Berkutat pada Paradigma Lama: Melupakan Rasa
Tahun 2018 seharusnya sudah meninggalkan jauh paradigma lama Cogito Ergo Sum-Descartes, cara model dari pendidikan barat yang diterapkan dalam sistem pendidikan Indonesia. Indonesia merdeka memilih pendidikan modern, yang semakin menjadi dalam sistem pendidikan OrBa yang menghilangkan Budi Pekerti dan reformasi menghilangkan mata pelajaran PMP. Rasionalitas yang utama. Manusia dibentuk jadi robot mengikuti kebutuhan industri. Alih-alih menyeimbangkan pendidikan “moral” “bathin” “rasa”, pendidikan vokasi tujuan industri digenjot. Ya ketika segala sesuatu jadi industri yang terjadi adalah produksi massal, komersil hampir jauh dari nilai, nilai kemanusiaan. Semoga saja masa ada kreatifitas yang tidak menghilangkan nilai dalam industri kreatif.
Belum selesai dengan rasionalitas tanpa rasa digempur dengan industri digital teknologi, segala jenis perangkat canggih informasi teknologi. Bagus dan sah saja bangsa Indonesia mengikuti perkembangan ICT, karena pada kenyataanya bangsa ini memang mampu memanfaatkannya bagi penunjang kebutuhan hidup manusia.
Beruntung Indonesia punya presiden yang memikirkan dan peduli pada kebudayaan dalam arti karsa dan karsa manusia Nusantara, sehingga melesatnya kemajuan teknologi tidak untuk meninggalkan kearifan lokal yang definisi saya adalah ilmu pengetahuan prakte rekayasa teknologi dan tata kelola masyarakat Leluhur. Malahan teknologi menjadi bagian reservasi dan pengembangan budaya asli Nusantara. Hal ini telah mulai dilakukan dengan mendokumentasikan segala karya budaya Nusantara dalam database.
Didalam kemajuan dan dinamika perkembangan budaya Nusantara yang beriring jalan dengan ICT (4,0) sayangnya masih saja banyak intelektual (scholar) yang menuliskan wacana dengan paradigma lama, yang parah adalah meminjam “perspektif” dari bangsa luar yang tidak memiliki Kearifal Lokal seperti dan dari suku bangsa Nusantara. Banyak diantaranya masih mengutamakan pendekatan materi, teori yang itu-itu saja, yang padahal di negeri kelahiran teori itu pun sudah beranjak dengan teori baru yang lebih mendekati kenyataan kini, yaitu kenyataan yang tidak hanya bersifat materi, rasional namun melampuai keduanya.
Kenyataan dimana penindasan bukan lagi berbasis kelas, wilayah/locus, modus, ras, suku namun tetap seksual. Isu perempuan dan ekologi masih belum dilirik sebagai acuan wacana untuk paradigma baru bentukan intelektual/scholar. Mereka tidak bisa menuliskan membicarakan Narasi Perempuan Korban Kekerasan Seksual, mereka tidak sanggup mengakui bahwa laki-laki patriarki masih menguasai wacana dan menciptakan narasi sehari-hari, dimana-dimana, desa,kota,negara dari yang paling rendah sampai paling tinggi.
Narasi IBU belum menjadi bagian kehidupan berbangsa, itulah sebabnya kebijakan negara pendidikan sosial, ekonomi semata-mata ditujukan bagi hal-hal yang kualitatif dan nampak, hampir meninggalkan Rasa. Padahal dari perempuan, ibu lah manusia belajar memenuhi Rasa dan menjadi hidup. Karena rasa pertama manusia lahir memang materil, Lapar, dan Susu Ibulah yang menghidupi sebagai Darah manusia. Rasa inilah yang ditinggalkan dan hampir tak dikenal, padahal kehidupan adalah untuk memenuhi rasa, apapun itu. Bila semua terpenuhi Rasa Kenyang, Rasa Aman, Sehat lahir-bathin, Rasa Senang (bahagia) itulah sejatinya Sejahtera Tentram, padahal rasa itu semualah yang paling pertama kali disediakan Alam melalui perempuan. @umilasminah
Advertisements