Search

wartafeminis.com

Indonesia Feminist Theory and Practices

Tag

Majapahit

Kembalikan Warisan Nilai Bangsa yang Ditinggalkan

Pancasila adalah dasar negara yang digali dari nilai-nilai bangsa yang pernah dilaksanakan sejak dahulu kala, nilai-nilai yang lahir dan dijalankan di Bumi Pertiwi. Nilai-nilai yang telah mensejahterakan rakyat di Bumi Pertiwi. Nilai tersebut terejawantahkan dalam Kitab Negarakretagama. Kitab yang mengatur perikehidupan warga Majapahit. Nilai-nilai yang sejak dahulu terwujud dalam masyarakat Nuswantara antara lain toleransi dan solidaritas sesama manusia, musyawarah (gotongroyong), saling membantu dan percaya pada Hyang Maha Kuasa. Nilai-nilai toleransi dan solidaritas sesama manusia disebutkan dalam Sila Ke-2 Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. Namun sila tersebut kini hampir hilang dalam pelaksanaannya. Contohnya adalah semakin bertambahnya jumlah orang miskin yang menderita, namun semakin bertambah pula orang yang kaya, yang berarti TIDAK MERATA kesejahteraan. Yang paling jelas juga, TOLERANSI terhadap mereka yang menganut KEYAKINAN BERBEDA mulai ada yang MENIPIS dan dibiarkan oleh Negara. Kasus pembakaran gereja, pembakaran masjid Ahmadiyah, kesulitan Mendirikan Gereja Yasmin, hal itu mencerminkan SILA KEDUA TELAH DITINGGALKAN dan didiamkan Pelanggarannya oleh Negara (cq Pemerintah). Apabila sila Kemanusiaan Yang ADIL DAN BERADAB sudah ditinggalkan, maka yang DIJALANKAN oleh PEMERINTAH  Indonesia YANG TIDAK ADIL DAN TIDAK BERADAB.

Berapa lama KETIDAK BERADABAN DAN KETIDAK ADILAN berlangsung, apakah rakyat harus diam saja?

Dan mengapa hal tersebut dapat terjadi. Secara sederhana akan diungkapkan disini Bagaimana KETIDAK BERADABAN Pemerintah dan KETIDAKADILAN Pemerintah dapat berlangsung terutama periode 2004-2012  ini. 1. Sila Pertama Ketuhanan Yang Maha Esa dijadikan Panglima Politik Pemerintah Partai Demokrat, bukan dalam artian Pelaksanaan dan Penghayatan Sila PERTAMA melainkan Mengedepankan ‘Agama’ sebagai bagian TRANSAKSI Politik. Ketika Agama, yang adalah institusi ajaran keyakinan TERTENTU dipilih dan dikedepankan untuk transaksi politik, MAKA AGAMA bukanlah A-GAMA (tidak tak teratur), tetapi Keteraturan Semu yang dipaksakan. Terkait dengan PASAL 29 yang dengan bijak tidak diubah: Menjamin Kemerdekaan tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.. Namun, karena transaksi ‘agama’ untuk politik dari  kalangan partai tertentu maka, banyak rakyat Indonesia yang dimasa sebelumnya bebas beribadat dan menjalankan kepercayaannya, kini menjadi tidak bebas lagi, karena adanya tekanan dari rakyat yang teprovokasi oleh kalangan yang mendapat ruang oleh penguasa. Bahkan ada yang meninggal dunia, dan terbuang dari kampung halamannya sendiri.

Dyah Pitaloka putri Kerajaan Pakuan (kadipaten) tidak dibunuh Gajah Mada

Bagi warga Jawa Barat kiranya kini saatnya untuk berhenti menerima kisah sejarah yang salahtdkcuma pajajaran bentukan Belanda. Bahwa kerajaan dalam perang Bubat bukan Pajajaran dan Majapahit, melainkan Kerajaan Pakuan, suatu kadipaten yang menginduk ke kerajaan Majapahit.

Adapun sejarah versi lama, Kolonial selalu menyebut bahwa Dyah Pitaloka berasal dari kerajaan Pajajaran, padahal bukan.

Dyah Pitaloka memiliki wahyu Prajna Paramitha adalah putri Prabu Mundingwangi dari Kerajaan (Kadipaten) Pakuan yang menginduk ke Kerajaan Majapahit. Wahyu Prajna Paramitha adalah wahyu tertinggi untuk kaum perempuan, sebagaimana yang dimiliki oleh Ken Dedes.

Ayahanda Dyah Pitaloka, Prabu Mundingwangi yang berniat mengkudeta Majapahit saat mengirim putrinya bertemu Hayam Wuruk namun diseertai gelar pasukan. Maka saat perang bubat yang wafat saat berhadapan dengan Gajah Mada adalah Prabu Mundingwangi.

Adapun Dyah Pitaloka setelah itu bertemu dengan Gajah Mada yang dijelaskan mengenai niat ayahandanya. Dyah Pitaloka akhirnya memilih moksa di Bojonegoro saat Perang Bubat. Dyah Pitaloka tidak mati dibunuh Gajah Mada..

Kelanjutan kerajaan Pakuan yang terus menginduk dengan Majapahit dilanjutkan oleh adik Dyah Pitaloka adapun karena kejadian ini membuat Hayam Wuruk marah dan mengusir Mahapatih Gajahmada. Pengusiran Mahapatih Gajahmada yang mendirikan padepokan di Madakaripura) , karena Hayam Wuruk belum jelas duduk perkaranya membuat Menak Jingga tidak setuju dengan pengusiran tersebut, juga Dewi Lanjar.

Beliau setelah melakukan kesalahan mendapat marah dari Hayamwuruk dan diusir dari kraton, sebelum pergi keluar beliau pamitan dulu ke Tri Buana Tungga Dewi dan Tri Buana Tungga Dewi mememanggil Hayam Wuruk danmenjelaskan bahwa Gajahmada itu bapaknya. Namun karea Prabu Hayam Wuruk sudah tersabda dan sabda pandita ratu itu tak boleh dicabut, Gajah mada pergi ke Madakaripura menjadi pertapa dgn gelar Resi Tunggul Manik.

Di sana Gajah Mada menemukan anak kecil yg dibuang ibunya , anak tersebut dinamai Damarwulan dibawah cahaya dammar saat bulan purnama. Damarwulan ini, yg nantinya menggantikan Hayamwuruk. Hayamwuruk yang patahati dengan Dyah Pitaloka akhirnya tak mau menikah dan tak punya keturunan.

Pengusiran Gajahmada dari Kraton oleh Sang Maha Prabu Hayam Wuruk yang belum tahu kejadian aslinya, yang pasti tidak mungkin Maha Patih Gajah Mada mengincar posisi tahta Majapahit, karena yang mengincar tahta saat itu adalah Adipati Pakuan : Prabu Mundingwangi yang merasa bahwa putrinya yang bernama Dyah Pitaloka mempunyai kesaktian yang lebih tinggi dari Maha Prabu Hayam Wuruk (Dyah Pitaloka mendapatkan wahyu PrajnaParamitha), juga pusaka jagad Kyai Plered ada di tangan Prabu Mundingwangi (yang di era-era sebelumnya dibawa oleh Prabu Siyung
Wanara), merasa putrinya lebih sakti dan mau diangkat menjadi prameswari serta mempunyai pusaka jagad itu maka Prabu Mundingwangi berniat kudeta, membawa putrinya ke Kraton induk tapi lengkap dengan prajurit perang, persenjataan dan panji-panji perang. Rencana kudeta itu sempat didengar oleh Dewi Lanjar yang merupakan putri dari Kraton Indrajaya (Galunggung) dan diberitahukan kepada Maha Patih Gajah Mada bersama Senopati Perang Majapahit saat itu yang bernama Wikrama
Wardhana.

Saat itu pasukan eksepdisi Amukti Palapa membuat markas di daerah Bojonegoro, dan pada saat pasukan besar Pakuan tiba di daerah sana, justru merekalah yang menghunus pedang duluan, dan ternyata pasukan Pakuan bukan tandingan dari Maha Patih Gajah Mada, Wikrama Wardhana
beserta pasukan Majapahit, mereka berhasil ditumpas termasuk gugurnya Prabu Mundingwangi. Tinggallah Dyah Pitaloka yang setelah berhadapan dengan Maha Patih Gajah Mada (yang ketitisan Wahyu Swastika) sehingga dibukakan semua kesalahan dan niat dari ayahandanya Prabu
Mundingwangi, maka kemudian Dyah Pitaloka moksa di lokasi itu.

Maha Prabu Hayam Wuruk yang tidak mengetahui peristiwa itu setelah tahu bahwa Dyah Pitaloka sudah ‘tidak ada’ dan semua pasukan Pakuan terbunuh tanpa menanyakan awal sebabnya kemudian mengusir Maha Patih Gajah Mada, memarahi Dewi Lanjar sehingga karena kecewanya Dewi Lanjar
kemudian juga memilih moksa, dan mengakibatkan Wikrama Wardhana yang mengetahui semua duduk perkaranya kemudian bersama pasukan Amukti Palapa Majapahit memilih untuk memisahkan diri dari Majapahit, sebagai bentuk protesnya kepada Maha Prabu Hayam Wuruk maka kemudian Wikrama
Wardhana (Menak Jingga) mendirikan kraton tandingan Majapahit Wetan di timur pulau Jawa, seluruh kratonnya di cat warna merah, sehingga dikenal juga dengan nama ‘Bale Bang-bangan’ …atau lebih populer dengan Blambangan.

Setelah itu, di Kadipaten Pakuan untuk menggantikan tampuk pimpinan yang hilang, maka adik dari Dyah Pitaloka yang kemudian naik tahta setelah diruwat oleh Majapahit karena sebuah kesalahan, adik Dyah Pitaloka bernama Dewa Niskala (nis/nir : terhindar, kala : arabahaya/peperangan/pemangsa; dewa yang terhindar dari marabahaya), peristiwa itu dikenal dengan nama ‘Niskala Wastu Kencana’, dalam bahasa sansekerta ‘wastu’ berarti bertahta atau dinobatkan, dan ‘Kencana’ berarti emas atau raja yang bercahaya, atau secara utuh berarti ‘yang terbebas dari mara bahaya dan dinobatkan sebagai Raja’.

Kejadian ‘perang Bubat’ hanya sebuah noktah kecil dalam sejarah panjang Kerajaan Majapahit, dan semua ada peran dan ganjarannya sesuai dengan perilaku masing-masing, kehidupan berjalan terus dan KadipatenPakuan saat itu dan setelah itu tetap merupakan bagian dari Nuswantaradi bawah kerajaan induk Majapahit, kesan pertentangan dan dendam yangdibuat-buat antara Sunda dengan Jawa adalah buah ‘devide et impera’dari peradaban pro status-quo yang tidak ingin melihat Nuswantara
menjadi utuh kembali.

(SEJARAH Harus diubah TOTAL)

Turangga Seta http://www.turanggaseta.com

Sumber informasi dari blog ini apabila menyangkut SEJARAH NUSWANTARA tidak menggunakan BAHAN CIPTAAN DARI ORANG ASING, ATAU DIBUAT OLEH BELANDA, ATAU OLEH PEMERINTAH RESMI/ARKEOLOGI YG DIPENGARUHI OLEH ORANG ASING. Sejarah ORANG NUSWANTARA harus berasal dari sumber ORANG ASLI NUSWANTARA karena memang berasal dari LELUHUR NUSWANTARA, bukan LELUHUR ASING.Karena sejarah ASLI BUKAN diinterpretasi oleh orang asing bahkan orang yg TIDAK LAHIR DI NUSWANTARA, Tidak bisa bahasa Asli Nuswantara, tidak mengenal kultur asli NUSWANTARA, dan tidak pernah BERHUBUNGAN DENGAN LELUHUR NUSWANTARA.

SEJARAH NUSWANTARA YANG DIPAPARKAN DI SINI BERSUMBER DARI LELUHUR PELAKU LANGSUNG, BAIK DALAM BACAAN SANDI-SANDI MANUSKRIP ASLI MAUPUN DARI SANDI/CANDI. Candi itu sebenarnya sandi memberikan informasi tentang berbagai hal termasuk posisi Keraton/Istana terpendam.

Menguak Kebenaran Nusantara Kejayaan Negeri

Menguak Kebenaran Nusantara Kejayaan Negeri
compiled by Umi Lasmina

Bagi yang percaya bahwa Nusantara adalah Awal Peradaban Dunia, bahwa suku-suku bangsa Indonesia-Nusantara adalah orang-orang sakti (yang mampu mendirikan candi Prambanan dalam semalam), candi Borobudur (tanpa menyiksa budak), atau mendirikan piramid-piramid diberbagai penjuru negeri…

silahkan membuka http://www.lakubecik.org/

atau lihat foto2 Timmy Hartadi di facebook
atau bergabung di GregetNuswantara facebook group…baca dan cermati petunjuk Rahadyan Abimanyu dan Dewi Kamaratih

Bagi kita semua yang telah abai, lupa pada Leluhur, yang dahulu kala lahir dan besar serta menjaga tanah dan air Nusantara, sehingga kini kita menikmati tanah dan air, alam dan segala isinya,

sedang kita tidak mengenal dan tidak tahu akar, sekarang lah waktunya…

Ketidak tahuan, dan hilang ingatan atau abai pada leluhur sesungguhnya, atau sepenuhnya bukan salah bangsa ini, itulah jalannya. Dan sekarang jalan untuk mengingat kembali, mengakui dan mengangkat kembali akar ke permukaan sedang terjadi. Ratusan tahun bangsa di Nusantara dibutakan oleh Belanda dengan politik tidak hanya devide et impera, namun Belanda mengobrak-abrik sejarah, menghilangkan secara sistematis dan yang paling parah menciptakan sejarah Baru, sejarah Palsu.

Diantara Obrak-abrik Belanda adalah MENGGANTI nama gunung-gunung yang ada di penjuru Nuswantara, tentu saja Belanda dapat melakukannya ribuan gulungan rontal tertulis baik sansekerta atau Pallawa tentang sejarah Nusantara dibawa ke Negeri Belanda (meskipun tentu saja pula masih banyak yang tersembunyi di simpan Leluhur di Negeri Nuswantara dan menanti untuk dibuka. Tentu ada maksudnya. Tentu ada penggeraknya. Tak sekedar menyalahkan Belanda saat dulu itu waktunya. Namun BILA NAMA GUNUNG SESUAI ASLINYA, maka di dekat gunung-gunung tersebut Ada berdiri kerajaan atau Keraton. Bahkan posisi keraton/istana pada jaman dahulu kala berbeda, dahulu ada pakem yg menunjukkan ada sistem kekuatan empat penjuru. Seperti keraton yg ada sekarang tidak memunggungi gunung, padahal harusnya begitu, karena mencuci pusaka dibelakang keraton (dari air belerang gunung)…

BERIKUT NAMA GUNUNG GUNUNG:

Beberapa benda misterius yang terlihat terbang melayang yg diabadikan leluhur kita di candi Borobudur. Ada 2 UFO yg jelas tergambar dalam relief ini, yg pertama tepat di atas kuda yg berbentuk seperti piring terbang dan yg kedua berada di atas gajah, perhatikan kedua gambar itu, gambar UFO yg tergambar semuanya dalam posisi melayang jadi tanpa tiang penyangga ataupun tanpa tali penggantung, kedua bentuk benda ini juga membuat ketakutan 2 hewan yg tergambar (kuda dan gajah). Keberadaan kuda dan Gajah ini menunjukkan ke dua hewan ini ada di lapangan yg luas, krn bisa berlarian, sehingga tidak mungkin 2 benda misterius ini menempel pada dinding bangunan, maka kita perlu teliti ulang cerita yg ada di relief candi2 kita

1) Nama2 asal Gunung di Nuswantara : G Lawu = Mahendra, G.Muria = Retawu, G Salak = Saptoargo,G Ungaran = Sakya, G Cireme= Indrakila, G.Semeru yg skarang = Salaka, G.Gede = Agung, G.Perahu = Baitha, G.Wilis= Pawinihan, G.Kawi = Kawitan, G.Pangrango=Reksawan, G.Patuha= Malaya.Gunung salaka adanya di jawatimur

2) Gunung Slamet yg ada di Jawa Tengah dulunya adalah gunung Jamurdipa, maka disalah satu lerengnya yg mengarah ke Banyumas masih tersisa nama desa Jamurdipa, Gunung ini dikelilingi beberapa kraton: Utara Wirotho anyar, Utara timur Mahespati,Timur tempat pertapaan dan ada Wirotho kulon saat menjelang Baratayuda( perangnya sendiri di tegal kurusetra yg skarang berubah nama jadi Bagelen) serta banjarnegara,Selatan timur Dorowati(bukan Dwarawati),Selatan Purwokerto, barat selatan Indrajaya,Barat: Karang kamulyan, Banjaransari dan beberapa tempat pamoksan atau pertapaan para mantan raja,barat Utara: Mandaraka dan Medang Galungan.

ada banyak bukti pusaka, dan pustaka yang sejati, bukan pustaka asal Belanda, yang mengobrak-abrik Sejarah Nusantara, sehingga suku-suku bangsa di Nusantara tidak lagi SAKTI, melainkan baik dan patuh sehingga terjajah…

selamat menjelajahi dan mengenali diri melalui leluhur anda masing-masing, tempat anda dilahirkan atau garis keturunan anda sekalian…

agar Nusantara kembali Jaya, sebagaimana 500 tahun lalu

GUNUNG LAWU

“Mahendra” adalah nama gunung yg sekarang diubah namanya menjadi Gunung Lawu, “Giri” berarti gunung.Sehingga Mahendra Giri berarti Gunung Mahendra atau gunung Lawu, Mahendra sendiri berasal dari kata Maha Indra,.maka di puncak gunung Mahendra ada daerah yg bernama kahyangan…daerah itu adalah suku atau kaki kahyangan Tenjomoyo atau kahyangan tempat Sang Hyang Batara Indra..kraton pertama yg ada di puncak gunung Mahendra adalah kraton Purwokondo atau Purwacarito,raja yg pertama adalah Sang Prabu Makukuhan atau lebih dikenal dengan nama Sang Mahaprabu Kano..pd jaman beliaulah awal terjadinya air bah maka sejak jaman beliau di Nuswantara ini diwajibkan adanya Istana Bale Kambang. letak kraton Purwacarito ada di sekitar puncak gunung lawu sampai ke wilayah Magetan..namun di gunung Mahendra sendiri terdapat beberapa kraton dr beberapa jaman seperti Wiroto Wetan,Widoro Kandang,Widodaren,Wengker Kulon,dll…

3) Bukti-bukti lain

BUKTI Kalau Nuswantara pernah menguasai hampir seluruh dunia adalah dari nama2 Sanskrit yg ada di beberapa Negara : di Rusia ada Selo Bimo : astana(tmpat yg luas), vanavara(hutan tempat anugrah), di benua Amerika ada nama: Yukatan( ya terlihat), guatemala (papanne memala), Maya(samar), Brasil (berhasil), Lima(5), di afrika ada nama Pantai Gading, Tanjung Harapan, Kenya( perempuan muda), di Eropa ada nama: Creta(kura2) dsb (sumber facebook: @Haslinda Razalie)

4) Kisah Ramayana terjadi di Nusantara

Adipati prabu Rama itu di Bogor kratonnya di Poncowati , adipati prabu Rahwana itu di Majalengka .

Di sekitar Desa Poncowati yg ada di Bogor krn disitulah kadipaten tempat Prabu Ramawijaya memerintah, lalu datangi daerah Nagrek(nagrek artinya burung bertengger) krn disitulah perang antara Jatayu dan Rahwana saat Rahwana menangkap Dewi Shinta, juga datangi lokasi daerah Majalengka, krn disitulah kraton Mahajaya Alengka…

Bila diukur secara geografis, siapa yg melanggar batas wilayahnya yg ke 2. Maka Rama masuk Wilayah Rahwana tanpa ijin.

5) Jejak Peradaban di Sumatera

Kraton terbesar di Swarnadwipa yg kekuasaannya tercatat di serat Kandabuana adalah Kraton Lesanpura, Kraton ini seharusnya ada di sekitar Medan, maka banyak nama daerah yg mengarah pada nama2 Sansekerta disana seperti Dalam bahasa Sansekerta ditimbun itu adalah diuruk, maka perhatikan dan cermati daerah2 di sekitar Medan yg memakai nama “URUK” krn pasti ada yg tertimbun disana. Selain itu dalam melihat itu berarti ” Ndeleng” maka didaerah yg pakai nama Deleng pasti didaerah tinggi dan itu tempat pengamatan, “Tangkis” itu artinya Tanggul, Semoga juga pada paham adanya nama hamparan perak disana.

6) Atlantis ada di SINI di Nusantara

Pada Jaman Kali Yoga di Kala Dwara, terdapat kerajaan yg sangat besar dan Megah di Selatan Jawa, Kerajaan itu dipimpin oleh perempuan yg sangat cantik yg bernama Ni mas Angin2 atau Ni Mas Gilang Kencana, krn jarang keluar kraton maka disebut juga Ni Mas Pagedongan, beliau adalah putri bungsu dari Sri Aji Jayabaya. Atlantis adalah bahasa Sanksekerta Leluhur yang berarti perempuan cantik. Kerajaan ini melegenda di seluruh pantai selatan, bukti kebesarannya saat ini sudah digeser ke Mitos,dimitoskan dan diberhalakan.Tapi inilah kerajaan Atlantis yg melegenda itu…dari googleearth di koordinat 16°11’53.69″S,112°51’47.47″E ada bekas tapak tangan raksasa, sesuai cerita di pakem pedalangan serat Kandabuana saat ditenggelamkannya kraton para putri di jaman Kala Dwara trus di sekitar koordinat 14°31’8.86″S,117° 8’45.77″E juga terlihat ada seperti beteng di dasar laut yg panjangnya tak kurang dari 721 km dengan lebar 14 km,gambar itu akan jelas di eye alt:1129.34 km,dengan elev -5714 m.Beberapa teman di AL dan AU sering melihat istana emas di skitar daerah itu walaupun hanya sepintas…(Haslinda Razalie)

Ratu Kadipaten Atlantis itu kan putri bungsu-nya Sang Mapanji Sri Aji Jayabaya, Sri Aji Jayabaya (titis Sang Hyang Batara Wisnu) beristrikan Dewi Tara (titis Dewi Sri) mempunyai 4 orang anak, yaitu Angling Darma, Jaya Amijaya, Jaya Amisena dan yang bungsu bernama Nimas Pagedhongan.

Nimas Pagedhongan dikenal juga dengan nama Nimas Angin-Angin, dinamakan Pagedhongan karena waktu kecilnya lebih banyak tinggal di dalam istana/kraton (gedhong) …dan mempunyai ajian Sepi Angin (bisa berpindah tempat dalam waktu sekejap) …setelah cukup usia dinobatkan menjadi Adipati di Kadipaten Atlantis (sansekerta, yang artinya perempuan cantik) dan bergelar Kanjeng Ratu Gilang Kencana, yang setelah Atlantis di-moksa-kan ini sosok Kanjeng Ratu Gilang Kencana yang kita kenal sekarang dengan nama Kanjeng Ratu Kidul.(sumber Timmy Hartadi)

Kanjeng Ratu kidul adalah putri bungsu dari Sri Aji Jayabaya yg berpakaian serba emas makanya sering disebut nimas gilang kencana(gilang:mengkilat,kencana:emas) juga nama lainnya ni mas angin2 krn kedatangannya disertai angin, juga di sebut ni mas Pagedongan krn jarang kluar kraton, sedangkan nama aslinya adalah Dewi Atlantik maka sering dipanggil Dewi Antik, sehingga barang2 yg indah selalu dikonotasikan atas nama beliau menjadi benda Antik, di kraton Kidul ada banyak pengikut beliau, Mahapatihnya Dewi Kadita yg terkenal dgn nama Nyai Roro Kidul dan berpakaian hijau pupus/muda beliau putri dari Medang Ghana di pelabuhan ratu,beberapa Tumenggung: Endang Juwiri berpakaian serba kuning, Surenggana berpakaian merah,Nyai Sepet madu berpakaian ungu,Nyai Gadung Mlati berpakaian ijo gadung/tua,Nyai Blorong berpakaian juga ijo gadung dll….(GregetNuswantara;Batara Wisnu)

KANJENG RATU KIDUL Leluhur Prabu Airlangga

Sedangkan Sang Maha Prabu Airlangga (yang juga merupakan titis Sang Hyang Batara Wisnu) dari Kerajaan Kuripan itu 10 generasi di bawah masa-masa-nya Sri Aji Jayabaya (di dalam sejarah sekarang posisi itu dibalik dengan dibikin kesan lebih dulu Airlangga daripada Jayabaya) …jadi sebetulnya dalam hal ini …Kanjeng Ratu Kidul adalah leluhurnya Sang Maha Prabu Airlangga (sumber Timmy Hartadi)

7) GARUDA—> Kendaraan Wisnu, Lambang Negara REPUBLIK INDONESIA

(burung2 lain juga dipakai sebagai lambang Negara)

Awalnya …sesaat setelah bumi diciptakan, Sang Hyang Wening menciptakan Dang Hyang penjuru bumi …salah satunya adalah Garuda Yaksa Retna Peksi Jala Dara yang bertugas menjaga jagad awang-awang (angkasa) …dalam suatu peristiwa kemudian Garuda Yaksa akhirnya ikut kepada Sang Hyang Batara Wisnu dan dijadikan tunggangannya beliau sampai sekarang <– detail tentang ini ada di document Jagad Gumelar …untuk spesies binatang, menjadi salah satu bagian dari keseharain seorang Dewa adalah pencapaian tertinggi dan kesempurnaan tertimggi sehingga Garuda Yaksa juga dikenal sebagai raja-di-raja-nya burung …dengan fungsi awal sebagai pengawal awang-awang dan tunggangan Dewa Wisnu inilah Garuda dijadikan lambang Indonesia.

Dalam peradaban yang lain osok Garuda Yaksa inilah yang dikenal juga dengan nama Jatayu …juga selalu terdapat ornamen Garuda Mahambira yang dipahatkan di areal kraton-kraton jaman dulu, mulai dari pahatan di Sitihinggil sampai ornamen di seputar beteng kraton (Timmy Hartadi)

Info ini diperoleh Turangga Seta dengan menanyakan ke Leluhur, pada cara yg ini kita tidak boleh bicara astral, jadi harus ada real, maka leluhur yg ditanya harus mempunyai kriteria: 1.tidak buta huruf pallawa, 2.bisa bahasa sansekerta, 3.tahu lokasi situs yg dimaksud dgn bukti2 lengkap.(sumber Turangga Seta). Adapun penjelasan bukti2 terkait fungsi Turangga Seta menggunakan penjelasan ilmu science (fisika dan kimia dan lain-lain).

8) KERAJAAN MAJAPAHIT

Kerajaan Majapahit (aslinya bernama Mojopoit) itu bukan hanya ada 5 raja tetapi ada 8 raja (Brawijaya VIII) yang bertahta di tanah Jawa yang di-inisiasi oleh Raden Wijaya (Harya Sedah) seorang pangeran dari Kadipaten Magadha (sekarang Bandung) yang merupakan putra dari Adipati Panjalu yaitu Sang Prabu Siyung Wanara.

Pada saat Adeging Kerajaan Majapahit, Raden Wijaya memakai gelar Brawijaya, dari bahasa sansekerta Bra = putra, Wi = paling, Jaya = unggul, atau ‘Putra yang Paling Unggul’.

Raden Wijaya atau Sang Maha Prabu Brawijaya I mendirikan Kraton-nya di Sastra Wulan (sekarang lebih dikenal dengan nama Trowulan dari Sastro Wulan).

Tahta kemudian diteruskan oleh putra angkatnya (anak dari Adipati Dandangan) bernama Jayanegara dan bergelar Sang Maha Prabu Brawijaya II. Posisi kraton masih di wilayah Trowulan tetapi beda lokasi.

Kemudian tahta berikutnya diteruskan oleh Tri Buwana Tungga Dewi yang merupakan putri kandung dari Raden Wijaya, bergelar Sang Maha Ratu Brawijaya III. Letak kraton masih di wilayah Trowulan tapi bebeda lokasi dengan Kraton Brawijaya I dan Brawijaya II.

Berikutnya yang memegang tampuk pimpinan adalah Hayam Wuruk yang merupakan putra angkat dari Jayanegara dan putra kandung dari Sang Maha Patih Gadjah Mada, bergelar Sang Maha Prabu Brawijaya IV. Letak Kraton awalnya masih di wilayah Trowulan yang kemudian memindahkan Kraton pemerintahannya di wilayah Jombang.

Kemudian tahta Kerajaan Majapahit berikutnya diteruskan oleh Damar Wulan, anak seorang rakyat biasa dari wilayah Probolinggo. Pada saat kecil di-momong oleh Gadjah Mada yang saat itu sudah menjadi pertapa di Madakaripura. Damar Wulan kemudian bergelar Sang Maha Prabu Brawijaya V atau Kertabumi, mendirikan Kraton-nya di lereng Gunung Kelud di wilayah Puncu – Kediri.

Berikutnya yang meneruskan adalah putra dari Kertabumi yang dikenal dengan nama Bre Pamotan, Bre dari bahasa sansekerta yang artinya keponakan, pada saat usia muda beliau dididik oleh Adipati Pamotan maka kemudian lebih dikenal dengan nama Bre Pamotan dan bergelar Sang Maha Prabu Brawijaya VI. Letak kraton masih di lereng Gunung Kelud tapi berbeda lokasi dengan Kraton ayahanda-nya.

Setelah itu wahyu keprabon jatuh kepada putranya yang bernama Girincya Wardhana dan lebih dikenal dengan nama Bre Wengker (pada saat usia muda dididik oleh Adipati Wengker atau sekarang yang bernama Ponorogo). Bergelar Sang Maha Prabu Brawijaya VII dan mendirikan Kratonnya di wilayah Widodaren – Ngawi.

Tahta kemudian berpindah ke putranya, yaitu Pangeran Girindra Wardhana yang sering juga disebut dengan Batara I Kling. Disebut Batara karena kesaktian beliau sudah sekelas Batara, I = dari, Kling = Keling, artinya Batara dari wilayah Keling. Bergelar Sang Maha Prabu Brawijaya VIII dan letak Kraton-nya ada di daerah Keling di lereng Gunung Kelud.

Pada masa Brawijaya VIII inilah Kerajaan Majapahit surut karena kudeta dari anak angkatnya. Padahal wahyu keprabon sudah jatuh ke tangan putra Bali, yaitu Adipati Asmara Pura (sekarang bernama Semanapura atau Klungkung). Setelah tanah Jawa jatuh, Adipati Asmara Pura tetap mempertahankan wahyu keprabon-nya dan bergelar Sang Maha Prabu Brawijaya IX dengan pusat pemerintahannya ada di Asmara Pura – Bali. Itulah yang membuat kenapa Bali sampai sekarang masih cukup kental tradisi-nya.

Dari proses turunan tahta Kerajaan Majapahit jelaslah bahwa menjadi raja berikutnya tidak selalu harus anak kandungnya. Di Nuswantara siapapun berhak mendapat ‘wahyu keprabon’ sesuai dengan ‘laku’ dan bimbingan dari ‘pamong’ leluhur bangsa, terbukti Damar Wulan yang hanya anak kebanyakan dari rakyat biasa dapat menjadi Raja tertinggi di Nuswantara.

Distorsi juga sangat kental terjadi di sejarah luhur ini, sekarang dikenal oleh umum Kerajaan Majapahit hanya sampai 5 Raja saja, bahkan Kertabumi atau Sang Maha Prabu Brawijaya V tetap ditulis dalam sejarah resmi tetapi nama aslinya yaitu Damar Wulan telah digeser ke mitos.

Dan kalau diteliti lebih mendalam, dalam hirarki asli peradaban Nuswantara sebetulnya tidak ada Kraton yang diwariskan, karena setiap Raja akan membuat Kraton-nya sendiri dan akan memuliakan Kraton pendahulunya, ini disebabkan karena setiap Raja Nuswantara mempunyai panji-panji-nya sendiri sesuai dengan sosok Dewa yang memomong mereka.

(Sumber Timmy, Turangga Seta)

Kanjeng Ratu kidul adalah putri bungsu dari Sri Aji Jayabaya yg berpakaian serba emas makanya sering disebut nimas gilang kencana(gilang:mengkilat,kencana:emas) juga nama lainnya ni mas angin2 krn kedatangannya disertai angin, juga di sebut Ni mas Pagedongan krn jarang kluar kraton, nama aslinya adalah Dewi Atlantik sehingg dipanggil Dewi Antik, sehingga barang2 yg indah dikonotasikan atas nama beliau menjadi benda Antik, di Kraton Kidul banyak pengikut beliau.

TRIWIKRAMA adalah salah satu teknologi mulia tiada tara yang diturunkan oleh Sang Hyang Batara Wisnu kepada para leluhur kita, suatu bentuk teknologi yang dapat merubah diri menjadi dimensi ketiga yang salah satu bentuknya adalah badan membesar mencapai setinggi tujuh anakan gunung. Melalui proses sebuah laku, dapat berbahasa sansekerta luhur, tuntunan, dan password khusus itulah para leluhur kita membangun bangunan-bangunan yang sangat besar dan megah dalam sekejap, termasuk ‘gugur gunung’ untuk menutupi bangunan-bangunan itu dari peradaban yang anarkis. Salah satu bentuk Triwikrama leluhur kita dulu pada saat membangun sebuah menara dapat ditemui di salah satu relief yang ada di Candi Penataran.

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑