Terbalik-balik Budaya: Buwana Balik

Terbalik-balik Budaya: Kekayaan Orisinil Nuswantara “diambil” Bangsa Lain

Peradaban modern yang bila dihitung dari jamannya Rene Descartes baru berusia empat ratusan tahun. Muda sekali dibandingkan peradaban Nuswantara yang tak terhingga usianya. Saking tuanya tak dapat ditebak dan dilacak. Terlebih karena alat lacaknya pakai alat modern yang usianya lebih muda lagi.

Peradaban asli Nuswantara yang mewujud budaya dan tata cara hidup serta kesenian yang tersebar dan masih dipraktekkan hingga kini diberbagai wilayah Indonesia, sebagian Thailand, Burma dsb. Budaya yang masih dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari adalah cara hidup sehat dengan minum jamu yang terbuat dari rempah dan empon-empon (akar-akar rimpang), dan gerak badan baik pencak silat maupun olah nafas.

Di dalam kehidupan modern kini, kegiatan yang pada jaman dahulu dipraktekkan secara bersama, dalam komunitas masyarakat atau keluarga atau padepokan tanpa biaya, kini dijadikan ladang bisnis industri. Industri wellness (pemeliharaan kesehatan, kebugaran secara organik memanfaatkan tanaman herbal). Minuman dan makanan yang dahulu menjadi bagian tradisi sehari-hari sudah diadopsi para kapital dan menjadikannya produk industri. Bandingkan dengan tahun 1990an minuman wedang jahe masih sedikit yang dijual dalam kemasan dan bersifat instan. Artinya belum diproduksi oleh pabrik-pabrik besar. Minuman-minuam tersebut ditemui di desa-desa yang dingin, belum banyak di jual di kota besar.

Orang Desa Meninggalkan Daun, mengganti Plastik, Bangsa Barat meninggalkan Plastik mengganti Daun

Bangsa Nuswantara secara tata cara kehidupan agraris maupun maritim telah dikenal sebagai pemilik kebudayaan adiluhung. Kebudayaan yang tinggi. Dan itu terjadi jauh hari sebelum bangsa barat dengan pemikiran modern (memisahkan body, mind and soul) sebagai cara dan sistem pendidikan. Bahwa logika tak dapat beriringan dengan supra natural. Padahal secara akademik filosofis barat mengakui bahwa banyak yang belum dapat diungkap dari berbagai hal yang dipaparkan dan diperkirakan terjadi pada masa sebelum masehi. Bagaimana Spinoza yang dapat berbicara dengan anjing (yang menurutnya adalah reinkarnasi dari temannya), atau bagaimana kehidupan Phitagoras yang kabarnya sakti memainkan angka akhirnya dapat meninggal juga terbunuh karena dianggap salah perhitungan Segitiga Phitagoras.

Berbagai hitung-hitungan terkait angka, tanggal dan waktu suku-suku di Bali masih menggunakannya. Sehingga di Bali banyak tanggal yang merunut ajaran Leluhur sebelumnya dijadikan patokan untuk diikuti sebagai bagian dari kehidupan spiritual yaitu upacara-upacara yang terjadwalkan dalam kalendernya. Ada banyak arti dan makna serta peringatan terkait waktu dan tanggal. Di Jawa dan daerah lain mungkin ada, namun disebabkan ketiadaan aktivitas yang bersifat massif dan hampir tak terberitakan membuat Bali tetap menjadi acuan.

Bisa dikatakan hanya di Bali orang di kota maupun di desa masih memakai dedaunan untuk wadah dan bagian dari upacara. Sementara desa-desa lain, besek-besek (wadah terbuat dari anyaman bambu) yang biasa diisi penganan makanan usai acara sedekahan berganti dengan besek plastik dan atau kotak kertas. Di dalam wadah makanan-makanan yang biasanya terdiri dari nasih, bihun goreng,sambal kentang, oseng-oseng buncis/kacangpanjang, telur dan atau ayam goreng dibungkus dalam plastik kecil, atau didalam wadah plastik yang terbagi-bagi untuk tempat makanan tersebut.

Di berbagai tempat dimana besek dari bambu digantikan kertas kardus ataupun stylorform ataupun besek plastik biasanya alasannya lebih murah, atau hanya bahan tersebut yang tersedia di pasar atau diwarung. Sama halnya ketika batik-batik impor dari China datang dengan harga lebih murah, mulailah tersingkir batik pabrik Pekalongan dan sekitarnya. Untungnya kedua hal tersebut masih belum terlalu jauh berubah. Artinya masih belum massif dan total perubahan ke arah plastik dan instan belum sepenuhnya terjadi.

Masih ada daerah yang menggunakan besek dari bambu untuk wadah penganan sedekahan. Lebih jauh lagi, orang dapat dengan mudah membelinya melalui online shop (toko online) dengan harga murah, dan besek kini dijadikan sebagai soevenir.

Plastik dalam kebijakan kemasan di toko swayalan sudah berkurang bahkan di Jakarta tak ada lagi pemberian plastik untuk wadah belanja. Namun jika anda belanja di pasar tradisional, di warung-warung atau toko kelontong, maka plastik tetaplah tersedia sebagai wadah barang yang dibeli.

Industrialisasi kian Samar namun semakin jelas

Bangsa barat, dengan revolusi Industrinya yang memulainya pada abad ke18 melahirkan kata industrial, industri, yaitu ketika sesuatu baik barang ataupun service dibuat oleh suatu sistem organisasi (pabrik) atau perusahaan dalam jumlah dan jangkauan yang banyak bahkan hampir tak terhingga mengikuti tuntutan pasar. Pasar dalam arti bukan tempat jual beli. Tapi target konsumer yang dapat membeli produk. Nah jaman kini, industri bentuknya banyak baik service maupun goods. Didalam term industry wellness tergabung antara service dan goods. Service layanan pijat, yoga, goodsnya jejamuan, minyak dan produk herbal lainnya.

Industri wellness yang berkembang di barat umumnya mengambil atau “stealing” apa yang secara orisinil dipraktekkan oleh bangsa Timur, Asia-Afrika. Yoga dan Meditasi itu adalah olah diri yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari bangsa Asia dari jaman dahulu hingga kini. Industri wellness di Barat muncul dan berkembang baru pada abad ke-21, sedangkan abad ke-20 menjadi cikal bakalnya, khususnya pad periode Flower Generation di Amerika Serikat tahun 1960an.

Mungkin bertepatan dengan kesadaran akan perubahan iklim, maka munculah di barat kesadaran apa yang menjadi praktek hidup dan kehidupan selama ini dalam dunia industri ternyata salah. Munculah organisasi yang menyebutnya PETA People for the Ethical Treatment of Animals (PETA), yang mengkampanyekan melawan penggunaan Hewan sebagai “kelinci percobaan” dalam berbagai produk industri awal tahun1980an. Argumen yang digunakan untuk kasus yang diangkat ke pengadilan adalah Animal Abuse, penyiksaan Hewan. Itu peristiwa abad ke-20 yang pada abad ke 21 semakin menguat dengan peningkatan orang untuk tidak memakan daging (hewan).

Bagi bangsa barat industri makanan yang berbahan dasar hewan juga menjadi salah satu yang membuat orang mudah berkampanye untuk tidak makan hewan. Bagaimana tidak, orang-orang akan disuguhkan video-video tentang bagaimana proses penjagalan sapi atau hewan konsumsi lainnya, dari pabrik-pabrik pengolahan, yang hewannya diambil dari peternakan yang luasnya ribuan hektar dengan jumlah sapi yang juga ribuan.

Bangsa Asia mungkin baru China dan Jepang yang memiliki industri berbasis hewan dengan kapasistas fantastis (ekspor ke seluruh dunia). Bagaimana daging sapi MacD Indonesia pernah berasal dari sapi Australia atau Amerika. Indonesia, mungkin akan tetap menjadi negeri setengah agraris setengah walaupun kini memproduksi produk makanan yang diekspor ke seluruh dunia (indomie,kopiko dll), karakter industrialisnya mungkin berbeda dengan bangsa barat. Sampai detik ini produk tersebut masih belum dimiliki oleh TNC Transnational Coorporation (berbagai negara), seperti minuman kemasan Aqua misalnya yang sudah dibeli oleh Danone (Perancis).

Kembali Digiatkan Produk Tanaman Asli

Pada masa Orde Lama maupun Orde Baru, kecintaan atas produk lokal khususnya makanan dan minuman asli Nusantara telah diperkenalkan kepada publik oleh Pemerintah. Negeri agraris ditunjukkan dari lagu “Menaman Jagung” cangkul yang dalam menanam jagung di kebun kita. Presiden Soekarno memperkenalkan resep masakan dari berbagai pelosok Nusantara dalam Mutiara Rasa. Presiden Soeharto mengimbau para ibu-ibu PKK menggiatkan menanam tanaman obat yang dikenal TOGA Tanaman Obat Keluarga. Berlomba-lombalah tiap kelurahan menaman tanaman obat di depan kantor atau rumah kepala desa. Ada tanaman kunyit, jahe, langkuas, dedaunan seperti daun kumis kucing, daun kemangi, hingga daun pandan.

Pada masa Orde Baru maupun Orde Lama industri belum terlalu merambah luas kepada produk lokal seperti herbal. Hanya beberapa produsen yang memiliki nama dan menguasai pasar tersebut seperti Nyonya Meener dan Jamu Jago. Kini jumlah produsen produk serupa hampir tak terhitung.

Setelah hampir menjadi tanaman yang tidak dipedulikan bahkan dianggap dapat terkait dengan mistis tanaman Kelor mulai digalakkan kembali ditanam. Daun kelor memang diakui sebagai superfood sebagaimana ditulis dalam majalah mode terkenal sedunia https://www.vogue.com/article/moringa-new-superfood-to-know . Disamping itu, pemanfaatan sabuk kelapa yang telah dipakai sebagai pencuci piring oleh warga Indonesia termasuk keluarga di Jakarta kini terbukti memiliki kualitas yang jauh lebih baik dari sponge yang terbuat dari plastik, karena mengandung anti bakteri https://www.naturaisle.com/blogs/naturblog/what-is-a-coconut-kitchen-scrubber-and-why-it-s-worth-trying

Berkat.
Pohon Kelor di halaman rumah

Menunggu Jaman Berubah

Kita akan memasuki jaman baru, kembali ke hakikinya jaman, tidak lagi Sungsang Buwana (Bumi Salah Posisi). Kembali ke masalalu yang sesungguhnya Masa Kejayaan Majapahit/Wilwatikta dan Nuswantara. Kejayaan yang mencakup Semesta Raya.

Kondisi Sungsang (Salah) akan kepada Buwana Balik. Sungsang sekarang adalah posisi Utara, Posisi Selatan, Posisi Barat, Posisi Timur, Perempuan, bangsa Barat. Posisi sekarang perempuan ditindas, tidak menjadi pemimpin, bangsa barat penguasa, bangsa Asia buruh. Perempuan dijadikan objek seks, pornografi dimana-mana (dan itu temuan bangsa barat) Kondisi-kondisi itu akan berbalik. Perhatikan fenomena dunia.

Sekarang bangsa Asia/Afrika masih tidak sejahtera, dan menjadi buruh. Sedangkan pada masalalu bangsa Asia adalah penguasa, dan majikan. Bangsa masyarakat adat sekarang tersisih, diisolasi, padahal masalalu Mereka Penguasa Dunia, dengan kesaktian dan Posisinya.

Namun sebagaiman pemindahan posisi dari Salah menjadi Benar, pasti harus ada yang digerakkan harus ada yang bergerak, apakah Alam Raya bumi dan isinya, apakah manusia dan segala sosial budaya politiknya..marilah bersiap menunggunya. Baca dan terus membaca ALAM, BACA dengan HATI dan PIKIR.

Blog at WordPress.com.

Up ↑