Search

wartafeminis.com

Indonesia Feminist Theory and Practices

Category

FILSAFAT BARAT-NON NUSWANTARA PERSPEKTIF

Memuat Tulisan tentang Filsafat Barat, dan menggunakan perspektif Barat (Eropa-Amerika-Inggris-Australia-Eropa lainnya)

Filsafat Manusia: Perspektif Barat

Agresivitas ada di diri manusia, namun manusia mempunyai kemampuan trasendensi namun manusia mengatasi kecendrungan agresif itu

Agresivitas merupakan salah satu bentuk pengejawantahan innerself manusia, yang berakar dari kondisi biologis dan psikis manusia. Agresivitas manusia merupakan ciri hakekat menjadi manusia terkait kelangsungan hidupnya diantara manusia lain. Agresivitas sebagai tindakan asertif yang didorong oleh innerself, umumnya distimulasi oleh kondisi dan lingkungan.Sebagai dorongan untuk menjaga diri, melindungi diri, pertahanan. Agresivitas mempunyai dua sisi, positif dan negative. Agresivitas manusia berbeda dengan hewan. Pada hewan agresivitas adalah suatu reaksi diluar dirinya, yang mengancam dirinya atau kawannya.

Seperti halnya karakter hewan yang stimulasi sikap ditentukan oleh diluar dirinya, pada umumnya manusia mengeluarkan energi agresifnya pada saat merasa tidak aman. Bedanya pada agresivitas manusia, walaupun seringkali merupakan tindakan spontan, tindakan agresif merupakan pengembangan dorongan gerak naluri dari tubuh, akal budi yang memberi arahan lebih jauh metode, atau bentuk ekspresi agresvitas tersebut. Baik manusia maupun hewan, agresi merupakan reaksi yang pada umumnya distimulasi  dari luar dan dari dalam dirinya. Bila pada hewan stimulasinya antara lain saat lapar, kawin dan perlindungan diri. Pada manusia ketidak terbatasan stimulasi membuat manusia memiliki peluang untuk melalukan tindakan agresif lebih banyak disbandingkan hewan.  

Pengelolaan agresivitas  ditunjukkan antara lain sebagai pembelaan diri, penjagaan dapat membentuk suatu pertahanan bagi kelompok. Agresivitas yang baik dari manusia merupakan manifestas pengolahan akal budi, namun pada manusia karena penentu agresivitas berada dalam diri psikis dan akal budinya, maka bisa menghasilkan bentuk ekspresi yang jauh dari kebaikan. Agresivitas negatif yang didukung oleh kekuatan rasionalitas dan sains  dapat membuat  matnusia kehilangan kendali dan menyebabkan tindakan destruktif yang membahayakan manusia lain. Pada titik ini manusia terperangkap dalam kekuatan luar biasayang tidak bisa dikontrol oleh akal dan budinya.

Sejak kecil manusia diajarkan untuk agresif dalam konteks perlindungan diri. Seorang anak diajarkan menjaga dirinya dari gangguan orang lain belajar untuk menjadi agresif. Tindakan membela diri adalah juga contoh agresivitas yang ditunjuunkkan seorang manusia. Kekerasan muncul dalam pembelaan diri. Seorang perempuan yang dilecehkan di dalam bis, akan secara reflektif memukul orang yang melecehkannya, pada situasi ini agresivitas bisa berlaku spontan. Contoh tersebut menunjukkan kekerasan sebagai bentuk agresi manusia. Agresivitas pada manusia berbeda dengan binatang terutama dalam stimulasinya.

Berbeda dengan hewan manusia memiliki akal budi, perasaan, nurani atau suara hati. Akal budi sebagai rasionalitas menentukan dan menjadi sumber kebijakan menanggulangi emosi/perasaan. Dikarenakan emosi lebih bersifat spontan hal ini menyebabkan diperlukannya akal budi untuk memformulasikan emosi kedalam suatu kesadaran yang dapat diimplementasikan secara bertanggung jawab. Emosi sendiri pada umumnya distimulasi oleh internal kondisi/kondisi pribadi yang bisa terkait dengan dorongan biologis (lapar, seks, istirahat). Seringkali kondisi agresif muncul saat manusia dalam kondisi emosi yang tidak dapat dikendalikan. Pada kondisi lapar maka manusia membutuhkan makanan, dan ketika ia tidak mempunyai makanan atau uang, maka ia akan melakukan tindakan agresi mencuri atau mengambil makanan orang lain. Pada tingkat yang lebih besar, agresivitas bisa juga  dilakukan manusia secara kolektif. Dorongan untuk bertindak agresif secara kolektif antara lain dilakukan oleh Negara yang menginvasi Negara lain.

Kemampuan rasional manusia untuk menciptakan alat-alat, senjata dan sebagainya membuat tingkat agresivitas manusia sangat canggih dan jauh melebihi agresivitas hewan. Apabila pada masa kehidupan sederhana agresivitas lebih diarahkan kepada orang yang mungkin mengganggu atau memang terpaksa dilakukan dalam konteks membela diri. Namun kini, situasi masyarakat dunia yang penuh dengan konsumerisme membuat suatu Negara dimotori oleh  pemimpinnya melakukan agresi ke Negara lain. Amerika Serikat adalah konsumen minyak dunia terbesar, yang membutuhkan minyak bagi warganya. Padahal secara naluri manusia lemah untuk menjadi agresif. Karena stimulasi luar diri untuk membuat manusia agresif dapat dikelola oleh akal budi atau rasio. Namun Rasionalitas manusia yang kuat dan hampir tanpa batas membuat manusia dapat menciptakan peralatan perang dan senjata yang berbahaya jika tidak disertai tanggung jawab. Rasio manusia harusnya dimanfaatkan untuk menjawab mengapa dan untuk apa melakukan tindakan tersebut. Namun rasio manusia pula yang mampu member justifikasi dan pembenaran bagi tindakan tersebut.

Berbeda dengan hewan agresivitas manusia bisa direncanakan, dan bukan melulu spontan seperti saat perlindungan diri dan penjagaan. Agresivitas tingkat tinggi terejawantah dalam bentuk invasi. Invasi bukan lagi tindakan sebagai reaksi, tetapi suatu  yang didorong oleh mekanisme rasional bekerja. Nafsu untuk mendapatkan keuntungan lebih besar dan akumulasi modal juga menjadi manifestasi agresivitas manusia jaman sekarang. Agresivitas yang didorong oleh nafsu dan kerakusan dimasa sekarang mendapat ruang legalitas di dunia melalui sistem pasar bebas dan globalisasi ekonomi. Agresivitas yang termanifestasi dalam system ekonomi pasar bebas telah membuat manusia kehilangan humanitasnya sehingga tindakan tidak etis dianggap wajar dan dilanjutkan lakukan.

Pandangan Paul Satre memandang hubungan antar manusia, pandangannya mencerminkan agresivitas manusia
 
Menurut Satre, setiap manusia exist sebagai dirinya sendiri. Pada saat exist tersebut, manusia menjadi subjek dan objek. Perwujudan manusia exist, atau exisensinya berbeda dengan hewan. Setiap orang bisa menerima atau menolak aturan karena setiap orang memiliki choice/pilihan. Pilihan yang ditentukan oleh kesadarannya consciousness. Namun realitasnya manusia satu menjadi objek yang lain, maka manusia lainnya adalah subjek. Didalam setiap subjek dan objek manusia terdapat Ego. Ego yang mewujud pada: Posisi/kondisi, perilaku dan qualitas. Ego bukanlah suatu kesatuan refleksi kesadaran, namun sebagai suatu yang imanen exist dalam kesadaran. Kadangkala Ego menjadi subjek, kadang menjadi objek di dalam diri orang masing-masing.

Pandangan Satre tersebut menunjukkan bahwa agresi manusia dimungkinkan karena eksistensinya adalah sebagai being for itself yang dinamis keluar untuk menjalani as being. Agresivitas bukanlah tidak bisa dikenali. Agresivitas bisa menjadi buruk manakala tidak terarah atau hanya dalam penguasaan pemenuhan kepuasan Ego. Agresivitas ada pada semua manusia sebagai mekanisme perwujudan eksistensi.

Menurut Satre perang adalah bentuk agresivitas manusia adalah disebabkan hubungan antar manusia tak lebih dari pengobjektifikasian satu sama lain. Agresivitas lahir dari pandangan manusia atas subjek dan objek. Pada setiap situasi itu Ego manusia secara spontan mentrandensi diri sebagai posisi/keberadaan kemenyatuan dari diri sendiri dan tindakan. Ego tidak merefleksikan kesadaran/consciousness. Ego manusia turut menentukan bagaimana agresivitas manusia terimplementasi. Agresivitas manusia yang tidak didasari oleh kesadaran kemanusiaan membuat manusia melakukan tindakan agresif dengan jumlah dan moda yang besar.

Hubungan antar manusia haruslah bersifat co-eksistensi. Saling mengakui eksistensi satu sama lain. Kebebasan yang dimiliki manusia haruslah dalam kerangka bertanggung jawab, karena menghormati kebebasan orang lain. Setiap orang mempunyai hak untuk menerima atau menolak aturan dengan menggunakan landasan kebebasan yang dimilikinya. Namun ia tetap harus kritis terhadap suatu system yang sudah established di tempat dimana ia berada. Hal ini penting untuk membuktikan bahwa ia eksis tidak hanya sebagai objek penerima. Seorang manusia eksistensialis sadar dengan apa yang diperbuatnya, mengerti sebagai aku yang “Ada” “Eksis” dan memiliki akuntabilitas atas tindakannya. Tiap manusia menentukan mereka akan jadi apa, apa yang diinginkannya, itulah hakikat manusia manusia terbentuk dari eksistensinya.

Eksistensialisme Satre menekankan pentingnya manusia untuk terus menjadi subjek. Manusia tidak bisa dijadikan objek oleh siapapun atas nama apapun. Objektivifikasi manusia terhadap manusia lain dapat menyebabkan manusia kehilangan eksistensinya.

Satre menjunjung tinggi kebebasan manusia, namun bagi Satre kebebasan exist dalam kondisi specific.  Pada kondisi tertentu orang hanya bisa memilih tetapi tidak bisa mempraktekkan kebebasan. Orang-orang terjajah adalah orang yang tidak bisa mempraktekkan kebebasannya. Satre adalah orang yang aktif menolak rasisme, kolonialisme dan semua hal yang menganggu eksistensi manusia dan kemanusiaannya.

Satre menganggap kolonialisme, racisme adalah bentuk expolitasi dan perendahan kemanusiaan. Tindakan kolonialisme adalah agresivitas manusia bersifat kolektif yang dilegalisasi, dan didukung oleh rasionalitas.. Agresivitas yang berbahaya bagi kemanusiaan. Itulah sebabnya Satre bersaksi mendukung rakyat Vietnam melawan agresi Amerika Serikat dan sekutunya dalam International War Crime Tribunal di Stockholm, Swedia 1967. Bahwa Vietnam sebagai Negara tidaklah melakukan agresi, melainkan membela diri. Bahwa serbuan Amerika Serikat ke Vietnam menurut Satre adalah agresi terhadap suatu Negara, sebuah kejahatan terhadap perdamaian.

Satre yang dipengaruhi Marx menentang agresi. Agresi atas manusia lain dalam konteks kerakusan ekonomi penindasan. Satre menanggap dunia kini masih dipenuhi dimana manusia yang satu mengobjekkan manusia yang lain dengan menjadikan manusia lain  budak, diantaranya beroperasi dalam imperialism.  Bagi Satre seorang yang merdeka adalah sungguh-sungguh merdeka dengan segala eksistensinya untuk memanifestasi diri melalui tindakan pilihan, memilih. Seorang yang hidup di dalam Negara merdeka, bisa saja sesungguhnya tidak mereka karena yang ada hanyalah kemerdekaan semu.  Kemerdekaan semu terjadi ketika ada suatu kekuatan dan kekuasaan dari orang atau organisasi di luar dirinya sehingga manusia tidak dapat berbuat kekehendak hatinya. Seorang yang tinggal di Negara dimana ada Negara lain yang mengatur dan memiliki kekuasaan atas Negaranya membuat orang tersebut tidak memiliki kebebasan. Bentuk-bentuk agresivitas Negara kini diperbaharui terus menerus. Negara Barat yang pada masalalu memanifestasikan agresivitasnya dengan menjajah dan mengeksploitasi bangsa di Asia dan Afrika, ketika Negara Asia dan Afrika sudah merdeka bentuk agresinya berubah. Melalui ekonomi, dan budaya yang seolah-oleh sukarela. Padahal itu adalah agresivitas yang dikelola untuk kepentingan tertentu dan diarahkan pada objek tertentu untuk tujuan penguasaan sumber-sumber ekonomi.

Sedangkan secara pribadi individual, manusia adalah Being-in-itself dan being-for-itself keduanya adalah karakter  prinsip yang eksis sebagai ekslusifitas menjadi manusia, entitas yang menyatu. Being in itself yang sempurna, yang factual tetap, pasif,  sedangkan being for itself sebagai kesadaran yang tidak memiliki kepadatan ada atau fakta materil yang terus menerus bergerak dinamis, keinginan mencapai being in it self menjadi Allah.

Being in it self sebagai Ada yang menjadi solid, tak berkesadaran, sedangkan being for itself adalah transenden bahwa dengan kesadarannya (consciousness) manusia mampu melampaui (mentransendensi) diri mengatasi diri sendiri kesadaran tersebut juga being for itself. Sementara benda mati dapat disebut sebagai eksistensi yang menyatu dengan esensi yang being inself sebuah batu adalah batu saja, material eksis dan esensinya.. Karena kesadaranlah pour soi (being for itself) maka dunia en soi being in itself dapat dibuat berjarak,  hal ini karena kekuatan being for itself yang dinamik realitas yang bergerak tanpa batas karena bukan “material” ada.  Setiap manusia memiliki eksistensi dirinya, dan kesadarannya sebagai refleksi diri.

Jadi secara ontologi kebebasan manusia karena kita bukanlah seorang (yang berdiri sendiri) being itself tetapi kita adalah manusia yang menampilkan diri eksistensi diri melalui kesadaran. Kesadaran consciousness manusialah yang mampu mengatasi agresivitas.  
Satre menekankan pentingnya manusia untuk selalu menjadi subject bagi eksistensinya dengan mengedepankan kesadaran untuk selalu memilih dan memanfaatkan kebebasan dasarnya. Namun manusia kesulitan untuk selalu menjadikan dirinya subjek dan membutuhkan orang lain untuk dijadikan objek. Pilihan menjadi objek adalah ketakutan manusia akan kesendiriannya, itulah Bad Faith.  Kondisi dimana ia bukanlah orang bebas tapi object dilingkupi ketakutan akan kesendirian.

Eksistensi Manusia bertubuh, bagaimana penjelasan antropologi

Manusia adalah eksistensi yang ditentukan oleh tubuhnya yang menyatu dengan rohnya. Tubuh menjadi penentu eksistensi manusia karena disanalah roh berada di dunia. Tubuh menjadi penanda ‘ada’ manusia di dunia. Adapun eksistensi tubuh secara antropolig filosofis adalah kemenyatuan tubuh dan jiwa. Eksistensi tubuh yang menyatu dengan jiwa menjadikan manusia mampu eksis, spiritual, dan bertrandensi. Sedangkan sebagai mahluk hidup tubuh manusia mengalami pemaknaan sesuai sejarahnya, mengikuti ruang dan waktu, terbatas dan mengejawantah dalam realitas diri.

Seorang jiwa manusia, akan menjadi manusia dengan tubuhnya. Maka tubuh adalah yang mewujudkan jiwa manusia di dunia. Jiwa yang bersemayam di tubuh membuat manusia eksis di dunia. Sedangkan pada awalnya makna tubuh adalah:
    Sebagai wahana ekspresi
    Sebagai penanda kehadiran pada orang lain
    Sebagai bahasa dalam arti luas
    Sebagai instrument manusia
    Tubuh bersifat terbatas sekaligus yang memungkinkan to able

Manusia dengan tubuh dan jiwa yang menyatu menjadi bagian terpenting dalam perkembangan filsafat modern. Pada filsafat modern penjelasan antropologi manusia kini mengacu pada eksistensi manusia. Manusia adalah pusat dunia, eksistensi manusia telah menjadi arah gerak perjalanan manusia di seluruh dunia. Perkembangan teknologi, kehidupan ekonomi dunia turut membantu mengubah makna tentang manusia.

Tubuh manusia kini menjadi sesuatu yang hampir ‘mati’ karena tubuh menjadi docile body bahwa tubuh kini dalam kondisi yang pasif subjected, used, transformed and improved. Tubuh menjadi subjek yang dibentuk sesuai fungsinya. Di jaman industrialisasi, tubuh manusia adalah subjek bagi seluruh produk industri mulai dari cat kuku, sampo hingga sabun. Namun adalah manusia yang menjadi penentu bagaimana ia memodifikasi tubuhnya agar sesuai dengan kebutuhannya. Pada titik ini tubuh menjadi instrumen manusia.

Pemaknaan atas tubuh terus berkembangan mengikuti perkembangan jaman: dibentuk oleh sejarah, jaman, dan kondisi masyarakat. Dibentuk oleh masyarakat dan kekuasaan seperti yang dinyatakan Michel Foucault dalam History of Sexuality bahwa tubuh sebagai entitas yang direkayasa sepanjang sejarah dan dibentuk oleh kekuasaan. Kekuasaan secara esensi menganggap diri sebagai yang berhak untuk mengelola segala hal termasuk tubuh dan hidup.  Tubuh sendiri sebagai yang pasif tidak memunculkan nilai, namun menjadi bermakna melalui diskursus. Diskursus tentang tubuh yang pada umumnya diciptakan oleh penguasa tidak hanya mengandung pemaknaan tetapi juga tekanan, bahkan mengenai konsep tentang seksualitas.  Sepanjang sejarah hidup manusia tubuh menjadi objek pendisiplinan, diatur dan ditata dengan diskursus kekuasan. Tubuh dibentuk dan didisiplinkan. Selain dipelajari tubuh masuk sebagai alat produksi langsung industrialisasi tenaga kerja/buruh. Pada profesi tertentu ditentukan manusia yang tinggi tubuhnya, berat badannya dst.

Persepsi tentang tubuh terus berkembang dipengaruhi budaya dominan dan  industrialisasi turut menjadi penentu manusia dalam memaknai tubuhnya. Pandangan modern barat yang dominan  dan menguasai wacana dunia dan industrialisasi mendorong orang mengikuti wacana dominan tersebut terutama terkait industry hiburan. Namun dalam konteks Indonesia budaya dominan telah pula masuk menjadi Kekuasaan dan membuat kebijakan tentang tubuh di ranah publik antara lain melalui UU Pornografi. Banyaknya perempuan Indonesia yang mengenakan jilbab adalah tanda adanya diskursus kekuasaan tentang perempuan dan tubuh.

Tubuh tidak stabil, tubuh menjadi entitas yang lentur dan dapat dikontruksi dengan berbagai cara. Di jaman modern kekuasaan politik, pengaruh budaya konsumtif dan nilai ekonomi membuat tubuh hampir terlepas dari keasliannya.  Apabila pada masalalu perihal kemenyatuan tubuh dan jiwa bersifat individual, kini konstruksi kekuasaan dan tekanan masyarakat telah membuat manusia berupaya memodifikasi tubuhnya. Seorang perempuan muda yang ingin menjadi model sedangkan tuntutan dunia hiburan sedang dalam trend perempuan berhidung mancung, maka ia akan mengoperasi hidungnya, atau memutihkan kulitnya. Pada kondisi tersebut tubuh dimaknai sebagai instrumen ekonomi, sebagai alat kerja. Lain halnya dengan olah ragawan binaraga atau tentara yang akan melakukkan kegiatan yang membuat tubuhnya tetap dalam kondisi tertentu dan sesuai profesinya.

Sejarah tentang seksualitas dan tubuh manusia khususnya orang Barat juga digambarkan oleh Foucault terkait dengan perkembangan kehidupan ekonomi, agrikultur sejak abad ke 18 dimana produktivitas dan pengelolaan sumber daya yang terus meningkat perkembangan teknologi telah membuat manusia belajar tentang bagaimana makna hidup sebagai manusia di dunia. Setelah peperangan usai dan kematian manusia disebabkan oleh kondisi tersebut, maka manusia belajar tentang bagaimana kekuasaan tidak hanya sebagai suatu yang legal untuk terkait kematian (perang)  namun juga dapat menjangkau dan menguasai hidup, penguasaan atas hidup berarti penguasaan atas tubuh perempuan dan laki-laki. Sedangkan di dalam Archeology of Knowledge, Michel Foucault  menuliskan bahwa kekuasaan dapat beroperasi menciptakan diskursus tentang tubuh melalui oleh dokter dan institusinya.

Maka tubuh tidak sekedar dimaknai sebagai eksistensi manusia, namun dikonstruksi secara sosial, politik budaya dan ekonomi. Makna tubuh yang menyatu dengan jiwa kini seringkali Sebagai eksistensi keberadaan tubuh membentuk diri manusia, bahwa tubuh membawa penjelasan yang dikontruksi oleh pihak luar. Manusia bertubuh dimaknai secara berbeda tergantung jamannya..

Pada awalnya tubuh memberi identitas dari suatu ras, kemudian berkembang karena konstruksi kebutuhan sosial dan ekonomi,dan budaya. Sifat tubuh yang tidak kekal tidak mengubah kemanusiaan manusia. Apapun bentuk manusia apakah dia cacat, cantik atau jelek itulah eksistensi bertubuh. Namun perkembangan dunia yang dipenuhi nilai materialis telah membuat manusia membuat dirinya sebagai tak terbatas, termasuk memodifikasi tubuh. Penemuan peralatan adalah merupakan kemenyatuan antara tubuh dan jiwa, akal manusia. Tubuh manusia memiliki keterbatasan, namun akal budi dan pikiran manusia terus berupaya mengatasi keterbatasan tubuh tersebut: dengan menciptakan peralatan, dan teknologi tercanggih.  

Tubuh perempuan adalah termasuk yang paling mendapat perhatian untuk dimodivikasi. Tidak hanya dalam konsep yang dihembuskan oleh industry tentang menjadi manusia cantik, perempuan cantik Industri kesehatan, industri hiburan telah menempatkan tubuh perempuan sebagai komoditas. Pada kondisi ini, tubuh adalah objek. Kaum feminis yang pertama kali mengangkat isu tubuh perempuan adalah objek segala system.  Tubuh perempuan dalam industri hiburan memisahkan tubuh dengan jiwa. Pada situasi dunia hiburan, si perempuan adalah tubuh, daging meat. Tubuh tidak hanya dimodified, transformed, subjected and used, traded.  Tubuh perempuan menjadi tempat sewa bagi bayi yang ibunya tidak bisa mengandung. Atau teknologi surrogate mother.

Hingga kini makna tubuh masih diberikan oleh masyarakat dan memiliki makna yang beragam. Selain tubuh menentukan konstruksi identitas, menghadirkan eksistensi, symbol dan tubuh adalah juga objek penelitian. Sebagai identitas perempuan di Afrika berusaha untuk menggemukan badannya karena semakin gemuk semakin menarik dan berarti bahagia. Berbeda dengan perempuan di Amerika Utara yang telah dikuasai oleh wacana kecantikan versi industry dan media berusaha untuk kurus bahkan hingga menyebabkan perempuan terserang penyakit aneroxia dan bulimia.

Pengekangan atas tubuh yang dilakukan oleh Penguasa melalui diskursus tentang tubuh manusia. Tentang persepsi manusia mengenai tubuh. Para feminis menenekankan bahwa tubuh manusia dijadikan alat bagi suatu konstruksi sosial yang membuat perempuan menjadi kelas dua. Tubuh biologis peremuan diteliti dan diwacanana oleh system patriarki yang mengejawantah dalam sitem pemerintahan membuat perempuan menjadi mahluk yang kehilangan kekuasaan, atau dipinggirkan atau kehilangan dan akses atas dirinya sendiri. Berbagai percobaan terkait reproduksi perempuan bahkan dikuasasi dan didominasi oleh wacana patriarchy seperti dalam The Woman in The Body yang ditulis oleh Emily Martin.  Sedangkan Adrianne Rich dalam bukunya On Woman Born Sebagai instrumen menundukkan suatu kaum dalam suatu peperangan, laki-laki memperkosa perempuan-perempuan lawannya. Tubuh perempuan dijadikan medium of message bagi lawan dalam peperangan.

Feminisme adalah ajaran yang mengungkap fakta ideologi patriarchy memperlakukan tubuh biologis dengan konstruksi sosial. Pada konstruksi  biologis menjadi sosial tersebut perempuan diobjektivikasikan sebagai “tubuh” objek ditentukan oleh subjek “laki-laki” mengenai peran-perannya. Konstruksi sosial atas peran tubuh laki-laki dan perempuan akhirnya melahirkan gender. Padahal menurut feminis fisiologi perempuan memungkinkannya melihat dan mempersepsikan dunia secara lain dibandingkan dengan laki-laki. Pengalaman biologis yang sama perempuan dalam berketubuhan adalah menjadi pembentuk  solidaritas antar sesama perempuan. Pada kondisi ini identitas manusia yang perempuan diidentifikasi dengan sesame yang lain. Sedangkan Judith Butler dalam Gender Trouble menganggap gender menjadi dan termanifestasi melalui tubuh. Lebih jauh menurut Butler kontruksi gender tergantung sejarah dan konteks dan gender saling terkait dengan rasial, etnis, kelas, modalitas regional dimana discursusnya turut membentuk identitas. Maka gender tidak bisa dipisahkan dari sosial politik dan budaya.

Pada masa kini tubuh biologis perempuan dan laki-laki tidaklah fixed, sebagai identitas seksual dua jenis kelamin. Tubuh tidak selalu mengidentifikasi jenis kelamin, namun ada yang membungkus tubuh sehingga tubuh dapat berubah secara gender.

Secara budaya tubuh juga diproyeksikan. Pierre Bourdieu mengaggap bahwa tubuh juga menjadi alat proyeksi manusia. Proyek tubuh merupakan bagian dari manusia untuk memodifikasi tubuh. Tubuh berfungsi sebagai instrument objek suatu modal budaya. Budaya sekarang memungkinkan manusia memproyeksikan dirinya dengan memanfaatkan dan menggunakan tubuh. Kehidupan masyarakat modern industry yang memiliki daya tekan pada psikologi manusia membuat manusia memproyeksikan dirinya sebagai manusia yang turut dalam proyek masyarakat tentang manusia. Tubuh dikodifikasi dan dinilai, yang satu dianggap bernilai dibanding yang lain. Kodifikasi tubuh manusia tidak statis, tetapi selalu berkembang dan terus dibuat lagi. Tubuh sebagai pembawa simbolik memberikan status pada pemiliknya. Sebagai modal budaya tubuh seringkali digunakan untuk hiburan melalui pendisiplinan. Pendisiplinan tubuh untuk mempunyai kelenturan badan seperti karet diperlukan bagi mereka yang bekerja sebagai sirkus. Sementara manusia juga memiliki nilai tentang cita rasa mengenai tubuh yang disesuaikan dengan kelas, etnik maupun straa sosialnya. Bagi masyarakat suku di Burma dimana perempuannya memanjangkan lehernya, dan kaki perempuan di China dikecilkan. Pada masyarakat tersebut ketubuhan menjadi bagian identitas suku yang juga mengkaitkan dengan fungsi simbolis bagi perempuan. Di China kuno pandangan kaki mungil perempuan dianggap sebagai bagian kecantikan perempuan dan menunjukkan perempuan memiliki kemampuan melayani seks laki-laki lebih baik.

Kadangkala penilaian atas tubuh ditentukan oleh kelas sosial masyarakat yang memiliki kekuatan dominasi wacana tentang nilai. Suatu masyarakat yang didominasi oleh pandangan yang memuja Barat, orang Barat dianggap lebih maju dan mulia, sehingga membuat perempuan di Indonesia pun mengikuti untuk menjadi lebih putih kulitnya. Konsep kecantikan perempuan ditentukan oleh hegemoni estetika cantik perempuan ditentukan oleh industri media, industri kosmetik.

 Penjelasan-penjelasan di atas menunjukkan ada berbagai pandangan manusia dengan pemaknaan atas tubuh, yang akhirnya member makna pada manusia. Tubuh sebagai suatu yang melekat dengan jiwa hanya memiliki arti bila berjiwa. Namun jiwa dan tubuh tidak mempunyai kekuatan manakala manusia tidak menggunakan akal pikiran dan akal budinya.
Kemenyatuan pikiran dan akal budi seringkali terlupakan manakala membahas tentang tubuh.

Maka dari bentuk penjelasan tentang tubuh diatas dapat diambil kesimpulan bahwa:
–    Tubuh merupakan material yang diberi makna oleh akal pikiran manusia
–    Tubuh mempunyai pemaknaan dan sifat dinamis tergantung sosial, budaya, regional
–    Tubuh merupakan modal manusia menjalani hidup di dunia
–    Tubuh adalah keseluruhan ke’Ada’ an manusia dalam ekspresinya sebagai mahluk manusia “berbahasa, berekspresi dan keberlangsungan hidup serta spesieS
–    Tubuh merupakan wahana bagi pengalaman inderawi manusia
–    Pengalaman manusia dengan tubuh dan inderawinya menjadikan manusia mengenali rasa
Uraian tentang tubuh memberikan fakta penting bagaimana kemenyatuan akal budi, jiwa dan tubuh termanifestasi dalam segala bahasa yang mencerminkan rasa: akumencium harum, aku mendengarkan music. Itulah refleksi manusia dengan tubuhnya atas apa yang dialaminya. Pengalaman manusia inilah yang memberikan asupan pada kesadaran manusia tentang dirinya, dan eksisteninya, bahwa manusia hidup dengan tubuh, dalam tubuh. Kebertubuhan dalam kesadaran adalah esensi manusia yang berbeda dengan hewan. Kebertubuhan manusia memiliki batasan sekaligus ketidakterbatasan.

Keterbatasan tubuh manusia dilampaui dengan pikiran akal budi manusia yang menciptakan alat-alat. Manusia mungkin tubuhnya terbatas hanya tangan dan kaki, tidak mempunyai sayap, namun keterbatasan tersebut membuat manusia mampu berkarya dan menciptakan pesawat terbang. Daya cipta manusia saat hidup dan melampaui ketubuhanannya merupakan transendensi manusia saat hidup.
Kematian bukan kata akhir bagi manusia

Manusia adalah kesatuan tubuh dan roh, dan Yang Maha Pencipta. Fakta bahwa tubuh adalah tak kekal dan tak abadi membuat orang memaknakan ketidak setaraan antara tubuh dan jiwa. Namun manusia berbeda dengan hewan yang memiliki kesadaran rasio dan akal budi mengetahui bahwa ia akan mati. Pengetahuan akan kematian yang membedakan manusia dengan hewan. Hewan mengetahui ada bahaya manakala ada yang akan membunuhnya atau mengganggunya, tetapi pada umumnya reaksi hewan stimulasi yang bersifat fisik. Manusia memiliki akal budi, nurani dan rasa. Perasaan dan intuisi manusia membuat manusia penuh dalam kesadarannya. Karena kesadarannya tidak hanya bersifat rasio namun juga idealis dan metafisis.

Ilmu pengetahuan manusia tentang tubuhnya fisiknya yang membuat manusia mengerti dan memahami segala bentuk pentingnya hidup, sehingga kematian hanya merupakan fase yang dikenali dan akan terjadi. Pandangan Heidegger tentang hidup yang ada pada waktu membuat ia juga positive bahwa manusia mati pada waktu.

Sebagai roh yang mendapat tempat di dunia melalui badan, kematian adalah titik akhir dari perjalanan trandensi manusia dalam badan tertentu di bumi. Sebagai manusia yang sadar akan mati, perilaku dan karya cipta serta tindakan manusia adalah merupakan transendensi diri dari eksistensinya sebagai manusia menurut Satre. Kesadaran manusia akan kematian sangat khas dan memiliki makna, sama halnya dengan hidup. Karena ada kematianlah maka perspektif tentang hidup diberikan ruang yang baik, dibuatkan rencana selama hidup. Manusia merangkul masa kematian sebagai suatu fakta atas eksistensinya yang berwujud badan. Disinilah otensisitas manusia mengapai kebebasannya.  

Tubuh sebagai eksistensinya yang bersifat sementara  yang melayani eksistensi diri secara keseluruhan melalui implementasi kesadaran. Didalam kesadaran manusia ada pengetahuan tentang kematian. Pengetahuan tentang kematian tersebutlah yang membuat manusia menyiapkan dirinya dalam hidup. Pengisian hidup dengan segala sesuatu dipercaya merupakan langkah menuju kematian. Tubuh adalah sarana manusia menjalani dan melalui transendental diri kepada kematian. Kematian bukanlah titik akhir, karena kesementaraan tubuh tidak sama dengan keutamaan manusia. Keutamaan manusia bukanlah suatu yang identik dengan tubuhnya.  Tubuh hanya wacana jiwa yang menyatu sebagai Ada manusia. Kematian tidak mereduksi manusia dan membuat manusia hilang, Gabriel Marciel menyebut bahwa ada kekelan manusia antara lain didorong oleh cinta kasih melalui aku-anda yang intinya adalah aku anda yang mutlak. Tentunya aku-anda adalah manifestasi tubuh akan diri, melaluinya hubungan antar aku anda mewujud. Perwujudan hubungan sesama manusia adalah juga manifestasi hubungan jiwa dan badan di dalam diri masing-masing dan dengan yang lain.

Sedangkan Karl Rehner menyebutkan badan manusia dimensi esensi dan karena badannya dapat berhubungan dengan makro kosmos, namun adalah jiwa yang memiliki dimensi lebih luas dari sekedar dunia.  Keluasan manusia adalah karena manusia mahluk spiritual yang penuh misteri sama halnya dengan manusia sendiri, ada Tuhan di dalam manusia. Ketika manusia mengalami dirinya sebagai otentik yang luas melalui pengalaman pengalaman maka saat yang sama manusia mengalami “divine” God.

Kematian manusia bukanlah akhir dari eksistensi manusia. Ada dimensi di dalam diri manusia yang mengatasi kematian. Pengakuan keterbatasan sekaligus ketidak terbatasan manusia adalah suatu afirmasi bahwa manusia adalah ‘pemberian’ Tuhan. Eksistensi manusia memiliki landasan dan fundamen metahistoris; motivasi untuk membangun dunia yang lebih baik tidak dapat bertahan jika kelangsungan manusia hanya sebatas sampai mati; cinta kasih mengandung afirmasi kekalan. Manusia selalu meninggalkan jejak kebaikannya yang ilahiah yang dilakukan saat hidup. Pada saat hidup transendensi atas mewujudkan kebersatuan jiwa adalah realitas yang dialami oleh manusia. Hanya manusia yang secara sadar menggunakan dan memanfaatkan dirinya (akal budi, perasaan dan tubuhnya) untuk suatu kebaikan dan kebenaran adalah hakikat dari hidup. Hakikat hidup adalah harapan kematian. @Umi Lasminah

Etika Moral dan Kebebasan

ETIKA MORAL DAN KEBEBASAN

 Pendahuluan 

Di dalam sitematika filsafat salah satu tahapannya adalah etika, yang mempelajari praktek perilaku manusia sebagai fenomena moral dari gejala-gejala. Filsafat etika atau filsafat moral sebagai dasar berbagai etika bidang kehidupan memberi pegangan universal mengenai moral prilaku yang baik, lurus dan tepat.  Etika sebagai ilmu filsafat memiliki alat analisa kritis terhadap peristiwa dan kejadian pengalaman manusia yang menimbulkan benturan dalam diri manusia yaitu hati nurani, pikiran dan perbuatan. Melalui pelajaran etika kita dapat menelaah tindakan prilaku moral dengan analisa dan pikiran yang jernih dan lurus. Kajian etika dasar member uraian tentang kebebasan dan tindakan moral.

Kebebasan Moral

Kebebasan eksistensil adalah kebebasan terberi pada manusia sehingga dapat  menggerakkan dirinya secara fisik dan psikis untuk mencapai apa yang dikehendakinya. J.Paul Satre manusia bebas tak terbatas, sebab ia ditakdirkan bebas. Termasuk ketika manusia dibatasi, tidakan mengatasi pembatasan adalah suatu bentuk kebebasan eksistensial.

Kebebasan eksistensil bersifaf universal. Siapapun manusia di seluruh dunia, apapun latar belakang pendidikannya, apapun rasnya memiliki kebebasan eksistensil, kebebasan membuat keputusan dan bertindak secara sadar. Kebebasan eksistensil tidak dapat dinyatakan sebagai suatu yang kongkrit apabila belum dipraktikkan oleh manusia dalam bentuk action. Ketika sudah dipraktek maka kebebasan eksistensi menjadi tindakan moral. Tindakan moral merupakan exercise paling tepat dari kemampuan pengolahan dorongan suara hati dengan akal pikiran rasional terhadap kondisi dan situasi yang dialami. Pengenalan dan pengertian tentan kebebasan membuat manusia dapat dapat menemukan hakikat dirinya. Apabila terjadi persoalan etika, yang disebabkan perbenturan dengan kebebasan orang lain sebuah analisa pikiran dan suara hati akan melahirkan jawaban dan keputusan untuk berprilaku (action) yang tepat dan benar.

Kebebasan moral dapat menimbulkan masalah dan menjadi beban moral, saat seseorang tidak melaksanakan tanggungjawab dan kewajibannya. Setiap memiliki peran, status, posisi sebagai manusia yang hidup dengan manusia lain, maka ia memiliki tanggung jawab. Seorang ibu dan ayah mempunyai tanggung jawab moral untuk membesarkan, mengasihi dan memelihara anaknya.  Pada titik ini kebebasan eksistensil bukan dibatasi oleh kondisi atau situasi, namun pikiran dan suara hati yang menuntun manusia melaksanakannya kewajibannya. Bisa saja seorang bapak menggabaikan tanggung jawabnya dengan menelantarkan anaknya, sebagai bapak tentu ia akan memiliki beban moral, dan apabila sudah ada hukum yang mengatur hal tersebut bapak ini menghadapi masalah hukum. Seringkali beban moral menyebabkan problem moral yang dalam pada individu sehingga menimbulkan stress dan penyakit, tak jarang problem moral juga berlaku kolektif dan menjadi problem moralitas.

Kebebasan manusia tidak tak terbatas. Namun bisa terbatas atau dibatasi oleh kondisi. Seorang tidak dapat bebas berekspresi disebabkan kondisi tinggal di Negara dengan sistem otoriter, Secara individu  orang tersebut tetap memiliki kebebasan eksistensil, namun untuk mewujudkan keinginan berorganisasi ataupun mengeluarkan pendapat tidak dapat dilaksanakan. Ini tentu berbeda dengan pembatasan perilaku yang dibuat secara bersama-sama untuk kebutuhan dan kebaikan bersama  yaitu melalui peraturan perundangan, peraturan adat dan ajaran agama yang merupakan ekspresi kebebasan sosial.

Kebebasan moral adalah ciri hakikat hidup menjadi manusia, khususnya manusia normal dalam arti manusia tersebut tidak mempunyai hambatan fisik dan psikis  misalnya mental retarded dan atau dalam kondisi stroke. Ciri manusia dengan kebebasan moral merupakan implementasi dari kemampuan manusia mengekspresikan dirinya dalam berbagai tindakan yang dilakukan atau tidak dilakukan secara sadar dan terkait atau tidak terkait dengan manusia lain. Di dalam filsafat tindakan disebut tindakan moral, tindakan yang berimplikasi terhadap manusia lain atau dirinya sendiri.

Tindakan etis/moral manusia merupakan pengejawantahan kebebasan sejati. Kebebasan yang terberi, kebebas moral universal. Kebebasan yang merupakan kemampuan manusia menerima perintah suara hati nurani dan mengejawantahkannya setelah melalui pergulatan dan analisa rasional dan bentukan kondisional. Kebebasan moral selalu harus bernegosiasi dengan kebebasan social. Kebebasan social merupakan suatu ekspresi bersama didalam menjaga dan melindungi kebebasan masing-masing individu.

Seorang manusia dengan  kebebasan moral dapat dengan berani melawan dengan menangkis atau memukul balik ketika dia diancam peras atau ditodong. Seorang ini, sebut saja Bima ditengah jalan diminta memberikan tas yang dibawanya oleh seorang lain dengan ancaman akan dipukul. Lalu Bima menggunakan kemampuan pikirannya dan strategi untuk melindungi diri dengan menendang orang yang menodongnya lalu lari. Itulah aktualisasi kebebasan eksistensil individu,yang  mengekspresikan dirinya tidak “menunggu” polisi datang misalnya, atau orang lain lain menyelamatkannya. Kehendak untuk aman melindungi diri dilakukan dengan melawan. Mungkin usai tindakan itu Bimo akan merasakan sedikit beban moral, misalnya “apakah orang yang ditendangnya terluka” dan sebagainya, beban moral merasa bersalah yang dapat diatasi dengan mengedepankan hak manusia untuk terbebas dari tindakan criminal.

Tindakan orang melawan kejahatan adalah ekspresi kebebasan moral, sedangkan tindakan menerima begitu saja dan menyerah merupakan gambaran hambatan moral karena ketiadaan kebebasan yang menyebabkan ketiadaan kehendak. Ketika ia melakukan perlawanan, ia berkehendak terbebas dari kekerasan, menjaga hak miliknya. Sehingga dia tak hanya ingin menjaga hak miliknya tetapi melaksanakannya sebagai kehendak menjaga hak miliknya.

Ada orang lain yang mungkin ingin melawan, namun hambatan takut, menyebabkan ia tidak melawan dan menyerahkan barang miliknya dengan terpaksa kepada penodong. Keingiannya tidak terlaksana sebagai kehendaknya sebagai tindakan. Maka dengan menendang penodong adalah bukti Bima tersebut telah mengimplemtasikan kebebasan moralnya, menunjukkan bahwa Bimo memiliki kebebasan fisik-psikis.

Kompleksitas Moralitas Persoalan Masa Kini

Manusia mengimplementasikan kebebasan eksistensilnya dalam aksi moral yang dikondisikan fisik dan psikis. Kebebasan moral yang teraktualisasi dalam prilaku individu seringkali atas nama agama tertentu melakukan tindakan immoral: membunuh dan mengusir orang dengan praktek keyakinan berbeda.  Kejadian seperti disebabkan dan karena moralitas masyarakat tidak memegang teguh etika yang bersifat universal. Padahal agama adalah pegangan bagi terlaksananya etika bermasyarakat. Pemangku wewenang berlaku immoral membuat moralitas aparat masyarakat pun rendah. Tindakan manusia menakut-nakuti akhirnya tidak ada tindakan saling menghormati  didalam masyarakat, khususnya terhadap mereka yang bebeda keyakinan, padahal sifat hormat menghormati adalah kebaikan universal dan pijakan moral masyarakat baik secara adat, maupun hokum. .Kondisi seperti ini dapat menimbulkan persoalan moral dimana kebebasan eksistensil sulit diwujudkan karena terhambat oleh tekanan psikis dari orang banyak atau sekelompok pihak. Meskipun moralitas universal menganggap bahwa membunuh adalah prilaku buruk dan tidak baik, kondisi masyarakat yang didominasi keyakinan tertentu menyebabkan moral baik yang universal menjadi tidak berlaku. Pada kondisi tersebut moralitas masyarakat tidak lagi berdasarkan pada sesuatu yang bersifat universal bahkan melawan hakikat kebebasan sosial. Kebebasan sosial sebagai pembatasan yang wajar, agar kebebasan manusia terwujud dengan baik. Manusia tidak dapat mewujudkan kehendakan secara mutlak karena manusia hidup bersama manusia lain.

Kondisi masyarakat dunia dan Indonesia setiap individunya tidaklah memiliki kebebasan mutlak, kebebasan dibatasi secara wajar oleh aturan. Aturan itu sendiri merupakan konsensus bersama untuk menghormati kebebasan satu sama lain yang bersepakat untuk membuat peraturan yang  ditujukan untuk kebaikan bersama.

Moralitas masyarakat kini dipengaruhi oleh kondisi globalisasi ekonomi, social, politik dan budaya yang secara langsung dan tidak langsung mempengaruhi manusia dalam menentukan refleksi diri atas kebebasannya. Peraturan yang merupakan bagian dari pengatur kebebasan individu, kini seringkali tidak mampu menjangkau problem moral, dan hukum.

Budaya dalam bentuk gaya hidup mempengaruhi antara lain masyarakat konsumtif dan mengikuti trend. Serangan menderu pada manusia mendatangkan godaan psikis. Implementasi kebebasan antara lain terwujud kehendak dalam tindakan misalnya membeli Blackberry, Ipad,  sepeda, motor atau mobil. Keinginan mewujudkan kehendak ini  seringkali menimbulkan problematik moral bagi kalangan remaja. Media massa televisi dan media digital turut  mempengaruhi moral manusia dalam prakteknya dominan mengedepankan kebebasan individual. Kebebasan individual yang dominan seringkali tidak membutuhkan tanggungjawab, karena tindakan yang dilakukan bersifat pribadi dan tidak berkorelasi atau bertabrakan dengan kebebasan orang lain, misalnya seorang anak yang mendapatkan hadiah mobil dari orang tuanya yang kaya raya senilai 17 milyar. Bagaimana kita mengukur moral dan etikanya?  Tidak ada yang bersifat immoral dari tindakan orang kaya tersebut, namun seharusnya bisa menimbulkan beban moral  mengingat tindakannya orang kaya  tersebut dihadiahkan berlawanan dengan sifat  empati yang  merupakan etika moral manusia.

Semantara itu teknologi informasi dan digital sebagai ruang yang paling memberikan kebebasan manusia dalam mengekspresikan dirinya, artinya hampir tidak terjangkau oleh hukum formil maupun moral agama. Pemanfaatkan perangkat teknologi informsi atau digital oleh telah mempengaruhi moral universal, khususnya mengenai kejujuran. Namun dikarenakan ketidak jujuran berlangsung dan berlaku secara wajar di dunia maya, disebabkan tidak ada beban tanggung jawab dari dunia maya tersebut. Seseorang bisa saja mengaku bernama A di dalam facebook, dan menuliskan jenis kelaminnya Perempuan padahal laki-laki. Bagaimana kita mengukur kebebasan moral pada orang tersebut, tentunya dikembalikan pada kesadaran dan suara hati orang tersebu.

Penutup

Pada saat ini diberbagai belahan dunia, para pihak berwenang mengatur kebebasan manusia (Kepala Negara, Aparatur, organisasinya PBB dll)  justru tidak melakukan tanggungjawab menjaga dan mengatur moralitas malahan melakukan tindakan immoral (perang, invasi, eksploitasi dsb). Contoh tersebut menunjukkan bahwa kebebasan berkehendak manusia bisa bertingkat dan bergradasi, bagi seorang dengan posisi tinggi, misalnya Kepala Negara maka kehendak untuk mengimplementasikan kebebasan  lebih luas, dan seringkali melampaui kebebasan social yang bersifat universal. Walaupun kebebasan  manusia berkehendak sebebas-bebasnya tidak dapat tidak dapat diimplementasikan karena mahluk sosial. Sederhana, setiap manusia kebebasan eksistensil maka manusia yang satu dengan yang lain akan berhadapan untuk menghormati masing-masing kebebasan yang dimilikinya. Implementasi kebebasan itulah yang menjadi ciri dan hakikat manusia yang menjalankan etika dan bermoral.

Seneca: Penasehat Para Kaisar Romawi

Latar Belakang

Seorang filsuf sejati menuliskan pandangannya, mengajarkan, mempraktekkan tentang kebijakan dan hakikat kebenaran sebuah makna integritas. Bagaimana mengetahui integritas seseorang dapat dilakukan dengan mengkaji dan meneliti tentang keterlibatannya langsung dalam politik pemerintahan dan kekuasaan. Andil langsung tersebut mengindikasikan ajaran filosofi seorang filsuf mewarnai cara pelaksanaan kehidupan bernegara. Andil dan pengaruh filsuf tersebut terjadi pada jaman Hellenisme ketika ajaran stoicisme Yunani mendominasi, yang pengaruhnya ke Romawi dimasa kekaisaran Nero dan pendahulunya (Abad ke 30-68 M).

Para filsuf yang terlibat dalam politik kekuasaan diantaranya adalah Lucius Annaes Seneca atau Seneca. Ia bersama Burrus menjadi penasehat utama Kaisar Nero, Kaisar Romawi. Posisi Seneca, kekayaannya, kemampuan orasi, deklamasi dan menulis naskah menimbulkan banyak persepsi tentang keaslian karakter dan integritasnya. Adakah pertentangan antara tulisan, pernyataan dan karya filosofisnya dengan kehidupannya dalam lingkaran Kekuasaan. Sikap dan perilaku Seneca saat berada dalam situasi sosial, politik masa itu yang penuh konflik dan keglamoran duniawi menjadi pelajaran berharga tentang integritas filsuf dan konsistensi filosofis.

Lucius Annaes Seneca

Seneca terlahir dari keluarga kaya, didorong oleh ayahnya untuk menjadi politisi dengan belajar di Yunani. Pelajaran tentang filsafat pertamakali didapat Seneca melalui kaum Stoic di Athen. Seneca hidup ditengah ajaran stoicisme dominan sehingga berkarakter cenderung Stoic. Ajaran stoicisme menempatkan seorang filsuf dapat menjadi pemikir, pencari makna dan hakikat hidup, sekaligus berada di dalam arena nyata dunia, dengan berusaha tak larut atau terlibat/apathy sambil terus mencari ketenangan diri. Seneca menulis karyanya dalam bahasa Latin, yang memberi ruang bagi pandangan personal, menggunakan kata-kata kerja dengan kesatuan rasional dan moral seperti “willing” “wanting dan “wishing”. Karyanya antara lain Moral Letters, Dialogi dan naskah drama  Thyestes. Melalui karya-karyanya inilah sejarahwan modern dan filsuf sesudahnya memahami Seneca

Kepopuleran, kemampuan Seneca berdeklamasi, berorasi dan harta benda yang didapat dari  posisinya membuat iri lawan politik. Sejarahwan Romawi, yang sejaman, lawan politik, Tacitus (56-120M) menganggap Seneca bertindak kontradiksi dengan tulisan dan karyanya. Sedangkan sejarahwan modern menganggap Seneca sebagai  pemikir Pagan dengan nurani mulia yang menjadikan Romawi besar. Melalui tulisan ini, yang mengacu dari  “Seneca” karya James  Miller kita dapat menggali konflik dan permasalahan serta kontrakdiksi posisi Seneca sebagai filsuf sekaligus penasehat Para Kaisar.

Ambiguitas Menjaga Integritas Seorang Filsuf

Seneca adalah penasehat tiga kaisar Romawi, Caligula, Claudius dan Nero. Ketiganya adalah kaisar yang dalam sejarah modern liberal menanggap mereka sebagai penguasa yang sewenang-wenang, tiran. Bagaimana seorang filsuf dapat menjadi kaki tangan dan mengabadi pada penguasa tiran? Tidak banyak literatur tentang prilaku dan kisah kehidupan Seneca. Gambaran kehidupannya yang kaya raya, mewah diperoleh dari biografi yang justru ditulis oleh lawan politiknya Tacitus dalam Annals.

 Situasi dan kondis Seneca ditengah berbagai kejadian merupakan tantangan filsuf. Ia harus bearada diantara konfilk, skandal dan intrik serta ancaman kematian. Seneca pernah diusir ke Corsica oleh Kaisar Claudius dengan tuduhan melanggar perilaku tak bermoral dengan saudara perempuan Caligula, Julia.  Kasus tersebut membuktikan betapa sulitnya menjaga  integritas seorang filsuf. Tak ada informasi tentang pembuktian dan kebenaran tuduhan itu, namun Seneca pergi ke Corsica. Seneca juga harus menentukan pilihan, mengambil keputusan dan berhadapan dengan penguasa yang juga adalah muridnya sendiri. Kaisar Nero adalah murid, yang mengaplikasikan berbagai ilmu dan pandangannya terkait ketatanegaran, seorang yang dihormati dan memegang kekuasaan hampir tanpa batas dan bertindak apapun demi menjaga kekuasaannya itu.

Ditengah berbagai skandal dan pembunuhan Seneca tetap berupaya tetap dapat mempraktekkan stoicism sehingga  cenderung terlihat apatis. kontradiksi dan penuh pergolakan namun tetap berupaya mencapai ketenangan. Berbagai kisah sejarah tentang Seneca dalam Annals karya Tacitus berkontradiksi dengan pernyataan dan pandangan Seneca dalam Moral Letters dan Dialogi.  Kontradiksi ini sulit diterima karena Tacitus adalah lawan politik Seneca. Sulit untuk mendapatkan informasi tentang kehidupan konkrit Seneca, namun fakta bahwa Seneca memiliki keberanian mementaskan naskah karyanya dalam pertunjukkan teater bertema politik yang memuat cerita kontroversi intrik politik dan subversi, yang antara lain dalam dialognya “power follow misery and misery power, and waves of disaster batter the kingdom”[1]

Apa yang dianggap kontradiksi tentang Seneca belumlah memiliki pembuktian yang valid, terutama tentang harta kekayaan. Seneca dikenal sebagai filsuf yang ahli kontemplasi namun Seneca juga pengumpul harta benda. Namun hal ini bukanlah kontradiksi, melainkan inkonsistensi, apabila dikaji dari pernyataan Seneca dalam Moral Letters, bahwa seorang filsuf yang bijak adalah filsuf yang memiliki kebebasan menentukan apakah ia harus memiiki kekayaan atau tidak, semua harus sesuai keinginannya.[2] Sementara didalam Dialogi Seneca menunjukkan dettachment-nya terhadap harta benda, “Never have I trusted Fortune, even when she seemed to be offering peace;the blessings she most fondly bestowed upon me—money, office and influence—I stored all of them in a place from which she could take them back without disturbing me. Between them and me, I have kept wide space.[3]

Isu terkait harta benda dan kekayaan menjadi penting bagi Seneca karena ia diperbandingkan dengan Socrates yang miskin.  Terlebih kekayaannya merupakan dampak dari hubungan dan fungsi sebagai penasehat. Seneca sebagai penasehat yang dibayar Raja sehingga memungkinkannya mendapat kemudahan memperoleh harta benda. Seneca  harus mendukung kebijakan, melindungi raja yang kadangkala bertentangan dengan hakikat filosofi. Kontradiksi Seneca sejak awal dikaji dengan mempertentangkan satu pernyataan Seneca dengan yang lain, dan kesimpulan tersurat bahwa menjadi filsuf selayaknya tidak memiliki kekayaan berlebih.

 Ujian Konsitensi

Seneca bagaimanapun adalah filsuf stoic dengan pandangan bahwa  hidup yang baik adalah untuk memperoleh ketenangan, kedamaian pikiran, bahagia dan mencapai keutamaan. Berbagai kebijakan Raja adalah andil Seneca mampu memberikan kebaikan, paling tidak pada kebesaran Kekaisaran Romawi dan Kaisar Nero. Di sini pandangan filsuf mendapat ruang perwujudan yang lebih luas dalam kebijakan Negara daripada sekedar kebaikan individu. Pilihan Seneca mengabdi pada Kaisar Nero dan kaisar sebelumnya merupakan upaya kontemplasi kosmologi dalam arti menggunakan kemampuan filosofisnya untuk diaplikasikan bagi masyarakat dan kehidupan yang lebih luas.

Pilihan mengabdi pada kekuasaan bukanlah tanpa resiko. Seneca masuk didalam pusaran konflik dalam lingkar kekuasaan. Seneca berada di antara keluarga penguasa politik Romawi (Abad ke 30-65M) Claudius sang Kaisar Romawi, Messalina istri kaisar yang ternyata bigami dengan penguasa lain Gaius, Agripinna istri baru Claudius yang berambisi agar anaknya Britannicus dari suami sebelumnya menjadi Raja dan Nero keponakan Claudius yang diangkat menjadi putra mahkota.

Saat itulah Seneca berusaha memberi contoh dengan action, sebagaimana yang dinyatakan dalam Moral Letters, philosophy is both contemplative and active. Sayang tidak banyak yang digali dari kegiatan riil Seneca selain bahwa ia berada di antara berbagai konflik dan intrik politik internal Kekaisaran. Sehingga sulit untuk mengkontraskan bahwa seorang filsuf yang sesungguhnya dapat memberikan teladan.

Keahlian filosofi Seneca diuji apakah ia mampu memberi penerangan atas kebijaksaan nasehat yang diperlukan  penguasa dalam situasi yang penuh aktivitas negative dilingkaran kekuasaan.  Beberapa momen menunjukkan ketidak mampuan Seneca menanggulangi konflik internal dan eksternalnya, diantaranya saat terjadi pembunuhan atas Claudius oleh Agripinna, dan ketika Nero membunuh Britannicus karena terlacak adanya upaya Agripinna untuk memposisikan Britannicus sebagai Raja. Di dalam peristiwa tersebut Seneca menampilkan stoicnya, apatis. Dilain situasi ia aktif dan terlibat mencegah terjadinya tindakan tercela dari Agrippina terhadap Nero. Pencegahan yang  dikemudian hari membuat Agrippina dibunuh Nero. Pada sisi ini ajaran stoicisme menunjukkan kesesuaiannya. Filsuf menjadi alat legitimasi, dan diperalat untuk fungsi penegakkan kekuasaan, namun bisa juga dilihat sebagai bentuk kesetiaan seorang bawahan terhadap atasan yang memperkerjakannya, seperti yang dikatakannya dalam Moral Letters “It is a mistake to believe that those who have loyally dedicated themselves to philosophy are stubborn and rebellious and defiant toward magistrates or king..” [4]

Konflik Bathin dan  Menghalau Keraguan

 Bertahun-tahun menjadi penasehat utama Kekaisaran Romawi  konflik bathin Seneca tidaklah muncul dikarenakan konflik dan intrik, bagi Seneca, pembunuhan dan perebutan kekuasaan adalah ciri Kekaisaran Romawi. Bahkan Seneca menuliskan bahwa seorang raja sebagai wakil para dewa dengan kekuasaan absolut sehingga langkah  apapun sah demi menjaga kewibawaan dan keteraturan Negara. Konflik batin justru saat mana Seneca mengedepankan moralitas terkait situasi yang dialaminya secara personal, Ia mulai merasa jijik dengan apa yang dilakukan Nero mencuri ornamen kuil untuk menghias istananya. Sehingga mengucapkan “Im ashamed of HumanKind” [5]
Seneca memiliki keinginan dan kebebasan bertindak namun tidak terpenuni karena ia harus tunduk pada Raja yang dihormatinya, yang kemudian menghina dan melawan semua filsuf. Seneca ingin mengundurkan diri untuk sepenuhnya  menjadi stoic menjauh dari publik. Namun Kaisar Nero menolaknya. Seneca secara jujur menyebutkan bahwa dia telah berada dalam kenyamanan yang berlebihan bahkan kekayaan duniawi yang tidak pantas bagi seorang filsuf.  Ia juga merasa tidak nyaman untuk dipersamakan dengan Socrates, karena ia sadar bahwa kehidupannya masih dalam kerangka penuh inkonsistensi.

 Misteri Untuk Terus Diungkap

 Membaca dan meneliti kisah hidup Seneca tidak cukup diperoleh dengan memperbandingkan karya yang ditulisnya dengan apa yang dialami dalam hidupnya, misteri hidupnya layak terus dipelajari. Terlebih lagi bila informasi tentang kehidupannya memakai data Tacitus, saingan politik Seneca. Ada filsafat moral yang melingkupi dan mempengaruhi seorang untuk mengambil langkah tertentu. Permasalahan bagaimana kondisi dan hirarki yang terjadi antara filsuf dan Raja tak terlalu dibahas. Padahal upaya para filsuf saat bekerja untuk kekuasaan merupakan keyakinan untuk mewujudkan kebijaksanaan yang lebih luas melalui Penguasa, akan tetapi para Raja akhirnya menjadi tak tertarik pada filsafat. Kaisar Nero pun memusuhi para filsuf.

Masyarakat modern, meneliti dan mengkaji kehidupan Seneca dengan memakai perspektif Hak Asasi Manusia abad ke 20, maka akan Seneca kehilangan integritasnya sebagai filsuf, karena mengabdi pada pelanggar HAM. Namun dalam konteks kesejarahan kita tidak bisa menggunakan perspektif kekinian untuk menghakimi sikap dan tindakan seseorang didalam kondisi social, politik, dan budaya yang jauh berbeda, terlebih Seneca tegas memilih jalan hidupnya di filsafat hingga akhir hayatnya.

Rangkuman

 Seneca adalah filsuf dengan integritas seorang stoic. Hidup berada di antara keramaian perang, konflik namun tetap tak bergeming, berkarya dan menemukan ketenangan diri. Kehidupan personalnya  masih menjadi misteri, namun andilnya bagi kejayaan Romawi tak dapat dipungkiri. Integritasnya sebagai filsuf diabadikan disaat kematiannya.

Pada masa hidupnya ia berusaha menjalani sebagaimana yang dituliskannya. Bagi Seneca, kaya miskin tak menghalangi manusia berbuat kebaikan dan kebijakan. Sampai akhir hidupnya ia menjadi filsuf besar dan terkemuka yang menjadi martir. Seneca memilih membebaskan dirinya dan meminum racun dan menjemput kematian bersama istrinya Pompeia Paulina. Kehidupan filosofisnya berakhir sebagai stoic, ketenangan sebagai pilihan. Setelah hingar bingar sebagai filsuf  yang membesarkan Romawi, Seneca memilih jalan kebebasannya sendiri.


[1] Seneca,Thyestes,33-36 (in the translation of Caryl Churchill, London:Nick Hern Books, 1993) dikutip dari James Miller 2011) Examined Live from Socrates to Nietzche ( New Yok, Farrar, Straus and Giroux, 2011), hal.120.

[2] James Miller, Examined Live from Socrates to Nietzche ( New Yok, Farrar, Straus and Giroux, 2011), hal.117.

[3] Seneca, “Dialogi, XII De Consolatione ad Helvia, v,4”, ibid..

[4] Seneca, Moral Letters. Ibid.hal.135

[5] Seneca, Moral Letters. Ibid.

Blog at WordPress.com.

Up ↑