Search

wartafeminis.com

Indonesia Feminist Theory and Practices

Category

Women’s Report-Reportase Perempuan

Reses Anggota DPRRI Diah Pitaloka: Menguatkan Konstituen Cianjur

Jakarta, 10Mei 2016. Pada masa reses Masa Sidang DPRRI Mei 2016, wartafeminis mendapat kesempatan mengikuti perjalanan Diah Pitaloka bertemu konstituen di daerah pemilihannya yaitu Jawa Barat 3, Cianjur (3840km) dan Kota Bogor. Diah Pitaloka adalah anggota DPR terpilih untuk Pemilu Legislatif 2014-2019 dengan suara 31.993 suara , dan termasuk salah satu perempuan yang terpilih dalam daftar rekomendasi perempuan berkualitas untuk dipilih dari GPPSP dan Puskapol UI (https://www.facebook.com/photo.php?fbid=677968688934706&set=g.143684092463851&type=1&theater).
Sepanjang perjalanan pergi pulang Jakarta-Cianjur dan desa yang dikunjungi total berjarak lebih dari 650km

Dengan pekerja pengrajin jamur
Dengan pekerja pengrajin jamur
Dengan warga desa
Dengan warga desa
Sosialisasi
Sosialisasi

dengan melewati Jalan Marwati ujung desa hingga melalui Kecamatan Cikalongkulon yang melewati sungai,jembatan sawah dan pepohonan melalui wilayah Jakarta jalur Ciawi ke Cipanas. Hari Pertama wartafeminis mencatat bagaimana Diah Pitaloka menyapa, berdiskusi, tukar informasi dan menyerap aspirasi konstituen. Perjalanan dimulai di Desa Ciherang bertemu dengan petani sayur mayur. Para petani yang ditemui antara lain penghasil komoditas seledri, cabe dan wortel. Dari pertemuan dengan para petani ditemukan bahwa hingga kini biaya yang dikeluarkan petani lebih besar dari harga jual hasil tanaman, terutama pada saat panen komoditas sayuran sejenis. Artinya ketika mayoritas petani cabe panen, maka harga jual cabe turun. Padahal biaya produksinya tinggi. Sedangkan ketika tidak musim panen harga ada harga tertinggi yang ditetapkan oleh Pengepul dan itu biasanya merupakan harga tetap tertinggi ditingkat pengepul. Untuk mensiasatinya petani menanam tanaman yang beragam sehingga selalu ada komoditas sayur yang bisa tanam dan panen secara bergiliran dan tidak serentak. Menanggapi hal tersebut Diah Pitaloka antara lain mengemukakan kemungkinan dibentuk koperasi penampung sayur-sayuran sehingga dapat dijual langsung ke pembeli/konsumen. Yang disambut baik oleh petani.
Pada kesempatan kunjungan ke petani sayur, Diah juga sempat mendapatkan aspirasi dari Kepala Desa terkait Kartu Indonesia Sejahtera dan Kartu Indonesia Sehat, dimana menurut Kepala Desa … selama ini pendataan dan pemberian Kartu dilaksanakan oleh Dinas Sosial dan aeringkali tidak berkordinasi dengan kepala dssa dan kantor kepala desa setempat dandata yang dipakai adalah data lama yang belum pemutakhiran.
Terkait hal ini telah ada UU Resi Gudang, selayaknya dapat juga dimanfaatkan oleh petani sayur mayur.Perjalanan selanjutnya dsalah pertemuan dengan pengurus gabungan koperasi simpan pinjam dan produksi.Hasil pertemuan dengan pengurus koperasi ini antara lain untuk melakukan review kebijakan terkait Kredit Usaha Rakyat, dimana adanya potensi pemberian KUR yang tidak dibarengi penelaahan dan koreksi menyeluruh dapat membuat usaha jasa keuangan Koperasi simpan pinjam yang dikelola rakyat akan tersingkir.
Pada hari kedua, Diah Pitaloka menghadiri pertemuan dengan warga dan pengurus lembaga desa, tokoh masyarakat, staf kantor desa mengikuti pelatihan SIDK Sistem Informasi Desa dan Kewilayahan di Desa Cikajang,  Desa Cimacan. Diah Pitaloka hadir untuk mensosialisasikan tentang Dana Desa transparasi anggaran dan terkait dengan SID. SID sendiri merupakan amanat UU Pengertian Sistem Informasi Desa (SID) berdasarkan undang undang tersebut adalah meliputi fasilitas perangkat keras dan perangkat lunak, jaringan, serta sumber daya manusia. Jauh sebelum UU Desa lahir, Combine Resource Institution (CRI) telah mengembangkan Sistem Informasi Desa.UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa.
Pada pelatihan yang diinisiasi oleh Fitra dan Yayasan Prakarsa Desa ini Diah Pitaloka menyampaikan sambutannya terkait pentingnya masyarakat mengetahui anggaran yang menjadi hak warga, terutama yang termasuk dalam flafon Dana Desa yang akan memasuki tahun kedua.

Demikian sekilas kegiatan Reses Diah Pitaloka, Anggota DPRRI Daerah Pemilihan Jawa Barat III, Kota Bogor dan Cianjur.

Advertisements

Tari Cokek Sipatmo, Lentera Benteng Jaya Seni dan PelestarianNilai

Continue reading “Tari Cokek Sipatmo, Lentera Benteng Jaya Seni dan PelestarianNilai”

Seminar PPSW: Pencegahan Deteksi Dini kanker Serviks

Jakarta, Tebet. Pusat Pengembangan Sumberdaya Wanita bekerjasama dengan Exxon menyelenggarakan Seminar setengah hari Kesehatan Reproduksi: Pencegahan Deteksi Dini Kanker Serviks. Pesertanya adalah para perwakilan servic1drSigitanggota 24 koperasi sejabodetabek. Para ibu yang hadir adalah pengurus yang telah aktif sebagai kader berdaya. Sehingga banyak dari peserta telah kenal dengan narasumber dari Yayasan Kanker Indonesia Dr. Purnomo Sigit Sidi dan dari Dinas Kesehatan DKI Jakarta Endang Murdiati, dengan moderator Ibu Wirda Armin dari PPSW Jakarta.

Pada paparan kedua narasumber tersebut diinformasikan bahwa Indonesia menurut data WHO adalah yang tertinggi di dunia, 15000 penderita kanker Servix (kanker leher rahim), sehingga perlu dilakukan pencegahan dini. Pencegahan dilakukan dengan deteksi dini yaitu pap smear, atau vaksin (bagi remaja). Penderita kanker Servix pada umumnya tidak memiliki gejala yang signifikan, artinya ketika sudah menjadi kanker stadium tinggi (4) baru diketahui.  Pelayanan pap smear tersedia di puskesmas dan ada rencana Dinas Kesehatan DKI untuk memberikan vaksin bagi remaja usia sekolah setelah 12 tahun. Ada banyak pertanyaan diajukan peserta diantaranya mengenai penggunaan pantyliner sehari-sehari, atau keputihan.Pada dasarnya kanker dapat dikenali dengan kondisi abnormal, artinya segala yang berlebihan dari cara kerja sel manusia (menstruasi, keputihan) itu dapat diwaspadai untuk segera dicek. karena kanker adalah sel yang abnormal.

Tidak kurang dari 60 peserta dari pengurus koperasi dampingin PPSW tekun menyimak paparan pembicara, termasuk Koperasi Sumber Makmur di Kelurahan Penjaringan Jakarta Utara yang mewakili 3 koperasi. Diantara anggotanya telah bergabung dengan PPSW sejak tahun 1992. Ketua koperasi Sumber Makmur ibu Salbiyyah (usia 52 tahun) bercerita bahwa koperasi para ibu ini sekarang berjumlah 130 orang, dan Sumber Makmur yang didirikan tahun 2000 telah memiliki aset hingga 900 juta. Setiap anggota koperasi membayar iuran pokok sejumlah 1 juta rupiah (dapat dicicil),s edangkan iuran wajib Rp.35.000,-. Anggota koperasi terdiri dari bermacam latar belakang termasuk karyawan, buruh cuci, buruh, pedagang dsb. Terdapat juga anggota yang lokasinya jauh, yaitu dari Cengkareng.

Menurut Direktur PPSW Jakarta ibu Endang Tri Sulistyowati pelaksanaan seminar adalah bagian dari kerja PPSW selaku community organizer yang selalu berupaya memberi kesadaran perempuan untuk lebih berdaya, termasuk dalam hak kesehatan reproduksi. Meskipun kegiatan utama adalah pemberdayaan ekonomi perempuan, yaitu dengan koperasi, PPSW berkomitmen mendorong kepemimpinan perempuan di komunitas, khususnya komunitas masyarakat kurang mampu termasuk di Jakarta. PPSW di Jabotabek telah memiliki anggota 14956, dan secara keseluruhan aset kelompok dan koperasi hingga Juni 2015 adalah Rp.37.952.578.200.  Sedangkan jumlah dana pinjam untuk para anggota telah berputar hingga Rp.22.525.040.800.

Itulah salah satu bentuk kegiatan dari organisasi masyarakat sipil (CSO) perempuan yang sudah puluhan tahun berdiri dan masih terus bekerja bagi komunitas. Selama masih ada ketimpangan dan ketidak adilan di masyarakat, khususnya ketidak adilan terhadap perempuan, CSO tetap diperlukan dan kerja keras para aktivis perempuan tetap dibutuhkan.

@umilasminah

 

 

Kiprah PSSW Memberberdayakan Perempuan Mensejahterakan Warga

Kiprah PSSW Memberberdayakan Perempuan Mensejahterakan Warga

Tangerang, 8-9-2015, PPSW Pusat Pengembangan Sumber Daya Wanita Jakarta, organisasi perempuan dengan fokus orginzing community (organisasi komunitas) yang memberdayakan perempuan termasuk ekonomi. Pada Selasa lalu PPSW yang diwakili oleh Ibu Wirda Arwin S(Ibu Wirda) dan Ibu Titi Suryatmi  (Ibu Sur),  melakukan kunjungan rutin ke lapangan dampingannya, yaitu komunitas perempuan yang tergabung dalam (KPWS) Koperasi Wanita Lentera Benteng Jaya yang telah berjalan 4 bulan.

DSCF3376
Ibu Narwi bersama warga cina banteng tukang cuci baju di kali Cisadane
salah satu anggota Koperasi
Ibu Sur, kanan dan anggota koperasi

Koperasi Wanita Lentera Banteng Jaya didirikan atas fasilitasi dari PPSW yang bekerjasama dengan program PEDULI Kemenko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan dan Kemitraan UNDP. Koperasi Lentera Banteng Jaya ini dibentuk sebagai bagian pemberdayaan ekonomi masyarakat. PPSW Jakarta sendiri telah lebih dari duapuluh tahun berkiprah mendorong pemberdayaan perempuan, dan telah mendampingi 6398 perempuan yang tergabung di 333 kelompok, di 28 Kelurahan. Dampingan kelompok perempuan dikerjakan oleh PPSWjuga di Jawa Barat, Kalimantan dan Sumatera.

Kunjungan PPSW ke (KPWS) Koperasi Wanita Lentera Benteng Jaya bertepatan dengan hari pembayaran iuran rutin yaitu iuran koperasi yang dibayarkan setiap Selasa, di rumah Pengurus (Ibu Susi) yang juga adalahkoperasi1 Sekretriat Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia.
Koperasi WLBJ telah menjadi perekat silaturahmi warga yang tinggal di Kel. Mekarsari, khususnya RW03 dan 04. Selain warga Cina Banteng keturuna Tionghoa, warga asli pribumi juga menjadi anggota Koperasi. Dalam hal ini PPSW mendorong program inklusi yaitu berbaurnya beragam latar belakang masyarakat dalam satu kelompok kegiatan.

Program prmberdayaan ekonomi dengan pembentukan koperasi memiliki kekuatan menyatukan warga, membangun kepercayaan diri khususnya para ibu Rumah Tangga yang sebelumnya tidak memiliki keberanian bicara dimuka publik, kini tidak hanya bicara dimuka publik, juga tumbuh kesadaran terhadap lingkungan sekitar dan menumbuhkan semangat gotong royong. Koperasi Wanita Lentera Benteng Jaya dapat menjadi contoh bagaimana masyarakat ekonomi berpenghasilan kecil masih memiliki harapan dalam meningkatkan pendapatannya, dapat menabung. Anggota Koperasi terdiri dari perempuan berbagai usia, berbagai profesi mulai dari ibu rumah tangga, pegawai, pedagang ayam goreng siap masak, pedagang rumahan/warung, pedagang sayur keliling. Semua anggota memiliki hak dan kewajiban sama membayar iuran pokok Rp.20.000,-(duapuluh ribu rupiah) sekali bayar dan dapat dicicil, kemudian tiap minggu membayar iuran wajib rutin Rp.3000,-(tigaribu rupiah), dan simpanan sukarela bebas jumlahnya. Dari semua dana yang terkumpul para anggota dapat meminjam maksimal Rp.500.000,-(limaratus ribu rupiah) tergantung saldo. Anggota koperasi yang dapat aktif meminjam maupun hak bersuara hanya anggota perempuan. Anggota koperasi laki-laki hanya boleh menyimpan.

aktatjoannie
contoh Akte lahir
Pengurus Koperasi
pengurus Koperasi, Vera, Susi dan Heni
aling
Ibu Aling

Kegiatan PPSW di kampung cina banteng ini selain koperasi juga membantu pengurusan surat hak identitas yang selama ini sulit didapatkab. PPSW melahirkan kader pengurus K
operasi yang antara lain mengurus surat ini, yaitu ibu Aling (On Oi Phin) yang juga wakil Ketua Koperasi. Pengurus Koperasi Wanita adalah kader PPSW yang telah mengikuti pelatihan pembukuan dan pengelolaan keuangan sederhana, mereka adalah:  Ketua: Henny; Wakil Ketua:On Oi Phin;      Sekretaris I: Maya Mariah;   Sekretaris II: Vera;    Bendahara I; Susi dan    Bendahara II: Seri Asih.

Representasi Politik Perempuan dan RUU KKG

RRRUUU

Jakarta 16 Januari, 2014,

Women Research Institute (WRI) mengadakan Seminar Partisipasi Politik Perempuan dan RUU KKG dengan menghadirkan anggota DPRRI yang menjadi anggota pansus dan presentasi hasil penelitian tentang kesetaraan gender dan representasi perempuan di politik dan kepentingan perempuan. Anggota DPRRI yang hadir adalah Aryati Soemaryoso (Gerindra) dan Mien Muntarsih (Hanura) kedua perempuan anggota DPRRI ini adalah perempuan yang telah lama aktif di partai politik(mereka sebelumnya adalah aktivis politik dari partai Golkar), juga pembicara dari WRI Edriana Nurdin yang memamparkan hasil Penelitian terkait RUU Kesetaran dan Keadilan Gender, dan Ratna Batara Munti (JKP3 Jaringan Pro Legnas Pro Perempuan) .

Melalui serial program Representasi Politik Perempuan Women Research Institute (WRI) melaksanakan penelitian dan survei yang didukung oleh USAID. Hasil penelitian dan survei memberi gambaran persepsi publik tentang, pemantauan kinerja pengambilan keputusan perempuan di DPRRI dan kepemimpinan perempuan di politik. Secara khusus juga di bahas RUU terkait dengan kebijakan pro kesetaraan dan keadilan perempuan dan laki-laki,, RUU KKG. Pada konteks ini di DPRRI masih dalam pemmbahasan RUU Keadilan dan Kesetaraan Gender (RUU KKG). RUU ini bagi kalangan perempuan diharapkan dapat menjadi Payung bagi dihapuskannya Perda-perda diskriminasi terhadap perempuan di berbagai wilayah Indonesia.

Di dalam seminar ini dari anggota DPRRI yang hadir disampaikan bahwa pembahasan oleh DPRRI telah sampai ditingkat Panja, dan ada informasi akan memasukan agama di dalam batang tubuh. Anggota DPRRI yang hadir memaparkan bahwa perempuan masih dibutuhkan lebih banyak lagi di DPRRI, karena seperti dari partai Hanura, dan Gerindra dengan jumlah perempuan sedikit maka lebih berat pula kerjanya, termasuk untuk pembagian dalam panja dan pansus-pansus yg memmbahas RUU.

Hasil Penelitian WRI menunjukkan dukungan publik agar perempuan di DPRRI dapat menyuarakan kepentingan perempuan, dan semakin banyak perempuan lebih baik untuk perjuangan perempuan. Namun terkait keadilan Gender, yang menganggap perempuan tidak punya kemampuan sama dengan laki-laki dalam memimpin politik, dan tidak setuju perempuan memimpin politik adalah karena perempuan Tidak Cocok jadi pemimpin 47%. Dilarang Agama 34% dan Pendidikan laki-laki lebih tinggi 9%.

LBH APIK dalam kesempatan yang sama melakukan konferensi Pers yang intinya: Tertundanya Pembahasan RUU di Panja akan menghambat Komitmen Negara Mewujudkan kondisi yang setara bagi laki-laki dan perempuan dalam mengakses Pembangunan, dan akan juga menjadi penghambat kesejahteraan rakyat secara umum. Padahal RUU ini merupakan implementasi CEDAW dan pelaksanaan Inpres Pengharusutamaan Gender No,.3/2000.

Perempuan di Cuba dan Jaminan Kesetaraan

Jakarta, 29 Agustus 2013, Kalyanamitra yang berkantor di Jl.SMA 14 Cawang menyelenggarakan Diskusi Diskusi Women in Cuba: The Making Revolution within Revolution dengan menghadirkan Mary-Alice Waters, President of Pathfinder Press bersama dengan Duta Besar Cuba untuk Republik Indonesia Ibu  Enna VIANT.

Diskusi mempaparkan bagaimana perjuangan Revolusi Cuba yang dimotori oleh Fidel Castro sejak awal sudah mengedepankan perjuangan bersama perempuan dan laki-laki. Perjuangan yang terus dipertahankan sebagai semangat untuk kesejahteraan bersama dan menjamin hak warga negara bersama, termasuk hak perempuan di bidang politik dan kehidupan domestik yang dilindungi dan dijamin negara. Kehidupan politik perempuan di Cuba termasuk yang termaju, Cuba adalah Negara pertama yang meratifikasi Konvensi CEDAW (Convention on Elimination and Discrimination against Women) dan juga merupakan negara dengan keterwakilan perempuan di Parlemen nomor 3 di dunia, yaitu 48% nomor setelah Swedia dan New Zealand. Sedangkan bagi kehidupan domestik, keluarga perempuan dan laki-laki mempunyai hak sama dalam cuti melahirkan. Cuti melahirkan diberikan negara 1 tahun, boleh memilih apakah ibu atau ayah yang mengambil cuti untuk merawat anak pasca melahirkan. Kehidupan keluarga lainnya antara lain adalah bila belanja maka perempuan/laki-laki yang akan berbelanja hanya menaruh daftar di kantong, dan tinggal mengambil dan membayarkannya setelah semua diisi oleh petugas supermarket. Pelayanan kesehatan di Cuba adalah yang terbaik di dunia, usia hidup juga paling panjang di dunia, sehingga jumlah warga berusia lansia cukup banyak.

Selama ini publik Indonesia termasuk perempuannya, lebih banyak mendengar informasi negatif tentang Cuba, Cuba dianggap sebagai negara diktator dan tidak demokratis karena model Pemilu dan pemilihan presiden yang berbeda dengan demokrasi liberal barat. Padahal berbeda demokrasi negara Barat (Amerika Utara-Eropa Barat) demokrasi di Cuba adalah demokrasi Partisipasi, bukan demokrasi perwakilan. Pada saat revolusi, keikutsertaan perempuan, baik LGBT (Lebian Gay Bisexual and Transgender) pun sama. Dan informasi negatif tentang perlakuan LGBT dari barat tidak benar, adalah Mariela Castro, yang merupakan putri dari Presiden Cuba, Raul Castro yang gencar memperjuangkan hak-hak LGBT. Bagi LGBT pemerintah Cuba menyediakan pelayanan operasi pergantian kelamin lengkap dengan dampingan psikologi. Hingga kini Cuba adalah salah satu negara sahabat Indonesia yang terlihat berjarak dalam arti informasi tentang Cuba masih minor dan negatif. Hal ini karena Indonesia menggantungkan informasi lebih banyak dari perspektif dan media Barat (baca Inggris, Amerika Serikat dan sekutunya) Acara yang dilakukan Kalyanamitra (kalyanamitra.or.id)  ini cukup membuka wawasan tentang bagaimana kesetaraan perempuan dan laki-laki Cuba. ( UL)

Dari kiri ke kanan, Ibu Duta Besar Enna Viant, penterjemah Daru, Ibu Mary Alice-Waters dan Listyowati Ketua Kalyamitra
Dari kiri ke kanan, Ibu Duta Besar Enna Viant, penterjemah Daru, Ibu Mary Alice-Waters dan Listyowati Ketua Kalyamitra
Suasana Diskusi ttg Perempuan di Cuba
Suasana Diskusi ttg Perempuan di Cuba
Berfoto bersama peserta diskusi
Berfoto bersama peserta diskusi

Gayatri Wailissa: Remaja Putri Kebanggaan Indonesia

Jakarta, 23 Juli 2013, Minggu lalu saya menonton Kick Andy 21/7/2013, tentang dua remaja putri yang berprestasi mengharumkan nama Negara di Dunia. Mereka adalah Adelin dan Gayatri Wailissa. Adelin adalah remaja yang aktif menggugah kesadaran tentang lingkungan hidup dalam Sahabat Alam, sedangkan Gayatri adalah Duta Anak ASEAN yang berasal dari Ambon.

Gayatri Wailissa menggugah perhatian kita semua yang menonton. Gayatri remaja dari Ambon Maluku ini membuatku terkesima dan bersyukur, masa Kebangkitan telah akan tiba. Kala bendu (masa Nuswantara hidup susah) akan kita tinggalkan.

Gayatri membuktikan bagaimana anak Indonesia dapat menjadi apapun bila berkehendak, dan pastinya memang Beliau juga telah dibimbing oleh yang tak Tampak, dia punya bakat garis darah Leluhurnya. Gayatri menunjukkan bahwa kreatifitas, keinginannya belajar bahasa dapat dilakukannya. Gayatri menguasai bahasa-bahasa Asing tanpa pernah kursus satu kalipun. Ia menggunakan potensi yang ada buku-buku di perpustakaan, yaitu dirinya dan internet (menggunakan chating/yahoo chat) untuk mengecek spelling dan teks. Ia anak dari keluarga sederhana dari ayah yang merupakan perajin hiasan huruf di kaki lima di Ambon.

Kemampuan Gayatri berbahasa asing membuatnya ditawari bekerja di UNESCO, UNICEF dan lembaga lain, ia tak mau…Kalaupun ia mau katanya ia akan bersekolah di luar negeri dan akan kembali mengabdikan diri bagi Negeri Indonesia. Itulah anak yang patut diteladani, mencintai tanah airnya–tanah dan air yang memberinya makanan (tumbuhan dan minuman) yang menghidupinya…

Gayatri seorang patut diteladani, bekerja, dan berpikir bagi orang banyak bahkan sejak kecilnya…

Masih banyak pastinya Gayatri lain di Nuswantara…kita berharap akan segera muncul…

Gayatri Wailissa, remaja berdarah Jawa-Ambon, adalah inspirasi manusia semesta, yang cinta tanah airnya, tetap optimis dan terus meluaskan diri dan berbagi…

SELAMAT HARI ANAK INDONESIA, 2013Gayatri Wailissa–Mari Bersama Menggali Potensi Diri

================00=================

Gayatri Wailissa “doktor” cilik yang kuasai 11 bahasa asing
AMBON, KOMPAS.com*—*Terlahir dari keluarga yang sederhana, tidak membuat Gayatri Wailissa menyerah untuk mengejar impiannya. Diusianya yang baru 16 tahun, anak dari pasangan Deddy Darwis Wailissa, seorang perajin kaligrafi dan Nurul Idawaty, telah mampu mengukir banyak prestasi baik di tingkat nasional maupun internasional.
Gayatri memang bukan anak gadis biasa, kemampuannya melebihi anak seusianya. Bagaimana tidak? Di usianya yang masih belia ini, dia telah mampu mendunia dengan segudang prestasi. Terakhir, Gayatri bahkan menjadi Duta ASEAN untuk Indonesia di bidang anak mewakili Indonesia.
Terlahir dari keluarga sederhana bukan menjadi halangan bagi Gayatri. Keterbatasan materi keluarga tak membuatnya patah semangat. Dia terus menggali segala kemampuan yang ada dalam dirinya. Salah satu mimpi Gayatri adalah menjadi seorang diplomat termuda di Indonesia.
Bakat yang dimilikinya tidaklah sedikit. Gadis ini menguasai banyak kesenian seperti baca puisi, teater, dan drama. Dia juga lihai dalam bermain biola dan menulis. Bukan itu saja, yang paling menakjubkan dari diri gadis belia ini adalah kemampuannya di bidang linguistik. Tak kurang dari 11 bahasa dia kuasai, mulai dari bahasa Inggris, Italia, Spanyol, Belanda, Mandarin, Arab, Jerman, Perancis, Korea, Jepang, dan India dikuasainya dengan baik dan fasih. Saat ini, dia juga sedang belajar bahasa Rusia dan bahasa Tagalog.
Menurut Gayatri, kemampuannya mempelajari banyak bahasa asing tidak melalui kursus, tetapi dengan cara yang sangat sederhana yakni mendengar lagu dan menonton film asing, kemudian dia terjemahkan melalui kamus.
”Saya tidak punya biaya, keluarga saya sederhana, saya hanya suka nonton film kartun dan dengar lagu bahasa asing, rasa penasaran saya akan bahasa membuat saya mencari tahu arti dan bagaimana mengucapkannya, dari buku saya pelajari tata bahasanya, dari film dan lagu saya pelajari pengucapannya, dan dari kamus saya hafalin kosakatanya. Begitulah cara saya mempelajari bahasa asing,” ungkap Gayatri di Kantor AJI (Aliansi Jurnalis Independen) Ambon, Senin (17/6/2013).
Di hadapan para wartawan, Gayatri lalu mendemonstrasikan kemampuannya berbahasa. Sebelas bahasa yang dikuasainya itu lalu diucapkannya secara fasih dan membuat wartawan terheran-heran.
Gayatri mulai mendunia kala berhasil masuk seleksi untuk menjadi duta anak, mulai dari tingkat provinsi hingga tingkat nasional. Dari situ, dia mengikuti seleksi kepribadian hingga kemampuan intelektual. Dia lantas masuk 10 besar dari ribuan siswa yang ikut seleksi sebelum terpilih mengikuti seleksi mewakili Indonesia menjadi Duta ASEAN untuk anak tahun 2012-2013.
Gayatri, kemudian terpilih mewakili Indonesia ke tingkat Asean dan mengikuti pertemuan anak di Thailand dalam Convention on the Right of the Child (CRC) atau Konvensi Hak-Hak Anak tingkat ASEAN.
Untuk pertama kalinya seorang anak Maluku, mengemban tugas negara dan menjadi delegasi tunggal. Dalam forum Asean ini, Gayatri mendapat tempat terhormat dan disapa doktor karena kemampuan 11 bahasa asing yang dikuasainya itu.Dalam forum itu, Gayatri mangatakan, dirinya ditunjuk sebagai penerjemah ketika peserta forum anak menyampaikan sesuatu.
Dalam forum itu juga dia mendapat gelar doktor oleh peserta forum tersebut. ”Karena hanya saya yang mampu menguasai 11 bahasa, saya diminta membantu menerjemahkan ketika peserta forum anak ingin menyampaikan sesuatu, saya lantas diberi gelar doktor karena kemampuan saya itu,” kata Gayatri yang pernah menjabat pemimpin redaksi untuk koran Suara Anak Maluku.
Menurut Gayatri, kesuksesannya menjadi duta ASEAN tidak lepas dari doa dan dorongan kedua orangtuanya. Dia mengakui, selama ini hanya Wakil Gubernur Maluku yang membantunya saat mewakili Indonesia di Thailand. ”Secara nasional, orang mengenal saya sebagai Duta ASEAN untuk anak asal Maluku, dan saya bangga karena saya terlahir sebagai putri Maluku, tapi di tempat kelahiran saya sendiri, saya tidak dihargai, semua upaya saya untuk mengharumkan nama Maluku sama sekali tidak berarti, saya terus bertanya mengapa saya diperlakukan seperti ini?” tanya Gayatri.
Ketika pemilihan Putri Indonesia, lanjutnya, begitu banyak baliho dan pengumuman yang dipasang di seantero Kota Ambon. Namun, betapa kecewanya Gayatri ketika kepulangannya ke tanah kelahirannya dari Bangkok, hanya ayah dan ibunya yang menjemputnya di Bandara Patimura kala itu.
Tidak juga terlihat ada baliho di jalan-jalan. ”Mungkin menjadi Duta ASEAN untuk anak ini bukan sesuatu yang penting barangkali bagi pemerintah kita,” keluhnya.
Dia mengungkapkan, sebelum ke Thailand, dia bersama sang ibu pernah menemui Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu. Di Kantor Gubernur Maluku, banyak yang didiskusikan. Dia juga sempat meminta Gubernur agar memberikan beasiswa serta percepatan ujian dini bagi dirinya. Namun jawaban Gubernur, “soal beasiswa lihat saja di internet”.
“Saya disuruh lihat beasiswa di internet. Soal permintaan ujian dini juga ditolak Gubernur,” ungkapnya.
Karel menolak memberikan beasiswa dan tidak dapat mewujudkan keinginannya mempercepat pendidikan agar bisa ikut ujian SMA tahun ini sebab Gayatri masih duduk di kelas dua SMA. Namun hal itu bukan menjadi rintangan baginya.”Life must go on, hidup harus terus berjalan,” ungkapnya.*

“Saya sadari mungkin pemerintah kita punya banyak kesibukan selain memberi perhatian pada anak-anak seperti saya, saya tidak akan patah semangat karena hidup saya masih panjang ke depan,” tegas putri kedua dari tiga bersaudara ini.
Toh, kata Gayatri, dia sudah ditawari begitu banyak kesempatan yang ingin segera dia raih, mulai dari melanjutkan kuliah di sejumlah perguruan tinggi negeri ternama di Indonesia, bahkan mendapat tawaran sekolah diplomat di Sydney, Australia. ”Kendala saya hanyalah saya tidak bisa mempercepat kelulusan saya dari SMA, mestinya saya bisa lulus tahun ini, agar segera bisa kuliah, saya ingin menjadi diplomat termuda sebelum usia 20 tahun,” harapnya.
Kini Gayatri masih menjalani pendidikan di SMA Siwalima, SMA unggulan di Maluku. Banyak rintangan yang dihadapi, tapi prinsipnya luar biasa dan selalu memotivasi dirinya. ”Berpikir dan berbuatlah di luar kotak, jika masih berpikir di dalam kotak pasti akan terbentur empat sisi kotak, tak akan bisa ke mana-mana, tapi jika bisa berpikir*out of box, kita akan menjadi manusia merdeka yang mampu berpikir terbuka,” tegasnya.
Dengan kemampuan yang dimilikinya itu, gadis yang berpenampilan sederhana ini mengaku akan mendorong anak-anak Maluku lainnya untuk terus belajar dan mengembangkan bakat sehingga mampu bersaing dengan anak di daerah lainnya. “Saya lagi membuat sebuah konsep melalui kegiatan*roadshow*di beberapa sekolah di Ambon mulai dari SD sampai SMA agar anak-anak Maluku lainnya juga dapat mengembangkan bakatnya,” kata dia.
Selain mengunjungi Bangkok, Gayatri juga telah mengunjungi sejumlah negara lain seperti Singapura, Malaysia, Australia, dan Kanada. Kunjungannya ke sejumlah negara ini dalam rangka memperkenalkan budaya Indonesia dan pariwisata.
Prestasi Gayatri:
– Juara 1 Kompetisi Cerita rakyat 2006*
– Juara Bertutur Kanak-kanak 2007*
– Juara 2 Lomba CERPEN Nasional 2008*
– Juara 1 dalam lomba cipta puisi 2009*
– Juara 3 Lomba Baca Puisi Provinsi 2009*
– Juara 1 debat konsep pembangunan daerah 2010*
– Juara 2 karya tarian kreasi baru 2010*
– Juara Peragaan Busana Fashion Putri Daerah 2011*
– Nominasi 3 besar Icon Busana Nasional 2011*
– Juara 1 lomba Pidato dalam hari Anak Nasional 2011*
– Juara 2 lomba karyai ilmiah Sains Terapan 2012*
– Juara Medali Perunggu Olimpiade SAINS Astronomi 2012*
– Juara karya tulis Sastra Nasional 2012
– Juara 1 Lomba Pidato Remaja Hari Kebangkitan Nasional 2012*
– Juara esay Nasional “Hari Perdamaian Dunia” 2012 Kegiatan*

Organisasi/Kegiatan:*
– Pimpinan Redaksi Majalah Anak (Suara Anak Maluku)*
– Pengurus Forum Anak Maluku*
– Ketua Forum Perdamaian (KAPATA DAMAI)
– Penerjemah Bahasa*
– Pramuwisata*
– Penulis Sastra (Puisi, Prosa, Novel)*
– Instruktur Klub Teater*
– Penyiar Radio Swasta-Siaran Anak*
– Reporter/Presenter/Host – Icon Clip Flim Documenter*

Memilih dalam PEMILU, Memilih berarti Peduli

Mengikuti dan melakukan pilihan, dalam Pemilihan Umum adalah Kesadaran Hak atas Kebaikan Bersama. Ya, kembali ke dasar kata ‘politik’ dari “polis” kota/tempat tinggal bersama. Menentukan pilihan politik dengan menggunakan Vote/hak memilih adalah kesadaran diri sendiri (tanpa paksaan) untuk turut menjadi penentu jalannya kota/tempat tinggal bersama. Itulah tindakan peduli. Memilih berarti peduli. Tidak Memilih berarti tidak peduli.

Dimasa yang akan datang, ketika alam semesta Indonesia telah cukup bersih dari pengaruh buruk sang Kala, mungkin kesadaran rakyat tentang kehidupan bersama yang lebih baik, “bukan tentang dirinya sendiri” akan hadir dan menghantarkan Pemilu sebagai arena terpilihnya pemimpin yang benar untuk memomong rakyat.

PEMILU 2014 tidak lama lagi, 8 bulan ke depan. Pemilih wakilnya di legislatif (DPR) dan pemilih kepala negara.

Kiranya rakyat Indonesia akan memiliki kesadaran bahwa sikap peduli akan membawa pada kebaikan, bahwa peduli datang ke TPS, memilih yang berwarna dan bukan menjadi golput akan mengurangi golongan hitam (butho). Jika dimasalalu telah melahirkan pemimpin/anggota DPR yang korup karena rakyat banyak yang memilih bukan karena peduli tetapi karena dibeli, diiming-imingi, dan penyelenggara pemilu-nya juga butho (ada yang dipenjara) dan ada yang tidak punya moral etika.

@umilasminah

baca juga puisi saya Kepada Golput saat menyongsong Pemilu 2004 (yg dimenangkan golongan hitam) http://puisiumipoet.wordpress.com/2012/07/30/kepada-golput/

Titik Terang, sidang rakyat dimulai, Konsistensi Ratna Sarumpaet

Kemarin tepatnya, kamis,  4 Juli, 2013 saya berkesempatan menonton teater Satu Merah Panggung yang dipimpin Ratna Sarumpaet mementaskan Titik Terang: Sidang Rakyat Dimulai…di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki Jakarta.

Pementasan teater berdurasi lebih dari dua jam tersebut menurut penilaian saya sebagai penikmat kesenian bagus. Menunjukkan konsistensi Ratna Sarumpaet dalam berkesenian, bahwa berkesenian dapat menjadi wahana estetika (melalui dialog-dialog yang puitis dan padat makna) namun sekaligus memiliki nilai sosial politik sehingga teater menjadi wahana seni realis yang kritis terhadap kondisi kekinian bangsa.

Ratna Sarumpaet adalah perempuan yang gigih berktitikterangsidangrakyatarya dan memperjuangkan apa yang dipercayanya bagi kepentingan rakyat banyak. Contoh perempuan dapat menunjukkan dan berkreatif walauberusia sudah lebih dari 60tahun. Karya-karya naskah teater dan filmnya yang tajam dan dalam, tetap dapat dinikmati dan diresapi oleh mereka yang mendambakan keadilan dan kesejahteraan terjadi di Indonesia.

Lakon Titik Terang tidak memaparkan cerita seperti membaca poskota yang dipentaskan, saya pernah mengalami itu saat menonton suatu teater dari dramawan terkenal, yang anehnya dipuji bagus dikoran Kompas, namun saat saya menyaksikan…sama seperti membaca koran kuning, saya pun keluar dan meninggalkan pertunjukkan. Lakon Titik Terang membahas apa yang terjadi kini dari kacamata seorang Ratna Sarumpaet yang memendam kesedihan, kegalauan luar biasa atas apa yang terjadi pada rakyat Indonesia. Keberpihakan Ratna Sarumpaet atas rakyat itulah yang memampankan konsistensi lewat pertunjukkan ini.

Di lakon Titik Terang, kita mendengar fakta jeritan rakyat yang diluapkan secara teaterikal: buruh, tkw, korban perdagangan orang, korban gusuran, pekerja seks, aktivis, bahkan anak koruptor. Bagaimana kalimat paling keras antara lain: “Menghentikan Penderitaan dan Sakit Rakyat adalah hanya melalui Kematian”. Ada juga kritik keras terhadap partai, dan undang-undang yang dibahas di DPR.

Menonton Titik Terang sama dengan menonton Statement Politik Ratna Sarumpaet, banyak orang dapat bercermin darinya, banyak juga yang tidak sepakat. Namun secara garis besar, ini adalah pertunjukkan yang dapat menjadi Titik Terang, bahwa pandangan politik, pemikiran kritis, dapat dipentaskan, didengungkan untuk mengelitik pikiran dan mendorong aksi.

Sidang Rakyat merupakan ungkapan kritis atas realitas, bahwa Indonesia adalah Negara yang tidak memiliki Dewan Rakyat Tertinggi (Majelis).  Dalam sidang Rakyat dikemukakan pula tuntutan rakyat atas pengembaliaan hak-hak rakyat sesuati Konstitusi.

Di awal pementasan Ratna Sarumpaet tampil sebagai sesosok ibu tua yang merekam penderitaan rakyat, di akhir teater ada harapan dari seorang bahwa semua dapat diubah, titik terang dapat digapai dengan Satu Kata Lawan!

Saya tidak bermaksud mengupas dan mengktitik bentuk teaterikal, panggung, atau kemampuan para aktor. Semuanya biasa saja, tak ada yang istimewa, namun harus diakui semua dialog yang panjang pastilah tidak mudah. Atikah Hasiholan mengambil perhatian penonton dengan akting-nya sebagai Pekerja Seks yang berdialog langsung dengan penonton. Maryam Supraba berhasil menarik perhatian dan membuka mata hati penonton bahwa Anak-anak Para Koruptor dapat juga menjadi korban… Kata-kata yang diucapkan oleh Maryam Supbraba yang merasa hina karena darahnya, kulitanya dialiri penderitaan para buruh, keringat petani adalah suatu gambaraan luar biasa bagaimana Korupsi menembus batas jatidiri kemanusiaan.

Layak ditonton.

@wartafeminis

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑