semakin jelas

Bangsa barat, dengan revolusi Industrinya yang memulainya pada abad ke18 melahirkan kata industrial, industri, yaitu ketika sesuatu baik barang ataupun service dibuat oleh suatu sistem organisasi (pabrik) atau perusahaan dalam jumlah dan jangkauan yang banyak bahkan hampir tak terhingga mengikuti tuntutan pasar. Pasar dalam arti bukan tempat jual beli. Tapi target konsumer yang dapat membeli produk. Nah jaman kini, industri bentuknya banyak baik service maupun goods. Didalam term industry wellness tergabung antara service dan goods. Service layanan pijat, yoga, goodsnya jejamuan, minyak dan produk herbal lainnya.

Industri wellness yang berkembang di barat umumnya mengambil atau “stealing” apa yang secara orisinil dipraktekkan oleh bangsa Timur, Asia-Afrika. Yoga dan Meditasi itu adalah olah diri yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari bangsa Asia dari jaman dahulu hingga kini. Industri wellness di Barat muncul dan berkembang baru pada abad ke-21, sedangkan abad ke-20 menjadi cikal bakalnya, khususnya pad periode Flower Generation di Amerika Serikat tahun 1960an.

Mungkin bertepatan dengan kesadaran akan perubahan iklim, maka munculah di barat kesadaran apa yang menjadi praktek hidup dan kehidupan selama ini dalam dunia industri ternyata salah. Munculah organisasi yang menyebutnya PETA People for the Ethical Treatment of Animals (PETA), yang mengkampanyekan melawan penggunaan Hewan sebagai “kelinci percobaan” dalam berbagai produk industri awal tahun1980an. Argumen yang digunakan untuk kasus yang diangkat ke pengadilan adalah Animal Abuse, penyiksaan Hewan. Itu peristiwa abad ke-20 yang pada abad ke 21 semakin menguat dengan peningkatan orang untuk tidak memakan daging (hewan).

Bagi bangsa barat industri makanan yang berbahan dasar hewan juga menjadi salah satu yang membuat orang mudah berkampanye untuk tidak makan hewan. Bagaimana tidak, orang-orang akan disuguhkan video-video tentang bagaimana proses penjagalan sapi atau hewan konsumsi lainnya, dari pabrik-pabrik pengolahan, yang hewannya diambil dari peternakan yang luasnya ribuan hektar dengan jumlah sapi yang juga ribuan.

Bangsa Asia mungkin baru China dan Jepang yang memiliki industri berbasis hewan dengan kapasistas fantastis (ekspor ke seluruh dunia). Bagaimana daging sapi MacD Indonesia pernah berasal dari sapi Australia atau Amerika. Indonesia, mungkin akan tetap menjadi negeri setengah agraris setengah walaupun kini memproduksi produk makanan yang diekspor ke seluruh dunia (indomie,kopiko dll), karakter industrialisnya mungkin berbeda dengan bangsa barat. Sampai detik ini produk tersebut masih belum dimiliki oleh TNC Transnational Coorporation (berbagai negara), seperti minuman kemasan Aqua misalnya yang sudah dibeli oleh Danone (Perancis).

Kembali Digiatkan Produk Tanaman Asli

Pada masa Orde Lama maupun Orde Baru, kecintaan atas produk lokal khususnya makanan dan minuman asli Nusantara telah diperkenalkan kepada publik oleh Pemerintah. Negeri agraris ditunjukkan dari lagu “Menaman Jagung” cangkul yang dalam menanam jagung di kebun kita. Presiden Soekarno memperkenalkan resep masakan dari berbagai pelosok Nusantara dalam Mutiara Rasa. Presiden Soeharto mengimbau para ibu-ibu PKK menggiatkan menanam tanaman obat yang dikenal TOGA Tanaman Obat Keluarga. Berlomba-lombalah tiap kelurahan menaman tanaman obat di depan kantor atau rumah kepala desa. Ada tanaman kunyit, jahe, langkuas, dedaunan seperti daun kumis kucing, daun kemangi, hingga daun pandan.

Pada masa Orde Baru maupun Orde Lama industri belum terlalu merambah luas kepada produk lokal seperti herbal. Hanya beberapa produsen yang memiliki nama dan menguasai pasar tersebut seperti Nyonya Meener dan Jamu Jago. Kini jumlah produsen produk serupa hampir tak terhitung.

Setelah hampir menjadi tanaman yang tidak dipedulikan bahkan dianggap dapat terkait dengan mistis tanaman Kelor mulai digalakkan kembali ditanam. Daun kelor memang diakui sebagai superfood sebagaimana ditulis dalam majalah mode terkenal sedunia https://www.vogue.com/article/moringa-new-superfood-to-know . Disamping itu, pemanfaatan sabuk kelapa yang telah dipakai sebagai pencuci piring oleh warga Indonesia termasuk keluarga di Jakarta kini terbukti memiliki kualitas yang jauh lebih baik dari sponge yang terbuat dari plastik, karena mengandung anti bakteri https://www.naturaisle.com/blogs/naturblog/what-is-a-coconut-kitchen-scrubber-and-why-it-s-worth-trying

Berkat.
Pohon Kelor di halaman rumah

Robusta Sejatinya Kopi

Didalam dunia modern sekarang, kehidupan perekonomian, sosial dan budaya dikuasai oleh Kapitalis (baca Barat Eropa & Amerika Utara). Oleh karena itu segala hal yang berkaitan dengan ekonomi seperti produk pertanian maupun produk olahannya dikuasai oleh Kapitalis.

Penguasaan kapitalis ini telah berlangsung berabad-abad. Kapitalis hidup dari memeras keringat dan sumberdaya alam bangsa Asia dan Afrika (imperialis). Melalui imperialis inilah para kapitalis membawa hasil bumi bangsa-bangsa Asia Afrika ke Eropa dan Amerika Utara. Produk pertanian yang tidak ditanam di Eropa dikemas, diolah lalu jadi produk olahan yang dikenal mendunia bahkan disahkan sebagai yang terbaik. Salah satunya adalah Coklat. Apakah di Italia, Perancis atau Belgia ada perkebunan kakao tidak ada. Perkebunan coklat mulanya terdapat di Afrika dan Amerika Selatan, kini juga ada di Asia (di Indonesia yang mayoritas ditanam Sulawesi).

Kok bisa Italia dan Belgia tidak menanam coklat, tapi terkenal sebagai produsen coklat ternama dan terenak. Bisa. Semua karena kapitalis yang tidak hanya menguasai ekonomi tetapi juga menguasai wacana rasa. Melalui jalur-jalur aliansi para penjajah Eropa, maka sangatlah mudah memperkenalkan produk tersebut kepada sesama penjajah. Disamping seolah-olah tidak ada pemaksaan, keterjajahan sebuah bangsa membuat secara psikologi minder.

Jaman modern (baca dimulainya penjajahan Eropa ke benua Asia-Amerika-Afrika) ilmu pengetahuan, dan klaim “kemajuan peradaban Eropa” menjadi tolok ukur kehidupan yang lebih baik bagi bangsa terjajah. Politik penjajahan menjadikan segala sesuatu yang dibawa dibuat penjajah sebagai yang terbaik dan unggul. Padahal kemajuan bangsa Eropa dan apa yang diciptakan atau dibuatnya melalui cara-cara yang kurang beradab. Penindasan para buruh dan eksploitasi bangsa terjajah. Oke kita kembali fokus ke kopi.

Tanaman Kopi Tidak bisa Tumbuh dan Hidup di Eropa dan Amerika Utara

Kopi tak tumbuh di Amerika Utara maupun di Eropa (hanya ada kebun kecil di Spanyol)
lalu mengapa ada Starbuck dimana-mana dipenjuru dunia. Kapitalis Hegemoni. Bagaimana menjelaskan hegemoni dalam hal ini, panjang lebar Gramsci menjelaskan tentang cultural hegemoni. Namun secara garisbesar sebagai negara yang memiliki dominasi kekuasaan di dunia, maka segala hal termasuk gaya hidup dan prilaku budaya adalah bagian yang tak lepas sebagai cara mempertahankan kekuasaan dan ideologinya (kapitalis). Maka semua saluran dipakai, secara hitungan ekonomi untung rugi maka franchise Starbuck dimana-mana, secara hegemoni rasa kopi Arabika (Americano) yang diendorse. Dalam hal prinsip ekonomi Startbuck jelas mengikuti prinsip “dengan modal sekecil-kecilnya mendapat untung sebesar-besarnya” dan menjadikan Media sebagai jalan penguatan kapitalis.

Media adalah salah satu cara hegemoni yang paling soft dan tidak disadari. Melalui penciptaan brand (marketing strategi) yang adalah cara kerja kapitalis untuk dapat terus memproduksi barang yang banyak, dan menciptakan demand. Marketing strategi branding Starbuck berhasil. Harga modal kopinya satu gelas hanya Rp.13.000,- namun harga jualnya Rp.33.000,- dikurangi biaya sewa tempat mungkin untungnya tetap tinggi. Orang-orang yang terhegemoni oleh media branding dan Iklan tidak akan sadar bahwa saat pergi ke Starbuck adalah “dorongan impulse” trending “orang keren nongkrong di starbuck. Namun itulah kapitalis yang sejati memang membutuhkan biaya tinggi, Starbuck mengeluarkan biaya iklan hingga 120juta US$ tahun 2020. Lagi-lagi biaya tinggi itu adalah demi memperluas pasar, mempertahankan pasar atau menciptakan pasar.

Sementara bagi produk-produk non kapitalis, sesungguhnya yang diproduksi dan dijual adalah yang dibutuhkan. Subsistenperspective. Kerennya kapitalis mereka berhasil menciptakan kebutuhan baru yang tidak esensial.

Lalu bagaimana kok bisa Amerika Serikat yang tidak ada perkebunan kopi (kecuali Hawaii yang bukan Amerika Utara) bisa memiliki warungkopi Starbuck di hampir seluruh dunia. Amerika Serikat punya sistem ekonomi supply chains (rantai supply) yang mapan dan kuat, dan bersifat trans nasionalis. Kopi yang dijual di Starbuck berasal dari Amerika Selatan dari Columbia dan Brazil. Itu antaralain contoh ekonomi supply chains, yang sekarang bergerak di seluruh dunia, sebagaimana Start Up. Gak punya toko bisa jualan lah..gimana ya ambil dari yang punya secara online (barang gak ada) jual online.

Ya tadi jaringan hegemoni kultural yang merambah melalui berbagai media iklan di seluruh media elektronik dsb. Tak kurang dunia hiburan televisi dan film yang menjadi agen tak langsung marketing Starbuck. Tak sedikit pula celebrity mengendorse langsung tak langsung. Semuanya berjalan organik dan damai. Seperti Taylor Swift yang mempunyai fans ratusan juta orang seluruh dunia, minum Starbuck, secara tak langsung para fans-nya (orang yang cinta) Taylor Swift ikutan tergerak beli Starbuck. Cinta juga hegemoni diri sendiri, seseorang yang tidak disadari.

Kopi Robusta vs Kopi Arabika

Starbuck menjual kopi Arabika. Bangsa Amerika Utara lebih banyak minum kopi arabika dibanding bangsa Eropa. Secara harga kopi Arabika lebih mahal karena perawatannya. Kopi Arabika tumbuh didataran tinggi, dan memerlukan perawatan intensip. Sementara kopi Robusta nakal, mudah dirawat dan menanamnya. Sehingga harganya lebih murah. Kandungan kafeinnya lebih banyak Robusta. Bisa dibilang kopi Robusta adalah sejatinya kopi ya karena kafeinnya banyak. Kopi Arabika ada rasa asamnya, itu yang membuat saya tidak suka. Lucunya orang-orang yang pernah belajar jadi barista, mereka belajar menyeduh kopi dari cara-cara bangsa Eropa, pakai saringan V lah, pakai mesin brewing lah. Hingga kini kelas menengah pengusaha kopi khususnya cafe untuk kalangan menengah ke atas di Jakarta masih terhegemoni cara-cara penyeduhan kopi yang dipatok oleh “barista” luar negeri.

Hegemoni budaya minum kopi adalah sampai detik ini dalam wacana kopi dunia taste kopi itu ditentukan oleh bangsa yang tidak menanam kopi yaitu Amerika Serikat. Hal ini tentu berpulang dari bagaimana hegemoni budaya AS yang kuat itu. Coba anda main-main ke cafe kelas menengah di Jakarta, cari kopi robusta hampir tidak ada. Padahal bangsa Indonesia peminum kopi Robusta yang diseduh dengan air bukan diseduh dengan Uap.

Hegemoni kapitalis dalam tatacara memframed dengan cara menyeduh, cara minum dan cara penyajian. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki kekayaan beragam untuk tatakrama makan dan minum. Tetapi karena bangsa Indonesia menjalani hidup dengan bersahaja dan alami (tidak memaksa) maka tatacara minum kopi asli yang dilakoni di daerah tetap berjalan tanpa digembar-gemborkan. Minum kopi itu diseduh. Biji kopi disangrai dan ditumbuk. Hal ini bukan berarti bangsa Indonesa menolak kemajuan dan cara-cara yang baru, tidak. Tetap saja ada kombinasinya. Ada yang mencampurkan keduanya. Namun gempuran kapitalis (uang) seringkali tidak dapat dihadapi dan mau tak mau diambil. Ada satu warung kopi yang mulanya “idealis” pura-puranya melawan franchise kopi kapitalis Amerika itu, dengan kombinasi alat dan cara penyajian kopi (dengan mesin brew kopi impoir yang harganya ratusan juta), model sana dihidangkan bersama makanan common di Indonesia..eh ujung-ujungnya warung kopi ini akhirnya dibeli oleh perusahaan besar sehingga ya kapitalis-kapitalis juga.

Tidak usah berkecil hati. Masih ada juga sih kafe-kafe warung kopi menengah kebawah yang menyediakan kopi robusta eh bukan kopi sachet Kapal Api yang berterbaran di seluruh penjuru ya. Ada kafe seperti Kopi Pojok Pamulan https://wartafeminis.com/2018/09/21/kedai-kopi-pojok-kopi-nusantara-di-pamulang/ atau (silahkan masukan: ) @umilasminah

Indonesia Feminist Theory and Practices

Apalah Arti Sebuah Nama: Penting Menunjukkan Peradaban

Apalah Arti Sebuah Nama: Penting Menunjukkan Peradaban

Berbeda dengan peradaban barat yang seperti kata Shakeseare what’s in the name.

Di dalam fakta sejarah Nuswantara nama-nama manusia, Dewa Dewi, maupun Batara Batari penting dan bermakna dalam. Bahkan nama manusia,orang, warga tidak sekedar menunjukkan kelas,kasta ataupun statusnya. Sebegitu pentingnya nama sehingga tidak sembarangan memberi nama. Tak sekedar hanya doa, namapun adalah bagian inheren hidup seseorang di dunia, melekat pada diri bahkan dapat menjadi penentu nasib. Terkait nama (arti hurufnya) bangsa barat Phytagoras pernah mempelajari ini bersama dengan angka.

Di Nuswantara secara fakta sejarah nama nama Manusia, beriring jalan dengan nama hari seminggu, dan 5 hari wetonnya. Tentu bukan nama hari sebagaimana dikenal dalam bahasa sekarang senin,selasa,rabu hingga minggu. Entah nama itu berasal dari mana. Namun nama-nama hari Nuswantara mengikuti para Dewa pengejawantah sejak awal penciptaan arcapada/bumi. Sehingga nama hari berurutan Reditya , Tumpak Sukra Wrespati Budha Anggara dan Soma (Minggu,Sabtu,Jumat, Kamis,Rabu,Selasa, Senin). Maka pada nama-nama hari tersebit penggiring dewa-dewa SHB Surya, SHB Hanantaboga, SHB Brama,SHB Kuwera, SHB Wisnu, SHB Kamajaya , SHB Indira.

Rampak Sarinah Tulungagung: Hari Kartini Karawitan

Group Kerawitan Rampak Sarinah melakukan kunjungan ke Kelompok Kerawitan Desa Segawe, Kecamatan Pagerwojo Tulungagung untuk berlatih bersama dalam merayakan Hari Kartini. Kegiatan diikuti oleh 20 ibu-ibu yang dengan sengaja mengenakan kebaya dan berkain seharian tept pada Hari Kartini, Rabu, 21/4/21.

Berkebaya dan berkain selama berkegiatan diharapkan dapat membantu mengenang berbagai gagasan dan pemikiran kebangsaan Kartini. “Ibu Kartini dan kakaknya Sosrokartono adalah pioner gerakan kebangsaan sehingga kemerdekaan bangsa bisa diwujudkan. Jadi, kebaya bukan sekedar fashion tapi merupakan identitas budaya bangsa,” kata Mudrikah sekretaris Rampak Sarinah menjelaskan.

Untuk menguatkan penghayatan terhadap perjuangan emansipasi Kartini, Rampak Sarinah berkerawitan 

di kediaman Ibu Suharno yang juga pembina kesenian masyarakat Desa Segawe, Kecamatan Pagerwojo, Tulungagung. “Silaturahmi demikian akan kami teruskan ke kelompok-kelompok kesenian yang lain sehingga Rampak Sarinah bisa semakin diterima komunitas kesenian di Tulungagung,” sambung Mudrikah.

Ibu Sumarti dari Segawe  menyambut baik ked atangan Rampak Sarinah karena menambah paseduluran (persaudaraan) sesama perempuan pecinta seni budaya tradisional. “Ini bikin segar bagi tamu dan tuan rumah ya.. tambah semangat berlatih dengan dulur-dulur baru,” kata bu Sumarti sambil tertawa.

Astinawati, wakil ketua Rampak Sarinah menambahkan bahwa kunjungan tersebut akan membiasakan para anggota untuk bisa bermain profesional, dengan alat-alat milik siapapun tidak grogi. “Kita berlatih memainkan gamelan dengan hati dan perasaan. Dimana saja dan kapan saja kita diminta main, kita mampu melakukannya,” jelas Astinawati.

Rampak Sarinah juga mengenang Kartini selain sebagai pemikir tetapi juga pejuang kehidupan rakyat cilik misalnya pengrajin batik dan pengukir kayu. “Rampak Sarinah juga sedang memperjuangkan agar ada surat bupati untuk kostum Tulungagungan dengan menggunakan batik lokal Tulungagung,” kata Astinawati.

Diskusi seni dan gamelan sore itu dilanjutkan para ibu di Waduk Wonorejo yang bersebelahan dengan Desa Segawe. Kegiatan seharian ditutup dengan buka puasa bersama berbekal makanan yang dibawa dari rumah. Kalau Kartini berpiknik di Pantai Jepara, ibu-ibu Rampak Sarinah berwisata air di Waduk Wonorejo Tulungagung yang juga tujuan wisata yang menyenangkan.

.

Pengalaman Perempuan

Pengalaman Perempuan

Setiap tanggal 8 Maret oleh Perserikatan Bangsa-bangsa diperingati sebagai Hari Perempuan Sedunia. Pemilihan tanggal ini terkait dengan gerakan buruh perempuan 1908 yang antara lain pemimpin pergerakannya adalah Clara Zetkin.

Mengapa harus ada Hari Perempuan, tidak ada Hari Laki-laki? Di dalam dunia modern (baca dunia dalam pengaruh utama baca kolonialisme pengetahuan dan budaya bangsa barat), perempuan disingkirkan, bukan tersingkirkan. Disingkirkan artinya ada desain, rekayasa, upaya yang secara sistemik menyingkirkan perempuan dari budaya, pengetahuan dan kehidupan publik politik. Penyingkiran tersebut khususnya semakin matang setelah abad ke-15, setelah dunia terpukau dengan Cogito Ergo Sum. Pemikiran yang hampir meniadakan Rasa dan Spirit.

Setelah Abad ke-15, dunia kolonialis barat baca bangsa kulit putih berupaya menganeksasi Asia, Afrika. Saati inilah mulainya “keterbelakangan manusia” dan “sikap mulai tak mengenali Alam” “hingga mengeksploitasi Alam”. Sikap-sikap patriarkis yang sejati, mengekploitasi dengan hampir tanpa berpikir panjang “berkelanjutan” dari apa yang diambilnya, misalnya hutan yang ditebang tanpa memilikiran habitat dan biota yang hidup diseputar hutan tersebut. Secara garis besar karakter patriarki yang sama dengan kapitalis adalah rakus, selalu ingin berlebihan, sehingga selalu ekspansif. Karakter ini mirip dengan laki-laki secara biologis yang ketika masih bayi dalam perut Ibunya, sang Ibu merasakan perbedaan soal makannya, janin perempuan dan janin laki-laki.

Secara biologis perempuan mengalami pengalaman yang sama, menstruasi. Secara sosial perempuan mengalami penindasan patriarki, dengan kadar yang berbeda, tergantung kondisi sosial budaya dimana perempuan tinggal. Kesamaan pengalaman penindasan terhadap perempuan ini yang secara luar biasa dinyatakan saat wakil perempuan dari seluruh dunia berbagi pengalaman dalam Pembukaan Konfrensi Perempuan sedunia 1995 di Beijing. Pada Konfrensi ini Hillary Clinton ibu Negara USA menyatakan “Hak Perempuan adalah Hak Asasi Manusia Womans Rights is Human Rughts. Perempuan dari berbagai negara menceritakan pengalaman ketertindasan, pada saat itu banyak peserta konferensi menitikan air mata mendengar dan menyimak kisah dan pengalaman serta kegetiran kehidupan perempuan karena patriiarki. Pada Konfrensi ini pulalah para perempuan peserta komfrensi yang mewakili negara masing-masing bersepakat untuk mengubah keadaan agar komdisi dapat menjadi lebih baik dengan “Beijing Platform for Actions” Landasan Aksi Beijing yang menggarisbawahi 12 area kritis

* women and poverty  *Education and training of women
* Women and health. * Violence against women. * Women and armed conflict.
* Women and the economy. * Women in power and decision-making. …
* Mekanisme institusi pendukung  * Human rights of women. … * Women and the media.
* Girl Child /anak perempuan* Women and Environment

Setelah 25 tahun berjalan, tiap negara melaporkan perkembangan aksinya terkait perbaikan di 12 area di atas. Pemilihan ke-12 area itu menunjukkan bagaimana perempuan diseluruh dunia mengalami penindasan paling common “biasa” dan semuanya mengalami dengan gradasi yang berbeda. Tak sulit mencari data dan fakta perempuan lebih miskin dari laki-laki, tak sulit mencari berita tentang kekerasan terhadap perempuan, atau betapa susahnya mencari perempuam yang memimpim Media Massa, sama sulitnya mencari berita olahraga atau turnamen perempuan di media massa umum baik televisi maupun suratkabar. Padahal sepakbola ajang Piala Dunia Perempuan sudah ada sejak 1994, atau turnamen profesional basket WNBA sejak 1997.

Sebagai manusia yang sama dengan laki-laki,ciptaan Yang Maha Kuasa, menghirup udara yang sama di atas bumi yang sama, akan tetapi perempuan oleh paham patriarki dianggap tidak ada, sehingga Pengalaman Perempuan tidak ada dalam narasi sejarah, dalam wacana politik dan budaya umum..Pengalaman yang sama pada semua perempuan telah mengantarkan perempuan untuk melakukan perlawanan, merebut apa yang menjadi haknya, yang diambil dan dicuri dari perempuan sepanjang masa modern…

 

 

Dapur: Budaya Adiluhur Adiluhung Nuswantara, Keseharian Praktek Perempuan

Budaya Nuswantara, budhi dan daya khususnya yang dipraktekkan sebagai tradisi dalam kehidupan sehari-hari dimasalalu, masa yang tak terlalu jauh tahun 1960an hingga tahun 1980an menunjukkan kebaikan (budhi) yang nyata. Bukti itu kini ditunjukkan dalam berbagai bentuk yang nyata, baik secara saintifik (modern sains) maupun secara empirik yang dipraktikan dan dikisahkan keberhasilannya dalam berbagai media massa formal maupun informal.

Apa yang dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari biasanya dianggap tidak penting, tidak bernilai. Hal ini terutama karena keseharian itu dipraktekkan oleh perempuan, di dapur, di rumah, didalam keluarga. Apa yang dipraktekkan di rumah dan di keluarga. Para ibu menyiapkan makanan minuman sehat di dapur, membersihkan dan mempersiapkan perlengkapan dapur, menyiapkan pangan sayuran dan minuman sehat, dan bila sakit menyiapkan obat-obatan dari tradisi turun temurun. Semuanya dilakukan perempuan, ibu dan adakalanya bapak ikut membantu menyiapkan apa yang diperlukan.

Dapur: Pustaka Rasa dan Tradisi Luhur

Bila selama ini, khususnya masyarakat modern yang  hampir tak pernah mendapatkan ajaran adat istiadat dari nenek moyang langsung, ibu dan bapak atau nenek kakek tentang berbagai tradisi seputar Kelahiran, Perkawian, Kematian, dan Bertetangga, mungkin akan masih menanggap dapur bukan hal penting, bukan hal utama, sehingga tak terpikiran sebagai wacana untuk diangkat dalam percakapan. Terlebih sekarang dapur berpindah ke restoran, dan restoran pun mengirimkan makanan ke rumah. Dapur mungkin masih memiliki sedikit fungsi menyimpan sesuatu. Dapur kini menjadi Gudang. Perlengkapan dapur tidak dipakai, hanya menjadi barang yang hampir tak dipakai, mungkin hanya piring, gelas dan teko karena pasti diperlukan, atau kompor untuk memasak air membuat kopi.

Meskipun begitu, dapur tetap eksis sebagai bagian denyut kehidupan rumah tangga, dan juga memiliki fungsi yang menjadi lebih luas melampaui penyangga pangan keluarga, namun penyangga pangan desa, atau komunitas. Ketika dapur-dapur rumah tangga memiliki fungsi tambahan penyedia pangan untuk dijual atau produksi. Disinilah industri rumah tangga, komersialisi kecil terjadi. Saya pernah berbincang dengan seorang teman yang memperlihkan bahwa karakter bangsa Indonesia bukanlah karakter industrialis/kapitalis (rakus/greedy). Ini saya hanya menyimpulkan, ketika ada pengusaha-petani yang diminta untuk menyediakan daun kelor berton-ton rutin oleh perusahan di Jepang tidak dapat memenuhinya. Saya menganggap tak semua bahan pangan atau hasil pertanian dapat diproduksi secara besar-besaran dan ini

sumber:
https://rudihermawanoke.wordpress.com/

terkait bukan dengan permintaan dan penawaran, namuan lebih kepada karakter tanah, karakter masyarakat/komunitas dimana tanaman itu tumbuh, dan bagaimana proses tanam serta peliharanya. Ada memang lahan luas yang bisa ditanami padi,atau jagung atau singkong tanpa menganggu habitat hewan maupun biota lain yang telah ada sebelum penanaman besar-besaran. Akan tetapi apakah pernah ada penelitian sebelum ditanaminya pohon sejenis di lahan yang luas tentang: habitat burung apa , habitat hewan melata, primata apa serta tanaman liar apa yang biasa ada dilahan luas ini. Kemana mereka pergi bila diganti dengan tanamanan sejenis “sawit”, padi, jagung.

source: https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbjabar/hawu-dalam-pandangan-masyarakat-sunda/

Kembali ke pembicaraan dapur di atas, sesungguhnya ciri dapur juga terkait dengan tanaman pangan apa yang menjadi bahan pokoknya. Bagaimana pengolahannya menentukan jenis alat kelengkapan dapurnya. Ketika para transmigran dari pulau Jawa dan Bali datang bertani serta  bercocok tanam di Suamtera, Kalimantan, apa yang menjadi dapur di Jawa juga menjadi dapur di rumah-rumah di tanah transmigran…

Meskipun begitu, suku-suku asli yang mendiami pulau  Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi telah memiliki berbagai jenis perlengkapan dapur yang menjadi ciri tersendiri, bila dilihat dari bentuk dan fungsinya biasanya sangat terkait dengan geoculture.

 

Hari Ibu Indonesia Politik, di AS Domestik

binadesa.org

 

Hari Ibu Indonesia berbeda dengan Hari Ibu di barat, sebagaimana yang pernah saya tulis sebelumnya https://wartafeminis.com/2008/03/04/kongres-perempuan-indonesia-sebuah-gerakan-perempuan-1928-1941-2/ 

Di Amerika Serikat (AS) Hari Ibu memang untuk menghormati peran perempuan sebagai ibu dan keibuann. Hari Ibu di AS dimotori oleh Anna Jarvis tahun 1908 dan menjadi hari libur resmi sejak tahun 1914. Berbeda dengan hari Ibu di Indonesia yang memiliki tanggal pasti, maka MD adalah minggpolwanu kedua seperti 2021 jatuh pada tanggal 9 Mei. Pencetusnya Ann Jarvis dikemudian hari ketika melihat komersialisasi Hari Ibu berupaya agar dicabut dari hari libur  nasional. Mengingat pada Hari Ibu selalu diperingati secara tradisi dengan memberi hadiah kepada ibu dengan bunga  kartu dan hal-hal lainnya. Ann Jarvis sendiri tidak mempunyai anak, adalah Ibunya Ann Reeve Jarvis yang mempeloporinya dengan mengajari tentang bagaimana  ibu merawat anak, dengan mendirikan Persabatan Para Ibu yang berlangsung dimasa usai Perang Sipil 1868. (https://www.history.com/topics/holidays/mothers-day)

Dalam konteks diatas  maka konsep Ibu yang bersifat Domestik mengurus anak adalah Hari Ibu versi AS, sedangkan Hari Ibu 22 Desember 1928  di Indonesia bersifat Politik, mengambarkan bahwa konsep Ibu dan sebutan Ibu berlakuseluruh perempuan: lajang, menikah, punya anak atau tak punya anak yang antara lain terlibat didalam perjuangan Pergerakan Nasional (menuju Indonesia Merdeka). Secara lebih jauh lagi, konsep Ibu yang bersifat Politik Publik dapat ditelusuri jejak sejarahnya dalam kehidupan suku-suku bangsa di Indonesia (terutama sebelum masuk pangaruh baik Barat maupun Arab).

Sejarahnya sebelum kedua pengaruh tersebut masuk ke Indonesia, Ibu memiliki tempat mulia, dimuliakan. Hal ini juga menjadi ciri dibanyak wilayah suku-suku asli (indigenius) yang menempatkan Ibu dalam posisi Pengemban Kebijaksanaan (tempat Bertanya konsultasi “Bundo Kandung”, suku suku Indian Cheeroke di AS juga memiliki posisi yang sama dan dapat menjadi panglima perang.

  1. Konsep Ibu, konsep Ibu dalam tatanan masyarakat Nuswantara luhur bermakna dalam dan Luas, disana ada Power Kekuasaan. Dalam Penciptaan meski secara kemanusiaan diciptakan pertama kali di bumi sosoknya perempuan anak-anak Maharani, namun Maharani tidak beranak pinak. Baru sesudah arcapada diperuntukkan bagi manusia, dimana penghuni sebelum manusia adalah butho/iblis dan para raksasa. saat itu pula dimulainya konsep ibu dan memuliakan perempuan
  2. Di dalam tradisi Nuswantara yang jejak bahasanya masih ada adalah penyebutan nama untuk ibu atau perempuan yg melahirkan anak berbeda-beda.
  3. Disitulah Ibu sebagai konsep berpikir penciptaan dan kekuasaan dunia yg seimbang setara terjadi. 
  4. Secara aktivitas sosial perempuan dan laki-laki tak ada perbedaan, tak ada konstruksi gender dalam pekerjaan semua bisa melakukan apapun termasuk bela diri, termasuk posisi memimpin pemerintahan menjadi kepala negara: Raja Ratu, Maharaja Maharatu.
  5. Menjadi pemimpin perang, panglima, healer, pemimpin adat dan sebagainya

Adapun perbedaan biologis adalah kenyataan yang tak dapat dipungkiri dan diterima dengan tanpa judgement, sejak jaman purbaraya, jaman awal peradaban bumi dan mulainya pemerintahan dipimpin oleh manusia keturunan Dewa/Dewi ada dayang ataupun pendamping yang “wandu” laki-laki dengan sifat keperempuanan, dan perempuan sifat kelelaki-lelakian. 

Meskipun peran publik dalam dilaksanakan oleh Ibu, namun fungsi biologis melahirkan turut menjadi penentu adalah segregasi pembagian peran domestik dan publik yang rigid terutama setelah pengaruh ajaran Arab dan Barat datang. Disamping itu, suku-suku bangsa di Nusantara pun memiliki perbedaan yang baru pada abad ke-18 cendrung sama, yaitu menarik perempuan untuk lebih menetap dan mengelola kerja domestik (di rumah). Sejarahnya perempuan di Sumatera Utara mempunyai posisi yang setara atau lebih tinggi dengan laki-laki, dan hampir sama dengan yang terjadi di Sumatera Barat dan peralihan kekuasaan dari Matrilinial menjadi Patrilinial di Sumatera pun berlangsung dalam proses yang panjang dan ditutupi sejarahnya.

Pemuliaan terhadap Ibu adalah bagian dari tradisi memuliakan orang yang lebih tua  adanya panggilan Mba, Mas, Abang Uda dsb. Itulah bagian dari memuliakan  Leluhur, Nenek Moyang terutama Ibu, dalam Konsep Indonesia Ibu sangat Luas, dan ini Ibu tersebut dalam lagu Indonesia Raya, jadi Pandu Ibuku, putra-putri semuanya Warga Negara Indonesia bertugas “memandu” Ibu (Tanah Air, Negara dan segala isinya), disamping itu secara nyata nama sebutan Ibu untuk fungsi biologis (anak yang dilahirkan/dirawat/dipelihara) oleh perempuan Ibu ada berbagai sebutan seperti   Ine  di Gayo Aceh; Nande di Batak Karo; Amak di Minang, di Jawa a.l:  Enyak, Emak di Betaw; Ambu, Mimi di Sunda; Simbok, Biyung di JawaTengah dan JawaTimur, Eb di Madura ; Dayak Ngaju Umai, Dayak Banua Inaq, Bugis Makasar anrong, amma, emma.

Pada masyarakat Batak perubahan antara kekerabatan menurut garis ibu menjadi garis bapak melalui permusuhan dan pertumpahan darah. Hal ini dimulai dengan mengubah tebusan atas perempuan yang dibawa pergi laki-laki menjadi harga pembelian. menurut Kutipan Bab II,  M.H Nasoetion gelar Soetan Oloan, “Kaum Wanita dan Sistim Marga” De Plaats van de vrouw in de Bataksche Maatschappij, dissertatie Uttrecht 1943, “ dalam Maria Ulfah Subadio, T.O Ihromi ed.., Peranan Kedudukan Wanita Indonesia., Yogyakarta: Gajah Mada University 1978.,  Hal.6

Taylor Swift Product of Sweet Capitalist Patriarchy

Taylor Swift Product of Sweet Capitalist Patriarchy, sweet as I tried to created real metaphor as sugar taste, sweet, it’s nice, somehow it can bring you disease or diabetes for some, but necessary too of glucose for brain. The Product means, that Taylor herself already identified her selfness as Music, not Human, but Music is human creation, not all but part of God’s creation. Maybe Iam wrong, music is a Gift from God, you share it through the world with your pieces of arts.  Anyhow my writing, merely to describe on how Patriarchy persist and already deep internalized in the brain of people living in society, especially in entertainment industry in USA, particularly in country music industry.

And I don’t mean to judge any of Taylor Swift acts in public or in private, any action are her responsibility and her her human rights, including any sexual tendency. And honesty has nothing to do with sexual preferences of any people’s choice on that, nobody owe Taylor to about her life choice in sex. Any choice of sexual orientation or preference are human rights, but it is the fact throughout the history, Only one sexual preference is accepted by society as known as heteronormative. And my essay not going to talk about that, it is about the female singer song writer I happened to love recently due to Folkore album, there’s phrase in Indonesia Tak Kenal Maka Tak Sayang, (When you Don’t know, you Don’t Love, or You Love and You’ll Know”)

The “TAYLOR SWIFT” between fear and hope

Recently, I notice anything about Taylor Swift comment on public in magazine, radio or television or at last Long Pond Session in DisneyPlus, still I found out, that what I thought she’s changed, but has not. Negativity, she still have that tendency, negativity on almost anything, rarely Joy 60% Doubt 40%, mostly always 50:50 negative : positive. Maybe she still have her Insecurity as show in her documentary film “Miss Americana”. Or in song Lover about her Lover .. “And I’m highly suspicious that everyone who sees you wants you” , how come? And many other insecurity shows in her song lyrics. Even in Begin Again ending with good, it started negative, of Happiness (Evermore) or The 1. I assumed she lives full of doubts. For scientist it might be good, but for a Live and young woman, it somehow made you live uneased.

About uneased, Taylor admitted about her own dependency on outside source for healing, taken herbal medicine for anti depression. I assume it was very hard living as woman artist in patriarchal capitalist industry, where you’re live on constant battle with Public Persona, and highly competitiveness of music industry. Luckily she has created the cult personality by modern tools (social media), PR and marketing. Her followers trust her 100%, love her like a militia army on social media, they’re more than hundreds millions Swifties (Taylor Swift fans called themselves Swifties) all over the world.

So Taylor Swift success in blending “the cult”, the capitalist industry with kindness, continue loving her fans in her own way. They way that never been done with any musician/artist before her. So when the fans bought her merchandises because of love, and Taylor giving love back through her music, and philanthropy, charity. But the swifties and public only knew Taylor through her music, and her public speaking. Unlike any artist (musician or actor) who tell a talk about their “blooming” relationship, even has press release about the relationship with whom or when something happened (divorce, separated). Taylor Swift “I Just think that my personal stories sound better in a song that in an interview quotes”. But somehow her explanation (Long Pond Studio Session DisneyPlus) of the songs in Folklore album seem like those artist talk about their relationship try to explained yet explain nothing. And suddenly a lot of swifties create Taylor’s love story in social media with allegedly William Bowery mr.Joe Alwyn. After months of speculation in internet about particular song Betty, for LGBT community, the Joe Alwyn pop up in part of Taylor song writing seem back to hope and fear, faith and worrying as she fell about RED album.

“My life has become like constant balancing act between hope and fear, faith and worrying, being nervous about this album that I’ve really hard on and being proud of this album that I’ve worked really hard on” to Katie Couric before release RED. 2013.  (p. 457)

Being kind to fans “I get starstruck all the time. I ask for autographs at award show like superfan”..that’s part of  the reason she treats her fans well, as she wouldn’t be where she is today without them (fans) (p.465)

If you happened to read Taylor Book, read about how she got so much gratitude with her fans, that she ought to show her love to them at the very beginning of her career Taylor replied her fans email, and communication directly in MySpace.  When I log ini, they’re like, ‘Your music has changed my life,’ “When people (fans?) are constantly being loving to you, it’s the nicest thing. It’s just so cool. It’s a constant stream of love”

And she chose those fans over her own, she chose her carreer “My career is the only thing I think about. It’s stronger than any alcohol, stronger than any drug, stronger than anything else you could try- so why should those thing” This statement was 8 years ago, when she was 22, about how she protect her self from any scandalous photo. That happened once and twice bout her personal relationship, but the PR has doing great to help her to keep inline and safe her career. She’s a good girl. She behave by choice, by conscience not by management forced.. 479. And she has a heart of humanity since began her rising career in 2008 (just 19 yrs old) Taylor said “They’ve stood by me, they gave me a sold out show. You’ve got to pay it forward in life—that’s all I did in Cedar Rapid” donate $100.000 to Iowa floods victims.p.504

The “NEW Claimed TAYLOR SWIFT” after 1989, Peak at REPUTATION era

So Taylor Swift recognize first time by her works was in July, 26, 2006 when a woman in Boise airport Idaho kind of wishing her a “Taylor, I just love your song and want to wish you great things in your career”, that time her only song “Tim McGraw” was on radio (p.474). So it was fourteen years ago, and her response to the woman she Hug her and said “You’re the first person who’s ever done that, thank you”. Those are genuine acts of Taylor. She really loved her fans.

Those are country era, music where the fans mostly Republican and living in countryside villages. In Indonesia genre music like country is Dangdut. In compare to any genre modern music, pop, rock, or jazz, the Dangdut music have highest number of fans, but unrelated to any political affiliation. Either political parties (9 political parties) members or supporter in Indonesia love Dangdut music. And in any major election public campaign dangdut singer always have a place to sing in front of thousands supporter of political candidates. Taylor Swift’s concert in Jakarta 2014, I did not go, I was busy with works with volunteers to support Joko Widodo as our beloved President elect. Anyhow I watch in youtube, Taylor cried when sang All Too Well in Jakarta…

Back to topic, I knew Taylor Swift how big she was, since her face in the cover of Time magazine in 2014, her face in the magazine cover stand in the rack of library I passed every day I went to my office. But I only knew her music Red, a song. Song as of Love Story, although I tried to listen through music video it was not clicked. I did not love her then. Love her when I listen Shake it Off (friends love sang it in karaoke), and later on her album Reputation, especially Gateway Car.

When the Reputation album hit here, Bad Blood always play in the radio, and it was Katie Perry things in here, and Kanye West. I was waiting her anticipation album release, caused I follow her IG, with snake. Duh.

So Taylor Swift no longer pop star as in 1989 era, or country Era? The old Taylor is dead. And the tour stadium sold out. Won Billboard Tof US Tour et all. But was old Taylor died? Not a hundred percent. She stated “A lot has changed since then, but a lot hasn’t as well” (19 yrs) p.483. And she said similar thing about Now she’s different but something is the same in 2020.  

So Taylor “hijrah” move to other genre music Country to Pop in album 1989 release October, 24, 2014. By the time of this album release, the gossip frenzy about her sexuality has already since April 16, 2013 has faded. The rumor of the two famous young women at the time was in pairing as dating, Taylor Swift and Dianna Agron (famous as Quinn Fabray “The Glee”) spread all over internet. At that time Dianna Agron allegedly socialmedia account also vanished. Other than 1989 is pop Album, Taylor album RED also have lots pop in music collaboration, and RED is breakup album as Taylor claimed in 2020. I have no intention to further the rumor about that Taylor relationship with Dianna Agron, but only mention that the sexual preference on artist still matter in music industry or other entertainment industry.

If only there’s no heteronormative in the world that influenced any industry including music industry, the issue or rumor might not relevant, the media will not write about it, and the artists did not give a damn about any news. But on the other hand, the reality in US, the polarity of conservative and liberal was more clear than any other progressive nations especially in Scandinavian countries. The leader of the country in Scandinavian already have gender fluid, gay, or transgender are political leader, while in the US there’s no woman leader, no female president or vice president, but 2020 Kamala Harris. But the Taylor Swift herself aware in her young age, she wrote about heteronormative in her lyrics Picture to Burn:

State the obvious, I didn’t get my perfect fantasy
I realize you love yourself more than you could ever love me
So go and tell your friends that I’m obsessive and crazy
[Album version line:] That’s fine I’ll tell mine that you’re gay!
[Music video version line:] That’s fine you won’t mind if I say
By the way…

So with the different between video and audio has showed that there was an issue on homosexuality, and when wrote the lyrics must be with consciousness about “being gay” is crazy in the eyes of society.

With new genre pop, the album 1989 the awareness about herself being scrutinize by media about her love life was picture in Shake it Off. This song is feminist in her own way. But to be fully feminist in Patriarchal world is hard, Taylor also said in one interview how the internalizing patriarchal is still in her head “as when doing something bossy they call women bossy, while it just boss doing boss thing”, “ or when men doing things they call it strategic, while women people called in calculated”, and later on in Lover, album with the song The Man, I found its not feminist in term of liberating or equality but somehow if you look male “The Rock Star” life surrounded by models, fell like, she Taylor Swift a female “The Rock Star” needed to justify by surrounding herself with models. The man criticized double standard in patriarchy and part of it is true. Thank God that the Old Taylor and New Taylor never engage with drug addiction, as it was mostly can hit the rock star as many of her peers.. oh her drug is a person (Love)..

Don’t blame me, love made me crazy
If it doesn’t, you ain’t doin’ it right
Lord, save me, my drug is my baby

So is it Taylor new already presented to the world, of still the Old Taylor, a good girl from Nashville, who have survived her career without drug (but love), that is why her songs mostly about love and heartbreak. Although she claimed in Rolling Stone interview, that she’s not writing heartbreak song again.. but most the fans only know the lyrics. So how Folklore and Evermore were sad, as interpreted by fans.. is it because pandemic? Who knows…

The Patriarchy Industry, Artist is a Labor, a Worker

Taylor have record deal before she turn to 17 years old, with Record Label, Big Machine Records,  the record company that been established because of her works. For the company not yet established when Taylor started her first Album Taylor Swift. She wrote many songs, including all previous Albums before Lover (2019). And yet she doesn’t own of her masters album. Those are the capitalist industry, where copyrights are belong Big Company. If you want to know more about how, a girl with unknown information about Law and agreement, how Taylor Swift as an artist can be trapped in the capitalist industry…Capitalist music industry still mastered by corporates, mostly male CEO, or male owner, and needs lots of investment for Tour, dancers, everything related the industry.

https://www.theguardian.com/music/2020/nov/17/taylor-swift-criticises-scooter-braun-amid-300m-masters-sale

https://www.bloomberg.com/news/newsletters/2020-11-22/the-end-of-taylor-swift-s-300-million-fight-with-scooter-braun

Anyhow,  Ms Swift seem like true capitalist friendly for she launch her music in Youtube where anybody everywhere in the world can accessed the music and the lyrics, even downloaded 🙂 . And only true rich fans can buy her merchandises or album format (CD, Vynl, Deluxe…), and those who bought because of lover her works…

 

Taylor Swift  Music and Lyrics are Good, but I know Tori Amos, Natalie Merchant, Jewel and Ani Di Franco before I know Taylor Swift

Reference:

Liv Spencer., TAYLOR SWIFT, platinum edition,  2010

HAK KESENANGAN / Pleasure BIOLOGIS PEREMPUAN

Courtesy : https://taldebrooklyn.com/

Perempuan sebagaimana laki-laki memiliki hak biologis yaitu kesenangan fisik, materi yang manusiawi yaitu hak terpenuhinya kebutuhan seksual. Hak pemenuhan kebutuhan seksual secara spesifik disebutkan sebagai salah satu unsur kebutuhan hidup manusia dalam berbagai pengajaran tentang ilmu manusia (antropologi), namun dalam psikologi berbeda lagi dengan istilah lebih khusus seksualitas (sexuality) sebagai perilaku terkait seks apakah itu kecenderungan ( dorongan nafsu birahi) , orientasi kenikmatan seksual (kelamin), hingga kesenangan (pleasure) biologis seksual), kenikmatan sensual hingga puncak kenikmatan seksual orgasme.

courtesy : https://taldebrooklyn.com/

Di Indonesia Nuswantara, sebenarnya seks (kelamin/tindakan) dan seksualitas (prilaku atasnya ke dalam diri sendiri atau keluar ke arah di luar diri) bukanlah hal yang “tabu” atau mengerikan atau menyesatkan atau menjijikan atau memalukan. Seks dalam hal ini sebagai tindakan yang berujung pada puncak kenikmatan materi (tubuh) fisik manusia orgasme bukan hal yang tidak dikenal. Sejak dahulu telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari bangsa di Nusantara. Bahwa kenikmatan seksual diakui sebagai kenikmatan fisik/materi manusia yang berbeda-beda dari manusia satu dan manusia lainnya. Pengakuan tersebut terkait pula dengan bagaimana menahan diri dari tindakan memperoleh kenikmatan tersebut secara kokoh tanpa berhubungan seks dengan manusia lain sebagai suatu perilaku yang kuat dari seseorang.

Di negara maju, seks dan seksualitas dalam keberagaman diri telah diakui oleh negara, sebagaimana diakuinya perpindahan jenis kelamin atau perpindahan gender (transseksual, dan transgender) hingga perilaku seksualnya sebagai bagian dari hasil penelitian mendalam dari perilaku seksual ke luar atau ke dalam. Di Indonesia sejak masuknnya ajaran sebrang yang berbeda dari keaslian ajaran Nusantara tentang seks dan seksualitas, seks sebagai kelamin dan seks sebagai tindakan/prilaku jauh dari apa yang dapat membawa kesejahteraan jiwa manusia dan keteraturan masyarakat. Hal ini terjadi karena bagi mayoritas ajaran religi yang berlangsung menempatkan perempuan hanya sebagai alat reproduksi yang memiliki tugas meneruskan generasi (hamil melahirkan memelihara) dan dijauhkan dari hak sebagai manusia utuh yaitu terpenuhinya kebutuhan seksual.

Kenyataan melahirkan bahwa seksualitas tidak hanya menyangkut alat kelamin atau jenis kelamin saja, melainkan juga merupakan keseluruhan cita-cita khas manusia tentang masa depan kehidupan di dunia, bagaimana ungkapan laki-laki dan perempuan menyatakan diri dalam tingkah laku dan keaktifannya, baik secara batin maupun secara lahir terhadap pihak luar terhadap dirinya sendiri dapat terkait langsung atau tak langsung dengan seksualitas. Segala tindakan manusia, dalam status apapun hidup dalam perkawinan ataupun lajang dan dalam usia berapa pun bayi-anak-anak-remaja-dewasa-tua ditentukan oleh kenyataan dirinya terkait dengan seks dan seksualitas.

Di dalam kehidupan manusia, laku-laki atau perempuan di Nusantara terhadap tatanan yang mengatur seksualitas diatur tata krama yang membedakan manusia dengan butho/iblis. Bahwa perilaku yang tak dapat menahan diri terhadap seks nafsu tak sesuai aturan tata krama, sopan santun (penghargaan kepada perempuan) adalah perilaku yang salah. Bahwa monogami adalah yang utama, sama halnya dengan kesetiaan terhadap pasangan.

Memuliakan Perempuan

Fungsi biologis ke diri sendiri kenikmatan seks, fungsi biologi yang terpenting bagi peradaban adalah reproduksi. Fungsi ini haruslah terkait dengan fungsi kesenangan/pleasure dari reproduksi (membuahi, mengandung, melahirkan, memelihara anak manusia). Berhubung yang mengandung dan melahirkan perempuan, maka di Nusantara akhirnya fungsi seks (kelamin) perempuan hanya dibebankan untuk melahirkan, dan dijauhkan dari hak mendapat kenikmatan fisik materi orgasme.

Di dalam kehidupan purba raya, sejak kecil perempuan dan laki-laki telah dibebaskan untuk mengenali fisik/tubuh dirinya dan jiwa nya. Tak ada pemisahan body, mind and soul.

 

Blog at WordPress.com.

Up ↑