Orang Indonesia

Oleh Umi Lasminah

Sebagai orang Indonesia, warga negara atau penduduk yang tinggal di Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan sebagai perempuan Indonesia, saya bangga dan senang, dengan tentunya banyak prihatin. Prihatin sebagai perempuan, di Indonesia sama halnya dengan di negara lain di dunia sekarang ini, perempuan masih terdiskriminasi, karena jenis kelaminnya.

Akan tetapi saya bangga, karena punya presiden Perempuan, Megawati Soekarnoputri. Ia mungkin salah satu dari perempuan pasca kemerdekaan yang pada masa Orde Baru mendapat perlakuan DITINDAS rezim TENTARA–Orde Baru, dukungan Amerika Serikat. Ada banyak perempuan yang juga ditindas, mereka adalah  istri atau kerabat para aktivis Komunis, ataupun bukan kerabat atau istri komunis, atau ormasnya. Megawati mengalami penindasan karena ia anak Soekarno.Dari semua pemimpin Partai Politik yang ada sekarang, yang jumlahnya lebih dari 40 partai hanya Megawati yang mengalami penindasan, penghianatan bertubi-tubi.

Apapun yang terjadi pada para pemimpin Indonesia, sebagai rakyat Indonesia saya sama halnya dengan rakyat Indonesia lainnya menjalani kehidupan apa adanya, cenderung menerima apapun kebijakan yang di’impose’ diterapkan pada kita ‘rakyat’-nya dengan persetujuan kita atau tidak.

Orang Indonesia sehari-harinya menjalani rutinitas yang sederhana, hampir sama. Bangun pagi, bagi perempuan tentu ditambahkan dengan membereskan rumah, memasak, menyiapkan makan, bersiap kerja, berangkat kerja dengan kendaraan umum dan siap berdesakan di bis (karena pagi-pagi jam masuk kantor pasti bis penuh sesak), lalu tiba di kantor atau pabrik bekerja sebagai bawahan dan bukan bos. Di tempat kerja makan siang biasanya orang Indonesia, khususnya yang tinggal di kota akan makan di warung yang ada di dekat kantor (dipinggir jalan), warung makan ini penjualnya umumnya berasal dari Jawa. Ada juga satu dua orang Indonesia yang bekerja dan membawa bekal makan siang, sehingga lebih murah dan irit. Disamping berkendaraan umum, sekarang ini, terutama sejak tahun 2004 banyak orang Indonesia punya motor, sehingga jalan-jalan raya di pagi hari, pada saat orang berangkat ke kantor akan dipenuhi sepeda motor para pekerja. Di daerah pertanian, dan pegunungan sepeda genjot tetap merupakan kendaraan yang mengantarkan ke tempat kerja di perkebunan, pabrik atau sawah dan hutan. Orang Indonesia lainnya di Jakarta dan sekitarnya tak sedikit yang menggunakan angkuta kereta api, atau kereta listrik.

Orang Indonesia adalah pekerja keras, kreatif namun sekali lagi cenderung menerima ‘nrimo’. Entah kecenderungan sikap ini didapat dari mana, namun ‘nrimo’ ini selalu membuat orang Indonesia sengsara.

Orang Indonesia Pekerja keras dapat kita temui setiap hari di jalan-jalan, di warung-warung, di pasar, di antara bangunan-bangunan tinggi yang sedang dibangun oleh para pekerja, buruh bangunan ‘kuli’ yang berasala dari penjuru Jawa dan upah yang kita tak tahu berapa layaknya. Di jalan-jalan kita lihat dan kadangkala membeli makanan asongan: kacang, kerupuk, manisan buah dan minuman. Para pedagang pekerja keras inilah ciri Indonesia. Mereka adalah orang-orang yang berusaha survive di Negeri yang Kaya tetapi Tak Berdaya ini. Mereka tentunya ingin pekerjaan yang lebih menghasilkan uang, dibanding menjadi pedagang asongan yang mungkin untungnya Rp.10.000,- sehari saja sudah bagus. Orang-orang Indonesia adalah orang-orang kreatif, ada banyak mainan anak yang dibuat oleh orang Indonesia bagus, murah, tetapi tidak berbahaya. Ada mainan dorong terbuat dari bahan bekas sendah jepit yang dikaitkan dengan bambu yang bila didorong akan berbunyi. Anak-anak memang paling senang mainan yang memiliki bunyi-bunyi. Atau mainan dari busa yang didapatkan dari bekas gabus atau busa bekas penahan alat elektronik yang disisipkan di kardus. Dengan bungkus plastik panjang, dimasukanlah air lalu dimasukan busa gabus itu, jadilah turun naik busa itu didalam plastik panjang.

‘Nrimo’ ini seperti saat BBM dinaikan, saat harga gas dinaikan atau ketika listrik dan air minum juga dinaikan. Yang lebih parah lagi manakala pendidikan berbiaya mahal. Meskipun anggaran Nasional Pemerintah untuk pendidikan cukup besar (melebihi anggaran Kesehatan) realitasnya rakyat Indonesia masih harus membayar mahal untuk menyekolahakan anaknya. Sikap ‘nrimo’ orang Indonesia juga ditunjukkan dalam kehidupan sedeharna keseharian, misalnya, suatu hari pergi ke swalayan kecil sebut saja Alfa Mart, di toko swalayan tersebut mesin penghitung uang rusak maka harga-harga semua dibulatkan ke lebih tinggi, misalnya harga minuman yang semula Rp.1335,- menjadi Rp.1500,- tak ada yang berani protes atau menolak pelayanan ini…itulah orang Indonesia. Saya termasuk yang berani bertanya dan mempertanyakan hal tersebut, dan pramuniaga di toko tersebut tanpa bersalah cuma bilang mesinnya rusak jadi dibulatkan. “Lho yang rusak mesin tokonya kok yang kena biaya kita.”

Orang Indonesia juga terkenal karena keramahannya dan keterbukaannya. Ini sesungguhnya merupakan ciri yang diturunkan dari jaman nenek moyang ratusan tahun lalu. Sebelum Negara Indonesia berdiri, bangsa Indonesia menyatukan diri, suku-suku bangsa Indonesia yang dipimpin oleh Raja-raja dan Ratu-ratu Nusantara adalah orang-orang yang terbuka yang menerima para tamu dengan baik, membiarkan tamu-tamu memperkenalkan budaya mereka, mencampurkan budaya dan masyarakat, mengijinkan kawin campur. Bahkan agama-agama yang lebih dahulu ada di Nusantara kemudian hilang dan berganti pun akhirnya tetap menjadi bagian ‘eksistensi’ Indonesia yang termaknakan dalam Pancasila.

Advertisements