Search

wartafeminis.com

Indonesia Feminist Theory and Practices

Category

Hanya dari Hati

Orang-orang Sombong

Orang-orang sombong

@umi lasminah

orang-orang sombong

aku berhadapan dengan orang-orang sombong

kesombongan yang membakar kemaluan
menghanguskan kebersahajaan

kesombongan adalah arogansi
melunturkan risih
menistakan kesantunan

membesarkan gengsi
merekatkan rasa benci pada aksi

keangkuhan jua sama
meninggikan diri merendahkan sesama
melupakan Tuhan

orang-orang sombong kutemui
berwajah tampan, bermuka cantik

mereka berbaju kekayaan, berpakaian status
sering tak tahu berlagak tahu
semata-mata malu pada kebenaran

orang-orang sombong
tak mau tahu
tak peduli yang bukan diri sendiri

orang-orang sombong
tersesat dalam kelemahan
tak tahu jalan keluar
selain mengangkat diri sendiri

september 2008, 25

MENOLAK GOLPUT: SEMATA-MATA DEMI TANGGUNG JAWAB KOLEKTIF

MENOLAK GOLPUT: SEMATA-MATA DEMI TANGGUNG JAWAB KOLEKTIF

Umi Lasminah

Wacana Golput: Langkah mengkerdilkan partisipasi Politik Kolektif

Ada suatu hal yang sampai saat ini tidak saya mengerti sebagai warga negra yang baru saja belajar berpollitik. Di saat menjelang pemilu menjelang pemilu legislative ini, wacana golput menjadi marak kembali. Wacana golput dimasa Orde Baru itu bisa dimengerti, partai-partai saat itu tunduk pada Soeharto,caleg-caleg tidak dikenal,mayoritas berasal dari keluarga kerabat para penguasa. Saya sepakat dengan ibu Megawati saat mengucapkan hal tersebut di Kick Andy, dimana dalam menjalani dan mengisi kemerdekaan tidak ada grey area bagi warga Negara tapi hak dan kewajiban yang dijalankan secara sadar dan penuh tanggung jawab. Saya mengerti ini sebagai bagian dari penghargaan, dan penghormatan pada mereka yang berjuang dengan mengorbankan darah, air mata dan nyawa bagi sebuah Negara Merdeka. Maka menjadi warga Negara yang sadar merupakan tanggung jawab atas apa yang telah dititipkan oleh pendahulu pejuang Kemerdekaan.

Ada banyak wacana di media massa, di emailist yang mendukung dan mendorong golput. Bahkan salah satu pemimpin bangsa mendorong golput karena alasan yang saya tidak tahu pasti, apakah terkait dengan pecahnya partai atau memang menganggap tidak ada seorang pun dari partai-partai yang jumlahnya 44 partai dengan (caleg Nasional yang berjumlah 11ribuan)cukup dapat dipercaya dan mampu melaksanakan amanat mewakilinya menjalankan tugas negara membuat UU, menyusun anggaran dan mengawasi pemerintahan. Bahkan ada salah seorang yang pada Pemilu 2004 tidak ikut mencoblos karena golput, pada tahun 2009 ingin mencalonkan diri jadi Presiden dari pihak Independen. Begitu antusiasnya sampai mengajukan review ke Mahkamah Konstitusi. Buat tindakan orang ini sah-sah saja, tapi realitas politik bangsa Indonesia tidak dapat dilepaskan dari fakta sejarah, kondisi ekonomi, tingkat pendidikan rakyat dan budaya. Demokrasi a-la Amerika Serikat (dengan pemilihan langsung, dan system pemilu distrik) bisa saja cocok dan layak diterapkan di Negara Paman Sam, yang demokrasinya sudah berjalan ratusan tahun.

Indonesia, demokrasi dengan system memilih pemimpin langsung, baru dimulai pada 2004, belum genap 5 tahun. Sudah hendak diajukan sistem baru. Bukankah melaksanakan sistem, mengubah budaya bagi bangsa yang seluas, seheterogen Indonesia tidak dapat dilakukan dalam hitugan satu-dua tahun saja, kecuali memang ada AGENDA dibelakangnya (yang tidak menginginkan Negara Indonesia besar dan Jaya, sebagaimana yang dicita-citakan Pendiri Bangsa. Yang pasti, para pendiri bangsa jika mereka masih hidup tidak akan menganjurkan Golput. Hak Politik memilih pemimpin secara kolektif disia-siakan begitu saja. Kolektif adalah mereka yang aktif turut dalam partisipasi PEMILU memilih partai. Sedangkan individu adalah mereka yang golput. Sama halnya dengan mereka yang memperjuangkan calon Independen. Gembar-gembor calon independen tak lebih dari liberalisasi politik. Individualisme yang seakan-akan dibungkus oleh HAM. Tak heran Soekarno dulu sempat menolak Bill of Rights, dengan alasan akan mengagungkan kepentingan pribadi (independen, perseroangan) Depolitisasi:Semakin Rakyat tidak Sadar Politik, Semakin Kekuatan Ekonomi Politik Luar dapat Mencengkram Indonesia Tidak berhenti pada menyebarluaskan wacana golput di Media massa.

Agen-agen yang tidak menginginkan Indonesia menjadi besar dan Jaya, terus saja berupaya membuat Bangsa Indonesia terus bodoh (pura-pura pintar karena mereasa mempraktekkan demokrasi dan HAM), dengan menghembuskan propaganda anti partai, anti DPR-Parlemen, dan anti demokrasi. Propaganda ani partai dilaksanakan oleh lembaga yang didukung oleh pendanaan pihak luar negeri (Amerika Serikat), dibuatlah survey, dan penelitian, dinyatakanlah bahwa: Partai Adalah Lembaga Terkorup, dengan rangkin tertingi Propaganda terus juga dilanjutkan dengan menyebutkan bahwa, lembaga Negara yang menjadi alat Partai, alat Rakyat, DPRRI Punya Kinerja Paling Buruk. Begitu buruk citranya apapun kerja yang dilakukan anggota DPRRI yang turun kebawah, memperjuangkan aspirasi rakyat melaui UU tidak ada artinya. Kekuatan media menjelek-jelekan DPRRI yang mendapat pembenaran melalui opini maupun survei terarah.Persepsi buruknya partai politik, rendahnya kinerja DPR yang dihembuskan organisasi-organisasi yang notabene didanai Asing, akhirnya mengarah kepada kematangan menjadi persepsi publik. Akan tetapi publik yang mana? Yang sadar media? Tidak pernah terlibat politik,tidak peduli poltik,atau mereka yang memiliki kesadaran bahwa Politik dapat Menjadi Penjaga Peradaban, Penerus Cita-cita Proklamasi. The Invisible Hands Realitas kehidupan bangsa Indonesia maupun kehidupan politik rakyat Indonesia, banyak penguasa-penguasa tak terlihat ‘Invisible Hands/Mind’ yang terus menjaga agar Indonesia tetap terpuruk, rakyatnya apolitis, dan Negeri yang Tanpa Harga Diri. Semua terjadi karena lemahnya kesadaran politik bahwa menjadi bangsa yang merdeka adalah bangsa yg menghargai pahlawanya,bangsa yang bangga pada perjuangan pendahulunya. The invisible hands ini sebenarnya kelihatan juga. Mereka adalah orang-orang yang duduk dalam posisi penting di berbagai lembaga Negara, maupun lembaga swadaya masyarakat yang menjaadi sumber utama pemberitaan media. Umumnya mereka adalah orang-orang terdidik dari Amerika Serikat, atau paling tidak memiliki kedekatan dengan masa lalu (keturunan)yang terkait dengan salah satu agen perubahan dan desainer Orde Baru. Sebut saja orang-orang ini bagian dari desainer ekonomi Indonesia saat Orde Baru , atau desainer sistem politik Indonesia menjelang Reformasi. Tanpa bermaksud menyebutkan salah satu partai di masa lalu, kalangan ini rata-rata memang pintar cerdas, terpelajar, kaya raya dan sangat dekat dengan Amerika Serikat. Bahkan umumnya juga punya visa keluar masuk Amerika Serikat.

Salah seorang dari mereka menganggap bahwa, kerja-kerja kader-kader mereka menduduki pemerintahan dan jabatan-jabatan strategis, mereka bukan organisasi massa. Sistem Pemilu baru didorong, Bukan berarti turut serta Itulah sebabanya, kini bentuk dan sistem demokrasi Indonesia jauh dari yang pernah dibayangkan oleh para pendiri bangsa, yaitu demokrasi ada untuk kesejahteraan rakyat bukan demokrasi untuk demokrasi. Demokrasi dengan sistem pemilihan langsung adalah demokrasi yang diendorse oleh para aktivis LSM- pada tahun 1998. Mereka turut menjatuhkan rejim Soeharto. Akan tetapi banyak dari LSM atau CSO(Civil Society Organisasi) yang dulu mendorong demokratisasi politik,ternyata tidak turut serta dalam demokrasi yang diusulkannya sendiri, dengan kata lain mereka tidak ikut memilih, tidak ikut partai politik dan tetap anti partai (seperti yang dihegemonikan oleh Orde Baru). Tidak sedikit beralasan belum ada partai yang baik, belum percaya pada caleg-caleg, akhirnya tak menjatuhkan piihan pada partai apapun. Padahal sistemnya mereka yang dorong, sistem yang membuat informasi lebih terbuka, lebih demokratis, eh tidak juga mereka turut mempraktekan ketika sistem tersebut sudah jalan. Yang lebih parah lagi sudah menjatuhkan Judgement bahwa tidak ada partai yang baik, sementara, bagi para aktivis yang punya akses informasi, dapat mencari tahu tentang ideologi partai (platform) dari berbagai sumber. Dapat mempelajari lewat AD/ART, atau melihat sendiri praktek partai trsebut di lapangan oleh kader-kadernya.Nyatanya hal itu pun tidak dilakukan. Entah alasanya apa, malas?

Saya melihat fenomena yang ada merupakan skenario besar untuk mendepolitasi kembali warga negara, menjauhkan rakyat dari kesadaran politik (bahwa mengexercise politik WN,dalam PEMILU, adalah pengambilan keputusan secara koletif untuk tujuan kolektif ke arah yang lebih baik). Sementara Golput adalah memilih tidak mengambil keputusan,dan akan berdampak delegitimasi pemenang pemilu. Bahkan salah satu pemimpin CSO mau menghapuskan gambar partai dari kertas suara, yang artinya mau menghilangkan symbol kolektif rakyat yang memiliki kesamaan cita-cita atau kepentingan. Padalal runtutan sejarah Negara Indonesia menjadi seperti sekarang juga bermula dari organisasi, dari partai politik, Indiche Partai. Organisasi adalah kerja kolektif untuk kepentingan kolektif. Sekarang LSM-LSM yang notabene juga organisasi mau mengedepankan individu, perseorangan dalam ranah public, politik…saya masih belum mengerti alasannya.

Partai Tentara, Siapa Peduli? Ada yang juga mengkhawatirkan lagi adalah, fenomena kelahiran partai-partai politik dari kalangan yang dulu,pada masa pra reformasi menjadi momok para aktivis, dan LSM pembela HAM. Partai-partai politik ini tidak hanya dimotori oleh kalangan tentara maupun mantan tentara, akan tetapi juga hendak mengembalikan supremasi militer di tanah Indonesia. Kekuatan organisasi masyarakat sipil tidak mampu membendung kekuatan yang tidak hanya kuat secara ekonomi, juga rapi dan terstruktur serta memiliki disiplin yang mayoritas ada pada militer. Saya masih ingat bagaimana AsmaraNababan dan Munir,dlm satu ptemuan diskusi di Gedung Joeang 45 pada  tahun2 sebelum pemilu 2004 yang membahas pelanggaran HAM yang tdk jua selesai dan pelakunya tak jua diadili bergagas untuk mendirikan partai, keduanya sadar bahwa kekuatan Politik legal yang dapat menjembatani rakyat dan menempatkannya pada kekuasaan, dan wewenang, adalah Partai Politik.

Di samping itu kekuatan lain yang mencemaskan jatidiri Negara bhineka adalah, kekuatan anti demokrasi yang didukung oleh partai yang sektarian agama. Kekuatan partai ini tidak hanya tidak dapat dihalangi oleh kemampuan LSM dan aktivis, akan tetapi Partai sectarian agama ini dengan kemampuan dua mukanya, bisa memanfaatkan media massa untuk propaganda iklan tentang sesuatu yang bukan mereka. Iklan-iklan yang ditampilkan sangat berbeda dengan AD/ART partainya, dengan maksud tujuan pendirian partai, yang bahkan bertentangan. Alih-alih mencoba menempatkan diri sebagai partai yang suci, santun, menghargai pahlawan, kebutaan akan sejarah telah membuat partai ini mencoba membuat imej baru pada partai yang jelas-jelas sektarian, menjadi partai yang plural. Pemilu tahun 2009 ini sebenarnya ada titik terang dari masuknya para aktivis pembela HAM ke dalam partai politik, bahkan menjadi caleg pada posisi nomor urut baik, yang (sebelum keluar Keputusan MK tentang Suara terbanyak) bisa jadi anggota DPR. Disadari atau tidak oleh mereka, cara masuk ke dunia politik duduk dalam insitusi Negara, adalah cara yang paling strategis untuk membendung kekuatan sektarian. Memperkuat fungsi Partai Sejarahnya, partai poltik yang menjadi cikal bakal pergerakan kemerdekaan, dimulai Indiche Party, Partai Nasional Indonesia 1927 dst.

Mengapa parpol begitu penting? Karena dseluruh dunia, parpol adalah salah satu institusi negara yang legal, resminya untuk menjadi perantara perjuangan dan perwujudan kepentingan kebutuhan rakyat. Partai politik adalah institusi yang membawa perubahan akan nasib suatu bangsa. Bagaimanapun kekuatan rakyat, tidak dapat menjadi benar-benar kuat bila tidak ada pengorganisasian, tidak ada persatuan dan gotong royong. Sekarang yang diperlukan adalah memperkuat fungsi politik partai. Memperkuat manajemen kepartaian, dan kemandirian pendukung-pemilih partai. Bukan sebaliknya. Hari ini tanggal 1 Maret 2009 Kompas pada halaman menuliskan tentang revitalisasi partai. Akan tetapi pada saat yang sama, di halaman Kompas menulis buruknya tatakrama DPRRI. Tatakrama yang sebenarnya dilindungi oleh hak imunitas anggota DPRRI, bahwa anggota DPRRI dapat bicara apa saja di ruang sidang. Menurut saya propaganda deparpolisasi melaui tulisan-tulisan yang buruk tentang DPRRI layaknya ditulis secara lebih proporsional dan mendalam. Padahal Kompas (Sabtu, 28 Februari, 2009) sebelumnya telah menulis bahwa fungsi Partai untuk menagregasi kepentingan rakyat mungkin dilaksanakan, dan bukti-bukti sudah ditunjukkan…Akan tetapi dilihat dari frekwensi pemuatan berita buruk tentang DPRRI disbanding berita baiknya, rasanya masih tidak balance. Selayaknya pula, jika ingin melanjutkan kritik pada lembaga legislatif, selayaknya dilakukan secara berimbang, bahwa di eksekutif, di kantor Departemen-departemen, PNS-PNS yang kerjanya main game, baca koran, dan kalau ada warga butuh pelayanan (khususnya di Departemen non pelaksana langsung pelayanan public) warga dilempar sana lempar sini. Belum lagi gaji dan tunjangan dirjen-dirjen atau pejabat eselon I-IV, juga dengan proyek-proyek di departemen-departemen berfoto folio.

Yang paling baik adalah, para aktivis masuk ke partai (apa saja) atau menjadi simpatisan, maupun konsultan, ikut mempengaruhi politik baik langsung di parlemen, atau di luar secara konsisten. Ketimbang marah-marah dan mencaci maki, dan membuat judgement yang tidak kondusif bagi perkembangan politik Indonesia…. Golput kini bukanlah untuk perlawanan dibanding saat Orde Baru, civil disobedient juga bukan….lalu anda mau apa…

bagi orang-orang yang tidak terjun di partai, tidak ikut menjadi simpatisan partai, yang paling mudah adalah menjudge, menghina, akan tetapi sumbangsih apa yang bisa dilakukan lakukan. Negara ini bukan didirikan dengan sekedar darah airmata, dan mimpi membangun bangsa setelah Jembatan Emas (merdeka), tapi kerja keras kerja keras dan kerja keras bersama rakyat, terutama rakyat yang sadar…sehingga rakyat yang sadar ini TIDAK digolputkan dengan dihapuskan namanya dari DPT dan diam saja. Hak politik, memilih dalam Pemilu bisa dihilangkan oleh pihak-pihak yang menginginkan kekuasaan, menghapuskan ‘identitas’ manusia warga negara, dan hanya dengan perjuangan kolektif WN hak ini bisa dijaga di perjuangkan, sama halnya dengan dahulu para pejuang memperjuangkan kemerdekaan politik…

Ibu adalah Kata Kerja

Ibu Labora, karena Ibu adalah kata kerja

Pada suatu hari di sebuah negeri nyata, senyatanya-nyatanya daerah yang di sebut negeri. Negeri ini sangat besar, akan tetapi tak usahlah disebutkan, karena belum tentu anda mengenalnya. Di sini lahir seorang perempuan cerdas, yang kecerdasannya tidak abstrak apalagi semu. Kecerdasannya ini membawanya pada perbatasan antara kata benda dan kata kerja.

Di dalam perjalanan hidupnya sejak remaja, dewasa dan matang ia membuat pilihan-pilihan yang akhirnya menentukan garis hidup yang sangat signifikan bagi dirinya dan banyak orang. Termasuk di antaranya bagi mereka yang memilih jalan hidup bekerja dalam seni pertunjukkan.

Seni pertunjukkan di negeri ini merupakan bagian kesenian yang masih sangat minor, tidak terkelola dan bersifat parsial, sehingga sulit untuk dimasukan dalam wilayah orang mencari kerja. Seni pertunjukkan seakan terpisah dari wilayah kehidupan umum manusia dan kemanusiaannya. Meski begitu, perempuan yang memiliki nama indah dan nyata, sehingga nyairs tak bernama, seperti negeri yang menjadi tempat tinggalnya. Hingga usia manusia bumi yang telah melampaui setengah abad, perempuan ini seakan tidak bernama dalam arti kata benda, ia adalah kata kerja. Ingin juga menyebutkan namanya di sini, akan tetapi nama itu selalu tersembunyi. Dibalik keindahan berbagai karyanya, maka saya sebutlah ia Ibu Labora. Ibu adalah kata kerja, Bapak adalah kata benda. Ibu yang bekerja, bapak yang mendapat status-nya di mata publik. Dan perempuan ini adalah manifestasi yang paling riil dari itu semua. Meski semuanya masih bisa diperdebatkan, pada realita kekinian, Ibu Labora adalah hal yang paling nyata yang dapat ditemui di hampir seluruh bawah atap rumah atau tempat tinggal.

Ibu Labora pernah hidup bersama dengan beragam manusia di lingkungan yang tidak biasa sejak masa mudanya. Kini setelah berbagai bentuk hidup dan kehidupan dijalani, ia tinggal di Istana dengan tanah yang luas, bertanam-tanaman jauh dari ibu kota. Orang-orang yang tinggal bersama Ibu Labora sebagian juga adalah muridnya, atau temannya bekerja. Sedikit berbeda dari ibu-ibu lainnya di dunia, Ibu Labora hidup memaknai dengan melampaui kata ‘labora’ itu sendiri. Bila kata bekerja dalam kamus kita berarti melakukan sesuatu yang menghasilkan karya, upaya atau dana yang menjadi pilihan kita, maka bagi Ibu Labora untuk bekerja adalah dirinya, bukan pilihan. Itulah ia. Kerja adalah Hidup, bukan semata kata benda, melainkan keseluruhan kata kerja, benda dan sifat. Mungkin mirip lakon yang dijalani Arjuna saat menerima petuah dari Batara Guru menjelang pertarungannya dengan Karna. Tentuna dalam konteks bekerja, beraksi. Ibu labora mengidentifikasikan dirinya dengan kata itu sendiri, segala sesuatu yang dilakukannya bukanlah bekerja, melainkan identifikasi dan aktualisasi diri.

Dalam kehidupan umum Ibu Labora ini mungkin biasa disebut super woman atau super mom. Tapi realitasnya ia tidak super. Seperti manusia biasa lain ia memiliki tubuh yang terdiri dari otot, daging, tulang dan syaraf-syaraf. Ia bisa jatuh sakit. Yang membedakannya adalah, semua bagian tubuh tersebut seringkali ‘dipekerjakan’ dan menjadi hidup dengan fungsi kerja tadi. Maksudnya dipekerjakan dengan frekwensi yang mungkin tak akan ada manusia lain yang menyamainya.

Bila ditempatkan dalam kategori manusia dan profesi perempuan ini bisa jadi akan memiliki banyak profesi. Ia bukan dokter, tabib, ataupun mantri tetapi bekerja mengobati dan menyembuhkan. Ia bukan guru tapi mengajar dan memberi pelajaran. Ia bukan wartawan tapi memberitakan dan menuliskan. Berhubung konsep bekerja-nya berbeda dengan manusia lain di negerinya, tentunya ia tidak menerima imbalan apa-apa, layaknya profesi mainstream dari apa yang dikerjakannya serupa dokter, dokter, tabib atau guru guru. Eh iya, dia juga seperti koki, karena sering menjadi juru masak bagi banyak orang yang tinggal di Istananya. Ia bekerja, karena itulah dirinya.

Pekerjaan lain Ibu Labora membuat karya yang bisa dinikmati banyak orang, dijual dan ia mendapat imbalan. Kali ini bukan mewartakan, melainkan menceritakan. Biasanya cerita-cerita kehidupan keseharian manusia. Cerita ini ada yang lalu dibuat menjadi cerita untuk televisi ada juga yang untuk pertunjukkan teater. Kerja ini sebutannya membuat naskah. Anehnya, dari pekerjaan ini, membuat cerita untuk televisi tidak dianggap kerja-nyata yang mencerminkan identifikasi dirinya. Sehingga ia tidak menggunakan namanya dalam karya-karya yang dihasilkannya. Mungkin karena ia merasa lebih nyaman apabila dikenali sebagai penulis naskah untuk pertunjukkan teater. Karena itulah identifikasi dirinya yang paling hakiki.

Sedikit kurang lengkap jika tidak memperkenalkan orang yang mempengaruhi dan membentuk hidup perempuan cerdas dari negeri nyata ini. Adalah seorang laki-laki yang sudah dikenal banyak orang sepenjuru negeri nyata dan luar negeri nyata sebagai orang yang membawa pesan kemanusiaan. Pesan yang didapat dari Tuhan, dari manusia dan dari peristiwa. Meskipun laki-laki ini penting sekali dalam pembentukan jatidiri Ibu Labora ini, nanti akan berlarut bila menceritakan kembali kehidupan laki-laki yang telah dikenal oleh banyak orang ini. Pertama karena laki-laki ini, biasa dikenal sebagai Sang Penyair, yang telah memberi pengaruh bagi banyak orang, keluarganya, masyarakatnya bahkan dunia. Mungkin juga saya. Yang kedua pengaruh tersebut juga terpancar kepada Ibu Labora, dengan volume yang berbeda dari yang lainnya. Akan tetapi yang hampir tak banyak dipahami dan ketahui khalayak adalah pengaruh pancaran balik yang dihadirkan oleh Ibu Labora kapada Sang Penyair. Akan tetapi yang pasti, saya menolak persepsi yang saya tangkap tentang feodalisme Sang Penyair. Paparan sedikit mengenai pengaruh kehidupan Sang Penyair bagi Ibu Labora menjadi tidak terlalu penting untuk disampaikan di sini, karena hal itu merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari di mana Ibu Labora dan Penyair adalah kesatuan; kata kerja, kata sifat dan benda, di mana kata kerja dan sifat adalah domain Ibu Labora.

Ibu Labora selalu menganggap dirinya partner dari Sang Penyair. Pasangan hidup, pasangan kerja. Ibu Labora memuja Penyair sebagaimana orang-orang yang terkena pancaran pengaruh positif dari Sang Penyair. Sang Penyair ini memang manusia fenomenal di jaman mudanya, di masa dewasanya dan di masa tua-nya. Layaknya Ibu Labora ia juga bekerja, berkarya dari muda hingga masa tua-nya. Dan layaknya seorang yang fenomenal, ia tetap menjadi magnet bagi orang-orang untuk merasakan pancaran kekuatan dari karya-karyanya. Kekuatan karya-nya merupakan cerminan peristiwa, kehidupan dan polah tingkah manusia. Tak bermaksud mengungkap lebih jauh tentang karya fenomenal serta rembesan jejak yang nampak di banyak seni pertunjukkan negeri nyata dari Sang Penyair, tulisan ini ingin menempatkan kisah nyata seorang perempuan yang dalam lingkup masyarakat patriarki kini, kemarin dan ke depan masih harus melampaui batu dan jalan-jalan agar bisa menjadi berdaulat bagi dirinya sendiri. Ia juga seorang fenomenal, perempuan yang berulang kali saya sebut sebagai Ibu Labora.

Meskipun hidup, bekerja, belajar dan berkoraborasi dengan Sang Penyair, Ibu Labora bukan tidak mempunyai kedaulatan dirinya. Akan tetapi permasalahannya, apakah kedaulatan dirinya itu bersifat independen, mandiri atau selalu bergantung dengan kondisi di luar dirinya: lingkungan, rumah, kehidupan Sang Penyair. Dalam arti ini, ia hanya bisa menjadi mandiri manakala ketergantungan yang lain atas Ibu Labora tidak ada. Atau sebaliknya ia sebenarnya tak pernah bergantung pada siapapun, tetapi juga tak pernah menguasai siapapun.

Kelihatannya begitu. Ibu Labora sekarang tak lagi fenomenal bagi saya. Ia ternyata menyimpan banyak sesuatu yang hanya diketahui oleh orang-orang disekitarnya. Ada pula yang tahu banyak tetapi tak bisa berbuat apa-apa, terutama karena Sang Penyair tetaplah menjadi raja yang tak mungkin dikudeta. Dan Sang Raja yang tak bisa lepas dari Ibu Labora atau sebaliknya, Ibu Labora yang tak bisa lepas dari Sang Penyair.

Pada suatu ketika, Ibu Labora yang dengan kedaulatan kesenian sebagaimana yang diajarkan Sang Penyair, memutuskan sesuatu. Ia bekerja untuk dan bersama pihak lain, diluar lingkar kekuasaan Sang Penyair, di luar lingkar kekuasaan Ibu Labora. Saya termasuk di dalamnya. Lalu sesuatu diluar jangkauan pikiran dan fantasinya terjadilah apa yang harus terjadi. Kisruh. Kekisruhan yang panjang. Kekisruhan yang menurut saya terjadi karena uplanning, unprepared tidak ada research dan tidak ada rasa humble rendah hati. Kisruh-kisruh. Kisruh itu pula mungkin yang membuat saya sempat tak enak badan dan terserang penyakit. Kisruh itu pula yang akhirnya membuat saya tak lagi bekerja di antara Ibu Labora.

Ibu Labora berhenti bekerja, berhenti bekerjasama. Ia memutuskannya. Tapi Ibu Labora tak berhenti bekerja sendiri dan berbicara sendiri, berpikir sendir untuk dirinya tapi tidak mengenai dirinya, tentang sesuatu yang tak diketahui orang lain. Sesuatu yang dapat menguncangkan akuntabilitas dan kredibilitas kepercayaan seorang Ibu Labora dan mungkin juga Sang Penyair.

Ibu Labora masih bersama Sang Penyair. Ibu Labora masih memakai nama Sang Penyair. Ia masih hidup di dalam kepenyairan Sang Penyair. Meski semua kegilaan yang telah ada pada Ibu Labora dan Sang Penyair sejak mereka bertemu dulu, bahkan hingga sekarang. Kegilaan yang selalu menjadi claim seniman. Art for Art. Crazy art is Art…

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑