Hari Kartini 21 April 2018 menandai 54 tahun sejak Kartini ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Soekarno, atau 114 tahun sejak Beliau wafat 17 September beberaap hari setelah melahirkan satu-satunya putera, RM Soesalit Djojohadiningrat. Kartini boleh wafat dan darah keturunan biologisnya hanya satu orang putera, namun semangat dan gerak hidupnya baik yang nyata atau masih menjadi impiannya telah menghidupi dan memberi inspirasi banyak perempuan, di dalam Negara Indonesia merdeka maupun di luar negeri.

Sekarang ini, kita menemui banyak perwujudan apa yang dicita-citakan Kartini bagi perempuan dan oleh perempuan untuk bangsanya sebagai mana lirik lagu Kartini karya WR Supratman “Sungguh Besar Cita-citanya Bagi Indonesia“. Perempuan dan laki-laki bahu membahu untuk kemajuan bangsa, kemerdekaan Indonesia. Perempuan di Indonesia kini bersekolah dan mengenyam pendidikan demi untuk dirinya dan kemajuan bangsa. Perempuan mengajar dan mendidik anak perempuan hingga ke pelosok daerah, perempuan mengobati sebagai bidan atau dokter ke pelosok. Perempuan menjadi apa yang diinginkannya. Perempuan mengejar kebahagiaannya menikah dan tidak menikah. Perempuan pelestari keindahan budaya. Perempuan terus berjuang untuk kebahagiaan bersama semua rakyat laki-laki maupun perempuan dalam mengadvokasi kebijakan Negara. Perempuan menjadi menteri mendukung kemajuan peradaban.   Banyak lagi yang telah diwujudkan kini oleh perempuan-perempuan se Nusantara dari apa yang pernah dicita-citakan Kartini.

Republik Indonesia kini telah menjadi bagian apa yang seharusnya menjadi dalam memperlakukan perempuan, dari sebuah bangsa yang besar (dalam arti seluasnya) besar kebudayaannya, besar wilayahnya, banyak penduduknya, kaya alam rayanya, sebagaimana di masa lalu.

Jika kita mau bersyukur dan membaca apa yang terjadi disekitar kita, khususnya pergerakan perempuan didalam memperjuangkan kesejahteraan rakyat khususnya melalui pemuliaan perempuan melalui pemenuhan haknya sebagai warga negara, maka kita akan menemui banyak perempuan yang bagi saya adalah representasi Kartini di masa kini. Ada beberapa perempuan yang saya kenal, yang sesungguh-sungguhnya seperti Kartini, hidup berjuang dengan tulus ikhlas dan masih berjuang untuk kepentingan bersama.

Penghargaan kepada Kartini adalah penghargaan betapa lebih penting menjadi manusia yang menginspirasi manusia lain, ketimbang manusia yang mengejar kesuksesan duniawi dan harta (meskipun kini banyak sekali kiat inspirasi disebarkan dengan tolok ukur harta dan jabatan). Namun inspirasi Kartini lintas batas negara, lintas waktu. Sejak beliau masih belia, bangsa eropa lebih dahulu mengenal pemikiran melalui tulisannya, adapun bangsa Nusantara umumnya baru mengetahui pemikirannya setelah ada terjemahan dari surat-surat Kartini oleh Arjmin Pane 1911. Inspirasi adalah kekuatan positif kepada pikiran dan perasaan yang mempu menggerakkan manusia untuk beraksi, bekerja, melakukan sesuatu. Tak kurang, surat-surat Kartini yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris Letters of Javanese Princess, dengan kata pengantar Eleanor Roosevelt  (istri Presiden Amerika Serikat ke 32) edisi UNESCO collection 1964. Bukan hanya itu, nama Kartini pun digunakan di berbagai Negara sebagai nama suatu Penghargaan di Belanda, bahkan suatu organisasi konsultan gender di Kanada memakai nama Kartini, bahkan salah satu penulis menuliskan bahwa mengapa Kartini kurang begitu dikenal di luar Indonesia karena berbahaya pemikirannya terlalu jauh tan sesungguhnya menjangkau dan melintasi jarak dan benua yaitu melawan pemikiran dan prilaku patriarki ( http://dangerouswomenproject.org/2016/09/27/raden-adjeng-kartini/ )

Setiap tahun biasanya saya hampir selalu dilecut untuk menuliskan sanggahan terhadap mereka yang saya sebut “anti Kartini” karena kurang memahami kesungguhan semangat, pengalaman, mimpi dan harapan Kartini. Saya berani menyembut “anti Kartini” karena banyak dari mereka yang dengan serta-merta mencopy-paste pandangan dari akademisi yang  “dianggap kritis” karena mengkritik atau menolak kepioniran dan kegigihan Kartini berjuang, padahal membaca Surat-surat KARTINI pun belum pernah, boro-boro mengerti tulisan Kartini yang asli dalam bahasa Belanda. Namun tahun ini berbeda, Kartini telah mulai banyak dihidupkan kembali semangat dan cita-citanya oleh masyarakat khususnya aktivis perempuan, sehingga tidak terlalu sulit untuk menjabarkan betapa sebagai Bangsa Indonesia yang bertanah air sama dengan Kartini untuk bangga dan terus melanjutkan perjuangannya, kesetaraan kemanusiaan perempuan dan laki-laki.

SELAMAT HARI KARTINI 2018, KEPADA PEREMPUAN INDONESIA SELAMAT MERAYAKAN CITA-CITA KARTINI, BERSYUKUR DAN TERUS MELANJUTKAN PERJUANGAN KARTINI.

 

Jakarta 20 APRIL 2018, SUKRA KASIH.

Advertisements