Dapur: Budaya Adiluhur Adiluhung Nuswantara, Keseharian Praktek Perempuan

Budaya Nuswantara, budhi dan daya khususnya yang dipraktekkan sebagai tradisi dalam kehidupan sehari-hari dimasalalu, masa yang tak terlalu jauh tahun 1960an hingga tahun 1980an menunjukkan kebaikan (budhi) yang nyata. Bukti itu kini ditunjukkan dalam berbagai bentuk yang nyata, baik secara saintifik (modern sains) maupun secara empirik yang dipraktikan dan dikisahkan keberhasilannya dalam berbagai media massa formal maupun informal.

Apa yang dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari biasanya dianggap tidak penting, tidak bernilai. Hal ini terutama karena keseharian itu dipraktekkan oleh perempuan, di dapur, di rumah, didalam keluarga. Apa yang dipraktekkan di rumah dan di keluarga. Para ibu menyiapkan makanan minuman sehat di dapur, membersihkan dan mempersiapkan perlengkapan dapur, menyiapkan pangan sayuran dan minuman sehat, dan bila sakit menyiapkan obat-obatan dari tradisi turun temurun. Semuanya dilakukan perempuan, ibu dan adakalanya bapak ikut membantu menyiapkan apa yang diperlukan.

Dapur: Pustaka Rasa dan Tradisi Luhur

Bila selama ini, khususnya masyarakat modern yang  hampir tak pernah mendapatkan ajaran adat istiadat dari nenek moyang langsung, ibu dan bapak atau nenek kakek tentang berbagai tradisi seputar Kelahiran, Perkawian, Kematian, dan Bertetangga, mungkin akan masih menanggap dapur bukan hal penting, bukan hal utama, sehingga tak terpikiran sebagai wacana untuk diangkat dalam percakapan. Terlebih sekarang dapur berpindah ke restoran, dan restoran pun mengirimkan makanan ke rumah. Dapur mungkin masih memiliki sedikit fungsi menyimpan sesuatu. Dapur kini menjadi Gudang. Perlengkapan dapur tidak dipakai, hanya menjadi barang yang hampir tak dipakai, mungkin hanya piring, gelas dan teko karena pasti diperlukan, atau kompor untuk memasak air membuat kopi.

Meskipun begitu, dapur tetap eksis sebagai bagian denyut kehidupan rumah tangga, dan juga memiliki fungsi yang menjadi lebih luas melampaui penyangga pangan keluarga, namun penyangga pangan desa, atau komunitas. Ketika dapur-dapur rumah tangga memiliki fungsi tambahan penyedia pangan untuk dijual atau produksi. Disinilah industri rumah tangga, komersialisi kecil terjadi. Saya pernah berbincang dengan seorang teman yang memperlihkan bahwa karakter bangsa Indonesia bukanlah karakter industrialis/kapitalis (rakus/greedy). Ini saya hanya menyimpulkan, ketika ada pengusaha-petani yang diminta untuk menyediakan daun kelor berton-ton rutin oleh perusahan di Jepang tidak dapat memenuhinya. Saya menganggap tak semua bahan pangan atau hasil pertanian dapat diproduksi secara besar-besaran dan ini

sumber:
https://rudihermawanoke.wordpress.com/

terkait bukan dengan permintaan dan penawaran, namuan lebih kepada karakter tanah, karakter masyarakat/komunitas dimana tanaman itu tumbuh, dan bagaimana proses tanam serta peliharanya. Ada memang lahan luas yang bisa ditanami padi,atau jagung atau singkong tanpa menganggu habitat hewan maupun biota lain yang telah ada sebelum penanaman besar-besaran. Akan tetapi apakah pernah ada penelitian sebelum ditanaminya pohon sejenis di lahan yang luas tentang: habitat burung apa , habitat hewan melata, primata apa serta tanaman liar apa yang biasa ada dilahan luas ini. Kemana mereka pergi bila diganti dengan tanamanan sejenis “sawit”, padi, jagung.

source: https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbjabar/hawu-dalam-pandangan-masyarakat-sunda/

Kembali ke pembicaraan dapur di atas, sesungguhnya ciri dapur juga terkait dengan tanaman pangan apa yang menjadi bahan pokoknya. Bagaimana pengolahannya menentukan jenis alat kelengkapan dapurnya. Ketika para transmigran dari pulau Jawa dan Bali datang bertani serta  bercocok tanam di Suamtera, Kalimantan, apa yang menjadi dapur di Jawa juga menjadi dapur di rumah-rumah di tanah transmigran…

Meskipun begitu, suku-suku asli yang mendiami pulau  Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi telah memiliki berbagai jenis perlengkapan dapur yang menjadi ciri tersendiri, bila dilihat dari bentuk dan fungsinya biasanya sangat terkait dengan geoculture.

 

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑