PEMILU: CARA SEMENTARA MENUJU KESEJAHTERAAN BERSAMA

Berhubung Negara Kesatuan Republik Indonesia saat berdiri memilih menjadi negara demokrasi modern, maka Indonesia pun mengikuti cara-cara demokrasi ala Barat, yaitu memilih pemimpin dengan Pemilihan Umum. Pemimpin ini berarti yang akan menjadi pelindung, pengayom bapak-ibu dari para warga negara Presiden /warga provinsi/kabupaten:Gubernur Bupati, dan wakil penghubung legislatif yang menyampaikan unek-unek warga untuk disampaikan kepada Pemimpin tersebut, apabila tak bisa langsung disampaikan. Itulah bentuk demokrasi perwakilan, model sistem serapan dari Barat yang sekarang dilaksanakan di Indonesia.

Sebagai cara Pemilu merupakan pilihan bersama yang dipilih oleh pendiri negeri pada awal Indonesia merdeka. Pendirian partai sebagai cara mengorganisasi diri dan kepentingan dimaklumatkan beberapa tahun sesudah Indonesia merdeka. Partai politik sendiri sudah ada sebelum Indonesia merdeka. Metode pemilihan pemimpin di dalam organisasi sudah dilakukan sejak sebelum Indonesia merdeka, sebelum Sumpah Pemuda. Artinya demokrasi model barat sudah diterapkan bahkan sebelum Indonesia merdeka.

Sistem demokrasi yang dipakai dengan menggunakan sistem pemilihan pemimpin sebagai wakil yang dipercaya untuk mengarahkan, menjalankan sistem sudah terjadi sejak lama, namun sejak 1999 sistem yang dipakai benar-benar mencopy paste dari sistem Amerika Serikat. Cara sementara ini sesungguhnya tidak dipercaya tapi dijalankan saja. Karena selama berlansungnya pemerintahan Indonesia, model inilah yang dijalankan yang dikenal oleh masyarakat umum, berbeda tentu saja dengan masyarakat suku asli Dayak, Papua atau Badui..

Nah sebagai cara sementara untuk menjalankan kehidupan bersama-sama apakah kita akan tetap konsisten ikut terlibat didalamnya, ataukah hanya menerima saja…

Memilih dalam PEMILU, Memilih berarti Peduli

Mengikuti dan melakukan pilihan, dalam Pemilihan Umum adalah Kesadaran Hak atas Kebaikan Bersama. Ya, kembali ke dasar kata ‘politik’ dari “polis” kota/tempat tinggal bersama. Menentukan pilihan politik dengan menggunakan Vote/hak memilih adalah kesadaran diri sendiri (tanpa paksaan) untuk turut menjadi penentu jalannya kota/tempat tinggal bersama. Itulah tindakan peduli. Memilih berarti peduli. Tidak Memilih berarti tidak peduli.

Dimasa yang akan datang, ketika alam semesta Indonesia telah cukup bersih dari pengaruh buruk sang Kala, mungkin kesadaran rakyat tentang kehidupan bersama yang lebih baik, “bukan tentang dirinya sendiri” akan hadir dan menghantarkan Pemilu sebagai arena terpilihnya pemimpin yang benar untuk memomong rakyat.

PEMILU 2014 tidak lama lagi, 8 bulan ke depan. Pemilih wakilnya di legislatif (DPR) dan pemilih kepala negara.

Kiranya rakyat Indonesia akan memiliki kesadaran bahwa sikap peduli akan membawa pada kebaikan, bahwa peduli datang ke TPS, memilih yang berwarna dan bukan menjadi golput akan mengurangi golongan hitam (butho). Jika dimasalalu telah melahirkan pemimpin/anggota DPR yang korup karena rakyat banyak yang memilih bukan karena peduli tetapi karena dibeli, diiming-imingi, dan penyelenggara pemilu-nya juga butho (ada yang dipenjara) dan ada yang tidak punya moral etika.

@umilasminah

baca juga puisi saya Kepada Golput saat menyongsong Pemilu 2004 (yg dimenangkan golongan hitam) http://puisiumipoet.wordpress.com/2012/07/30/kepada-golput/

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑