Search

wartafeminis.com

Indonesia Feminist Theory and Practices

Category

Good Book Great Thought Review by Umi

My Favorite Great Feminist Writers

Feminism is for Everybody, passionate politics oleh Bell Hooks,

Sexual Contract oleh Carole Pateman

War Against Women oleh Marylin French,

Towards Feminist Theory of The State oleh Catherine MacKinnon

Whole Women oleh Germaine Greer

Susan Mausart, WIFEWORK what marriage really means for women

Judul : WIFEWORK

what marriage really means for women

Pengarang : Susan Maushart,

Penerbit : The Text Publising Company Melbourne: 2001

Halaman : 269

 

‘The ploretarian is dead, long life the housewife’ (Claudia von Werlhof)

 

Perkawinan adalah artefak yang terus menerus di adopsi untuk kelangsungan hidup manusia. Ia tidak sekedar institusi, tetapi salah satu strategi yang untuk mempertahankan keturunan, keberlangsungan hidup manusia. Klise kelihatannya, tapi Susan Maushart dengan bukunya yang sangat personal dan buka-bukaan, kadang berlebihan, berhasil mengelitik kesadaran dan perasaan pembaca. Membuat tersenyum dan mengerutkan kening. Sebagai buku yang juga memaparkan berbagai hasil penilitian soal keluarga, bergaya bahasa Autralian-English, dan tutur yang lugas seadanya, Ia berhasil menanamkan pemikiran dilematis dan tajam. Beberapa faktanya juga diangkat memakai analogi, kadang nyambung kadang tidak, tapi tetap relevan dengan keseluruhan makna yang coba disampaikan. Terutama sekali dalam konteks masyarakat berbahasa Inggris (Canada, Amerika Serikat, Inggris dan Australia) sebagai rujukan. Buku ini tentang mereka, bukan Indonesia yang punya pembantu rumah tangga, bukan pula negara Skandinavia yang punya peraturan negara soal keluarga. Korelasi perempuan dan laki-laki serta, pekerjaan rumah tangga istri (yang tak dibayar – wifework) dan perkawinan dibedah dalam buku ini. Mengapa perempuan mau menikah dan masuk ke institusi dengan konsekwensi wifework dihadapannya. Memuat serangkaian kegelisahan, kebimbangan psikologis dan ekonomi perempuan kelas menengah yang juga bekerja. Menghadirkan Antiklimaks, dibuka dengan menguraikan fakta dan asumsi pandangan ‘mengerikan’ negatif tentang perkawinan, diakhiri dengan harapan perkawinan bagi kelangsungan hidup manusia dan kebahagiaannya. Tak lupa menyajikan realita dengan bumbu-bumbu gaya bahasa populer–yang agak berlebihan. Karena biasanya untuk tulisan ilmiah, kesan, dan imbuhan bermakna opini jarang ditambahkan, buku ini cukup banyak memakainya. Seperti…OK.OK Enough Already…atau mind you..,seakan menjawab kegusaran pembaca karena panjangnya cerita pengalaman pribadi yang ditulis di halaman 30. Penulisnya sendiri pernah menikah dua kali, bercerai dua kali dan menjadi orang tua tunggal buat tiga orang anak.

 

Perkawinan

 

Perkawinan monogami, menjadi lembaga tujuan hidup perempuan, paling tidak fase baru pengalaman hidup perempuan dan menjadi tempat berlindungnya. Tapi sebaliknya, itu pun lebih merupakan harapan ideal perempuan tentang perkawinan. Pada realitasnya, hasil penelitian memperlihatkan perempuan menjadi lebih tidak bahagia, 80% pengajuan cerai dilakukan oleh perempuan (hal.123 ). Lebih lanjut, penelitian juga melukiskan kontinuitas dan bertambahnya wifework (apabila punya anak) dalam perkawinan, tetapi semakin berkurangnya wifework saat bercerai (tak menikah, tetap lajang)dan laki-laki menjadi lebih bahagia dengan menikah, lebih terurus, serta kehidupan seksnya lebih baik.

 

Ada banyak pergeseran tentang konsep perkawinan, terutama pada makna istri, menunjukkan adanya perubahan yang signifikan pada perempuan melihat perkawinan, tetapi tidak pada laki-laki. Jadi ada yang tetap dan ada yang bergeser. Kebutuhan perempuan dan laki-laki untuk menikah. Laki-laki lebih konservatif menilai perkawinan. Fakta dan data provokatif menguak kegelisahan yang amat sangat perempuan menikah. Sepertinya perempuan Indonesia tidak sedahysat pengalaman saudarinya di negara tersebut di atas, meskipun tentunya Pseudomutuality-nya tetap ada. Suatu situasi di mana sesungguhnya ada ketidak cocokan (terutama pada perempuan), tetapi keduanya tetap menahan diri untuk perkawinan dan berpura-pura saling membagi secara egaliter, padahal tetap saja peran yang stereotip gender ada di dalamnya.(hal.22). Perubahan yang cepat atas kondisi dan status perempuan dibanding ratusan tahun lalu, tidak diimbangi oleh perubahan pihak laki-laki tentang perkawinan, telah menyebabkan perempuan sulit bahagia. Karena ternyata hasil penelitian membuktikan institusi perkawinanlah, ranah kehidupan yang belum beranjak untuk melakukan perubahan pola ketidak adilan gender. Division of emotional labor, perempuan harus menjadi “istri” dengan jobdeskripsi tersulit menjadi “Relationship Manager”, penjaga harmonisasi rumah tangga, bagian dari full-time job(hal16)

Bagaimana pun perkawinan adalah suatu lembaga kompromi antara perempuan dan laki-laki. Ada tiga stake holder di perkawinan bila ada anak. Suami-Istri-Anak. Pada akhirnya secara struktural ada tiga peran stakeholder ..the result is a role structure which benefit men enormously, children adequately, and women insufficiently (hal.14) Orang menikah dan membentuk keluarga untuk berketurunan. Atau sederhananya, Susan Maushart menyatakan, bahwa laki-laki menikah dan punya anak maka ia akan punya Certificate of Ownership sedangkan perempuan punya Contents Insurance (hal.42) Dalam kondisi masyarakat umum di mana pun, perkawinan dicoba untuk dipertahankan demi anak. Bagi perempuan, sesungguhnya kehadiran anak juga merupakan kerja tambahan, dan untuk pekerjaan ini ia butuh pendukung, suami. Pekerjaan mengurus anak adalah tuntutan moral pada istri, tidak pada suami. Berbeda dengan binatang mamalia yang setelah lahir cepat mandiri, anak manusia membutuhkan bimbingan lama. Ini pulalah yang membuat perempuan sulit untuk membesarkan anak tanpa dukungan pihak lain. Mungkin saja seorang laki-laki juga mengasuh anak, tetapi mengasuh anak tak pernah menjadi job deskripsi laki-laki saat menjadi suami, sama sepertihalnya, menjadi pencari nafkah tak pernah masuk jobdesk perempuan saat menjadi istri. Meski kadangkala keduanya mungkin melakukan keduanya, tapi faktanya menunjukkan perempuan karena gendernya, melakukan pekerjaan rumah tangga atau second shift bagi perempuan juga bekerja di luar rumah, lebih banyak dibanding lelaki.

 

Mengapa Perempuan Menikah

 

Perempuan menikah dan memasuki perkawinan monogami, karena empat alasan kebutuhan; reproduksi, ekonomi, sosial dan psyko-seksual. Agar bisa membesarkan anak, agar bisa mendapat kestabilan ekonomi, agar bisa mendapat identitas sebagai orang dewasa di komunitas dan agar mendapat pengalaman cinta dan berpasangan.(hal.60) Prioritas dari ke empat itu kini berubah. Kadang kala, tanpa menikah pun perempuan bisa mendapatkannya. Laki-laki menikah untuk hal yang sama untuk menjaga dan mengetahui keturunannya, mendapat pelayanan seksual, sosial, emosional dan pisikal dari perempuan. Penelitian tentang perempuan dan laki-laki lajang menunjukkan, bahwa perempuan tidak terlalu lagi menganggap penting perkawinan. Bahwa perkawinan masih menjadi penting bagi perempuan adalah karena anak. Mempunyai anak, penelitian menunjukkan hanya 11% dari pasangan subur yang tak memiliki anak (hal 36). Bagi perempuan tentu saja penting untuk menikah dan punya anak, karena mulai dari menyusui hingga umur tertentu masih memerlukan perhatian ibu, dan ini perlu bantuan orang lain pula, suami. Sederhananya, perempuan …want a mate to protect and provision them and their offspring—at least until those offspring are off their hands (hal.36). Untuk memperoleh hal ini perempuan harus membayar dengan harga, kehilangan otonomi seksualnya, kehilangan garis keturunannya sendiri, bahkan terputusnya tali solidaritas dengan perempuan lain.

Bagaimana pun perkawinan adalah suatu yang hanya bisa dihasilkan dari interdependensi, maka itu monogami adalah pilihannya. Sementara bagi perempuan monogami juga menolongnya tidak menghadapi terus menerus melahirkan, dan mengalami penderitaan persalinan. Tentunya alasan ekonomi, psiko-seksual tetap menjadi penting. Karena hingga hari ini pun, perempuan masih mencari laki-laki idaman sebagai suami minimal dengan penghasilan yang lebih tinggi apabila tidak intelektualitasnya. Sepertinya perempuan pun sudah tahu konsekwensi yang dibayar untuk keamanan yang di dapat dalam perkawinan, yaitu menjadi wife-istri dengan sejumlah jobdeskripsinya. Situasi pembagian peran berdasarkan gender yang menempatkan perempuan yang tidak berubah sejak berabad-abad lamanya.

 

Pekerjaan Rumah Tangga = Gender

 

Sistem patriarki telah melekatkan pembagian maskulin dan feminin dalam penguasaan dua jenis kelamin. Maskulin pada laki-laki dan feminin pada perempuan. Ada benarnya apabila itu menyangkut takdir melahirkan, tapi pada kenyataannya konstruksi sosial telah menjadikan maskulin menguasai feminin. Tidak sulit untuk menemukan species yang berciri penguasaan jantan atas betina.

 

Seperti halnya disebutkan di atas, mengapa perempuan menikah, laki-laki pun melakukan perkawinan monogami, untuk berketurunan, sebutlah …it’s the ncxt best thing to having a womb of one’s own (hal. Di sinilah mulai pembagian kerja berdasar gender, feminin maskulin di rumah tangga. Sewaktu perempuan melahirkan, serta menyusui dan mengasuh anak—waktunya panjang, dibanding mamalia lain, maka laki-laki mencari uang, ke luar rumah, providing needs, menjaga agar anak dan istri tidak di mangsa mahluk lain. Hal ini kemudian secara terus menerus dijadikan sebagai hal yang natural-alamiah, padahal itu konstruksi sosial. Konstruksi sosial yang terus menerus diadopsi karena masih diperlukan. Problemnya dalam pembagian ini perempuan mengurus rumah dan terus melakukan rutinitas, dunia berubah dan berkembang. Equal opportunity di mana-mana, perempuan sudah bekerja di luar rumah, bahkan jadi presiden dan perdana mentri, tapi peran wife tetap saja ada dan sama. Perempuan sudah jadi presiden dan pergi ke bulan, tetap saja sdi rumah ada peran gender yang tak terbongkar.

 

Perempuan, kadangkala juga harus menjadi ibu-mother, bila punya anak. Suatu yang apabila terjadi equal sharing untuk mengurus anak, seharusnya tak ada lagi kesalahan di timpakan pada ibu, apabila ada sesuatu terjadi pada anak, termasuk bercerai. Akan tetapi, tanggung jawab moral terhadap anak, lebih dibebankan pada ibu. Apabila laki-laki mengurus anak, atau melakukan pekerjaan rumah tangga maka ia dipuji, sementara perempuan, taken for granted karena itu sudah menjadi peran gender-nya. Meskipun kehadiran ayah tak terlalu memberikan kontribusi bagi anak, bahkan sebaliknya menurut penelitian kehadiran anak yang memberikan pengaruh baik bagi ayah, tetap saja, perempuan membutuhkan equal sharing, untuk meringankan beban emosional dan kerja. Hasil penelitian menunjukkan adanya equal sharing memberi kebahagiaan pada perempuan, ternyata malah membuat laki kurang bahagia.

 

Bagaimana pun pembagian gender dalam rumah tangga masih kentara hingga kini. Perempuan masih sulit menolaknya, Wifework, barter antara perempuan dan laki-laki, atau sogokan agar laki-laki tetap tetap terikat padanya (hal.35). Bagi perempuan wifework, mau tidak mau dihadapinya, sebagai unwritten contract into which woman enters upon marriage.The job description most uof us were determined would never apply to us(hal.17) Wifework adalah kompromi terbesar perempuan dalam perkawinan, inilah salah satu bentuk gender yang belum berhasil dibongkar, ketika di hampir semua ranah hidup publik sudah berubah, justru di dalam rumah tangga belum beranjak. Serangkaian pekerjaan yang dilakukan banyak perempuan dalam perkawinan. Ada banyak contoh yang dituliskan dalam jobdeskripsinya seperti melalukan pekerjaan rumah tangga dengan tak dibayar, menjaga kestabilan emosi suami (mulai dari menyiapkan celana dalam hingga kehidupan sosial), menjaga kebutuhan intimasinya (termasuk jadwal libidonya), menjaga dan mengurus anak serta membuat rumah tempat yang enak dan nyaman buat seluruh keluarga…dan lain-lain.

 

Jelas sekali bahwa perkawinan sulit memberikan suatu alternatif yang akan membawa perempuan pada kebahagiaan. Karena, masyarakat mengkonstruksi bahwa kebahagiaan dan cinta seorang perempuan adalah diwujudkan pada saat ia menyenangkan orang lain. …women are expected to find their primary gratification through the gratification of other… (hal 55) Nah apakah perempuan berani menyanggahnya atau kah memang tetap dalam konstruksi itu. Penulis menutup buku dengan harapan”,..Marriage must be made to serve wives at least s much as wives serve marriage, if women are to be induced to participate in it…When our words and our deeds are no longer two but one—as partners in marriage are meant to be—we’ll know we have succeed.(hal.239)

 

 

Umi Lasmina

 

Penulis, pemerhati musik, women’s studies, dan astrologi

 

 

 

Blog at WordPress.com.

Up ↑