Ruwatan Sudamala Patembayan Jawadipa

Sebagaimana perubahan alam yang terjadi di muka bumi, yang bangsa barat menyebutnya climate change bangsa Nuswantara menyebutnya tanda perubahan jaman. Bahwa jaman kini adalah jaman Sungsang Buwana dan akan kembali kepada jaman sejatinya yaitu Buwana Balik.

Tanda perubahan jaman yang ditampilkan melalui Alam merupakan bacaan bagi manusia yang memiliki kepekaan berkomunikasi dengan Alam. Manusia yang tidak hanya peka namun berkomuniasi dengan alam secara harmoni baik dan ketersalingan simbiosis mutualisme adalah suku-suku asli bangsa Nuswantara yang hidup masih di hutan maupun di komunitas tersendiri. Yang tersebar di Kalimantan, Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara maupun Papua. Di samping itu tumbuh pula warga masyarakat modern yang terbangkitkan kesadaranya untuk menggali jati diri sendiri dan leluhur bangsanya dan menemukannya serta saling menjalin dan berjaringan membentuk komunitas maupun kelompok. Salah satunya adalah Patembayan (Persaudaraan) Jawadipa, dengan menegaskan diri untuk belajar segala pengetahuan terkait kearifan leluhur Jawa yang pakem dan melestarikannya. Terutama sekali belajar tentang spiritualitas asli Jawa yang cair dan bisa dijalankan bersamaan dengan keyakinan semua agama.

Ajaran Jawadipa bukanlah agama. Ajaran Jawadipa merupakan kepercayaan purba masyarakat Jawa yang tidak memiliki kelembagaan mengikat. Jawadipa mengajarkan penghayatan pribadi yang bersandar kepada Yitma (Ruh) manusia. Dan Yitma (Ruh) manusia merupakan bagian tak terpisahkan dari Sanghyang Taya Yitmajati atau Tuhan Sarwa Sekalian Alam. Tentu saja karena sifatnya yang cair, ketika agama-agama Mancanegara masuk ke Jawa maka bisa dengan mudah melebur dengan ajaran Jawadipa tersebut. Apapun agama Anda, akan menjadi semakin tajam dan dalam jika disertai penghayatan mempergunakan ajaran Jawadipa.

Pagebluk Pandemi 2020

Sebagaimana halnya yang banyak dipercaya tentang adanya Ratu Adil, Satria Piningit yang akan datang mengembalikan kejayaan Nuswantara, maka sebelum kedatangannya akan terlebih dahulu terjadi fenomena dan kejadian Alam dan sosial di antaranya Pagebluk wabah dan bencana alam Gunung Meletus dsb. Mengenai tanda alam ini, ditulis dalam berbagai serat yang diyakini penganut ajaran Leluhur.

Di dalam praktek kehidupan para Leluhur pendahulu bangsa Indonesia, setiap peristiwa ada ajaran dan maknanya, atau racun ada penawarnya. Setiap kutukan ada yang dapat melepaskan kutukannya. Begitupun dalam peristiwa Pagebluk Pandemi Covid 19 yang telah menghilangkan nyawa jutaan manusia sedunia. Salah satu yang dipraktekkan sejak dahulu kala di dalam kehidupan sehari-hari adalah Meruwat. Meruwat secara arah pokok ruwatan ialah membebaskan manusia dari kutukan, roh jahat, dan dari pengaruh roh-roh atau peristiwa yang membawa malapetaka dan celaka. Ada banyak jenis ruwatan di dalam kepercayaan Jawa, salah satunya adalah Ruwatan Sudamala.

Ruwatan Sudamala di Patembayan Jawadipa , 24 Juli 2021

Ruwatan Sudamala di Patembayan Jawadipa dipimpin oleh Ki Ajar Jawadipa yang publik mengenalnya sebagai Damar Shashangka penulis buku-buku novel sejarah Nuswantara khususnya jaman Majapahit maupun buku-buku spiritual seperti Gatholoco.

Saya mendengar nama Damar Shashangka sejak awal terbitnya buku Geger Majapahit. Saya ingat seorang kawan saya berkata, umurnya baru 24 tahun, tapi ingatannya bisa jauh ke belakang dan pada periode-periode yang ditulisnya.

Saya mendaftar ikut dan meliput Ruwatan Sudamala yang berlangsung secara online selama lebih dari 2 jam dan diikuti oleh 166 peserta, dan bisa jadi 1 medium diikuti beberapa orang, karena bisa satu keluarga, diperkirakan diikuti oleh 200 orang.

Sebelum memulai ruwatan Ki Ajar memberi arahan ulang tentang apa yang perlu dipersiapkan, kembang setaman, air dan dupa. Meskipun telah dilakukan Ruwatan terkait pagebluk sebelumnya yaitu Ruwatan Murwakala 11 Juli 2021.

Ruwatan Sudomolo adalah ruwatan untuk menghilangkan segala kemalangan yang ada, agar tidak celaka, sakit. Kisah ruwatan Sudomolo adalah mengembalikan Batari Umo dari wujud raksesi Ranini.

Gari besar kisah kutukan yaitu, ketika Batari Uma selingkuh dengan batara Brahma maka dihukum menjadi raksesi Ranini, untuk itu hanya bisa kembali sedia kala melalui Alam Dunia (Setra Ganda Mayu) lapangan luas Berbau Keselamatan (Alam manusia)

Dunia walaupun ada keburukan tetap memiliki harapan untuk kesejahteraan. Dinamis sama besarnya Kebaikan dan Keburukan. Dualitas yang seimbang.

Hal yang tidak ada di Alam Atas (Kedewatan) yang selalu benar baik, dan Alam Bawah yang selalu keburukan Alam Manusia memiliki komposisi seimbang sedih gembira, gelap putih.

Alam setra gondo mayu ini pada masa masukannya ajaran sebrang Mayu yang berarti Pemberi Keselamatan diganti menjadi mayit yang dalam bahasa arab mayit/mayat.

Dewi Uma yang telah menjadi Ranini dipindahkan ke Setra Ganda Mayu dan disebutkan bahwa 20 tahun lagi Ranini akan dilepas dari Kutukan oleh bungsu dari Pandawa yaitu Sadewa.

Sadewa yang melepaskan kutukan Batari Uma diberi gelar Raden Sudamala kisah tentang ini ada di Candi Sukuh dan Candi Powan Kediri.

Ruwatan Sudamala sudah sejak lama dipraktekkan, paling sering pada masa Majapahiy
Batara Guru adalah simbol manusia. Roh manusia ketika Roh yang gilang gemilang memiliki energi dan ini melekat pada Batari Uma.

Itulah cikal bakal semesta manusia dan cikal bakal material. Yang memiliki cikal bakal 1. Satwiko (stabil) Batara Nadewo, 2. Rajasiko (dinamis) Batara Brahma 3. Kamasiko (bebal bodoh malas) Batara Wisnu

Rajasiko ini menutupi kecemerlangan Roh ketika Batari Uma selingkuh dengan Batara Brahma akhirnya jatuh ke dunia ke Setra Ganda Mayu. Saat inilah roh meredup, karena tertutup oleh Batara Brahma. Ketika Rajasiko menutupi kecemerlangan roh Batari Uma, yang mulai meredup tidak suci lagi (tersaput Rajasiko) maka Batari Uma dibuang ke dunia Setra Ganda Mayu. Saat ini pula daya energi Roh mengecil dan menjadi alam bawah sadar manusia dalam simbol Pandawa yaitu Sadewa puser kekuatan double bersama Nakulo.

Pandawa sendiri adalah simbol manusia kekuatan sedulur papat lima pancer, Kawah adalah Yudistira, Adi Werkudoro, Ari-ari Harjuno dan Nakulo-Sadowo Puser. Pikiran bawah sadar adalah Sadewa yang sudah meruwat sendiri agar kecemerlangan roh dapat kembali.

Atas jasanya pula maka Sadewo mendapat gelar Raden Sudamala.

Di Patembayan Jawadipa ruwatan Sudamala termasuk ruwatan kecil atau Nisto, ada Ruwatan Madya menengah sajen lengkap dan Ruwatan Utama sajen lengkap dengan wayang kulit atau wayang beber.

RUWATAN SUDAMALA

Mantra dibacakan dan setiap mantra para peserta Cantrik (anggota resmi Patembayan), dan umum mengikuti arahan Ki Ajar menghadap ke arah mana (8 arah mata angin) dan posisi jari dan lengan berbeda dengan sebutan Mudro. Mantra dibacakan dalam bahasa Jawa Kawi, dimulai dari Timur. Setiap arah mata angin diperkirakan waktunya 7-15 menit. Setiap peserta menahan posisi lengan sesuai arah mata angin bersamaan pembacaan mantra. Di dalam mantra kita akan dapat mendengar nama Batara Ismaya, Batara Antiga, Batara Syiwa dan lain-lain.

Ruwatan yang dimulai pukul 20.10 wib selesai sekitar pukul 22.20 dengan arah mata angin Timur.

(UL)
Ki Ajar memberi penjelasan.

sumber a.l: https://www.facebook.com/damar.shashangkakapindho

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑