KOPI LUWAK

Bila anda mencari di google tentang kopi Luwak, maka yang muncul adalah bagaimana buruknya dampak dari produksi kopi luwak, khususnya tentang prilaku manusia terhadap hewan. Terlebih media online “yang mengklaim” pro lingkungan hidup, pastinya anda akan menemukan isu negatif dari proses produksi kopi Luwak. Hal ini terutama dituliskan oleh media barat “berbahasa Inggris” dan negara-negara yang secara riil adalah kapitalis dan kolonialis. Sehingga ketika dipaparkan kritikan dan cerita negatif Kopi Luwak sesungguhnya adalah pengambaran bagaimana kapitalis memang buruk, termasuk mengindustrialisasi kopi Luwak dan mengeksploitasi binatang Luwak. Lah wong dalam industri saja kapitalis mengeksploitasi manusia masa tidak mengeksploitasi Luwak.

Pahadal kopi Luwak, yang berasal dari kotoran Luwak sejatinya prosesnya tidaklah merugikan siapapun terutama Luwak maupun manusia, bahkan membantu keseimbangan alam. Luwak sendiri adalah binatang liar, artinya memang harus hidup liar artainya lagi binatang Luwak tidak bisa dipekerjakan, diekploitasi seperti manusia, Luwak harus sesusakanya makan kopi sesukannya juga eek dimana saja, bukan dalam penjara atau kandang. Nah bila ada orang yang menangkarkan Luwak, memelihara dan mengkandangkan pun ada jenisnya itu tidak usah dibahas disini, karena itu cara kerja kapitalis, untung besar, produksi terus menerus dan konsisten bukan berdasarkan kebutuhan hidup, tapi penciptaan pasar.

Tulisan ini lebih mendukung kehidupan Luwak liar yang happy “makan kopi” tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat di desa dan memberi peluang bagi peminum kopi Indonesia untuk mencicipi kopi termahal di dunia Kopi Luwak bukan berasal dari Luwak yang di eksploitasi. Luwak itu memakan kulit kopi sehingga petani mendapat kelebihan biji kopi yang tidak dimakannya, dibuangnya sebagai eek. Luwak juga dulunya dianggap pengganggu petani yang tinggal dilereng gunung karena sering memakan tanam-tanaman milik petani, kini Luwak dibiarkan hidup karena memberikan kopi terbaik yang sudah diolah diperut Luwak..

Jangankan icip kopi Luwak, umumnya masyarakat awam Indonesia peminum Kopi Robusta pun sering tak tahu bahwa bahwa yang mereka minum bila kopi tubruk non sachetan rata-rata kopi robusta. Jadi faktanya robusta banyak diproduksi dan diminum orang Indonesia, sementara yang disediakan di kafe-kafe serta yang menjual kopi bubuk online menjual mahal kopi Arabica dibanding kopi Robusta. Minum kopi dan jenis kesukaan juga bersifat personal, private, selera tetapi dengan gempuran kapitalis, banyak orang “berada” akhirnya terpaksa hanya meminum kopi Arabica karena kopi itu yang disediakan di cafe-cafe kota besar Jakarta. Selera kopi saja terjajah duh.

Kopi Luwak Pelita, foto @Ninuk

Indonesia Feminist Theory and Practices

Blog at WordPress.com.

Up ↑